IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
93. Cinta Anita Untuk Arga


__ADS_3

Kini Anita dan Arga berbaring di ranjang mereka saling berpelukan setelah malam panas keduanya. Tubuh polos keduanya hanya di tutup oleh selimut tebal.


Arga yang sejak tadi merasakan kebahagiaan di hatinya, berkali-kali dia mengecup puncak kepala Anita karena rasa bahagianya.


Anita sendiri dia tidak mau melepas pelukannya pada suaminya itu, hingga kedua kulit mereka masing saling beradu.


"Ga, aku mau melakukan sesuatu dengan uang yang aku punya dari mas Rendi." ucap Anita.


"Mau apa memangnya?" tanya Arga, kini tangannya membelai pipi istrinya itu.


"Emm, aku ingin menyumbangkan uang yang di berikan mas Rendi padaku untuk yang membutuhkan." jawab Anita.


Kini Arga memiringkan kepalanya menghadap istrinya, tangannya tetap membelai pipinya dengan lembut.


"Kenapa kamu mau melakukan itu? Cup." satu kecupan mendarat di bibir Anita.


Anita mendongak pada Arga, dia melihat mata Arga yang masih saja menatap bibirnya, lalu kembali mengecup bibirnya lagi.


"Aku ingin memulai dari awal denganmu, dengan semua hal. Itu biar jadi amal kebaikan mas Rendi." ujar Anita, tangannya membelai wajah suaminya itu yang sepertinya mulai di selimuti kabut gairah kembali.


"Bukankah itu kenang-kenangan dari Rendi untukmu, sayang?" tanya Arga menatap mata Anita.


Mencari ketulusan hati istrinya tentang sumbangan uang miliknya.


"Emm, biar anak-anak saja yang jadi kenanganku dari mas Rendi." ucap Anita.


"Tapi uang itu banyak sekali, lima miliar kamu sumbangkan semuanya?" tanya Arga tidak percaya.


"Apa kamu tidak setuju?"


"Tidak, bukan seperti itu. Itu uangmu, kamu bebas untuk melakukan apapun dengan uangmu itu."


"Jadi, apakah aku boleh gunakan uang itu untuk menyumbang bagi yang membutuhkan?"


"Terserah kamu, aku hanya memberimu kebabasan karena itu uang kamu. Tapi apa yang membuatmu ingin kamu sumbangkan uangnya?"


Anita diam, dia menatap Arga yang masih penasaran dengan alasan dia mengapa uang dari Rendi ingin dia sumbangkan semuanya. Dia tersenyum pada suaminya itu, tangan kanannya membelai pipinya lalu turun ke bibirnya. Jari jempolnya dia usap di bagian itu dengan terus menerus.


"Aku sudah bilang, aku mau memulai segalanya dari awal denganmu. Aku menerima apa pun yang kamu berikan padaku, termasuk nanti memberikan anak untukmu. Itu bentuk rasa cintaku padamu, Ga. Aku mau memulai semuanya dari awal denganmu, suamiku. Cup." uca Anita mengecup bibir Arga lalu tersenyum padanya.


Cukup sudah kebahagiaan yang dia rasakan, Hati Arga rasanya ingin meledak mendengar pengakuan Anita. Dia pun tersenyum, perlahan bibirnya mendekat dan secepat kilat dia menyambarnya lalu mengulumnya.


Bahagianya kini sudah di atas puncak nirwana, karena malam percintaan mereka berulang kembali dengan syahdu.


_


Mereka satu keluarga sedang sarapan pagi, Arga sangat senang Anita dengan telaten melayaninya di meja makan. Ibu Ema juga melihat Arga begitu bahagia menikah dengan Anita.

__ADS_1


Cintanya bersambut, mereka terlihat saling memcintai satu sama lain. Memberi dukungan dan perhatian penuh bagi keduanya.


Seperti pagi ini, Anita selalu menanyakan sarapan apa yang di sukai suaminya. Dia akan menyiapkannya sendiri dan juga untuk anak-anak.


"Emm, sayang apa sebaiknya Chila dan Chiko pindah saja sekolahnya yang dekat di daerah sini. Biar kamu tidak repot mengantar mereka." usul Arga ketika mereka sarapan pagi.


Anita menatap suaminya, lalu beralih ke kedua anak-anaknya.


"Kak, kata papa mau ngga pindah sekolahnya yang dekat dengan rumah di sini?" tanya Anita pada anak sulungnya.


"Ngga apa-apa ma." jawab Chila.


"Adek mau pindah juga?" tanya Anita memastikan anak laki-lakinya itu.


"Adek ikut kakak aja." ucap Chiko.


"Ya sudah, nanti papa sama mama akan cari sekolah yang terdekat. Lalu mendaftarkan kalian." ucap Arga.


"Celine gimana, Ga?" tanya Anita.


"Celine juga nanti sekolah yang sama sama kedua kakaknya. Tapi Celine di Play Grup kan masuknya?" jawab Arga.


