IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
16.Surat Cerai


__ADS_3

Satu minggu yang telah di janjikan Rendi,surat datang melalui kurir post.


Sebuah amplop warna coklat besar terkirim atas nama Anita.Di situ atas amplop tertulis nama sebiah lembaga negara.


Noni menerima surat berwarna coklat dari tukang post.Dia hanya menatap dan membaca kop surat di atas.


Pengadialan Negeri.


Itu berarti adalah surat gugatan cerai dari Rendi.Noni terpaku,bingung dengan surat itu.Bagaimana dia akan menyampaikannya pada Anita.


Anita masuk garasi,dia membayar becak yang tadi dia sewa.Lalu membawa masuk beberapa kantong kresek ke dalam rumah.


Noni memandang Anita dengan gugup,amplop yang tadi dia sembunyikan di belakang punggungnya.


"Noni,tolong bawakan belanjaanku yang di depan."kata Anita,dia melangkah masuk ke dalan rumah.


Noni pun menurut,dia selipkan amplop warna coklat itu di antara lengan dan pinggulnya lalu dia membawa belanjaan dan di bawa masuk ke dalam rumah menuju dapur.


Anita yang merasa Noni kerepotan,dia melihat ada amplop warna cokelat di kempit di ketiaknya.Anita pun penasaran,amplop apa yang di bawa Noni.


Anita mendekat pada Noni berniat bertanya apa yang dia bawa.Tapi dia melihat kop di amplop tersebut bertuliskan pengadilan negeri.


Deg.


Hati Anita semakin berdesir,dia penasaran.Dia pun menarik amplop itu dari tangan Noni,pasti itu dari kurir untuknya.


Noni kaget Anita menyerobot surat yang dia pegang itu.Dia tertunduk dan diam.


Sedangkan Anita membuka amplop besar itu dan mengeluarkan isinya.Dia baca satu demi satu barisan kalimat di atas kertas itu,walau dia sendiri sudah menduga apa isinya.


Jantungnya semakin berpacu ketika pada pertengahan kalimat bahwa dia dan Rendi resmi bercerai.Luruh tubuh Anita berbarengan denga air matanya yang meluncur deras di pipinya.


Lembaran surat itu pun ikut jatuh bersamaan dengan tubuhnya yang lemas.Dia tertunduk dan membaca kembali isi surat itu berulang kali.Barangkali pandangannya salah,namun beberapa kali tetap saja isinya sama.


Noni yang melihat Anita seperti itu menjadi kasihan,dia merasa bersalah menyembunyikan surat itu.Namun dia juga kasihan melihat Anita seperti itu.


"Bu.."Noni memanggil pelan.


"Mas Rendi benar dengan ucapannya,Non.Dia sungguh-sungguh dengan ucapannya akan memberikan keputusan ini.Hik hik hik."


"Bu,yang sabar.Apa tidak bisa di bicarakan lagi dengan bapak mengenai isi surat itu?"tanya Noni.


Dia memang tidak mengerti kehidupan rumah tangga,tapi dia tahu sakit hatinya seorang perempuan itu ketika sudah berumah tangga di ceraikan suaminya.Apa lagi jelas kesalahan ada di pihak laki-laki,menurutnya.


Namun demikian,entah kesalahan apa pada majikannya itu sehingga Rendi memutuskan untuk bercerai dengan Anita.


"Mas Rendi susah untuk di ajak bicara,Non.Seminggu yang lalu kami pernah bicara,saya bertanya kenapa mas Rendi tidak pulang dan kemana saja tapi dia malah marah.Mungkinkah mas Rendi jatuh cinta lagi sama perempuan lain?"ucapan Anita malah membuat Noni tidak bisa menjawab.


Kalaupun menjawab,tidak bisa asal jawab.Karena masalahnya saja dia tidak tahu.


