IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
139. Three Vs One


__ADS_3

"Kalian datang lagi?" tanya Anita.


Dia heran, kenapa ada tiga orang yang datang. Anita berusaha tenang, dia mempersilakan duduk di kursi teras rumah. Karena dia yakin mereka tidak mau masuk ke dalam.


"Jadi bu Anita, sesuai janji saya. Saya ke sini lagi dan meminta pada anda agar bekerja sama dengan kami." kata pengacara Ramos.


Anita menatap Mourin dan di sebelahnya, dia tidak tahu siapa perempuan di samping Mourin itu. Apa temannya atau teman satu tim pengacara itu?


"Dan seperti apa yang telah saya katakan, saya tidak akan memberikan hak anak saya pak pengacara." ucap Anita tegas.


"Jangan sombong kamu Anita, aku juga punya hak di rumah itu." ucap Mourin lebih lantang.


"Lalu, saya ganti uang yang telah kamu keluarkan untuk membayar rumah itu. Berapa yang kamu mau?" tanya Anita menantang Mourin.


Entah dari mana asal keberanian Anita menghadapi Mourin yang tiba-tiba jadi kalap begitu.


Perempuan sebelah Mourin pun kaget, ya dia Sandra sahabat Mourin. Dia hanya mengantar Mourun agar bisa menjaga wibawa sebagai seorang perempuan elegan.


"Rin, jaga emosi lo." bisik Sandra pada Mourin.


Mourin pun menghela nafas panjang, dia masih menatap tajam ke arah Anita. Sejujurnya dia malas berurusan dengan Anita, tapi dia benar-benar butuh rumah itu.


Empat tahun silam


Setelah kedua orang tua Mourin meninggal, Mourin hidup sendiri setelah Evan menceraikannya, dia hidup tidak tidak beraturan. Kadang dia mabuk-mabukan di bar, kadang dia juga tidak pulang ke rumahnya.


Elana, anaknya hanya hidup dengan pembantunya saja. Hingga satu tahun setengah dia masih hidup semaunya sampai perusahaan bank swasta yang dia kelola jadi hilang kepemimpinan.


Dan beberapa karyawan penerima nasabah ada yang menggelapkan uang sampai miliaran rupiah dan bank yang dia kelola di likuidasi penerintah karena tidak bisa membayar uang nasabah.


Sejak saat itu, Mourin jadi mengandalkan uang warisan asuransi kedua orang tuanya yang lumayan besar. Tapi lagi-lagi karena hidupnya berfoya-foya, jadi uang asuransi pun habis.


Yang tersisa adalah rumah orang tuanya dan sebidang tanah tiga hektar di sekitarnya. Dua hektar dia jual untuk pengobatan anaknya yang sakit kebocoran jantungnya.


Beruntung Sandra sahabatnya mau menampung Mourin bekerja di butiknya sebagai penasehat keuangan. Karena memang kuliah S2 Mourin jurusan ekonomi.


Ya, meskipun tidak terlalu berguna di butik Sandra. Sandra sendiri tidak menempatkan Mourin di bagian keuangan karena dia sendiri yang memegangnya selain merancang pakaian para orang kaya dan sederatan sosialita di kota.


Mourin yang sudah tidak sekaya dulu kini mencoba mengambil rumah yang dulu dia tempati bersama dengan Rendi dulu, untuk mengobati sakit anaknya Elana.


Evan sendiri setelah menikah dengan Mourin selama empat tahun tidak memberikan apapun, hanya memberikan uang belanja pada Mourin.


Mourin tidak mengambil pusing masalah keuangan Evan yang tidak memadai waktu itu. Dia berpikir bahwa dia juga mampu membiayai hidupnya dengan anaknya.


Sampai Evan meminta cerai beberapa kali, namun Mourin menolaknya. Karena dia sangat mencintai Evan.


