IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
80. Memohon


__ADS_3

Marisa di dalam kamarnya berpikir bagaimana bisa Arga seakrab itu dan anaknya? Kenapa dia mengacuhkannya?


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Marisa.


Marisa mondar mandir di kamarnya untuk memikirkan bagaimana Celine mau dengannya dan akrab seperti ibu dan anak.


"Apa sebaiknya aku bicara sama Anita saja ya? Atau aku bawa Celine pergi, tapi nanti mas Arga jadi lebih dekat lagi dengan Anita. Waktuku tidak banyak, ya Tuhan." ucap Marisa lagi.


Akhirnya dia membaringkan tubuhnya seiring nanti idenya untuk mengambil hati Celine.


Alih-alih mau mengambil hati Celine, tapi malah pikiran piciknya justru menguasai pkirannya.


Hari ini Marisa kembali mengunjungi Celine, dia ingin mengajak jalan-jalan. Tapi dia sebelumnya izin dulu sama Arga sebelum Arga berangkat kerja.


"Aku ingin mengajak jalan-jalan Celine mas, bolehkan?" tanya Marisa ketika Arga akan berangkat kerja.


"Kemana?" tanya Arga datar.


"Yang dekat aja, ngga jauh-jauh kok. Mm, kalau mau juga nanti aku ajak mbak Anita." kata Marisa untuk meyakinkan Arga.


Arga diam, lalu dia mengangguk cepat. Setidaknya dia merasa tenang jika memang Anita ikut dengan Marisa. Karena nanti Anita juga mengawasi Celine.


"Jangan terlalu lama, siang harus sudah pulang ke rumah." pesan Arga.


"Tapi kan sama mbak Anita, masa tidak boleh lama-lama." kilah Marisa.


"Tetap saja, tidak boleh lama-lama. Anita juga punya kesibukan sendiri di tokonya."


Marisa diam, kenapa dia ibunya harus di batasi untuk main dengan anaknya.


Setelah bicara seperti itu Arga masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Marisa yang sedang menunggu Celine keluar untuk bermain dengannya.


Marisa akan membawa Celine ke kontrakannya untuk bermain bebas dengannya tanpa di awasi.


Celine keluar dengan membawa beberapa buku gambar dan pensil warna, seperti mau sekolah. Juga dia membawa beberapa mainan lainnya.


"Celine mau ngga ikut mama jalan-jalan?" tanya Marisa pada anaknya.


"Kemana?" tanya Celine.


"Emm, Celine mau kemana jalan-jalannya?"


"Ngga tahu ma, biasanya papa yang ngajak."


Marisa menghela nafas panjang, dia berpikir bagaimana kalau ke rumah Anita saja dulu. Tapi ah tidak, akan di bawa ke kontrakan saja langsung.


"Kita ke rumah mama dulu yuk, nanti mampir ke rumah tante Anita." ucap Marisa.


"Iya ma?" tanya Celine senang.


"Iya, tapi ke kontrakannya mama dulu yah." bujuk Marisa.


"Iya deh ma, Celine mau." jawab Celine senang.


Dia berpikir akan bermain dengan Chila dan Chiko seperti kemarin. Wajah cerianya tambak mengembang.

__ADS_1


"Ya udah, izin dulu sama oma kalau mau ke rumah tante Anita."


Celine mengangguk, bocah kecil itu lalu masuk ke dalam rumah. Marisa tersenyum, dia menunggu di kursi teras itu.


_


Kini Marisa dan Celine naik angkot untuk pergi ke kontrakan Marisa. Karena merasa senang dengan di imingi akan ke rumah Anita.


Celine senang, dia dan Marisa sampai juga di rumah kontrakan Marisa.


"Ma, rumahnya kecil ya." kata Celine memperhatikan rumah kontrakan ibunya itu.


"Ini rumah kontrakan mama, kalau rumah aslinya ada di kota. Celine mau tidak ke rumah mama yang di kota, besar lho rumahnya sama seperti rumah papa." kata Marisa.


"Ngga mau ma, nanti papa nyariin Celine." ycap Celine.


