IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
92. Bahagia Tak Terkira


__ADS_3

Anita kini memasuki rumah barunya yang di hadiahkan untuknya, dia melihat ibunya dan mertuanya sedang duduk santai di sofa yang empuk. Anita menghampiri kedua orang tua tersebut dan ikut duduk di sana.


"Anita, mama senang Arga bisa mempersembahkan kebahagiaannya untukmu. Dia membuat rumah ini dengan penuh cinta, dia selalu berharap rumah ini dia berikan padamu. Puji syukur itu sudah terwujud. Kami hanya menumpang di rumahmu." kata ibu Ema.


"Mama bicara apa, ini rumah untuk kita semua. Hanya atas nama saja Arga menggunakan namaku ma, semua bisa menikmati rumah ini." ujar Anita.


"Kamu berhak bahagia, sayang. Cup." ucap Arga yang langsung duduk di samping Anita dan menciumnya.


Ibu Yuni dan ibu Ema merasa senang perlakuan Arga pada Anita, mereka berharap Arga tidak berubah. Dan ibu Ema menjamin Arga tidak seperti laki-laki lain, cintanya pada Anita melebihi apapun. Ibu Ema tahu itu, hanya kesalahan saja ketika Arga menikahi Marisa. Dan terbukti Marisa tidak baik untuk Arga.


Mungkin takdir mempertemukan dan mempersatukan keduanya di waktu yang tepat. Di saat keduanya sudah tidak bersama dengan pasangan masing-masing. Cobaan mereka juga sangat besar dan beruntun, dan mereka bisa melewatinya dengan baik. Meski harus ada drama perpisahan.


Jika bukan ibu Ema yang bertidak, entah kapan mereka akan bersatu dan menikah. Ibu Ema tersenyum memgingat tindakannya dulu, padahal dia hanya berkata sekenanya saja. Seperti drama menyedihkan di film-film.


"Mama dan ibu sudah lihat kamarnya?" tanya Arga pada mamanya dan mertuanya.


"Belum, kami duduk dulu di sini, rasanya nyaman sekali duduk di sofa ini." ucap ibu Ema.


" Nanti pilih aja ma yang mana, soalnya kamarnya sama aja sih dengan punya ibu." ucap Arga.


"Iya, tenang saja. Oh ya, kalian ngga ada rencana bulan madu?" tanya ibu Ema lagi.


Arga menatap Anita, dia minta persetujuan istrinya itu.


"Belum kepikiran ma, ngga tahu mau bulan madu kemana." jawab Arga setelah melihat reaksi Anita hanya mengedikkan pundaknya saja.


"Lho, kok belum kepikiran. Pengantin baru biasanya kan pengennya berdua saja, ngga ada yang ganggu. Kenapa kalian ngga pergi ke Bali aja atau ke mana begitu?" usul ibu Ema.


"Nanti kita bicarakan lagi ma, Anitanya aja masih belum bisa aku sentuh." ucap Arga.


Anita mencubit pinggang Arga, dia malu dengan ucapan Arga yang terus terang.


"Aduh, sakit sayang di cubit." keluh Arga, Anita hanya mendengus sebal.


Terang saja ibu Yuni dan ibu Ema tertawa senang melihat kedua sejoli itu bertengkar kecil. Namun terlihat manis.


"Duh, kalian ya ada-ada saja. Ya sudah, mama sama besan mau lihat kamar dulu. Kalian teruskan saja berdebatnya."


Ibu Ema dan ibu Yuni bangun dari duduknya, mereka menuju kamar yang agak jauh di mana tadi mereka duduk.


Dan Anita masih menampilkan wajah sebal pada Arga, namun Arga malah memciumnya bertubi-tubi di wajahnya.


"Ih, Ga. Kamu kenapa sih?" ucap Anita.


"Aku gemas sama kamu, cemberutnya bikin aku pengen gigit tuh bibirnya."


"Arga!" teriak Anita sekarang lebih manja.


"Hahaha.."


_

__ADS_1


Sudah satu minggu keluarga Arga pindah ke rumah barunya. Sementara rumah yang lama di biarkan kosong terlebih dahulu, yang merasa gembira dan antusias adalah ketiga anak mereka.


Setiap hari Chila dan Chiko berangkat ke sekolah di antar Arga dan Anita. Anita sendiri mengurus toko lebih dulu sampai jam tiga sore. Celine juga ikut ke sekolah, dia hanya ikut sementara di sekolah Chila dan Chiko.


"Bu Anita, sekarang rumahnya pindah ya?" tanya ibu Idah seperti biasanya selalu ingin tahu hal yang baru.


"Iya bu Idah." jawab Anita singkat.


Dia melayani pelanggan lain sebelum ibu Idah, sementara ibu Idah masih mengoceh. Tapi Anita tidak meladeni ocehan ibu Idah.


Chila dan Chiko pulang ke rumah lamanya di mana Anita masih melayani pembeliny. Dia berpikir sayang jika di tinggalkan begitu saja, hanya menghabiskan stok dan dia tidak akan berjualan di toko lagi.


Arga sendiri menyerahkan sepenuhnya pada Anita tentang kegiatannya itu, dia tidak mengekang atau melepas Anita. Hanya memberi Anita kesibukan, karena Anita sudah biasa dengan kesibukan di toko.


Dia sedang berpikir kesibukan apa yang akan dia lakukan setelah nanti tokonya sudah dia tutup. Rumah ibu Yuni itu juga nanti akan di sewakan atau di kontrakkan.


"Ma, ko masih jualan di toko aja sih?" tanya Chila pada Anita.