"Mungkinkah memang ini sudah di rencanakan dari dulu,bu?"tanya Noni ragu,dia menutup mulutnya takut ucapannya salah.


"Maksud kamu apa Noni?"tanya Anita bingung.


"Ngga bu,saya salah bicara."ucap Noni meralat ucapannya.

__ADS_1


Dia tidak mau Anita semakin emosi dengan suaminya.Kalau bisa sih di bicarakan baik-baik jangan sampai berpisah.Tapi dia juga merasa kasihan dengan Anita karena sepertinya Rendi mencari alasan untuk berpisah dengan Anita.


"Ibu tenangkan pikiran ibu,jangan di buat beban berat bu."ucap Noni,seolah dia seorang bijak yang mengetahui seluk beluk biduk rumah tangga.


"Saya mau fokus dengan Chila dan Chiko,mungkin benar dengan ucapanmu.Kalau mas Rendi hanya membuat alasan saja dengan selalu menyalahkanku.Padahal dia sejak dulu pengen berpisah dengan saya."ucap Anita.


Noni pun tertegun,dia tadi asal bicara tapi Anita langsung menangkap ucapannya tadi.Dia merasa tidak enak dengan Anita,walau pun memang itu benar adanya.


"Ibu yang semangat ya,demi si kembar."ucap Noni lagi.


"Iya Non.Tapi saya bingung nanti dengan kebutuhan si kembar."


"Ibu bisa bicarakan sama bapak lagi bu.Kan bapak pasti kesini lagi."


"Iya mungkin."


"Bu?"


"Kenapa Non?"


"Ibu ngga sedih lagi kan?"


"Saya tidak tahu Non,mungkin karena sering di perlakukan seperti ini sama mas Rendi jadi entahlah.Saya sedih harus di cerai,bagaimana nanti ibu di kampung mengetahui ini semua."


Noni diam,Anita juga diam.Dia tidak tahu harus bagaimana nanti memberitahu ibunya.Tapi dia akan bertanya dulu dengan Rendi,kenapa dia meminta cerai.


Banyak sekali pertanyaan pada suaminya itu.Apa yang salah pada dirinya sehingga dia mau berpisah dengannya.Biarlah nanti Rendi marah lagi,setidaknya dia mendapatkan jawaban dari suaminya.


_


Rendi mendekat,dia duduk di meja makan di mana si kembar sedang belajar makan di meja makan.Rendi menatap satu persatu anaknya yang sedang makan dan tidak merasa terganggu dengan kehadirannya.


Anita masih meladeni kedua anaknya,dia tahu Rendi datang dan duduk di kursi yang biasa dia duduki ketika makan.


"Anita,bisa kita bicara?"tanya Rendi yang melihat Anita seolah acuh padanya.


"Ya."jawab Anita singkat.


Dia masih sibuk menyuapi kedua anaknya secara bergantian.


"Kamu bisa hentikan menyuapi sebentar,saya mau bicara."ucap Rendi lagi.


"Mas Rendi bicara saja,aku dengarkan kok."ucap Anita lagi tanpa mengalihkan pandangannya pada anaknya.


Dia hanya melirik Rendi kemudian meneruskan kegiatannya.


"Aku nanti tidak fokus untuk bicara karena kamu masih menyuapi mereka."


"Kalau begitu,tunggu selesai aku menyuapi si kembar."


Rendi mendesah kasar,dia juga tidak boleh egois.Lagi pula dia sudah menceaikan Anita,jadi sudah bukan haknya lagi Anita menuruti kemauannya.


Akhirnya Rendi mengalah,entahlah.Dia sama sekali tidak tersentuh atau acuh saja dengan anaknya.Ketika masih tinggal di rumah itu pun Rendi jarang berinteraksi dengan kedua anaknya.


Setelah selesai,Anita lalu mengajak anak-anaknya bermain.Dia memberikan mainan lego yang bisa di susun sendiri,dan kedua anaknya suka bermain lego dan menyusunnya.