Hingga Evan menikah lagi dengan gadis berketurunan Rusia dan hidup menetap di negara Fladimir Putin itu. Dan sebelum pergi ke negara istrinya, Evan memberikan surat cerai pada Mourin.

__ADS_1


Sampai Mourin syok dan hidup semakin tidak teratur dan mabuk-mabukan karena kehilangan Evan yang sangat di cintainya itu.


Elana anaknya sampai terlantar sering di tinggal oleh Mourin bersama dengan pembantunya saja. Sampai Elana sakit berkepanjangan dan dokter memvonis Elana mengalami kebocoran jantung.


_


Dan kini, dia sengaja datang untuk meminta haknya. Bukan ingin meminta haknya tapi meminta apa yang pernah Rendi punya. Dia berpikir, wajar saja jika dulu setelah bercerai dengan Rendi dia mendapatkan apa yang seharusnya. Namun dia waktu itu tidak memintanya.


Jadi dia sekarang memintanya untuk anaknya, meski pun rumah itu sudah jadi milik anaknya Anita.


Dia menuntut karena memang dia ikut membayar sisa dari pembelian rumah tersebut.


Dan rumah itu ada yang menawar tinggi, makanya Muorin bersikeras untuk memintanya. Jika pun Anita ingin mengganti ruginya, dia siap menggantinya. Tapi nyatanya Anita mempertahankan milik anaknya itu.


Mourin tetap ngotot meminta rumah itu dan membawa pengacara yang memang masih baru di firma yang di naungi pengacara Ramos.


Dia tidak bisa membayar pengacara handal dari firma itu dan asal dapat pengacara saja. Tapi memang pengacara Ramos berusaha untuk memenangkan kasusnya. Karena kasus itu juga bisa membawanya jadi pengacara di perhitungkan.


Pengacara Ramos belum bertemu dengan Arga yang sudah bertahun-tahun menangani kasus.


Mourin kini tidak sekaya dulu dan kehidupannya seperti Anita dulu, hidup sederhana namun penampilan memang tidak pernah dia rubah. Dia tetap saja angkuh dan sombong jika berhadapan dengan orang yang pernah menganggapnya seorang direktur sebuah bank. Terutama Anita.


Dia seperti itu hanya tidak mau terlihat sudah miskin oleh Anita, karena dia sendiri terlalu sombong untuk mengakui kalau dirinya sudah bangkrut.


"Jadi bu Anita, saya tanya sekali lagi. Apakah anda tidak mau bekerja sama dengan kami?" tanya pengacara Ramos.


"Saya tetap pada pendirian saya, tidak akan memberikan hak anak saya." ucap Anita dengan tegas.


Mourin mulai kesal, dia tampak geram dengan sikap Anita yang kekeh tidak mau memberikan rumah itu. Dia sedang berpikir bagaimana pun rumah itu harus dia dapatkan.


Sandra berbisik pada Mourin untuk tetap tenang, jangan berbuat gegabah. Namun itu sia-sia saja, Mourin berdiri dan maju mendekat pada Anita.


"Perempuan sombong, cepat kamu tanda tangani surat pengalihan rumah itu!" kata Mourin menarik tangan Anita.


"Mourin! Jangan lakukan itu!" teriak Sandra.


Dia tidak menyangka Mourin berbuat nekat. Dia sudah mewanti-wanti sahabatnya agar tenang dan tidak berbuat di luar kendali.


"Kamu mau memaksa saya dengan kekerasan? Silakan, tapi saya akan menuntut semua perbuatanmu ini." kata Anita.


"Apa yang akan kamu lakukan hah?!" teriak Mourin.


"Kamu tahu suamiku itu pengacara? Aku akan menuntutmu!" ucap Anita lagi.


"Silakan saja, saya tidak takut!"


Lalu dia mendorong Anita dengan kencang, dia terhuyung ke belakang. Semua kaget apa yang di lakukan oleh Mourin.

