IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
158. Perseteruan Arga dan Suster


__ADS_3

Kini Arga di panggil untuk menemui anaknya yang baru lahir. Dia masuk ke dalam ruangan steril tersebut dan memakai kembali baju steril. Lalu menghampiri suster yang sedang menggendong bayi mungil tersebut.


"Hati-hati ya pak gendongnya. Bayinya masih rentan dengan penyakit." kata susternya.


Arga mengerutkan dahinya, aneh. Apa hubungannya penyakit dengan gendong bayi?


Tapi Arga diam saja, dia menurut. Dengan pelan dan hati-hati Arga mengambil alih bayi yang di gendong suster.


"Bapak sudah cuci tangan?" tanya suster tiba-tiba sebelum tangan Arga mengambil bayinya.


"Belum suster." jawab Arga.


"Bapak cuci tangan dulu, baru bisa pegang anaknya." kata suster menarik kembali bayi mungil itu.


Arga kesal bukan main, namun dia menurut untuk cuci tangan di wetafel yang tersedia di ruang bayi itu.


Setelah selesai cucu tangan dia mendekat pada suster yang membawa bayinya.


"Bapak tidak merokok kan?" tanya suster itu lagi.


Arga menghela nafas panjang, lalu menggeleng.


"Ngga suster, sini bayi saya." pinta Arga dengan ketus.


Suster itu pun memberikan bayi anak Arga dengan hati-hati dan tidak rela, karena bayi itu sangat cantik jadi dia enggan memberikan pada papanya.


"Awas ya pa, kalau salah gendong dan bayinya nangis. Saya minta lagi bayinya, kasihan." masih dengan tidak rela, suster kembali memberi peringatan pada Arga.


Dan Arga menarik bayinya dari gendongan suster yang rewel itu. Dia benar-benar kesal di komentari terus dengan dirinya.


Suster itu pun kaget,dia sedikit melotot dan mukanya masam.


"Jangan kasar pak ngambil bayinya, nanti kalau terlepas bagaimana? Bahaya." ucap suster itu lagi.


"Suster jangan rewel, saya mau menggendong bayi saya. Kenapa suster rewel sekali sih?" kata Arga ketus.


Suster itu cemberut sambil menatap Arga tajam. Satu teman suster lainnya menarik lengan temannya itu yang berseteru dengan Arga.


"Eh, kamu gimana sih? Biarkan aja sih, itu anaknya. Kenapa kamu yang sewot?" bisik temannya yang di dengar oleh Arga.


"Tapi bapak itu cara gendongnya salah, Yu." kilah suster itu lagi.


"Ya udah biarin, malu-maluin aja kamu itu."


Dengan tidak rela, suster yang berperawakan berisi itu bersungut-sungut. Dan akhirnya dia di sergap dengan kata-kata pedas oleh Arga.


"Lain kali kalau mau bayi, bikin sendiri!" kata Arga ketus.


Dia tidak pernah berdebat dengan perempuan sampai kesal seperti itu. Dia hanya ingin menggendong anaknya, paling lama cuma dua puluh menit.


Arga sedikit menjauh, dia tidak mau momen menggendong anak bungsunya jadi berkurang dan terganggu karena perdebatan tidak bermanfaat itu.


Dia memandangi anaknya dengan senang, tangan kanannya mencubit kecil pipi yang cuby itu.


"Pantas saja suster itu tidak rela ngasih kamu ke papa, sayang. Ternyata kamu sangat menggemaskan dan lucu banget." kata Arga mengelus pipi bayi itu dengan lembut.


Dan lima belas menit Arga menggendong bayinya, dia tidak rela harus kembali menyerahkan bayinya itu pada suster gendut yang tadi berdebat dengannya.


Mata keduanya, seolah mengatakan mereka sedang bermusuhan. Tapi Arga tersenyum sinis pada suster gendut itu, seakan mengatakan.


"Kamu puas-puasin menggendong dan mengurus anak saya, tapi tiga hari ke depan bayi itu akan saya bawa pulang." ucap Arga dalam hati.

__ADS_1


Setelah menyerahkan anaknya, Arga keluar dari dalam ruang bayi itu. Dia berencana mebelepon mertuanya, karena tadi belum sempat memberitahu.


"Halo, ayah apak kabar?" tanya Arga ketika tersambung teleponnya.


"Baik nak Arga, ada kabar apa?"


"Tadi pagi Anita sudah melahirkan ayah, maaf baru kasih kabar sama ayah."


"Oh ya Tuhan, terima kasih. Lalu bagaimana, semuanya sehat, Anita dan bayinya?"


"Sehat semua ayah, Anita sedang di tangani oleh dokter untuk di bersihkan rahimnya."


"Syukurlah, bayinya laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan, ayah."


"Waah, senangnya punya cucu perempuan lagi."


Percakapan terus berlanjut, hingga Arga memutuskan karena dia melihat Anita sudah di pindahkan ke kamar rawat inap.


"Ayah, sudah dulu ya. Anita sudah di pindahkan ke kamarnya."


"Oh, ya. Besok ayah sama ibu akan menjenguk cucu ayah di rumah sakit."


"Iya, nanti pak Diman akan menjemput ayah. Tapi nanti kalau anak-anak pulang sekolah ya yah?"


"Iya, ngga apa-apa. Ayah kapan saja bisa kok di jemput."


"Terima kasih, ayah."


