IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
161. Kunjungan Marisa


__ADS_3

Hari Jum'at ini Anita tidak ke pabrik, dia mengurus dan mengasuh Cheril dari pagi hingga sore hari. Jika Arga ada di rumah, maka Arga yang gantian mengasuh anaknya itu.


Kini Anita ada di ruang tamu, kebetulan dia ingin bermain di ruangan itu dengan anaknya.


Tak lama, ada suara ketukan pintu dari luar. Dia heran, kenapa ada suara pintu di ketuk?


Apakah gerbang rumah terbuka?


Sejak kejadian penculikan Chiko waktu itu, pintu gerbang otomatis tertutup dan terkunci sendiri. Tapi kenapa sekarang ada yang mengetuk pintunya.


Tak lama, suara mobil pak Diman masuk halaman rumah. Anita lega, ternyata mungkin itu suara anak-anaknya pulang sekolah.


Dan pintu rumah terbuka, ternyata bi Ina yang masuk dengan menggandeng Kevin, tapi anak-anak yang lain belum pulang.


Biasanya pulang jam satu siang, dan ini masih jam sebelas. Beararti yang pulang adalah Kevin dari sekolah TK dan Angga kelas dua SD.


Bi Ina menghampiri Anita yang sedang menggoda anaknya dengan gemas.


"Nyonya, ada tamu di luar." kata bi Ina.


"Oh, jadi tadi itu benar ada tamu?" tanya Anita.


"Iya nyonya."


"Siapa ya?"


"Saya tidak tahu, nyonya. Perempuan cantik." jawab bi Ina.


"Perempuan cantik? Siapa? Dia mencari saya atau Arga bi?" tanya Anita semakin penasaran.


"Katanya dua-duanya kalau bisa." jawab bi Ina lagi.


Anita mengerutkan dahinya, meski penasaran dia akhirnya menitipkan Cheril pada bi Ina dan menemui tamunya di teras rumah.


Anita keluar rumah, pintu besar itu terbuka di tarik oleh Anita. Dan Anita keluar perlahan mencari di mana perempuan yang di maksud tamu oleh bi Ina.


Mata Anita berkeliling, dia mencari sosok perempuan ke kanan dan ke kiri. Ternyata dia ada di gazebo, sedang duduk termenung.


Dan mata Anita memicing, dia seperti kenal dari perawakan tubuhnya.


"Mau apa dia ya?" gumam Anita penasaran juga takut.


Namun dia mendekat juga pada perempuan yang di kenalnya. Semakin mendekat, perempuan itu menoleh ke arah Anita dan tersenyum ramah.


Kemudian dia juga mendekat, menyongsong Anita dan merentangkan tangannya untuk memeluk Anita.

__ADS_1


Anita pun tersenyum, dia juga merentangkan tangannya dan berpelukan.


"Lama tidak berjumpa ya?" kata Anita.


"Iya, sekarang kamu lebih cantik dari sebelumnya." katanya.


"Hahaha, aku seperti ini dari dulu. Mungkin karena sekarang tidak lagi menjaga toko jadi lebih terlihat kinclong wajahku, hahah." kata Anita merendah.


"Aku turut bahagia denganmu, mbak Anita. Maafkan dulu waktu itu mau merebut kembali mas Arga." kata Marisa.


Yang ternyata memang perempuan itu Marisa. Anita hanya tersenyum saja.


"Ayo mbak Marisa masuk ke rumah saja, di sini panas." ajak Anita.


"Iya, emm aku pikir mba Anita dan mas Arga masih di rumah yang dulu. Aku cari rumahmu yang baru, ternyata hebat juga rumahnya, mbak. Besar dan megah." kata Marisa merasa takjub dengan rumah Anita sekarang.


Dan lagi-lagi Anita hanya tersenyum saja, rumah penuh dengan kenangan juga tanda cinta kasih suaminya pada dirinya


Dan kini Anita dan Marisa sampai di ruang tamu, Anita memberitahu pada bi Ina untuk membuatkan minuman dan cemilan juga.


Marisa melihat ada boks bayi, terlihat di sana bayi perempuan yang memang persis sekali mantan suaminya itu.


Dia mendekat dan memegang pipi gembul Cheril yang sedang tidur.


Anita pun masuk lagi ke ruang tamu, dia melihat Marisa sedang menatap Cheril penuh dengan dambaan.


Marisa menoleh dan melototkan matanya, tidak percaya dengan ucapan Anita tadi. Anak ke enam?


"Anak kamu sudah enam?" tanya Marisa.


"Iya mba, anak kembarku, Celine dan tiga orang anak dari kami berdua. Jadi semuanya enam, dia paling kecil." jawab Anita.


