
Setelah di rapikan, akhirnya Rendi di masukkan ke dalam peti mati lalu di antar ke rumah duka di tempat biasa dia tempati dulu.
Anita ikut ke dalam mobil ambulans yang mengantar jenazah Rendi. Masih dalam kedukaannya, Anita terdiam. Dia mengingat selama lima tahun pernikahan, jujur saja hanya di tahun kedua Rendi bersikap manis dan romantis. Setelah di tahun ke tiga dan mengandung kedua bocah, Rendi berubah.
Aah, sebenarnya tidak baik mengingat kejelekan orang yang sudah meninggal, tapi entah kenapa bayangan masa lalu terlintas begitu saja. Apa mungkin karena kebaikan Rendi hanya sebatas awal pernikahan saja atau... Entahlah.
Anita menghela nafas panjang, saat ini dia berkabung untuk Rendi, masa depan anak-anaknya. Tapi masa depannya sekarang ada pada Arga. Dia kini akan berfokus hubungannya dengan Arga, dan semoga tidak ada kendala apa pun. Doa Anita dalam hati.
Mobil ambulans sampai di rumah duka, di sana sudah banyak yang menunggu. Karena ada karyawan Rendi di kantornya mengetahui kalau Rendi di rumah sakit dan sekarang telah meninggal dunia.
Tampak Arga juga baru datang, kedua anaknya berlari menuju Anita dan memeluknya. Anita tiba-tiba merasa sedih lagi melihat kedua anaknya yang menangis kehilangan papanya.
Di hapusnya air mata keduanya dan memberikan kekuatan dengan pelukan dan perkataan agar Chila dan Chiko tabah dan sabar.
"Kakak, adek harus sabar ya. Papa kalian sekarang sudah tenang. Tidak merasakan sakit lagi seperti di rumah sakit kemarin." kata Anita memberi semangat dan kekuatan.
"Tapi waktu itu, papa bilang mau hidup lama lagi sama kakak dan adek ma. Hik hik hik." ucap Chila.
Dia kini menangis histeris, mau tidak mau Anita ikut menangis. Dia tidak tahu harus berkata apa pada kedua anaknya.
"Kakak sama adek mau lihat papa untuk yang terakhir kali? Biar papa tenang di sana." ucap Anita.
"Iya ma, kakak mau lihat papa." kata Chila mengusap air matanya.
"Adek juga ma, adek nanti kangen papa." kata Chiko.
"Kalau adek kangen, doakan terus papa agar papa tenang di sana dan bahagia melihat adek jadi anak yang pintar dan penurut. Begitu kan papa pesan sama adek?" tanya Anita.
Hatinya perih sebenarnya, namun dia harus tegar demi anak-anaknya.
Lalu Anita membawa Chila dan Chiko masuk ke dalam rumah. Di susul oleh Arga dan ibu Yuni yang sejak tadi hanya memperhatikan interaksi Anita dengan kedua anaknya.
Anita memang wanita hebat, dia menahan segala beban penderitaan dari sejak mengandung sampai melahirkan dan membersarkan anak-anaknya, dia berjuang sendiri
Hingga harus di repotkan kembali hadirnya Rendi di hidupnya lagi.Dan sekarang harus bisa menenangkan dan menguatkan anak-anaknya agar sanggup menghadapi kehidupan seterusnya.
Dia yakin kedua anaknya sangat kuat, meski kadang dia sendiri suka mengeluh di kesendiriannya ketika lelah melandanya.
Chila dan Chiko berdiri memandang wajah Rendi dengan menangis sedih. Anita, Arga dan ibu Yuni masih melihat Rendi yang tenang tanpa beban harus kembali pada Sang Penciptanya.
__ADS_1
Dua jam berkabung dan menerima tamu serta rekan kerja Rendi ikut melihat dan berduka.
Kini saatnya jenazah harus di kebumikan di taman pemakaman di mana ayah Rendi di bumikan. Di sana Rendi akan bersanding ayahnya pak Hendri.
Semua sudah siap untuk di berangkatkan menuju TPU, Anita tidak mau berlama-lama menahan jenazah di kebumikan. Dia ingin segera semuanya selesai, bukan berarti masa berkabung segera cepat berlalu. Namun dia tidak mau berlama-lama di kota.
Satu jam iring-iringan jenazah akan di kebumikan, seperti biasanya. Pendeta memberikan petuah dan nasehat dan mendoakan agar jenazah lebih tenang di sana dan memberikan nasehat pada keluarga yang di tinggalkan.
Dan saat ini hanya Chila dan Chiko keluarga Rendi satu-satunya. Mereka masih menangisi kepergian papanya. Setelah peti mati di masukkan ke dalam liang lahat, Chiko histeris hendak menahan peti itu masuk liang lahat. Namun di tahan oleh Arga, sedangkan Chila di pegang oleh Anita.