__ADS_1


Anita menghampiri Rendi yang duduk di ruang tamu.Dia duduk berhadapan dengan Rendi,menatap mantan suaminya dengan datar.Anita sudah tidak peduli lagi dengan rasa sedihnya,mungkin karena memang sudah biasa dengan perlakuan Rendi.


"Mas Rendi mau bicara apa?"tanya Anita datar.


"Apa kamu menerima surat dariku?"


"Ya."


"Kamu menerima keputusanku?"


"Ya,karena keputusanmu sudah bulat.Jadi buat apa aku menolaknya?"


"Mengenai anak-anak.."


"Jangan khawatir,mereka akan aku asuh dengan baik.Mereka juga akan selalu aku ceritakan yang baik tentang papanya."


Rendi diam,dia menatap Anita yang semakin acuh padanya.Kalau dulu dia yang begitu acuh pada Anita,tapi dia merasa tidak terima Anita mengacuhkannya.


"Kamu marah padaku?"tanya Rendi,entah kenapa dia peduli dengan Anita.


"Tidak.Buat apa aku marah?Biasanya kan kamu yang marah padaku."


Rendi mendengus kesal,kenapa Anita berbicara seolah dia enggan padanya.


"Anita,kamu kalau marah padaku silakan saja.Tapi memang keputusanku untuk bercerai denganmu sudah bulat."


"Ya,aku tahu."


"Anita,jangan acuh seperti itu.Aku kesal dengan sikapmu ini."ucap Rendi semakin meninggi nada bicaranya.


Anita menatap Rendi,dia tidak habis pikir dengan mantan suaminya itu.Berpura-pura tegar saja masih tetap di salahkan,apa lagi jika dia memohon untuk tidak menceraikannya.


"Maumu apa mas?"kali ini Anita beranikan diri untuk berbicara tinggi lagi.


"Aku sudah katakan jangan acuhkan aku,Anita."


"Siapa yang mengacuhkanmu?Sejak tadi aku mendengarkan ucapanmu,kamu bertanya aku jawab.Siapa yang mengacuhkanmu?"


"Ya,maksudnya kamu..."


"Sekarang aku tanya sama kamu,kenapa kamu menceraikanku?Apa alasannya?"


Rendi diam,dia kini mulai ikut emosi dengan Anita yang bicaranya meninggi.Dia tidak terima Anita seperti itu.


"Karena kamu jelek,tidak bisa mengurus diri sendiri.Mana ada suami yang betah dengan istri yang berpenampilan kusut dan kucel.Harusnya kamu menyadari kalau kamu itu tidak bisa merawat diri Anita."ucapa Rendi bagai hantaman peluru di dada.


Hanya karena dia tidak menjaga penampilan dan tidak mengurus diri sendiri,dia memutuskan hubungan pernikahan.Konyol sekali pikir Anita.


"Tubuhku kucel,tubuhku melebar,wajahku jelek juga karena apa?Karena menjaga anak-anakmu mas.Aku belum bisa menemukan waktu untuk merawat diri karena anak-anakmu."


"Banyak istri-istri yang bisa menjaga penampilan ketika dia punya anak.Kamu saja yang malas untuk melakukan itu.Kamu tahukan kalau aku tidak bisa hidup dengan perempuan sepertimu."


"Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu.Tapi baiklah mungkin memang takdir rumah tanggaku denganmu hanya sampai di sini.Dan sekarang kamu mau apa datang ke rumah ini selain mau menghinaku mas?"tanya Anita ketus.


Rendi kembali diam,dia menatap Anita.Lalu membuang wajahnya ke samping.Rasa kesalnya kini memudar.

__ADS_1


Dia awalnya datang ke rumah itu untuk mengambil sisa baju di lemarinya dan membicarakan keuangan yang akan dia berikan setiap bulannya untuk kebutuhan anak-anaknya.


__ADS_2