
Sejak menikah, Arga belum sempat mengajak Anita untuk bulan madu. Anita sendiri tidak mempermasalahkan Arga tidak mengajaknya bulan madu.
Memang setelah satu bulan menikah, Anita langsung hamil dan sekarang kandungannya menginjak di trisemester kedua. Memasuki bulan ke enam.
Arga sendiri merasa bersalah pada istrinya, meski pun tidak ada tuntutan untuk pergi bulan madu dari Anita. Namun dia berjanji bukan depan genao tujuh bulan kehamilannya dia akan mengajak istrinya baby moon.
Anita sedang belajar merajut di ruang keluarga, anak-anak sedang bermain di halaman rumah depan. Hari Minggu ini semua bersantai di rumah saja, tidak ada yang mau pergi jalan-jalan.
Arga menghampiri istrinya yang sedang merajut mantel bayi. Dia mendekat dan mencium pipi Anita, kemudian mengelus perutnya dengan lembut. Satu tendangan keras membuat Arga terkejut, mulutnya terbuka dan matanya melebar.
Baru kali ini tendangan bayi di dalam perut Anita bereaksi cepat dan membuat Arga terkejut. Anita tersenyum.
"Sayang, aku kaget dengan tendangan bayi kita." ucap Arga masih mengusap perut yang sudah semakin membesar itu.
"Iya, kalau pagi pasti sering menendang kencang, aku aja sampai kaget kalau tendangannya kuat. Bayi kita aktif di dalam." ucap Anita.
Cup.
Arga mengecup perut Anita, dia kembali mengusapnya dengan pelan.
"Mm, sayang. Aku punya rencana untuk baby moon kita, tapi aku masih bingung kemana tujuannya?" tanya Arga.
"Memang mau kemana?" tanya Anita tanpa mengalihkan kegiatannya merajut.
"Di tanya kok malah tanya lagi sih, sebenarnya kamu dengar apa yang aku katakan sayang?" tanya Arga.
Anita menghentikan kegiatan merajutnya, lalu menatap suaminya.
"Kamu mengatakan kita mau baby moon, tapi bingung mau kemana?" kata Anita.
Arga tersenyum, dia lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya.
"Iya, kamu mau kemana?" tanya Arga.
"Ke Jogja aja yang dekat, tapi semua di ajak ya." kata Anita.
"Di ajak semua?" tanya Arga.
"Iya, masa kita liburan berdua aja. Anak-anak juga kan butuh liburan. Di Jogja juga ada saudara ibu." kata Anita.
Arga tersenyum, memang benar. Tidak sedap rasanya jika hanya liburan berdua saja, lagi pula anak-anak juga ada kedua oma dan eyang putrinya.
Anita dan Arga tetap tidur terpisah dengan mereka. Masa untuk berdua bisa setiap hari di lakukan, tapi berlibur bersama anak-anak dan kedua orang tuanya sangat menyenangkan.
"Ya sudah, kita akan liburan bersama bulan depan. Aku akan ambil cuti satu minggu, karena tidak bisa mendadak. Ya, liburan kita anggap baby moon aja." ucap Arga.
"Iya, lagi pula kan ngga harus honey moon. Sudah ada anak banyak, mending liburannya sama mereka." ucap Anita.
"Terima kasih sayang, kamu memang perhatian sama anak-anak dan kedua orang tua kita."
"Kalau bukam kita yang memperhatikan dan menyayangi mereka siapa, Ga? Kamu itu ada ada aja deh."
Obrolan mereka terhenti ketika ketiga anak yang asyik bermain di luar masuk dan berlari ke arah kedua orang tuanya.
"Papa, mama." teriak Celine.
Chila dan Chiko juga berlari menghampiri kedua orang tuanya.
"Sudah mainnya?" tanya Arga.
"Sudah pa, capek." jawab Celine.
"Ma, aku pengen liburan." ucap Chila.
__ADS_1
Anita menatap Arga, Arga tersenyum dan mengangguk.
"Iya, bulan depan papa ngajak liburan sama-sama." ucap Anita.
"Beneran ma?" tanya Chila senang.
"Kenapa ngga besok aja, pa?" tanya Celine.
"Iya." Chiko menyetujui ucapan Celine.
"Papa kan harus izin dulu di kantornya sayang, sabar ya. Kalian belajar dulu yang rajin, nanti bulan depan papa ajak semuanya liburan ke Jogja." ucap Arga mengusap kepala Chiko.
"Asyiiik!"
Ketiga bocah itu berteriak kencang dan berlari berkeliling, membuat Arga dan Anita menggelengkan kepala.
_
Satu bulan yang sudah di janjikan, mereka sudah berada di hotel tempat mereka menginap. Rencana awal cuti satu minggu di gunakan semua liburan di Jogja, tapi Anita memintanya hanya lima hari saja.
"Kenapa ngga di gunakan semua sayang?" tanya Arga ketika mereka sudah adan di dalam kamar untuk beristirahat.
"Kelamaan, Ga. Aku takut kamu nanti lelah, kalau langsung kerja lagi." ucap Anita.
