IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
74. Marisa Mencari Tahu


__ADS_3

Marisa kini sudah ada di depan rumah Arga pagi sekali. Dia masih ingin bertemu Arga, memintanya agar Celine tahu dia adalah mamanya.


Arga keluar dari rumah hendak berangkat ke kantor firma hukum di mana dia bekerja. Dia tertegun, melihat Marisa sepagi ini sudah ada di depan rumahnya. Arga menarik nafas panjang, lalu mendekat pada Marisa.


"Kamu mau apa lagi Risa?" tanya Arga.


Marisa tersenyum, dia senang panggilan Arga padanya belum berubah.


"Kamu masih memanggilku nama itu mas?" kata Marisa tersenyum.


Tapi Arga malah tersenyum sinis, meakipun aku memanggil masih seperti itu. Hatiku tidak akan berubah, pikir Arga.


"Nama kamu Marisa kan. Tidak ada yang aneh dengan panggilan Risa, sudah tidak istimewa lagi nama panggilan itu bagiku. " ucap Arga sinis.


Dia bukan tipe laki-laki yang kasar pada wanita, tapi menghadapi orang yang sekarang sudah menjadi mantannya sepertinya emosinya akan terus naik.


Marisa menunduk dan kecewa, tapi dia mendongak lagi. Menatap Arga yang sepertinya masih benci padanya.


"Aku hanya minta di akui oleh Celine kalau aku mamanya Celine, mas." kata Marisa akhirnya.


Arga diam, dia menatap Marisa datar. Kemudian dia melirik jam di tangannya, sudah pulul setengah delapan.


"Sudah siang, aku harus ke kantor." ucap Arga tanpa menanggapi ucapan Marisa.


"Jika kamu tidak mau mengatakan aku adalah mamanya Celine, aku akan datang terus dan mengganggumu mas Arga." ucap Marisa kencang karena Arga tidak menanggapi ucapannya tadi.


Membuat Arga berhenti melangkah, menarik nafas panjang dan memejamkan matanya. Dia benar-benar kesal, tapi dia juga tidak boleh egois. Kemudian dia berbalik dan menatap Marisa.


"Beri aku waktu untuk menjelaskan pada Celine." kata Arga, dia lalu melangkah meninggalkan Marisa yang masih terdiam di tempatnya setelah mengatakan seperti itu.


Arga menaiki mobilnya dan langsung tancap gas keluar dari pintu pagar besi itu. Meninggalkan sisa-sisa emosinya di sana.


Sedangkan Marisa masih diam, dia lalu melangkah keluar dari rumah Arga dengan perasaan kecewa. Tapi dia akan menunggu janji Arga untuk memberitahu pada Celine kalau dia adalah mamanya.


_


Satu minggu Marisa menunggu Arga menepati janjinya, tapi sampai dia dua kali bertemu dengan Celine di rumahnya tetap saja Celine masih memanggilnya tante.


Ibu Ema mengizinkan Marisa menemui Celine ke rumahnya ketika Arga sudah berangkat kerja. Ada angin segar dari mantan mertuanya itu meski dia hanya di beri waktu dua hari dalam seminggu mengunjungi Celine ke rumah Arga.


"Celine, mama Celine kemana?" tanya Marisa, mencari tahu apa yang di katakan Arga pada anaknya tentang dirinya.


"Kata papa, mama Celine pergi keluar negeri mencari ilmu suapaya pintar. Nanti kalau pulang jadi dokter." jawab Celine dengan polosnya.

__ADS_1


Marisa terdiam, dia tidak menyangka jawaban Celine. Dia pikir Arga akan mengatakan kalau dia sudah meninggal. Ada rasa terharu di benar Marisa.


"Kalau mama Celine pulang dan menemui Celine, senang ngga?" tanya Marisa.


Dia ingin mengorek tentang hati seorang anak yang dia rindukannya itu.


"Aku ngga tahu tante, Celine senang kalau main sama kakak Chila dan abang Chiko." ucap Celine.


Marisa terdiam, siapa itu Chila dan Iko?


"Chila dan Chiko itu siapa?" tanya Marisa lagi.


"Anaknya tante Anita, tante. Celine senang kalau main sama kakak Chila dan abang Iko." ucap Celine.


Marisa kecewa anaknya tidak merindukan dirinya, dia malah senang jika main dengan anak-anak Anita. Berarti, mas Arga dan mbak Anita ada hubungan. Tiba-tiba dia cemburu, dia ingin merebut hati Celine dan akan menuntut terus Arga agar cepat mengatakan kalau dirinya adalah mamanya.


"Celine, kalau tante ini mama Celine percaya ngga?" tanya Marisa.


"Masa mama Celine ngga tinggal di rumah Celine." ucapan polos Celine membuat Marisa terdiam.


Dia tidak tahu harus berkata apa lagi, tapi pikirannya terus mencari cara agar Celine mau mengakuinya sebagai mamanya.


