
Hari sudah beranjak siang, panas matahari begitu menyengat kulit. Memang sekarang cuacanya sedang bagus. Jika orang-orang luar negeri berjemur di pantai untuk mendapatkan kulit yang eksotis, maka tidak dengan anak-anak yang berlibur di pantai.
Mereka berlarian di air dan juga membuat bangunan replika dari pasir yang tersebar di area pantai.
Tanggal merah memang waktunya untuk keluarga berlibur. Menikmati kebersamaan dengan keluarga tercinta.
Chila kembali ke bibir pantai lagi, dia membuat replikan mainan gedung atau sebuah istana kerajaan dalam bayangannya. Anita memperhatikan anaknya yang sedang bermain, di hampiri oleh beberapa anak kecil lainnya untuk ikut bermain.
"Boleh aku ikut duduk mbak?" tanya seorang wanita yang tadi menyapa Anita.
"Oh ya, silakan." jawab Anita.
"Terima kasih." ucap wanita itu.
Dia lalu duduk di samping Anita menatap ke arah laut yang kebetulan ombaknya sedang bergulung menuju pantai.
"Ombak itu unik ya mbak." membuka percakapan dengan kalimat ambigu bagi Anita.
"Kenapa?" tanya Anita.
"Ya, sudah tahu jika di dekati akan mengandung bahaya. Tapi orang-orang malah tertarik untuk menantangnya dan tertawa riang bila terkena terjangannya." katanya lagi.
Masih mengatakan dengan bahasa kiasan, namun Anita sedikit mengerti maksud dari perkataannya.
"Ya, begitulah manusia. Dia hanya melihat keindahannya saja, tanpa mempedulikan akan seperti apa jika ternyata ombak itu tidak bersahabat dan malah membuatnya celaka." kata Anita lagi ikut berkiasan.
Wanita itu malah tersenyum dan memandang Anita. Seperti orang yang pernah mengalami pahitnya hidup. Jadi ucapannya bijak dan mendalam maknanya.
"Mbak pernah di sakiti seseorang?" tanya wanita itu pada Anita.
Anita menatap wanita itu yang tersenyum padanya, kemudian dia menghela nafas pelan, menceritakan pahitnya hidup yang pernah dia alami pada orang lain tidak pernah dia lakukan. Tapi sebagai garis besar mungkin bisa dia katakan.
"Ya, pernah. Tapi itu masa lalu, aku tidak mau mengingat masa lalu." kata Anita memotong lebih dulu rasa penasaran wanita di sampingnya itu.
Wanita itu kembali tersenyum, namun senyumnya ada kesedihan di bibirnya yang tampak menipis.
"Namaku Marisa, mbak bisa memanggilku Risa. Seperti dulu mantan suamiku memanggilku." kata Marisa.
Anita menatap Marisa, jadi guratan kesedihan dan kekecawaan itu ternyata dia punya masa lalu pahit dengan mantan suaminya?
"Aku dulu yang meninggalkan suamiku, bukan. Mantan suami tepatnya sekarang, demi laki-laki lain." Marisa mulai bercerita.
Diam sejenak, dadanya kembali sesak.
"Aku yang egois karena mantan pacar datang dan terus mengganggu dan menggodaku, jadi dengan memaksanya aku meminta bercerai dengannya memilih mantan pacarku. Padahal waktu itu aku punya bayi enam bulan yang aku tinggalkan." kata Marisa lagi.
"Kenapa itu kamu lakukan?" tanya Anita heran.
Dia tidak habis pikir, ada seorang wanita tega meninggalkan anaknya yang jelas untuk mendapatkannya itu kadang susah bagi wanita yang kesulitan hamil. Namun dia meninggalkannya.
"Karena cinta, mbak. Aku sangat mencintainya waktu itu. Dan sekarang dia pergi entah kemana. Kini aku menyesal, ingin bertemu dengan mantan suamiku dan melihat anakku." kata Marisa.
