
Seminggu setelah Mourin datang ke rumah Anita, pengacara utusan Mourin terus saja datang mengunjungi Anita. Hampir setiap hari, bahkan mungkin dua kali sehari.
Sebelum dia bertemu dengan Anita, pengacara itu terus mendatangi rumahnya. Layaknya seorang preman, tapi dia pengacara.
"Aneh sekali, kenapa setiap hari pengacara itu selalu datang ke rumah nyonya Anita terus ya. Padahal kan sudah di kasih tahu kalau ibu Anita jika waktunya senggang hari Jum'at Sabtu dan Minggu." ucap pembantu Anita di dapur.
Dia heran, hampir setiap hari datang berkunjung. Kadang lama sekali dia di teras menunggu Anita pulang.
"Pengacara kok setiap hari datang bertamu terus. Apa dia tidak sibuk? Tuan Arga saja sibuk sekali kalau banyak kasus. Lha, dia pengacara apa?" masih bicara sendiri.
"Bibi ngomong apa?" tanya Chila ketika dia baru datang dari sekolahnya.
"Eh, non Chila sudah pulang?" tanya bibi.
"Iya bi, bibi kok bicara sendiri. Emang membicarakan apa?" tanya Chila.
"Oh, itu non ada tamu hampir setiap haru datang ke rumah." jawab bibinya.
"Cari mama atau papa bi?" tanya Chila lagi.
"Cari mama non, ngga tahu padahal bibi sudah kasih tahu kalau mama non Chila pulangnya sore. Kalau mau dari pagi ya hari Jum'at. Apa ngga ngerti ya pemberitahuan seperti itu." jawabnya.
"Siapa sih bi orangnya?"
"Katanya sih pengacara non Chila. Tapi kok pengacara ngga sibuk ya kayak papa non?"
"Ngga tahu bi, papa kan emang sibuk. Kerjaannya banyak." jawab Chila.
Dia mengambil air minum dari dalam kulkas dan menenggaknya sampai tandas di gelasnya. Kemudian dia lari naik tangga untuk ganti baju seragamnya.
_
Hari Jum'at, pengacara itu datang lagi ke rumah Anita. Anita tahu pengacara utusan Mourin datang hampir setiap hari, namun dia tidak bisa menemuinya karena bekerja di pabrik.
Dan hari Jum'at ini Anita ada di rumah. Dia juga di kasih tahu kalau pengacara itu hampir datang setiap hari.
Kini Anita siap menemui pengacara utusan Mourin. Dia akan argumen dengan pengacara tersebut seperti apa yang di sarankan suaminya.
Jika pengacara itu masih tetap ngeyel, maka nanti yang berhadapan adalah Arga.
"Selamat siang ibu Anita." sapa pengacara itu dengan ramah.
"Siang juga pak pengacara, ada yang bisa saya bantu?" tanya Anita berbasa basi.
__ADS_1
"Kenalkan, saya Ramos Pradipta, SH dari firma hukum yang ada di kota. Firma Badan Hukum, ibu tahu itu firma sangat terkenal di kota. Saya datang dengan membawa berkas pengalihan rumah ibu Mourin yang anda klaim milik anak ibu." kata pengacara Ramos dengan lancar dan penuh percaya diri.
"Lalu, apakah anda akan memaksa meminta rumah itu? Anda tahu, surat asli itu ada di tangan ,saya." kata Anita.
"Ya, justru itu ibu Mourin meminta haknya, ibu Mourin juga tidak mau menggantinya dengan uang. Jadi saya meminta dengan hormat, berikan surat rumah itu pada kami. Kami tidak akan memperpanjang urusannya di pengadilan." kata pemgacara Ramos Pradipta.
"Tapi almarhum papanya anak-anak sudah memberikan haknya pada anaknya. Jadi anda tidak berhak memaksa saya untuk membetikan surat rumah itu. Itu sudah milik anak saya." ucap Anita dengan tegas.
"Ibu Anita,saya mohon dengan sangat tolong anda bekerja sama dengan kami agar kami tidak berurusan panjang di pengadilan." kata pengacara Ramos lagi masih sabar.
"Pak pengacara akan sia-sia anda terus memohon karena itu hak anak saya. Lagi pula, almarhum papanya anak-anak juga sudah mempertimbangkan kenapa rumah itu sudah di pindah tangankan, dia juga sudah tahu itu miliknya dan di serahkan pada anaknya." kata Anita lagi.
"Ibu Anita, anak anda umurnya berapa?" kini pengacara Ramos mulai menggunakan taktiknya untuk mengintimidasi lawannya.
"Kenapa memangnya?" tanya Anita.
"Jika anak ibu itu sudah mencapai tujuh belas tahun, itu bisa dengan sah. Jadi rumah itu masih di ragukan atas kepemilikannya atas nama anak anda itu." kata pengacara Ramos.
"Tapi pegawai notaris telah mengesahkan surat itu milik anak saya. Jadi anda jangan mengada-ngada pak pengacara. Suami saya juga seorang pengacara, jika itu tidak sah maka suami saya juga tahu akan hal itu." ucap Anita tak kalah tegas.