Lalu samhungan terputus, Arga segera menuju kamar rawat inap istrinya. Dan kembali dia harus bertemu dengan suster gendut dan rewel itu lagi. Wajahnya berubah masam, dan menatap susternya kesal.


"Ibu,anaknya di beri asi ya." kata suster gendut itu.


"Iya suster." jawab Anita.


"Istri saya sudah mengerti suster, jadi tidak perlu di ingatkan lagi." kata Arga ketus.


Tentu saja Anita kaget dengan sikap Arga yang menurutnya itu kurang sopan. Tapi dia diam saja, hanya pandangan matanya saja menandakan kalau ucapan Arga tidak boleh di ucapkan.


"Iya, saya tahu pa. Itu hanya prosedur dari rumah sakit agar ibunya segera memberikan asi pertama pada anak yang baru lahir." jawab suster gendut itu tidak mau kalah.


"Terima kasih ya suster." kata Anita memotong permusuhan suaminya dan suster itu.


Entah terjadi apa sehingga suaminya begitu ketus menanggapi suster tersebut.


"Kalau begitu, saya permisi ya bu. Nanti satu jam ke depan saya kesini lagi mengambil bayinya." kata susternya.


"Iya suster, terima kasih."


Lalu suster itu keluar dari kamar Anita, saat melewati Arga suster tersebut menatap tajam sampai di depan pintu kamar Anita.


"Awas suster nabrak tuh, mata kalau jalan di depan. Jangan lihatin orang ganteng terus, nabrak kan jadinya." kata Arga dengan julidnya.


Dan memang suster tersebut hampir menabrak pintunya kalau Arga tidak mengingatkan, dia lalu langsung pergi dengan berjalan cepat.


Arga tertawa puas dengan suster julid itu.


"Kamu ada masalah apa sih, Ga dengan suster tadi?" tanya Anita heran.


Dia sedang menyusui anaknya sambil mengelus pipinya yang halus.

__ADS_1


"Dia bawel sayang, tadi waktu aku mau gendong anakku suster itu rewel banget. Masa pertanyaannya dan larangannya banyak banget, udah gitu mukanya masam seperti tadi." jelas Arga.


Anita tersenyum dengan cerita suaminya, memang suster itu terlalu bawel.


"Ya kan dia hanya menjalankan tugasnya aja, Ga." kata Anita.


"Ya ngga begitu sayang, aku kan papanya. Masa di tanya macam-macam. Udah gitu mukanya bikin kesal, mana dia berat banget ngasihnya."


"Ya udah jangan kesal lagi. Lalu anak kita namanya siapa?" tanya Anita mengalihkan pembicaraan.


"Kamu besok pulang deh sayang, jangan lama-lama nginap di sininya." kata Arga tidak menghiraukan pertanyaan istrinya.


"Lho, kok sebentar banget. Kan aku belum kuat jalan Ga. Kenapa sih kamu gitu?" tanya Anita heran.


"Aku ngga suka sama suster gendut itu, sombong banget deh. Bikin kesal aja." gerutu Arga.


"Ya ngga bisa begitu Ga, aku kan harus sehat dulu. Bayinya juga harus masih di hangatkan di inkubator, agar bertambah kuat dan siap untuk suhu ruangan di rumah." kata Anita.


Arga diam saja, dia masih tidak terima yang mengurus bayinya itu suster gendut tadi.


"Sudah kamu jangan seperti anak kecil, ngambek sama suster gendut itu. Aneh deh kamu itu." masih di ceramahi istrinya.


Meski hanya diam saja, tapi Arga tetap tidak membantah. Lalu dia menghelan nafas panjang. Meski rasa kesal dan tidak terima, dia tetap menurut pada istrinya.


"Aku tadi tanya, nama anak kita siapa?" tanya Anita lagi, dia sampai lupa bertanya pada suaminya.


"Emm, nama anak kita ya?" kata Arga tampak berpikir.


"Jadi kamu belum menyiapkan nama anak kita?"


"Sudah, cuma lagi berpikir bagus ngga namanya?"


"Siapa namanya? Kan kalau sesuai dengan anaknya ya ngga apa-apa. Jangan nama laki-laki, anak perempuan kok."


"Ya nama perempuan sayang, aku udah siapkan nama perempuan sejak kamu hamil empat bulan. Justru nama laki-laki aku bingung waktu itu nyarinya, ternyata memang keluar perempuan." kata Arga.


"Jadi, namanya siapa?"


"Namanya Cheril Anastasya. Bagus ngga sayang?" kata Arga.


"Waah, cocok banget dengan bayinya Ga. Kamu pandai mencari nama, aku suka nama itu." kata Anita senang.


Dia pandangi bayi perempuannya, menciumnya pelan. Arga mendekat dan duduk di samping istrinya, mencium kepalanya lalu memandang anaknya.


"Dia cantik banget sayang, seperti kamu." kata Arga sambil tersenyum.


"Matanya mirip kamu, Ga. Hidungnya juga, alisnya. Lho, kok aku kebagian bibir aja sih?"


"Hahaha, tapi dia cantik mirip kamu lho sayang."


Anita cemberut, dia sedikit tidak terima semua mirip Arga.


Perdebatan mirip Arga dan Anita terus berlanjut, Anita merasa tidak terima anaknya banyak mirip suaminya. Hingga bayi perempuan itu jadi menangis kencang.


_


_


_


❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2