
Satu bulan Mourin setelah melahirkan,dia menepati janjinya untuk tes DNA denga sampel punya Rendi.Dia pergi ke rumah sakit secara diam-diam tanpa Rendi tahu.
"Duh anak papa udah besar aja nih,makin gembul aja pipinya.Makan apa sih?"kata Rendi yang menggoda anaknya.
Mourin yang melihat Rendi begitu senang dengan anaknya hanya tersenyum saja.Dia berpikir akan terkejut jika seandainya hasil DNA adalah bukan anak Rendi.Akan terjadi apa nantinya.
Tapi apakah dia akan memberitahu Evan jika memang Elena anaknya Evan.Apakah dia akan menerimanya?
Apa sebaiknya setelah hasil tes DNA keluar dia akan memberitahu Evan?
Mourin harus bertemu Sandra,dia ingin pendapat Sandra,karena biasanya dia akan selalu jitu dengan saran-sarannya.
Rendi masih bermain dengan Elena,sedangkan Mourin masih merapikan baju-baju Elena.Lalu dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan pada sandra untuk minta bertemu besok siang.
'Gue pengen ketemu lo,Sandra.Ada yang ingin gue tanyain sama lo.'
Begitu bunyi pesan Mourin pada Sandra.Dan tak lama pesan Mourin di baca Sandra.
'Gue siap kapanpun nyonya Rendi,simpananya si ganteng Evan.'
Sandra malah menulis seperti itu,membuat Mourin jadi tersenyum.Lalu dia membalas lagi.
'Oke,besok siang gue mau ke butik lo Sekalian main ke butik lo.Kali aja ada baju gratisan buat anak gue.'
'Ck,lo ngomong kaya udah bangkrut aja minta gratisan.Tapi gue siapin buat si cantik Elena,gue tunggu besok siang ke butik gue.'
Setelah terlakhir membalas pesan Sandra,dia meletakkan ponselnya kembali di meja.Selesai merapikan baju Elena,Mourin akan minta izin oada Rendi untuk mengambil hasil tes DNA dan main ke butiknya Sandra.
"Sayang,besok aku main ke butiknya Sandra ya. Dia bilang ada baju lucu buat Elena."kata Mourin pada Rendi.
"Iya boleh,tapi jangan lama-lama ya. Kan kasihan Elena kalau lama di luar, dia masih kecil lho."kata Rendi.
"Iya sayang, aku tahu kok."kata Mourin
Lalu mereka akhirnya tidur satu ranjang, sedangkan Rendi sangat bahagia dengan kedekatan mereka bertiga..
_
Esok harinya,seperti janjinya Mourin pergi ke butik Sandra untuk membicarakan hasil ters DNA yang keluar hari ini. Dia ingin mengambil tes DNA di rumah sakit bersama Sandra.
Sampai di butik,dia mengambil stroller dan di tidurkannya Elena di stroller tersebut. Lalu dia masuk ke dalam butik dan langsung menuju ruang kerja Sandra yang ada di ujung.
Dia mengetuk pintu dan membukanya,tapi setelah dia melihat siapa yang ada di dalam ruang kerja Sandar Mourin berbalik dan mengumpat sahabatnya itu.
Kenapa dia berciuman panas dengan pacarnya pintu ruangan itu tidak di kunci.
Mourin jalan-jalan menuju ruang bagian baju anak-anak sambil mendorong strollernya. Memilih-milih baju yang sangat lucu,dia memilih dua baju untuk anaknya. Lalu setelah mengambil,kemudian dia menuju pakaian dewasa.
Mourin berteriak tidak sadar,dia meninggalkan strollernya dan menuju jejeran baju dewasa yang menarik matanya. Memilih-milih semua baju yang tergantung sampai dia bingung sendiri dengan baju-baju tersebut.
"Wah,Sandra memang pandai merancang baju. Aku jadi pengen semuanya."ucap Mourin kebingungan tapi dia senang.
"Wah,nyonya Rendi rupanya sedang kalap nih."kata Sandra yang sedang merapikan blousenya yang terbuka.
__ADS_1
"Eh lo pinter banget sih bikin baju. Aku suka semua baju-baju desain lo ini."ucap Mourin yang memperlihatkan baju yang ada di tangannya.
"Iya sampai lupa anak ada di mana."sindir Sandra.
Mourin memcari stroller yang tadi dia tinggalkan. Lalu sia tersenyum pada Sandra yang bersedekap menatapnya sinis.
"Gue lupa,habisnya bajunya bagus-bagus banget.."kata Mourin yang menarik strollernya dan mengikuti Sandra yang masuk ke ruangannya.
"Pacar lo udah pulang?"tanya Mourin yang masuk ke dalam ruangan.
"Udah tadi,lo ganggu gue aja sih."kata Sandra kesal.
"Ya elo lagian,lagi ciuman panas begitu pintu ngga di kunci. Coba kalau bukan gue yang masuk tadi, karyawan lo yang masuk. Malu kan lo."
