
Kebahagiaan Anita dan Arga lengkap sudah, mereka kini mempunyai enam anak. Mereka tumbuh dengan sehat dan ceria.
Arga senang anak-anaknya tumbuh dengan baik. Sebenarnya dia ingin menambah lagi, tapi Anita sudah melarangnya agar hamil lagi.
Akhirnya dia menuuti kemauan istrinya, menghentikan kehamilan. Lagi pula Anita yang merasakan hamil dan melahirkan, jadi dia menurut saja.
Kini dia sedang menggendong anak bungsunya yang sudah berumur empat bulan. Anita sedang menyiapkan makan siang, karena ini hari Minggu.
Arga sangat senang, dia terus bermain dengan Cheril yang semakin gembul dan montok badannya.
"Sayang anak papa lapar ya, pengen asi mama?" tanya Arga melihat tangan anaknya itu di masukkan ke dalam mulutnya.
"Papappaaa, hwuaaa." celoteh bayi gembul itu menatap lucu papanya.
"Waah, seneng gendong sama papa?"
"Ppwuaah!"
"Hahah, adek kok nyembur sih mulutnya ke papa." ucap Arga mengusap wajahnya karena kena cipratan air liur Cheril.
Bayi montok itu tertawa senang dengan ekspresi wajah Arga, dia menggoyangkan tangan dan kakinya secara bersamaan.
Kepala Arga di dusel-dusel ke perut bayi kecil itu lalu tertawa kencang.
Anita melihat suaminya sedang bermain dengan putri bungsunya di kamar hanya tersenyum. Dia lalu menghampiri suaminya yang masih menggoda anaknya.
"Ga, makan siang sudah siap." kata Anita.
Dia duduk di samping bayinya yang terlentang menghadap Arga.
"Aku belum lapar sayang, kamu dulu aja. Aku lagi senang main sama Cheril." kata Arga menciumi pipi gembul anaknya itu.
Anita memandangi suaminya tampak senang, ternyata mempunyai anak perempuan darinya memang di impikan oleh Arga sejak dulu. Terbukti dia sangat dekat sekali dengan anak-anak perempuannya, dan kali ini baru Anita tahu Arga sangat sering menggendong Cheril.
Anita jadi gemas pada suaminya yang menggoda anaknya di banding Cheril, dia tersenyum sendiri melihat Arga sangat lucu mimik wajahnya.
Arga melirik istrinya, dia melihat Anita memandanginya dengan senyumannya. Membuat dia jadi heran pada istrinya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri sayang?" tanya Arga heran.
"Lucu lihat kamunya, bukan lihat Cherilnya." jawab Anita masih dengan senyumnya.
"Lho, aku lucu sayang?" tanya Arga lagi.
"Iya, waktu kamu menggoda Cheril itu lucu sekali."
"Masa sih? Aku kan ganteng dan cool, kok lucu?" tanya Arga, dia juga duduk di samping istrinya.
"Ya, kamu tetap ganteng kok. Tapi sekarang aku lihat kamu lucu, Ga." kata Anita lagi.
Arga semakin mendekat, dia miringkan kepalanya dan bibirnya mencium pipi istrinya.
__ADS_1
"Aku selalu segalanya di matamu sayang, kadang lucu, ganteng juga gagah kan? Pesonaku menguasai hatimu. Cup." kata Arga.
Mata Anita membola, semakin di puji suaminya semakin menyombongkan dirinya meski kadang dia mengakui kalau semua yang di katakan suaminya itu benar.
Arga melirik ke arah anaknya yang sedang tenang bermain tangannya ke mulutnya, setelah di rasa cukup tenang dan tidak mungkin mengganggunya. Kini Arga mendorong tubuh istrinya untuk berbaring dan dia menindihnya.
Langsung saja bibir istrinya di raup dengan lahap dan di kulum dengan rakus. Membuat Anita kewalahan, dia mendorong dada suaminya namun tidak juga bergeser. Akhirnya Anita pasrah dan menerima perlakuan suaminya.
Lama mereka saling mengulum bibir, tangan Anita di kalungkan di leher Arga. Tangan Arga bergerak ke bawah di bagian intinya.
Anita kaget, dia kembali mendorong suaminya agar menyudahi permainannya.
"Ga, sudah. Jangan begini, anakmu itu bagaimana. Eeuh." lenguhan keluar dari bibir Anita.
Dia sudah tidak bisa mengelak, namun akalnya masih berfungsi meski kembali Arga bermain-main kembali.
"Ga, sudah. Aaaah.."
"Short time sayang, aku pengen short time. Yaah?" kata Arga memelas.
Anita belum mengerti, dia mengerutkan dahinya. Lalu Arga membisikkan maksudnya.
Dan tanpa pikir panjang Arga langsung melancarkan niatnya di samping anaknya.
Meski aneh bagi Anita, short time dengan bercinta. Ampuuun, suaminya tidak bisa di tahan untuk beberapa jam ke depan saja ya.
