IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
89. Melamar


__ADS_3

"Anita, maukah kamu menikah denganku?"


Anita terdiam, dia menatap Arga, lama. Senyumnya mengembang, dengan cepat dia menganggukkan kepalanya.


"Iya Ga, aku mau menikah denganmu." ucap Anita.


Lalu Arga memeluk Anita kembali, dia sangat bahagia. Kini pinangannyan pada Anita sungguh dia lakukan. Dan dalam waktu dekat secepatnya dia akan melangsungkan pernikahan dengan Anita. Dia tidak mau menunda lagi.


"Terima kasih mau menerimaku. Aku akan membuatmu bahagia dan selalu tersenyum." ucap Arga.


"Ga, apa masalah dengan Marisa sudah selesai?" tanya Anita, dia duduk di sofa.


"Sudah selasai. Dia sudah kembali ke kota lagi." jawab Arga.


"Ga, maafkan aku. Aku tidak menjenguk Celine waktu sakit." ucap Anita lirih, dia menunduk.


"Tidak apa-apa. Dia juga sudah sehat sekarang, lebih aktif." jawab Arga menyentuh pipi Anita.


"Aku hanya tidak mau Marisa kecewa padaku." ucap Anita lagi.


"Hei, kamu jangan seperti itu. Aku malah berterima kasih sama kamu, kamu membawa Celine ke rumah sakit tepat waktu."


"Tapi waktu itu dia butuh donor darah Ga, untungnya Marisa mau mendonorkan darahnya pada Celine. Meski awalnya dia tidak mau setelah aku bujuk."


"Dia juga cerita itu. Kamu mencari donor juga untuk Celine?"


"Karena Marisa tidak mau mendonorkan darahnya, jadi aku cari pada orang-orang di pasar. Untungnya ada yang mau. Tapi setelah di sana Marisa sudah ada di sana." ucap Anita sedikit kecewa mengingat waktu itu.


Arga mengeratkan pelukannya, dia membayangkan betapa cemasnya Anita ketika tahu Marisa tidak mau mendonorkan darahnya.


"Berapa orang yang kamu mintai untuk donor darahnya?"


"Emm, sepuluh orang. Tapi untungnya ada yang mau, namun sampai di rumah sakit darahnya tidak di pakai. Aku kembalikan ke rumah sakit untuk yang membutuhkan."


"Kamu sangat baik, Anita. Aku tidak salah mencintaimu."


Semakin mengeratkan pelukannya pada Anita. Dan tiba-tiba suara keroncongan perut Anita dan Arga saling bersahutan.


Keduanya saling menatap lalu tertawa kencang mendengar suara perut mereka yang protes, karena keduanya sama-sama lapar.


"Ayo kita ke dapur." ajak Arga.


Dia menarik tangan Anita dan mengajaknya membuat makanan di dapur.


_


Setelah keduanya makan bersama, kini Arga mengajak Anita pergi menuju rumahnya dengan menggunakan mobil baru.


"Mobil kamu ganti Ga?" tanya Anita setelah mereka masuk ke dalam mobil Alphard putih itu.

__ADS_1


"Aku jual mobil lamanya, kurang muat kalau untuk satu keluarga, apa lagi nanti kita akan nambah anak." ucap Arga.


Dia menoleh Anita yang sedang menatapnya, lalu mengerlingkan satu matanya pada Anita dan tersenyum lucu.


Mau tidak mau rona merah pipi Anita tampak jelas, membuat Arga semakin gemas melihat dengan sikap malu-malunya.


"Apa sih, Ga. Kamu kok genit sih." ucap Anita, senyumnya mengembang.


Arga tertawa puas membuat Anita malu.


Dan mereka kini telah sampai di rumah Anita, Anita turun lebih dulu. Di susul Arga dengan wajah cerianya.


Di dalam rumah masih ada ibu Ema dan ibu Yuni yang sedang mengobrol santai. Mereka melihat Anita masuk di susul Arga. Kedua anak mereka terlihat bahagia.


Baik ibu Yuni dan ibu Ema tersenyum bahagia, akhirnya kemelut cinta mereka kini terurai dan berubah jadi bunga-bunga cinta.


Arga duduk di samping ibu Ema, menghadap ibu Yuni.


"Bagaimana kejutan dari mama, Ga?" tanya ibu Ema pada anaknya itu.


"Mama memang tahu apa yang aku mau, terima kasih ma. Cup." kata Arga memeluk ibu Ema dan mencium pipinya.


Ibu Yuni hanya tersenyum saja melihat anak dan ibu itu yang mungkin sebentar lagi akan jadi menantu dan besannya.


Anita keluar lagi sambil membawa secangkir teh manis hangat untuk Arga. Dia lalu duduk di sebelah ibu Yuni, menatap Arga dan tersenyum padanya.


"Jadi, bagaimana?" tanya ibu Ema, entah bertanya pada siapa.


"Oh ya?"


"Ya ma, aku sudah mantap dalam satu bulan lagi menikahi Anita."