Marisa menghela nafas panjang. Dia mengajak anaknya masuk ke dalam dan duduk di kursi tamu. Celine mengeluarkan buku gambar dan juga mainannya. Dia sejenak lupa dengan pergi ke rumah Anita karena dia tidak sabar membuka buku gambar yang baru di belikan Arga untuknya.


Marisa senang dengan Celine yang lupa dengan janjinya mau ke rumah Anita.


Sampai siang hari tiba, Celine mulai lapar. Marisa menyiapkan makanan untuk anaknya dan menyuapinya. Dia senang Celine mau makan dengannya. Sebentar lagi Celine akan lebih dekat dengannya dan mau ikut dengannya, pikir Marisa.


Tapi rupanya itu angan-angan Marisa, Celine kini menagih janji Marisa dengan mengajaknya ke rumah Anita.


"Katanya mau ke rumah tante Anita, ma?" tanya Celine membuat Marisa terdiam tidak meneruskan menyuapi makan Celine.


"Kenapa sih Celine ingatnya sama tante Anita aja?" tanya Marisa mulai kesal.


"Kan tadi mama janji mau main ke rumah tabte Anita." ucap Celine lagi.


"Kok mama ingkar janji, kata papa janji harus di tepati. Ayo ma ke rumah tante Anita." Celine mulai merengek.


"Celine, diam tidak?!" bentak Marisa tidak bisa mengontrol emosinya.


Sejak pertama dia melihat Anita dan Arga dekat serta anaknya juga dekat dengan Anita, Marisa kesal sekali. Ada apa dengan wanita itu? pikirnya.


Celine menunduk, dan lama-lama dia menangis. Marisa kaget, dia lalu memeluk anaknya. Dia menyesal telah membentak anaknya itu.


"Maafkan mama Celine, mama ngga mau Celine lebih dekat dengan tante Anita dari pada mama. Celine itu anaknya mama sama papa Arga, tapi kenapa dekat dengan Anita." ucap Marisa mengelus punggung Celine.


"Tapi tante Anita baik, Celine juga suka main sama kakak Chila dan abang Iko." ucap Celine lagi.


Kini rasa kesal dan marah Marisa semakin memuncak. Baiklah, dia akan meminta Anita untuk menjauhi Celine dan papanya. Dia pikir mendekatkan diri dan menarik perhatian Celine dan Arga rasanya tidak bisa karena masih berhubungan dengan Anita.


"Ya sudah, mama akan ke rumah tante Anita. Tapi ini yang terakhir." kata Marisa.


Celine mengangguk, dia senang akhirnya ke rumah Chila dan Chiko. Sedangkan Marisa bersiap, dia akan bicara pada Anita.


Celine dan Marisa naik angkot menuju rumah Anita, di perjalanan di angkot Marisa masih memikirkan bicara dengan Anita.


_


Anita senang melihat Marisa sudah bisa mengambil hati Celine. Terlihat mereka sepertinya bahagia, tapi Anita tidak tahu wajah ceria Celime karena dia berkunjung ke rumahnya bukan karena sudah lebih akrab dengan Marisa.


"Waah, mbak Marisa sudah lebih dekat dengan Celine ya." ucap Anita dengan senangnya.

__ADS_1


Marisa hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Anita. Anita sendiri aneh dengan diamnya Marisa. Mereka duduk di kursi di teras rumah. Marisa masih diam, wajah sendunya teihat jelas membuat Anita heran kenapa dengan Marisa.


"Mbak Marisa kenapa?" tanya Anita.


Masih dia m Marisa, dia sedang berpikir akan mengatakan apa pada Anita, jelasnya bermain drama di depan Anita. Dia melirik cincin yang melingkar di jari Anita, dan kembali dadanya bergemuruh. Dia menghela nafas kasar.


"Mbak Marisa?"


Marisa tiba-tiba bangun dari duduknya dan bersimpuh di hadapan Anita yang sedang duduk di sampingnya tadi. Anita kaget dengan sikap Marisa ini, dia bangun dan menarik tangan Marisa.


"Mbak Marisa kenapa seperti ini?" tanya Anita.


"Mbak Anita, saya mohon beri aku kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan anakku mbak." ucap Marisa.