Dia akan sekuat tenaga akan mempertahankan milik anaknya, meski pun nanti akan berurusan di pengadilan. Arga akan mengurusnya nanti, pikir Anita.
Setelah perdebatan sengit itu, pengacara akhirnya menyerah. Namun untuk hari ini saja, dia akan kembali setelah berdiskusi lagi dengan kliennya Mourin.
"Oke ibu Anita, saat ini saya cukupkan pertemuannya. Saya akan kembali lagienjumpai anda dan membuat surat somasi atas kekeras kepala anda untuk di ajak kerja sama dengan kami." kata pengacara Ramos.
Pengacara Ramos menghela nafas panjang, sebenarnya tugasnya agak berat. Namun dia sudah di bayar dengan mahal oleh Mourin, jadi dia harus memenangkan kasus yang di tanganinya itu.
Akhirmya pengacara Ramos berpamitan pada Anita, dia juga berpesan akan datang lagi menemui Anita dengan permintaan yang sama.
Dan Anita pun mengatakan yang sama, dia tetap tidak akan menyerahkan surat rumah itu meski ancamannya ke pengadilan.
_
Sepeninggal pengacara Mourin itu, pikiran Anita kacau. Dia selalu melamun sampai malam pun dia tidak bisa tidur, Arga sendiri sudah tidur setelah dia mendapatkan jatah malamnya.
Karena lelah, jadi Arga hanya meminta satu kali dan tidak memperhatikan istrinya yang sedang gelisah.
Anita juga tidak tega harus mengganggu suaminya, dia terus memikirkan ucapan pengacara itu. Benarkah usia Chiko bisa di permasalahkan?
"Tidak mungkin kan? Arga bilang, surat itu sudah sah dan kuat. Kenapa dia masih kekeh minta di pindah tangankan?" gumam Anita.
Semakin dia berpikir semakin dia pusing sendiri, dia berbalik pada suaminya yang masih terlelap dengan tenang dalam tidurnya.
__ADS_1
Anita mengalihkan posisi tidurnya, dia menatap langit-langit kamar. Dan tiba-tiba dia bangun dari tidurnya, duduk sebentar melihat ke arah suaminya yang masih terpejam.
Dia lalu bangkit dengan pelan agar Arga tidak terganggu dengan gerakan tubuhnya yang berpindah.
Lalu, dia melangkah ke arah pintu kamar. Hendak keluar menuju kamar anaknya, Chiko.
Dia melangkah pelan dan berhenti sejenak di depan pintu kamar Chiko, menarik nafas panjang lalu membukanya pelan.
Dia melihat Chiko tidur dengan tenang, melangkah masuk menghampiri anak laki-lakinya itu yang sudah beranjak besar.
Anita berdiri di depan ranjang anaknya itu, lalu berjongkok tepat di depan wajah Chiko. Di kecupnya kening Chiko pelan, lalu kembali menatap wajah polos itu.
Satu tetes air mata lolos dari pelupuk mata Anita, dia merasa sedih kenapa hak anaknya di perebutkan. Apakah tidak ada hak untuk mendapatkan sedikit materi dari peninggalan Rendi? gumamnya dalam hati.
Isakan itu sedikit mengeras, buru-buru Anita bangun dari jongkoknya dan berdiri.
"Maafkan mama sayang, mama akan mempertahankan milik Iko dari peninggalan papamu. Mama akan sekuat tenaga mempertahankan milikmu, nak. Hik hik hik." ucap Anita pelan.
Kemudian Anita berbalik, dan bergegas keluar dari kamar Chiko. Namun tepat di depan Arga berdiri menatapnya heran, kenapa Anita menangis setelah keluar dari kamar anaknya.
Dia berpikir mungkin masalah surat rumah itu, pikir Arga.
Anita berhenti ketika suaminya berhenti di hadapannya dengan tatapan aneh.
"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Arga mendekat pada istrinya.
"Ga, kamu bangun?" tanya Anita.
"Aku bangun karena kamu tidak ada di sampingku, sayang. Aku pikir kamu turun ke bawah, ternyata kamu di kamar Chiko. Ada apa?" tanya Arga memeluk istrinya sedang menghapus air matanya.
Anita menggandeng tangan suaminya itu untuk masuk kembali ke dalam kamarnya. Arga sendiri belum berani bertanya pada Anita kenapa dia menangis.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Anita bersiap untuk tidur. Dia sekarang mengantuk dan sudah menguap.
Arga mengikuti istrinya tidur kembali, di hatinya masih mengganjal tentang tangisan Anita. Dia menghela nafas panjang, dia merasa bersalah kenapa tadi sore tidak bertanya pada istrinya itu tentang kegiatannya di rumah.
Setidaknya dia memperhatikan istrinya dalam keadaan apa pun.
Kini dia berbaring lagi, memeluk istrinya dari belakang. Mencari kenyamanan di sana dan memberikannya kenyamanan juga bagi istrinya.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤❤❤❤