"Bagus dong, jadi nanti tidak ada kendala apa-apa lagi. Semoga kalian di persatukan oleh takdir dan hanya maut yang memisahkan." ucap ibu Ema penuh harap.


Ibu Yuni menatap anaknya yang tersipu malu, dia senang anaknya kini akan menikah dengan Arga.


"Bu, aku meminta Anita pada ibu untuk jadi pendamping hidupku selamanya. Membahagiakannya sepanjang hari dan selalu membuatnya tersenyum, tidak akan membuat Anita menangis. Bolehkah aku melamarnya untuk jadi istriku?" tanya Arga secara mendadak.


Meski tadi sudah terucap dan mendengarnya, namun ibu Yuni tetap kaget. Dan Anita sendiri wajahnya kembali merona, dia menunduk malu.


Ibu Yuni terdiam, dia menatap Arga lama. Mencari kwsungguhan hati dari manik matanya yang berbinar. Meski dia tahu sejak dulu Arga mencintai anaknya, namun untuk menikah ibu Yuni harus tahu dengan benar. Apakah anaknya akan jatuh ke tangan yang tepat.


Dan Arga sendiri tiba-tiba tegang dan cemas, meski pun tadi bicara penuh percaya diri. Tapi dia juga merasa cemas, dia takut ibu Yuni menolaknya.


"Nak Arga, nak Arga sendiri tahu Anita seperti apa. Kehidupannya juga seperti apa dan masalah yang pernah dia lalui juga seperti apa. Ibu hanya berharap dan meminta nak Arga benar-benar mencintai, menyayangi bukan hanya Anita. Tapi juga kedua anak Anita. Ibu hanya berharap Anita bahagia dan tidak lagi melihat Anita menitikkan air mata lagi. Cukup sudah penderitaan Anita bagi ibu. Jika nak Arga berjanji dengan sungguh-sungguh akan membahagiakan Anita dan kedua anaknya, ibu serahkan sepenuh hati Anita pada nak Arga. Jaga Anita dan sayangi dia dengan sepenih hati." ucap ibu Yuni dengan panjang lebar.


Arga lega mendengar kalimat panjang ibu Yuni menekankan kebahagiaan anaknya padanya. Dia mengangguk mantap.


"Aku janji bu, aku janji akan membahagiakan Anita dan si kembar. Aku janji akan selalu mencintai Anita dengan segenap hati dan ragaku. Aku juga tidak akan membiarkan Anita menitikkan air mata lagi." ucap Arga penuh semangat dan keyakinan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Sekarang semua terserah kalian berdua. Ibu sudah menyerahkan kapan kalian menikah."


"Bulan depan aku akan menikahi Anita di gereja katredal. Di sana kami akan mengikat janji suci pernikahan. Ibu dan mama hanya mendoakan kami berdua saja, tidak perlu ikut mengurus persiapan pernikahan kami. Karena nanti ada yang mengurusnya sendiri." ucap Arga.


Dan kini perbincangannya melebar kemana-mana, semua nampak gembira.


Tak lama, ketiga bocah yang sudah sangat akrab itu masuk ke dalam rumah setelah ketiganya bermain dengan senang bersama teman-teman Chila dan Chiko di rumah tetangga.


"Papa!" teriak Celine.


Dia menghampiri Arga dan memeluk Arga dengan kencang.


"Papa kok kesini lama banget." ucap Celine protes dengan wajah cemnerut.


"Yang penting papa ada di sini, dan Celine juga suka main sama kakak Chila dan abang Iko kan?" tanya Arga.


Dia mengusap peluh yang bertebaran di wajah anaknya.


"Ya, kan ke sininya sama oma. Papa sih ngga pernah ke rumah tante Anita. Eh, kata oma tante Anita mau jadi mama Celine. Beneran pa?" tanya Celine pada Arga.


"Iya, Celine senang?" tanya Arga.


"Senang pa, nanti bisa main terus sama kakak Chila juga abang Iko." ucap Celine.


Anita yang mendapat pengakuan dari Celine jadi malu. Chila dan Chiko memdekat pada Anita. Chiko bertanya pada Anita.


"Ma, beneran mama nanti jadi mamanya Celine juga?" tanya Chiko.


"Iko ngga mau?" tanya Arga.


"Mau om, nanti om Arga jadi papa Iko dong?"


"Iya, suka?"


"Suka om. Hehehe.."


"Kakak Chila gimana?"


"Suka juga om."


"Kalau begitu ganti dong panggilannya, jangan om lagi." ucap Arga.


"Iya om, ups papa Arga. Hehehe."


Semua tertawa senang, Anita menatap Arga yang tertawa renyah, dia tersenyum melihat Arga tertawa. Sangat manis tawanya, membuat Anita suka dengan tawa Arga yang renyah itu.Arga menatap Anita, dia mengerlingkan matanya pada Anita. Dan lagi-lagi Anita di buat merona pipinya dan malu oleh Arga dengan tingkahnya.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2