Arga mendekap istrinya, saat seperti ini yang dia butuhkan.Selalu berdua dengan Anita sepanjang hari. Dan semenjak datang di hotel, Arga dan Anita belum keluar dari hotelnya.
Mereka beristirahat tidur dengan saling berpelukan. Ibu Ema dan ibu Yuni di pesan kamar terpisah, namun di tolak. Karena tidak seru, jadi keduanya satu kamar dengan ketiga cucunya. Dan akhirnya mereka berada jauh kamarnya dengan Arga dan Anita.
"Mereka pasti sedang istirahat, besan." ucap ibu Ema.
"Ya, sekarang Anita sudah besar perutnya. Dua bulan lagi akan ada cucu baru." ucap ibu Yuni.
"Oma, mama sama papa kamarnya di mana?" tanya Celine.
"Jauh sayang, oma juga belum tahu di mana. Nanti kalau papa kesini kita tanya di mana kamarnya." kata ibu Ema.
"Bang Iko tahu kamar papa sama mama ngga?" tanya Celine.
"Abang juga ngga tahu, Celine." jawab Chiko.
"Kakak Chila tahu ngga?"
"Ngga juga. Mau apa memangnya?"
"Aku mau jalan-jalan." ucap Celine.
"Ya nanti, kan baru juga sampai. Kasihan mama, kan lagi jaga adek di perutnya." ucap Chiko.
"Nanti Celine di panggi kakak ya bang, kalau adek bayi keluar?" tanya Celine lagi.
"Iya, kamu senang di panggil kakak?"
"Senang, kan nanti kayak kakak Chila di panggi kakak."
"Chiko, Celine sedang apa?" tanya Arga.
"Papa!" teriak Chiko dan Celine bersamaan.
Celine berlari, begitu juga Chiko mendekati Arga.
"Kok mama ngga ikut, pa?"
"Ngga sayang, mama sedang tidur. Kasihan adek bayinya, harus tidur.
__ADS_1
"Pa, jalan-jalan yuk?" pinta Celine.
"Tunggu mama bangun ya jalan-jalannya, oma sama eyang putri kemana?" tanya Arga.
"Ada di kamar, pa."
"Nah, kan semua capek butuh istirahat. Jadi aian harus sabar dulu untuk jalan-jalannya."
"Yaah." kata Celine kecewa.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalannya sekitar hotel aja?"
"Mau!"
"Kakak Chila mana?"
"Sebentar pa, Celine panggil kakak Chila."
Celine masuk lagi ke dalam kamar memanggil Chila, tak berapa lama Celine keluar dengan Chila. Mereka berempat keluar hotel untuk jalan-jalan sekitar hotel saja.
_
Hari masih pagi ketika Anita sudah bangun, dia melihat suaminya masih tertidur. Menatap Arga yang tidur dengan posisi lucu, membuat Anita tersenyum sendiri.
Dia tidak menyangka akan menikah dengan sahabat sejak SMAnya, mengenang dulu sekolah selalu di jemput Arga meski jauh rumahnya, atau pun pulang bareng walaupun kadang Anita harus ikut rapat dengan pengurua osis. Arga selalu menunggu dia selesai rapat.
Memang cinta sejati akan bertemu lagi di kemudian hari. Cinta yang seperti itu yang sangat di nantikan setiap orang. Kembali pada orang yang dulu begitu setia meski harus bersama orang lain dulu.
Arga membuka matanya, dia melihat Anita sedang menatapnya dengan senyum tipisnya. Arga belum sepenuhnya sadar, tapi dia tahu Anita sedang memperhatikannya.
Di tariknya pinggang istrinya agar lebih dekat, meskipun terganjal perut besar, tapi dia ingin memeluk Anita.
"Sejak kapan kamu bangun, sayang?" tanya Arga menatap balik istrinya.
"Setengah jam yang lalu, aku suka melihatmu tidur." jawab Anita.
Arga tersenyum, dia mengecup bibir Anita. Tangannya mengusap perut buncit itu, satu tendangan kembali dia rasakan.
"Dia aktif banget ya di dalam?" tanya Arga.
"Iya, kadang aku ngga bisa tidur karena dia aktif di malam hari." jawab Anita.
Arga memundurkan kepalanya sampai di posisi perut Anita.
"Sayang, jangan tendang perut mama ya. Kasihan mama sampai tidak bisa tidur lho, adek tendang." ucap Arga di perut Anita. Di usap lagi perut itu dan dia mendapat tendangan lagi.
"Kamu menurut sama papa ya, jangan membuat mama kerepotan."
"Iya papa." jawab Anita dengan gaya suara anak kecil.
Arga mendongak dan Anita tersenyum.
"Ayo mandi bersama, sudah pagi juga kan." ucap Arga.
Anita mengangguk, dia berusaha bangun di bantu suaminya untuk duduk terlebih dahulu.
Kemudian mereka masuk ke dalam kamar mandi, entah apa yang mereka lakukan di kamar mandi, tapi tentu saja mandi bersama.
Bersiap hari ini jalan-jalan menikmati kota Jojgakarta yang sangat kental sekali dengan budaya jawa.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