__ADS_1


Anita terhuyung, belum sempat jatuh Arga sudah menarik tangannya dan memeluknya erat. Kini Anita menatap suaminya dengan lega.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Arga pada istrinya merasa cemas.


"Tidak apa-apa, untung kamu datang Ga." kata Anita.


Semua mata tertuju pada Anita dan Arga. Mourin sendiri tidak merasa bersalah, Sandra dan pengacara Ramos mundur selangkah, mereka tahu itu suaminya Anita.


Arga menoleh ke arah ketiga orang itu, dan menatap tajam pada Mourin yang tadi mendorong Anita.


"Saya tahu siapa anda nona Mourin, mantan direktur bank yang sudah di likuidasi oleh pemerintah, seorang istri yang di ceraikan secara sepihak oleh suaminya yang menikah lagi dengan orang Rusia. Dan di tinggalkan begitu saja, hidup dengan foya-foya tanpa memikirkan anaknya hingga dia mempunyai penyakit serius. Benarkah begitu?" tanya Arga dengan tajam.


Mourin terkejut, kenapa suami Anita tahu banyak tentangnya? pikir Mourin.


Sandra dan pengacara Ramos juga ikut terkejut. Pengacara Ramos memperhatikan tanda pengenal Arga, bahwa dia adalah pengacara senior.


"Pengacara Ramos, anda tahu klien anda ini seorang mantan direktur bank yang di likuidasi dan sudah bangkrut?" tanya Arga pada pengacara Ramos.


Pengacara Ramos hanya diam, dia bukannya tidak tahu. Tapi karena dia sedang sepi job makanya mau menerima tawaran dari Mourin.


"Maaf pak Arga, saya tahu ibu Mourin. Tapi saya hanya membela klien saya sesuai pekerjaan saya dan tugas saya." kata pengacara Ramos beralasan.


"Tapi anda tahu jika surat yang di bawa klien anda itu tidak sah. Kenapa anda tidak menjunjung tinggi kebenaran bahwa anda adalah pembela yang harus membantu orang-orang yang perlu di bantu?"


"Pak Arga, saya hanya.." kata pengacara Ramos terpotong.


"Cukup pengacara Ramos, saya akan bawa kasus ini ke pengadilan. Tunggu surat saya lanyangkan ke kantor firma anda. Dan anda nona Mourin, saya pastikan anda masuk penjara telah melukai istri saya!" tegas Arga.


Dia marah sekali, kenapa istrinya seolah sedang di keroyok oleh tiga orang tidak mengerti hukum.


"Saya tidak melukai istri anda, saya hanya meminta hak saya." ucap Mourin masih dengan suara lantang.


"Saya tahu anda begitu ngotot meminta rumah itu karena ada yang menawar tinggi rumah itu kan? Saya tidak bodoh, nona Mourin. Dan saya akan ganti uangbyang telah anda bayarkan atas rumah itu." kata Arga dengan tajam.


Dan Mourin semakin terkejut, dia diam seribu bahasa. Entah apa yang akan dia lakukan seterusnya. Mourin mendengus kesal, lalu dia menarik tangan Sandra dan berlalu dari hadapan Anita dan Arga dengan cepat. Pengacara Ramos pun pamit pulang menyusul Mourin dan Sandra.


Anita menatap Mourin dengan rasa kasihan, lalu beralih menatap suaminya. Dia tersenyum dan mengecup pipi suaminya.


"Terima kasih Ga, kamu benar-benar pahlawanku." kata Anita.


"Hatiku gelisah di kantor sayang, sejak datang ke kantor aku mencari tahu tentang Mourin itu siapa. Dan di kantor banyak yang membantu mencari tahu tentang Mourin dan Firma Badan Hukum. Jadi aku langsung pulang, dan ternyata dugaanku benar, kamu di datangi tiga orang itu." kata Arga.


Mereka masuk ke dalam rumah, Anita juga masih merasa kaget dengan apa yang telah di lakukan oleh Mourin tadi.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2