Hanya sebentar saja katanya, tapi sebentarnya Arga lama bagi Anita. Untung Cheril diam saja, masih bermain-main dengan tangannya. Tertawa sendiri dan bermain tangan serta kaki sendiri.
"Terima kasih sayang, cup."
Anita hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
_
Makan siang di lakukan oleh keluarga besar Arga dengan riuh rendah bercampur tawa canda anak-anaknya.
Arga dan Anita tidak pernah melarang anak-anaknya bicara atau bercanda di depan meja makan dan sedang makan.
Nanti setelah besar, mereka akan tahu sendiri jika makan sambil bercanda itu tidak bagus.
Bagi kedua suami istri itu keceriaan anak-anaknya adalah yang utama.
"Pa, hari ini ngga keluar jalan-jalan kemana gitu?" tanya Celine.
"Ngga kak, papa pengen di rumah aja main sama kalian." jawab Arga.
"Ih papa ngga main sama kita, tapi sama adek Cheril aja di kamar." celetuk Angga.
Anita menatap suaminya, lalu tersenyum miring. Tentu saja anak-anaknya protes dengan ucapan suaminya. Karena sejak pagi memang Arga di kamar terus dengan anak bungsunya.
Yang bermain hanya kelima anaknya saja, sesekalu Anita ikut bergabung karena hari Minggu Anita memang memasak di dapur.
__ADS_1
"Ya, nanti papa ikut main sama kalian sehabis makan siang." kata Arga.
"Ngga pa, jalan-jalan keluar aja yuk? Ke mall deh, main time zone." kata Chiko.
"Iya pa, abang Kevin mau main time zone. Ayo, pa." rengek Kevin.
Arga menatap istrinya, tapi Anita hanya mengedikkan bahunya saja. Dan tiba-tiba Arga di serbu dengan rengekan anak-anaknya untuk minta jalan-jalan ke mall dan main time zone.
"Yayaya, diam semua ya. Sekarang habiskan makannya. Bang Kevin kalau ngga habis makannya ngga boleh ikut. Apa lagi abang Angga, harus habis ya. Papa ngga mau ada nasi sisa makanan kalian. Kalau satu dari kalian ngga habis, semua papa hukum." kata Arga tegas.
"Eh, kok di hukum?" tanya Anita heran.
"Iya sayang, mereka harus di hukum suruh ngabisin makanan sisa dari siapa yang ngga habis." kata Arga.
Peraturan aneh, semua anaknya menatap Arga. Aneh memang tapi lumayan menakutkan. Dan Anita berpikir lagi, mungkin ada benarnya juga hukuman Arga.
Tapi tidak ada hubungannya juga dengan rengekan anak-anak minta pergi ke mall dengan makanan tidak di habiskan. Ada-ada saja Arga itu.
"Di habiskan ngga?" tanya Arga sekali lagi.
"Iya pa." jawab mereka serentak.
"Nah, gitu dong. Papa senang kalian tidak membuang mubazir makanan kalian. Setelah makan kita akan pergi ke mall." kata Arga tersenyum senang.
"Asyiiiik!!" teriakan beruntun kelima anaknya menggema di meja makan.
Anita tersenyum, dia menatap suaminya dan mengacungkan jempolnya.
Dengan bangga, Arga membusungkan dadanya dan menepuknya dua kali. Dan mata Anita membola, lalu tersenyum miring kemudian menggelengkan kepala saja.
_
Sesuai janjinya, setelah makan siang mereka kini ada di mall besar. Mereka sebelum ke time zone jalan-jalan sebentar untuk mencari pernak pernik baju Cheril, itu yang minta Arga bukan Anita.
"Papa cari apa sih ma?" tanya Chila sudah tidak sabar untuk pergi ke time zone.
"Ngga tahu kak." jawab Anita.
Semua anaknya tampak kesal, sebenarnya yang meminta pergi ke mall itu anak-anaknya, tapi kenapa Arga yang menikmati jalan-jalan di mall.
"Sayang, coba lihat baju ini. Lucu ya buat Cheril?" tanya Arga.
"Iya. Ga, mereka ke time zone aja ya. Biar mereka ngga kesal nunggu kamu pilih baju untuk Cheril." kata Anita memberi saran agar semuanya sama-sama senang.
"Sebentar sayang, aku cuma milih dua baju aja kok untuk Cheril. Soalnya lucu banget bajunya." jawab Arga.
Anita menghela nafas panjang, dia melihat kelima anaknya sudah mulai kesal. Dia jadi serba salah, siapa yang harus di turuti? Tapi tentu saja semua harus menurut sama Arga.
"Kak, yuk ke time zone sendiri aja." ajak Kevin sama Chila.
"Ngga dek, tunggu papa. Sebentar lagi juga papa selesai." tolak Chila.
__ADS_1
Dia takut nanti Kevin ada apa-apa atau hilang, dia yang di salahkan. Jadi lebih baik menunggu dengan sabar Arga selesai memilih baju untuk adiknya.