"Mereka pada tahu semua,jadi kalau Martin datang mereka ngga bakal berani ganggu gue. Padahal lagi panas-panasnya."ucap Sandra santai sekali.
"Ya kan lo juga sama jal*ngnya sama gue."sindir Mourin.
"Gue sama Martin aja ya,ngga kayak lo embat semua."
"Ck,udah sih jangan bahas itu lagi. Gue jadi pengen ketemu Evan jadinya."
"Sinting lo ya. Ya udah buruan lo kesini mau apa?"
"Gue mau minta antar ambil surat tes DNA di rumah sakit. Gue ngga berani ambil sendiri."
"Lo berani tidur tapi ngga berani ambil hasilnya."
"Please dong,gue pengen tahu."
"Janji di hotel?"
"Tahu aja sih maksud gue. Hahaha...'
Lalu keduanya keluar dari butik. Mereka menuju rumah sakit di mana Mourin pernah melahirkan.
_
Mereka sampai di rumah sakit, Mourin menuju bagian administrasi menanyakan di mana dia harus mengambil hasil tes DNA.
"Si bagian lab bu, ibu bisa ke bagian lab nanti di sana ada petugasnya dan ibu serahkan surat pengambilan hasil tes DNA."kata petugas administrasi.
"Baik mba,terima kasih."
Lalu mereka menuju ruang bagian laboratorium yang berada di ujung gedung perawatan pasien. Dengan tidak sabar Mourin dan Sandra berjalan cepat karena laboratorium lumayan jauh tempatnya.
Sampai di bagian lab,Mourin menghampiri petugasnya dan menyerahkan surat pengambilan tes DNA.
Petugas menerima surat tersebut dan memeriksanya. Lalu dia menuju ruang khusus berkas dokumen riwayat penyakit pasien.
Setelah menemukan petugas lalu memberikannya pada Mourin. Mourin menerima amplop putih yang berisi hasil DNA yang satu bulan lalu Mourin periksa dengam sampel rambut Rendi dan rambut Elena.
Mourin deg degan menerimanya,dia menatap amplop warna putih itu dan beralih ke Sandra yang sama juga tegang.
__ADS_1
"Lo yakin mau membukanya?"tanya Sandra ragu.
Mourin tampak ragu,dia masih menatap amplop itu.
"Gue penasaran dengan hasilnya."kata Mourin.
"Ya udah,buka aja. Toh nanti juga sama aja kan anak kamu."kata Sandra
Lalu Mourin perlahan membuka perekat di amplop putih itu dengan hati-hati. Dia tidak mau ada yang terlewat dan sobek walau hanya amplopnya saja.
Setelah terbuka,Mourin memandang Sandra. Sandra mengangguk mantap,meyakinkan Mourin apapun hasilnya Elena tetap anaknya. Tidak peduli itu anak Evan atau Rendi.
Mourin
dan Sandra membuka lagi lembaran surat putih itu yang berjejer rapi tulisan dengan ketikan mesin komputer. Dia membaca dalam hati dan menelitinya secara seksama.
Dan tiba di tulisan hasil tes,mata Mourin dan Sandra terbelalak. Mereka mengulang kembali hasil tes itu,dan kalimat yang sama di kertas putih itu.Positif.
Dan keduanya saling pandang dan terpaku. Diam seribu bahasa,hingga Elena anak Mourin menangis kencang karena kehausan.
Mourin langsung menghampiri anaknya dan mengambilnya dari stroller. Dia menggendongnya dan duduk di kursi tunggu.
Mourin mengambil botol susu untuk di masukkan ke dalam mulut anaknya yang kehausan.
Sandra masih membaca ulang hasil tes tersebut. Dia masih tidak percaya dengan hasilnya.
"Lo harus sembunyikan hasil tes ini,jangan sampai Rendi tahu nanti."kata Sandra menyerahkan amplop tersebut.
"Iya,gue akan simpan di kantor. Sebulan lagi gue masuk kerja,suntuk gue kalau di rumah aja."
"Terus anak lo?"
"Ya gue cari baby sitterlah.Gila aja gue bawa-bawa sampai ke kantor."ucap Mourin.
Ponsel Sandra berbunyi,dia lalu mengambilnya dan mengangkat telepon itu.
"Iya sayang,aku langsung ke hotel. Tunggu aku ya."ucap Sandra dengan senyum di wajahnya.
Setelah telepon terputus Sandra menyimpannya lagi di tasnya.
"Gue udah di tuggu nih,lo gue antar sampai butik aja ya. Mobil lo kan di sana."
"Langsung pulang aja,biar nanti gue minta antar Rendi ngambil mobil gue."kata Mourin.
"Ya udah yuk kita pergi."
Lalu keduanya langsung pergi,Sandra mengantar Mourin sampai rumah Rendi.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