"Kira-kira anak mbak berapa tahun sekarang?" tanya Anita.
__ADS_1
"Mungkin sudah tiga tahun. Aku sangat merindukan anakku. Yang aku ingat saat itu dia masih bayi, dan sekarang mungkin dia lupa aku ibunya." guratan kesedihan itu kembali terlihat.
Matanya seperti hampir menganak sungai, kalau tidak di tahan dengan tisu yang dia seka di sudut matanya. Lalu menghela nafas panjang. Anita diam lagi, memberikan waktu bagi Marisa menangis.
"Mantan suamiku sudah mengambil alih hak asuh anakku, dia mengasuhnya sendirian bersama ibunya." kini Marisa benar-benar menangis.
Anita ikut sedih, dia terenyuh dengan cerita Marisa yang pilu. Meski yang salah, tapi dia juga seorang ibu. Tetap saja seorang ibu merindukan anaknya meski waktu kecil tidak pernah bertemu. Apa lagi mantan suaminya menyabotase pertemuannya dengan anaknya.
Dia sendiri meskipun sering kesal dan sakit hati sama Rendi serta tidak mau kembali lagi padanya, namun dia tidak pernah melarang mantan suaminya itu untuk bertemu anak-anaknya.
Begitu pun jika anaknya ingin bertemu dengan papanya, sebisa mungkin mengabaikan egonya demi kebahagiaan anak-anaknya. Karena pada dasarnya anak itu selalu menyayangi kedua orang tuanya meski terabaikan oleh orang tuannya.
"Apakah mbak Marisa pernah menjenguk anaknya?" tanya Anita.
"Belum, aku tidak berani menemuinya. Itulah yang membuat aku sedih dan kecewa pada diri sendiri. Penyesalan selalu datang di akhir mbak, namun bukan berarti tidak bisa berubah." kata Marisa.
Kata siapa, mas Rendi tidak pernah berubah. Meski sekarang lebih baik dari tahun sebelumnya. Sekarang pun masih egois dan sering marah-marah, gumam Anita dalam hati.
Memang di di dunia ini bisa berubah, apa pun itu. Namun jika manusia bisa berubah lebih baik karena ada kemauan dari dalam dirinya. Tapi sebuah watak tidak akan mudah untuk berubah.
"Berusahalah mbak, walaupun ada penolakan dari mantan mbak. Setidaknya anak mbak bisa melihat sosok ibu kandungnya." kata Anita memberi saran.
Marisa diam, dia memang ingin menemui anaknya. Tapi saat-saat sekarang masih belum berani
"Aku mau mbak, tapi saat ini aku membutuhkan keberanian untuk menemui anakku dan mantan suamiku. Setidaknya hanya untuk melihat anakku saja." kata Marisan
Wajah tirusnya mengguras kecantikannya itu, jika dia pandai merawat diri sudah pasti cantiknya akan terpancar. Dan laki-laki manapun akan tertarik padanya. Mungkin juga..., Rendi.
Ah, Anita makin melantur pikirannya. Dia melihat kedua anaknya dan Rendi sedang berlari menuju ke arahnya.
"Anita."
"Oh, itu anak-anak mbak Anita?" tanya Marisa lagi.
"Iya."
"Pasti yang di belakang adalah suaminya. Kelihatan sekali kebahagiaan yang mbak Anita dapatkan ya." kata Marisa tersenyum senang.
"Dia mantan suamiku." kata Anita memotong senyum Marisa yang mengembang.
Dia bukan wanita yang terlalu peduli jika ada orang yang ingin tahu kisah perceraiannya. Namun jika ada yang bertanya dia akan jawab dia adalah seorang janda.
Marisa menatap Anita, tidak ada guratan kecewa atau kesedihan di wajah Anita di mata Marisa. Namun Anita juga tidak terlalu risih dengan kalimatnya itu. Tapi untuk bercerita panjang lebar dengan masalahnya pada orang lain apa lagi orang baru di kenal, dia tidak bisa.
