IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
107. Seperti Ulet Bulu


__ADS_3

Malam begitu panjang di rasakan sepasang suami istri yang menikmati kebahagiaan seperti layaknya pengantin baru. Beberapa kali mereka merasakan nikmatnya surga dunia yang mereka ciptakan, hingga kelelahan yang mereka rasakan dan akhirnya tertidur di jam menunjukkan pukul tiga dini hari.


Tidur saling memeluk dan saling mengucapkan kata maaf, setelahnya mata mereka tidak bisa di ajak kompromi untuk berjaga agar malam ini jangan dulu berlalu. Sebab, esok pagi akan ada kesibukan lain bersama anak-anak.


Waktu berdua mereka manfaatkan hanya saling memeluk dan merasakan kembali cinta yang sempat beku karena keegoisan Arga.


Dan alarm jam menunjukkan pukul enam pagi, ketika Arga enggan sekali pergi dari sisi istrinya.


Anita sendiri sudah membuka matanya, dan hendak turun dari peraduannya. Namun Arga tidak melepaskan pelukannya.


"Ga, aku mau turun. Lepas tanganmu." ucap Anita.


"Emm, aku ngga mau." ucap Arga dengan masih terpejam.


"Tapi ini sudah siang, kamu juga harus ngantor juga kan?" kata Anita lagi.


"Aku mau libur hari ini, aku mau begini terus sampai kamu bosan denganku." ucapan meracau Arga membuat Anita memicingkan matanya.


"Kamu ngomong apa sih, Ga?"


Arga membuka matanya, dia mengecup sekilas bibir Anita dan menatapnya dalam.


"Aku tidak mau jauh darimu, aku ingin selalu memelukmu, mendekapmu erat dan akan seperti ini terus sampai pagi lagi."


Arga menarik kembali tubuh Anita dan memeluknya dengan posesif. Anita risih dengan sikap manja Arga pagi ini, namun begitu dia sangat lega karena apa yang selama ini menjadi beban di hatinya telah sirna.


"Kenapa kamu jadi manja begini sih?"


"Itu karena aku terlalu sayang sama kamu, sayang."


"Ya tapi kita juga harus mandi dan sarapan. Begini juga butuh tenaga, semalam kamu membuatku jadi kelelahan." ucap Anita.


"Siapa yang mulai? Kamu sepertinya sangat suka menggodaku lebih dulu tadi malam, tangan nakalmu yang membuat aku jadi tidak mau melepaskanmu."


"Ish, tapi kamu dulu yang mulai."


"Aku yang mulai, tapi kamu juga menginginkannya. Apa lagi tangan nakalmu terus menggodaku."


"Apa sih, Ga. Itu terus yang di bahas." kata Anita dengan kesal, namun dia malu juga.


"Karena aku suka kamu yang nakal." bisik Arga di telinga Anita.


"Arga!"


Wajah Anita memerah, dia ingat malam tadi dia juga yang memulai duluan. Tapi Arga malah suka sekali meledeknya. Dia tertawa kecil dengan perubahan rona wajah istrinya.


"Udah ah, aku mau mandi." ujar Anita.


"Kita mandi bareng." ucap Arga.


"Ngga mau, kamu malah memperlambat waktu mandiku nanti."


"Bukan memperlambat sayang, tapi kita akan terbu..."


Anita membekap mulut suaminya itu, dan mencubit pinggangnya. Membuat Arga terlonjak dan melepaskan pelukannya karena kaget.


"Sayang, kamu tega banget sih nyakitin aku." rengek Arga dengan manjanya.

__ADS_1


"Biarin, yang butuh perhatianku bukan cuma kamu. Anak-anak juga butuh perhatianku, Ga. Jadi jangan ganggu aku mandi."


Setelah memberi ultimatum seperti itu, Anita melompat dari tidurnya dan menuju kamar mandi. Arga tersenyum puas, lalu tertawa bahagia.


Cukup sudah baginya menyakiti istri yang sangat dia cintai. Terkadang kita mencintai namun tak jarang saling menyakiti.


Cinta tidak hanya datang membawa kebahagiaan saja, tapi juga kesedihan yang berkepanjangan. Arga memutuskan kesedihan itu dengan menyambungaknnya dengan kebahagiaan tak terkira.


Bagi Anita, hidup seperti sebuah air mengalir di sungai. Jika ada kuntum bunga yang jatuh di sungai, maka itu adalah kebahagiaan dan keindahan cinta.


Namun jika hanya kotoran hewan atau sampah busuk, maka itu adalah kepedihan dalam cinta.


Tidak ada yang tahu seberapa banyak kuntum bunga yang jatuh di sungai, dan tidak ada yang tahu pula kotoran dan samaph sebanyak apa yang mengikuti aliarannya. Pada akhirnya, keduanya akan berakhir di muara sungai dan memisahkan diri di tempatnya masing-masing.


_


Hari terus berganti, kebahagiaan terus mengalir di setiap waktunya. Arga semakin sering menempel sama istrinya jika sudah bertemu, apa lagi kalau hari libur kerjanya.


Di mana pun Anita pergi, Arga pasti mengikutinya. Dia ke dapur, Arga juga ikut ke dapur.