"Iya, kan sesuai umurnya." jawab Anita.


Setelah selesai sarapan, kini kedua bocah kembar itu bersiap masuk ke dalam mobil juga Celine. Arga masih di dalam kamarnya, mengambil jasnya dan tas kerjanya. Anita menghampiri suaminya yang masih merapikan jasnya.


"Aku hari ini ngga ikut ngantar anak-anak sekolah ya." ucap Anita pada suaminya.


Dia menghadap istrinya dan menarik pinggangnya seperti biasanya lalu mencium bibirnya.


"Ngga tahu, rasanya lemas badanku. Juga sedikit pusing." ucap Anita menatap Arga.


Arga menempelkan tangannya di kening istrinya, tapi dia tidak merasakan apa-apa.


"Kamu ngga panas kok." ucap Arga.


"Ya memang ngga panas badanku, tapi lemas aja. Aku juga ngga antar kamu ke depan ya." kata Anita.


"Ya udah, kamu istirahat aja di kamar. Nanti Chila sama Chiko aku jemput pulangnya."


"Kan jauh, Ga dari kantor kamu. Biar nanti ibu ikut aja ya. Sekalian ibu mau menengok rumah katanya." ucap Anita.


"Ya udah ngga apa-apa. Tapi nanti pulang ke sininya bagaimana?"


"Mungkin naik angkot atau taksi."


Kini Arga mendekat, dia semakin mencintai istrinya itu. Kembali bibir Anita di raupnya dan menciumnya penuh dengan gairah. Anita membalasnya, mereka semakin memperdalam ciumannya. Hingga kedua nafas mereka memburu dan menyudahi kegiatan mereka.

__ADS_1


Arga menatap Anita dalam, lalu menghela nafas panjang. Tangannya merengkuh tubuh agak berisi itu. Anita membalas pelukan suaminya.


"Ga, apakah jika nanti aku hamil dan melahirkan tubuhku gendut kamu akan selalu mencintaiku?" ucap Anita masih dalam pelukan Arga.


Dia takut nanti Arga akan berubah sikap dan perhatiannya jika tubuhnya berubah, seperti halnya Rendi dulu.


"Seperti apa keadaanmu, aku akan tetap mencintaimu. Karena cinta bukan soal fisik dan penampilan. Tapi tentang hatiku yang sudah memilihmu untuk aku miliki dan aku cintai. Sekalipun wajahmu sudah keriput, hatiku tetap memilihmu. Jadi jangan ragukan cintaku padamu." ucap Arga meyakinkan Anita.


Anita semakin mengeratkan pelukannya, cukup sudah sandaran hatinya hanya untuk Arga, laki-laki yang selalu mencintainya sejak dulu dan setia menunggunya di kala kebimbangan hatinya masih bersarang jauh di lubuk hati paling dalam.


Arga melepas pelukannya, sejenak pandangannya bertemu. Ada wajah kecewa yang di tangkap netra Anita, dia menaikkan alisnya.


"Kenapa wajahmu berubah seperti itu?" tanya Anita heran.


"Huuh! Aku sebenarnya ingin terus memelukmu sepanjang waktu, tapi aku harus bekerja." ucap Arga pelan.


Anita tersenyum, dia lalu mengecup pipi suaminya agar lebih bersemangat lagi. Arga tersenyum, dia membalas ciuman Anita pipinya bertubi-tubi. Hingga satu teriakan menghentikan tingkah Arga.


"Papaa!"


Teriakan Celine membuat Anita dan Arga terkejut, keduanya berpandangan dan tertawa lebar.


"Kenapa sayang?" tanya Arga menghampiri anaknya yang cemberut itu.


"Udah siang, kakak Chila sama abang Iko kesal belum betangkat ke sekolah juga." ucap Celine masih dengan wajah cemberutnya.


"Ya udah, ayo kita berangkat." ajak Arga pada Celine.


"Mama ngga ikut pa?" tanya Celine menatap Anita.


"Mama lagi sakit sayang, jadi hari ini ngga ikut mengantar ke sekolah. Nanti sama eyang putri aja ya." jawab Arga.


"Mama sakit apa, pa?" tanya Celine.


"Pusing aja kok, besok bisa ikut mengantar lagi." jawab Anita, dia tersenyum senang Celine perhatian padanya.


"Aku berangkat dulu ya sayang, jaga diri di rumah. Kalau ada apa-apa telepon aku ya. Cup." ucap Arga.


"Iya, kamu jangan khawatir. Aku juga di kamar aja kok." kata Anita.


Lalu Arga melambaikan tangan pada istrinya di susul Celine juga melambaikan tangan. Keduanya turun ke bawah menghampiri ibu Yuni yang sudah siap ikut mengantar ke sekolah.


Sedangkan Anita kembali ke kamarnya dan dia merebahkan dirinya di kasur empuknya. Tubuhnya lemas dan setiap kali berjalan pasti terengah-engah. Entahlah, apakah dia menebak sesuatu terjadi.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2