"Oh, berarti sama denganku. Seorang janda. Tapi mbak Anita terlihat lebih tegar berhadapan dengan mantan suami." kata Marisa merasa kagum.
"Ini juga karena anak-anak. Aku akan menuruti kemauan anak-anak, yang terpenting anak-anakku bahagia sekalipun harus bertemu dengan papanya seperti sekarang." kata Anita, dia menerawang jauh ke depan tanpa melihat ke arah Marisa yang masih takjub padanya.
"Aku salut pada mbak Anita, meskipun sudah berpisah masih mau bertemu dengan mantan suami. Aku belum berani melakukan itu, mbak." ucap Marisa.
Diam Anita, tidak menanggapi ucapan Marisa.
"Tidakkah mbak Anita ingin kembali pada mantan suami mbak Anita?" tanya Marisa lagi.
__ADS_1
Membuat Anita menoleh padanya, memandang wajahnya. Menelisik apakah pertanyaan itu dia tujukan padanya atau dirinya sendiri.
"Apakah mbak Marisa punya keinginan kembali pada mantan suami mbak Marisa?" kini Anita balik bertanya.
"Ada, tapi sepertinya itu tidak mungkin." kata Marisa sambil menunduk.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Anita lagi.
Seperti seorang detektif Anita terus menyelidiki Marisa. Namun kini dia sadar, buat apa ingin tahu masalah orang lain.
"Mama...!" teriak Chiko berlari ke arahnya semakin dekat.
Anita tersenyum, dia menyambut anaknya itu dengan memegang tangannya.
Tanpa permisi Marisa pergi meninggalkan Anita yang sedang asyik dengan Chiko. Anita menoleh ke arah Marisa yang semakin menjauh darinya.
"Kamu tadi ngobrol dengan siapa?" tanya Rendi ketika dia sudah sampai.
"Hanya orang yang sedang kesepian dan butuh mengobrol saja." jawab Anita.
"Ma, kapan pulangnya? Kakak capek." tanya Chila pada Anita.
"Ya udah, ayo kita pulang." jawab Anita.
Chila dan Chiko menggandeng tangan Anita dan Rendi membawa peralatan bekal yang tadi di bawa Anita. Meski dia enggan, namun dia membawanya juga.
_
Sudah lima hari Anita dan kedua anaknya liburan di rumahnya yang dulu. Dan Rendi juga selama anaknya dan Anita masih di rumah itu dia tinggal di rumah itu juga, meski dia tidur di ruang kerjanya dulu.
Anita menghampiri Rendi di ruang kerjanya, mau mengatakan dia dan anak-anak akan pulang karena waktu liburan sudah selesai. Lagi pula Chila dan Chiko harus masuk sekolah minggu depannya lagi.
Anita membawakan kopi untuk Rendi yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku buatkan kopi untukmu." kata Anita meletakkan cangkir di meja kerja Rendi.
"Terima kasih." jawab Rendi tersenyum pada Anita.
"Emm, lusa dan anak-anak harus pulang ke kampung mas." kata Anita.
Rendi menatap Anita datar, ternyata begitu cepat dia harus berpisah dengan kedua anaknya. Rendi mendesah berat, belum juga mengambil hati Anita harus berpisah lagi.
Dua hari ini dia akan cari cara bicara lagi pada Anita tentang maksudnya untuk kembali lagi.
Karena tidak ada tanggapan dari Rendi, Anita keluar dari ruang kerja Rendi tanpa pamit. Sedangkan Rendi menatap kepergian Anita sampai pintu itu tertutup kembali.
Di sandarkannya tubuhnya di kursinya, memikirkan kapan dan bagaimana dia akan bicara pada Anita. Hingga tidak terasa tertidur di kursinya.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