"Maksudnya apa mbak Marisa?" tanya Anita tidak mengerti.


"Saya baru saja dekat dengan Celine, saya mohon untuk saat ini mbak bilang sama mas Arga jangan bertemu dulu."


"Apa maksudnya mbak?"


"Mbak Anita, bukankah setiap orang punya kesempatan kedua untuk memperbaiki? Mbak Anita juga bisa memberi kesempatan kedua untuk mantan suami mbak Anita untuk kembali pada mbak Anita. Maka dari itu, aku mohon mbak untuk memberikan kesempatan kedua untuk saya lebih baik untuk memperbaiki hubunganku dengan mas Arga dan juga Celine." ucap Marisa, dia sedikit terisak.


Baru Anita mengerti maksud dari Marisa, tapi kenapa dia meminta padanya? Kenapa buka pada Arga saja?


"Kenapa mbak Marisa meminta pada saya, bukankah lebih baik meminta pada yang bersangkutan. Sama Arga? Saya tidak punya hak untuk menolak atau pun menerima mbak Marisa Itu urusan pribadi Arga dan mbak Marisa sendiri." ucap Anita.


Dia heran kenapa Marisa bertindak seperti itu. Marisa diam, dia sedang memikirkan rencana opsi kedua.


"Kalau saya yang meminta sama mas Arga, pasti dia menolak mbak. Makanya saya meminta sama mbak Anita untuk bicara pada mas Arga memberi kesempatan pada saya. Saya tahu saya salah, tapi bukankan orang punya kesempatan kedua untuk berubah?"


Anita menghela nafas panjang, sebenarnya masalah mereka itu adalah pribadi mereka, tapi Marisa malah membawanya masuk ke masalahnya dan Arga. Apa aku hanya sebagai penengah saja, memang siapa diriku?


"Sudah saya katakan mbak Marisa, saya itu orang lain. Masalah Arga dan mbak Marisa bukan urusan saya. Saya sudah membantu mbak Marisa untuk bicara dengan Arga, dan Celine sudah mau menerima mbak Marisa. Bukankah dulu mbak Marisa ingin di akui oleh Celine? Dan sekarang mbak Marisa sudah di akui oleh Celine, lalau kenapa mbak harus memohon pada saya?" tanya Anita.


"Karena mbak sepertinya punya hubungan dengan mas Arga. Jadi saya memintanya, mbak juga bisa kembali lagi ke mantan mbak Anita kan."


Anita menghela nafas panjang, percuma menerangkan panjang lebar pada Marisa. Dia paham maksud Marisa memohon padanya.


"Jika mbak Anita tidak mau menolongku, aku rasa membawa Celine pulang ke kotaku sepertinya adil. Mbak Anita bisa dengan mas Arga, dan Celine akan ikut denganku." ucap Marisa.


Anita tercekat dengan ucapan Marisa ini, apa sebenarnya maunya Marisa.


"Mbak Marisa sebenarnya mau apa dengan saya?" kali ini Anita menyerah, dari pada Celine di jauhkan dari Arga.


"Saya hanya ingin mbak Anita tidak bertemu dengan mas Arga lagi dan Celine selama saya masih di sini. Itu saja, saya juga sebentar lagi akan berangkat ke kota lagi." ucap Marisa.


Anita mencerna ucapan Marisa, hanga sebentar. Tapi baiklah, aku tidak akan mengemis apapun pada siapapun termasuk Arga, pikir Anita.


"Baik, saya akan katakan sama Arga untuk tidak menemuiku lagi selama mbak Marisa masih ada di kampung ini." ucap Anita.


"Terima kasih, Saya akan berusaha lebih baik lagi untuk anakku." ucap Marisa, meski dia juga tidak yakin akan mengembalikan kepercayaan Arga.


Setelah mengatakan itu, Marisa berpamitan untuk mengantarkan pulang Celine.


Anita masuk ke dalam rumahnya, dia duduk di sofa ruang tamu. Memikirkan apa yang di katakan Marisa. Dia juga akan meminta Arga jangan datang ke rumahnya lagi untuk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2