Marisa tidak percaya, bisa di bayangkan betapa repotnya Anita mengurus enam anak. Jika dirinya, mana mungkin dia sanggup.


Tapi Marisa salut pada Anita, mengurus anaknya sendiri. Karena dia mendengar ibunya Anita dan mantan mertuanya itu sudah meninggal.


"Apa mbak Anita tidak kerepotan? tanya Marisa.


"Tidak, Arga juga ikut mengurus anak-anak. Jadi saya merasa terbantu. Oh ya, ngomong-ngomong ada apa ya mbak Marisa datang ke rumahku?" tanya Anita akhirnya.


Dia ingin tahu kedatangan Marisa untuk apa? Apakah ingin bertemu dengan Celine anaknya? gumam Anita.


Tapi dia takut nanti Marisa akan mengambil Celine, dia tidak mau lehilangan satu pun anak-anaknya. Walaupun Celine itu anaknya Marisa.


Marisa duduk di samping Anita, dia tahu Anita sangat khawatir dengan kedatangannya. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

__ADS_1


Sebuah kartu undangan pernikahan, Marisa memberikan kartu undangan itu pada Anita sambil tersenyum percaya diri.


"Ini undangan pernikahanku untuk mbak Anita dan mas Arga. Kalian datang ya nanti di pernikahanku minggu depan." kata Marisa.


Anita menerima kartu undangan itu dengan ragu, Marisa mengangguk cepat. Dia lalu membuka kartu undangan tersebut dan membacanya dengan teliti.


Ternyata benar, Marisa mau menikah minggu depan di kota.


"Selamat ya mbak Marisa, sudah menemukan jodohnya sendiri. Saya turut bahagia menerima kartu undangan ini. Kami pasti datang ke pernikahan mba Marisa." kata Anita.


Dia turut senang dengan Marisa yang mendapatkan jodoh juga akhirnya setelah beberapa tahun tidak pernah mendengar kabar dari Marisa.


Atau mungkin dia terlalu bahagia dengan hidupnya dengan Arga, dan atau karena banyaknya ujian di setiap hidup yang di laluinya.


Dan kini tinggal menikmati masa kebahagiaan bersama suami tercintanya.


"Emm, sebenarnya dulu aku pernah mah menikah. Tapi mungkin kita tidak berjodoh dan akhirnya putus di tengah jalan, dia selingkuh dan meninggalkan aku. Sama persis dulu aku pernah berselingkuh dan meninggalkan mas Arga. Hidup itu memang apa yang kita lakukan dulu, maka akan di balas di kemudian hari ya. Kalau dulu aku tidak macam-macam, mungkin tidak akan terjadi ujian pahit di selingkuhi." ucap Marisa menerawang jauh.


Kini dia menemukan jodohnya di saat dia dan Arga berpisah sangat lama sekali. Mungkin sudah lima belas tahun dari perpisahannya dengan Arga.


Dan Anita yang mendengar penuturan masa lalu Marisa jadi merasa bersalah, tapi dia berpikir kembali itu hanya masa lalu yang sudah di takdirkan Tuhan antara Marisa dan Arga harus berpisah meski dengan cara bercerai.


Yaah, itulah hidup. Terkadang sesuatu yang di gariskan Tuhan untuk manusia, tapi manusianya tidak mau menerima.


"Oke, mbak Anita


"Saya tidak mau berlama-lama di sini, tunangan saya menunggu di luar dalam mobil. Saya ngga enak dia menunggu lama." kata Marisa.


"Mbak Marisa tidak menunggu Celine pulang? Apakah tidak mau bertemu dengan Celine?" tanya Anita heran kenapa Marisa tidak merindukan anaknya.


"Kalau mas Arga mengizinkan saya menemui Celine, saya pasti menemui anakku. Tapi saya harus segera pergi, dan tolong mbak nanti baea Celine datang ke pernilahan mamanya ya?" pinta Marisa.


Anita diam, kemudian dia mengangguk pasti.


"Pasti mbak, saya akan meminta Arga untuk membawa Celine juga di pernikahan mbak Marisa." kata Anita.


Lalu Marisa pun berpamitan, dia kembali memeluk Anita. Sudah tidak ada lagi dendam atau pun membenci Anita, saat ini dia sedang bahagia akan menikah satu minggu lagi dengan orang yang bertemu di sebuah kafe.


Pertemuannya sangat singkat, namun Marisa dan calon suaminya itu sangat yakin dengan hati masing-masing. Maka keduanya pun memutuskan untuk menikah minggu ini.


Anita menatap kartu undangan itu, dia menimang kartu undangan tersebut. Dia lalu membawa kartu undangan ke dalam kamarnya, untuk di perlihatkan pada suaminya bahwa mantan istrinya akan menikah minggu depan.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2