Suasana haru kembali terjadi, semua yang melihat pemandangan Chiko tidak rela papanya di kebumikan merasa kasihan.
Lama penguburan itu berlangsung, hingga para pelayat secara teratur membubarkan diri pulang dan kembali ke kegiatannya masing-masing.
Kini yang tinggal hanya Chila, Chiko, Anita, Arga dan ibu Yuni. Semua menatap nisan berbentuk simbol dengan nama Rendi lengakp dengan tanggal lahir dan kematian.
Dari kejauhan, Mourin mendekat pada Anita dan anak-anaknya. Dia memakai baju serba hitam menandakan duka cita. Dia mendekat lagi dan berdiri di samping Anita. Anita menolehnke arah wanita di sampingnya.
Dia kenal siapa dia. Ya, dia yang dulu pernah membentaknya dan mengejeknya ketika Rendi masih jadi suaminya, namun perselingkuhan itu sudah terjadi di antara mereka.
"Apa anda merasa berduka?" tanya Anita pada Mourin, tidak menatapnya.
Dia membetulakn posisi kaca mata hitamnya, dan menatap lambang nisan itu dengan sedih. Walau bagaimana pun, Rendi masih jadi bawahannya di kantor. Jadi dia sebagai atasan yang baik harus ikut berbela sungkawa untuk Rendi.
Anita yanh di samping Mourin sedikit kesal, kenapa wanita itu berbicara seperti tidak ada penyesalan. Namun demikian, Anita tidak mau berdebat.
Mourin menghampiri Chila dan Chiko, dia mengelus kepala kedua anak itu dan tersenyum. Dia lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal. Mungkin itu berisi uang pesangon Rendi atau entah apa.
"Ini untuk masa depan kalian anak-anak manis dan cantik. Gunakanlah dengan sebaik-baiknha." ucap Mourin.
Chila yang menerima amplop itu hanya memandang Mourin saja, tidak mengerti maksud dari perkataan Mourin
"Selamat berduka cita, semoga papa kalian tenang di sisiNya." ucap Mourin, lalu dia pergi daro hadapan Anita dan kedua anaknya.
Masih dengan keheranan, Arga menatap Anita yang sedikit kesal dengan tingkag Mourin.
"Apa dia dulu selimgkuhan Rendi?" tanya Arha pada Anita.
"Ya, dia juga mantan istrinya mas Rendi juga." jawab Anita.
__ADS_1
Kini Anita dan kedua anaknya harus pulang ke rumah biasanya. Semua juga beristirahat di rumah itu malam ini.
Rasa lelah dan sedih membuat mereka malas untuk makan, meski Arga membeli makanan untuk mereka.
_
Masa berkabung bagi Chila dan Chiko dan juga Anita masih di warnai kesedihan. Di mana ketiganya masih ada di rumah itu.
Anita juga tidak tahu harus bagaimana peninggalan rumah Rendi itu, apakah harus di tempati lagi atau di tinggalkan begitu saja. Tapi lebih baik di kontrakkan saja.
Malam ketiga, Anita masih di rumahnya yang lama. Belum kembali ke kampung, sedangkan ibu Yuni sudah pulang lebih dulu bersama Arga dua hari lalu. Biarlah dia selama seminggu akan tinggal di rumah itu, untuk rumahnya akan dia pikirkan nanti setelah sampai di kampung lagi.
Lagi pula tidak mungkin dia tinggal di rumah itu, karena kedua anaknya harus sekolah di kampung. Dia juga sudah nyaman hidup di kampung. Hanya waktu masa berkabung saja selama seminggu yin
tinggal di rumah itu.
"Ma, kita tinggal di sini lagi?" tanya Chila ketika malam mereka berkumpul di depan tivi.
"Ngga kak, kita di sini hanya sampai satu minggu aja. Kan kakak sama adek harus sekolah di kampung." kata Anita.
"Kakak juga suka di kampung ma, banyak teman. Ngga suka tinggal di sini." kata Chila.
"Iya, kak. Pulangnya tunggu dua hari lagi ya, dan sebelum pulang kita ke tempat papa dulu." kata Anita.
"Mau apa ma?" tanya Chila lagi.
"Pamit sama papa, mungkin seterusnya kita akan jarang datang ke sini, ke kota ini." kata Anita, dia mendekap anaknya itu.
"Apa papa di sana ngga kedinginan, ma?" pertanyaan ciri khas anak kecil.
Anita tersenyum, dia mengeratkan pelukannya. Tidak ada yang mengenakan ketika sudah masuk ke dalam bumi. Dan berteman dengan dinginnya tanah dan ganasnya binatang-binatang yang ada di dalam tanah pemakan daging bangkai.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤
__ADS_1