"Celine, masuk nak." ucap ibu Ema yang tiba-tiba ada di depan mereka.


Marisa bangkit dari duduknya, memandang ibu Ema dengan rasa tidak enak. Ibu Ema menatap Marisa dengan wajah kesal.


Ternyata mantan menantunya ini benar-benar tidak bisa di beri hati, pikirnya.


Marisa terdiam, dia memang tidak sabar untuk di akui oleh anaknya Celine. Dia juga sangat iri ketika Celine lebih dekat dengan anak-anak Anita dan bisa jadi dengan Anita juga.


Ibu Ema masuk ke dalam meninggalkan Marisa tanpa mengatakan apa-apa yang masih terdiam di tempatnya. Dia menghela nafas panjang, lalu pergi meninggalkan tekpat itu. Niatnya dia akan ke rumah Anita.


Naik ojek sampai di rumah Anita hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, dia turun dari ojek dan membayar ongkosnya. Dia langsung masuk ke dalam rumah Anita, dia tahu Anita sedang sibuk menalayani pembeli. Makanya dia duduk di kursi teras rumah Anita, menunggu Anita selesai melayani pembeli.


Ada rasa kesal dan cemburu di hatinya ketika Celine tadi bercerita, di tambah lagi minggu lalu dia melihat Arga dan Anita sangat akrab sekali, sampai-sampai berlibur bersama dengan kedua anaknya dan Celine.


Lama Marisa berpikir, apa yang akan dia ceritakan pada Anita.


Anita duduk di samping Marisa yang masih tenggelam dengan pikirannya.


"Mbak Marisa sepertinya sedang banyak pikiran." kata Anita membuyarkan pikiran Marisa.


Marisa menoleh pada Anita, tidak ada senyum seperti biasanya. Hanya tatapan datar dari Marisa untuk Anita.

__ADS_1


"Iya mbak, aku sedih anakku lebih dekat dengan orang lain dari pada aku." entah pikirannya seperti apa Marisa sehingga dia mengatakan seperti itu.


Membuat Anita heran dengan kalimat Marisa itu. Dia menatap Marisa, bukankah dia sendiri yang memutuskan meninggalkan anaknya dulu. Kenapa dia berkata seperti itu.


"Mbak Marisa kan baru-baru ini dekat dengan anak mbak Marisa. Jadi wajar jika anaknya dekat dengan papanya saja atau omanya saja." kata Anita.


"Bukan pada mereka yang aku kesal mbak, tapi dia dekat dengan temannya juga ibunya." kata Marisa lagi.


Anita mengerutkan keningnya, bukankah wajar jika anak-anak dekat dengan teman-temannya. Tapi kenapa ibunya juga di bawa-bawa. Maksudnya apa?


"Mbak Anita, bisa bantu saya ngga?" tanya Marisa pada Anita.


"Bantu apa mbak?" tanya Anita heran.


Marisa diam, dia belum berani menceritakan kalau dia adalah mantannya Arga.


"Nanti saja mbak, aku belum siap menceritakan siapa mantan suamiku dan anakku." kata Marisa lagi.


Marisa mendesah pelan, dia akan menunggu Arga mengatakan dan mengajaknya bicara bertiga dengan Arga juga Celine. Sampai waktu itu tiba namun Arga belum mengatakan pada Celine, maka dia sendiri yang akan bertindak.


Waktu sudah siang, Marisa di ajak makan siang bersama dengan Anita dan anak-anaknya. Dia melihat Anita sangat bahagia, ada kedua anaknya yang sudah mengerti kesibukan ibunya dan juga ibunya Anita.


Senang rasanya melihat Anita behagia, tapi dia kembali ingat ketika Arga dan Anita begitu akrab. Pikirannya kembali tidak menentu. Akhirnya dia berpamitan pada Anita setelah makan di rumah Anita itu.


"Mbak, saya pulang dulu." kara Marisa.berpamitan.


"Lho, kok buru-buru?" tanya Anita.


"Lain kali saya datang lagi, jangan bosan yah mbak saya sering datang kesini" kata Marisa.


"Ya ngga mbak, saya malah senang dengan mbak Marisa sering datang. Jadi ada teman mengobrol." ucap Anita tertawa kecil.


Setelah mengobrol basa basi, akhirnya Marisa pamit dan dia langsung naik ojek yang kebetulan langsung lewat di depan rumah Anita.


Anita hanya memandang Marisa sampai tak terlihat, dia merasa kasihan dengan Marisa. Mantan suaminya belum mau memberi tahu Marisa pada anaknya.


Apakah mereka akan rujuk lagi? Tapi sepertinya tidak ada kesempaan bagi Marisa untuk kembali pada mantannya dari cerita-ceritanya, pikir Anita.


Anita masuk ke dalam tokonya karena ada dua pelanggan yang membeli barang di tokonya.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2