Awalnya Anita tidak menyadari jika Arga sering mengikutinya kemana dia pergi. Dan kini, Anita sedang ada di dapur untuk menyiapkan makan malam.


Hari ini pembantu izin tidak masuk membantu Anita membereskan rumah dan memasak di dapur karena anaknya sedang sakit. Dan kebetulan juga Arga libur, dia banyak membantu pekerjaan istrinya.


Menjaga anak-anak dan bermain serta menemaninya belajar. Anita senang, dia sudah menemukan suaminya yang hangat kembali.


Tapi, dia belum sadar jika Arga semakin lengket padanya.


"Ga, kok kamu di sini?" tanya Anita heran.


"Aku suka kamu sedang masak begini, jadi lebih seksi." ucap Arga asal.


"Apa sih, masak di dapur kok seksi. Memasak di dapur tuh bau, bau keringat juga bau bumbu-bumbu dan bau amis ikan goreng." kata Anita.


Dia sedang menggoreng ikan nila pesanan anak-anak. Mereka sangat suka makan dengan ikan goreng.


Arga mmeluk Anita dari belakang dan sesekali mencium pipinya.


"Tapi kamu baunya tetap harum kok. Cup." ujar Arga kembali mencium pipi Anita.


"Udah dong, jangan ganggu aku masak. Mending bantu aku beres-beres dan memindahkan hasil masakan ke meja makan." ucap Anita.


Dia kini lama-lama risih juga sama suaminya itu.


"Sebentar, aku kangen sama kamu. Pengen peluk kamu terus." kata Arga semakin memgeratkan pelukannya.


"Ih, ini kenapa sih jadi ulat bulu begini. Nempel terus deh sejak tadi." ujar Anita agak kesal.


"Hahaha, ya aku sekarang jadi ulat bulu pengennya nempel terus sama kamu. Cup."


"Tapi ngga ganggu aku masak juga, Ga. Kamu kalah pintar sih sama Kevin, udah sana jaga anak-anak aja." Anita mendorong lengan suaminya.


Tapi Arga malah terus menjahili istrinya, dia mencium Anita beberapa kali. Hingga Anita mencubit lengan suami manjanya itu.


"Auh, sayang. Kamu kebiasaan deh cubit aku." ujar Arga meringis karena Anita benar-benar mencubitnya dengan keras.


"Biarin! Kamu susah di bilanginnya.!"

__ADS_1


"Ma, abang mau pipis." ucap Angga yang tiba-tiba masuk dapur.


"Eh, sayang jangan kesini. Nanti kena cubit tangan mama lho."


Anita menatap tajam suaminya dengan kesal, lalu dia beralih ke anaknya.


"Abang sama papa ya, pipisnya." ucap Anita.


"Papa, abang mau pipis." kata Angga.


"Iya sayang, ayo kita ke kamar mandi."


Kedua anak dan ayah itu pergi meninggalkan Anita yang sudah siap untuk menata makanan di meja makan.


_


Anita sudah segar setelah dia mandi di malam hari. Karena setelah memasak dia langsung makan bersama anak-anak dan suaminya.


Hari ini ibu Yuni sedang berkunjung ke kerabatnya dulu ketika masih di kampung, dia menginap selama dua hari di sana.


Arga masuk ke kamar setelah menemani kelima anaknya belajar dan meneruskan menina bobokan Angga dan Kevin.


Dia masuk ke dalam kamar ganti baju, dan melihat Anita sedang memilih baju apa yang dia pakai untuk tidur.


Dan tentu saja, Arga tidak menyia-nyiakan Anita yang sedang memilih baju yang nyaman untuk tidur. Arga ikut mengambilkan baju untuk istrinya.


"Yang ini aja sayang, lebih seksi kelihatannya." ucap Arga mengambil lingerie warna hitam.


Anita menoleh ke arah suaminya, tapi dia malah menjauh dan mengambil baju daster tanpa lengan yang nyaman itu.


"Aku pakai apapun tetap aja kamu serobot kalau mau tidur." ucap Anita yang sudah mengambil baju pilihannya.


"Hahah, benar sekali sayang. Dan sekarang aku lebih suka kamu seperti ini. Hap."


Arga dengan cepat menarik pinggang Anita dan dengan cepat pula Arga membopong Anita yang masih memakai handuk untuk di bawa ke ranjangnya.


Anita menjerit karena kaget, dia memegang leher suaminya.


"Arga, kamu bikin aku kaget aja sih."


Tanpa menjawab Arga sudah membaringkan istrinya dan menindihnya. Bibir langsung menyerobot bibir Anita dan menciumnya tanpa memberi Anita kesempatan mengumpat.


Dan kini keduanya sudah terlena dengan sentuhan masing-masing.


Malam ini sepertinya sudah jadi entah yang ke berapa kali kebahagiaan keduaya saling memgasihi satu sama lain. Mengekspresikan cinta satu sama lain.


Semua oranga dalam berumah tangga pasti ada manis dan ada pula pahitnya menghadapi pasangan. Apa lagi yang sudah menginjak lebih dari lima tahun, cobaan dan masalah dalam rumah tangga semakin besar.


Tergantung bagaimana mereka bisa menyikapi dan menyelesaikannya dalam menghadapi masalah mereka.


_


_


_


❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2