"Tanggung kak, sayang stok di toko masih banyak. Lagi pula mama kan sekalian mengantar kakak sama adek sekolah. Pulangnya nanti sore, di jemput papa Arga." ucap Anita.


"Tapi kan kakak pengen pulang ke rumah baru. Di sana banyak mainan." kata Chila lagi.


"Memang kakak ngga mau main lagi sama Amanda dan teman lainnya?" tanya Anita.


"Emm, mau sih ma. Tapi kalau kakak ajak Amanda main ke rumah baru boleh ngga ma?" tanya Chila lagi.


"Boleh aja, tapi nanti siapa yang antar Amanda pulang? Kan papa Arganya belum bisa pulang dari kantor." kata Anita lagi.


"Kakak ngajak Amanda main ke rumah mau apa?" tanya Anita, penasaran kenapa Chila jadi kecewa seperti itu.


"Kakak mau tunjukin ke Amanda kamar baru kakak, ma." jawab Chila.


"Mm, bagaimana kalau hari Minggu? Papa Arga ada di rumah kalau minggu." ucap Anita menghibur anaknya.


"Beneran ma?" tanya Chila antusias.


"Iya, nanti mama bilang sama papa Arga." ucap Anita, dia tersenyum senang melihat wajah kecewa Chila hilang begitu saja.


"Asyiik, nanti kakak kasih tahu Amanda dulu deh ma." ucap Chila.


Dia berlalu dari hadapan Anita dan keluar memberitahu pada Amanda temannya itu.


_


Anita sedang merapikan tempat tidurnya, dia memgganti spreinya lebih dulu lalu memganti sarung bantalnya. Malam ini rasanya deg-degan, dia tahu Arga selalu menunggunya selesai tamu bulanannya. Maka dari itu, untuk menutupi rasa gugupnya Anita mengganti sperinya dan sarung bantalnya.


Arga mendekat, dia melirik jam di dinding. Masih pukul sembilan malam. Waktu yang pasa melakukan percintaan di atas ranjang itu dengan Anita, pikirnya.


Anita terlihat sedikit lelah karena mengganti sprei besar dan juga sarung bantal. Arga mendekat ketika Anita memperhatikan posisi bantal yang tadi dia letakkan di pinggir kepala ranjang.


Arga mendengus leher Anita dan menghembuskan nafasnya di sana, membuat bulu kuduk Anita meremang seketika. Arga mencium dan menggigit kecil, meninggalkan jejak di sana beberapa kali.

__ADS_1


Tangannya menyilangkan tangan Anita, seperti mengunci di kedua tangannya di bagian depan. Satu tangan membelai pipi pertama, turun ke leher. Lalu tangan Arga menelusup masuk di bagian dada Anita, sementara pagutan bibirnya di bibir istrinya tidak lepas.


Arga mendorong tubuh Anita pelan, dia sengaja menjatuhkan Anita di kasur dengan posisi terlentang. Arga menindih tubuh Anita, dan Anita merasakan di bagian intinya ada tekanan dari balik celana Arga.


Anita tegang merasakan sesuatu di bawahnya, Arga tersenyum. Dia kembali mencium bibir istrinya dengan lembut.


"Malam ini milik kita berdua" ucap Arga dengan suara parau.


Kini keduanya larut dalam kehangatan cinta yang setiap harinya selalu di rasakan. Malam yang baru di rasakan keduanya meinkmati indah dan ayahdunya pernikahan yang sudah berlangsung sepuluh hari lalu.


Kedua sejoli itu menikmati apa yang mereka berikan satu sama lain. Memberikan sentuhan lembut dan senyum manis di bibir menyampaikan bahwa ini adalah puncak cinta dari hati masing-masing.


Beberapa menit kemudian keduanya hampir mencapai puncak nikmatnya.


"Ga..eeuuuh."


"Ya sayang, apa yang mau kamu katakan, emm?"


"Aku sudah, eeuuh..."


Arga mencium bibir Anita, dia terus berpacu menikmati dan merasakan betapa bahagianya dia bercinta dengan orang yang sangat dia cintai.


Semakin memacu rasa yang kini mulai memanas, keduanya sudah tidak tahu bagaimana lagi mengekspresikan cinta dan kebahagiaan. Tubuh keduanya dalam detik ke enam puluh di menit lima puluh bergetar, dan teriakan kecil berbarengan keluar dari mulut mereka masing-masing.


"Eeeuuuh!"


Bersamaan itu, Arga ambruk di atas tubuh Anita, dia seperti mendapatkan manisnya madu di dalam cerobong yang dalam.


Begitu pun dengan Anita, dia seperti terbang melayang entah ke arah mana. Yang jelas Arga membuatnya naik ke atas puncak kebahagiaannya yang selama ini baru sekarang dia rasakan kembali.


Arga memeluk Anita, peluh keduanya masih bercucuran. Dia membuka matanya dan menatap Anita, tangannya menyibak rambut yang menempel di pipinya. Kemudian menciumnya.


"Terima kasih sayang, cup." ucapnya.


Anita membuka matanya, menatap suaminya dan tersenyum sangat manis.


"Ga, aku sangat bahagia." ungkapan rasa syahdu dalam diri Anita.


"Ya, aku juga bahagia. Jangan pernah kita terpisah lagi, aku ngga mau berpisah denganmu Anita." kata Arga.


Anita mengeratkan pelukannya di tubuh polos Arga, begitu juga dengan Arga.


Malam ini benar-benar malam pertama menikmati indahnya dunia. Bercinta dengan seseorang yang di cinta dan mencintai. Keduanya saling berpelukan, ekspresi cinta sangat jelas sekali di wajah masing-masing.


_


_


_


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2