IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
162. Kartu Undangan Pernikahan


__ADS_3

Arga pulang pukul tujuh malam seperti biasanya, dia bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan segera turun lagi untuk makan malam dengan anak-anaknya dan istrinya.


Semua menunggu Arga turun untuk bergabung makan malam bersama.


Biasanya jika Arga telat pulang lebih dari jam tujuh malam, dia akan menelepon istrinya bahwa pulangnya telat meski jam setengah delapan pulang.


Dia hanya tidak mau anak-anaknya telat makan malam hanya gara-gara menunggunya pulang meski hanya setengah jam. Dia pasti akan menyuruh Anita dan anak-anak malan lebih dulu, tidak menunggunya pulang.


Setelah selesai bersih-bersih dan mandi air hangat, Arga langsung turun. Tapi dia sekilas melihat di meja ada sebuah kartu undangan berwarna merah tua.


Entah dari siapa, nanti dia akan balik lagi melihat kartu undangan itu setelah makan malam dengan istri dan anaknya.


Dia turun ke bawah dengan terburu-buru menuju meja makan.


"Malam semua kesayangan papa?" sapa Arga, dia mencium pipi istrinya dan Cheril yang juga ikut duduk di bangku khusus bayi.


"Malam pa, kok papa telat?" tanya Kevin.


"Iya sayang, papa tadi ada tamu di kantornya jadi papa telat pulangnya." jawab Arga.


Dia duduk di kursi paling ujung. Anita mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.


"Mau lauk apa?" tanya Anita.


"Emm, tumis kangkung aja sayang sama ikan goreng." jawab Arga.


Anita mengambilkan lauk sesuai permintaan suaminya lalu dia letakkan di depan Arga.


"Emm, sayang di meja kerja aku ada kartu undangan. Dari siapa? Undangan apa?" tanya Arga beruntun.


Anita menatap suaminya lalu menatap Celine secara bergantian.


"Mantan istrimu, dia tadi siang kesini ngasih kartu undangan pernikahan." jawab Anita.


"Marisa?"


"Iya, Marisa."


"Dia baru mau menikah?" tanya Arga tidak percaya.


"Iya, kenapa denganmu kaget begitu? Ngga terima dia menikah lagi?" tanya Anita dengan berbau cemburu nada suaranya.


"Eh, ya itu terserah dia aja sayang, mau menikah ataupun tidak terserah dia. Yang penting dia tidak mengganggu lagi rumah tanggaku." jawab Arga tegas.


Dia tahu Anita cemburu dengan nada suaranya, lagi pula Anita hanya mengetes suaminya. Apakah dia peduli pada ibunya Celine atau tidak.


Tapi Anita percaya kalau suaminya masa bodoh dengan pernikahan mantan istrinya itu.


Setelah selesai makan malam, mereka kini berkumpul di ruang keluarga untuk bercengkrama dan bercanda serta bertanya bagaimana di sekolah dan apakah ada tugas dari sekolah.


"Sayang, Cheril udah tidur?" tanya Arga pada istrinya yang baru saja duduk di sebelahnya.


Arga menarik pundak istrinya untuk lebih dekat padanya. Dia sangat lelah hari ini, ingin tidur di pangkuan istrinya.


"Sudah, baru aja. Kamu lelah?" tanya Anita.


Dia memegang pelipis Arga di pangkuannya dan memijatnya dengan lembut. Arga memejamkan matanya dan nafasnya keluar mulai teratur.

__ADS_1


Di belainya rambut suaminya, kemudian menatapnya lama. Senyum mengembang di bibir Anita, lalu kepalanya mendekat pada wajah Arga dan mencium sekilas bibir suaminya.


Tak ada balasan, sekali lagi Anita mencium tapi tiba-tiba tangan kekar Arga menahan tengkuk leher Anita agar tidak langsung menyudahi ciumannya, justru dia yang langsung melahap bibir istrinya.


Hingga nafas Anita melemah, Arga melepas pegangan tangannya di tengkuknya. Arga tersenyum puas menatap istrinya yang cemberut karena ulahnya.


"Ish, kamu tuh Ga."


"Kamu dulu yang mulai sayang, hehehe.."


"Ma, abang ngantuk." kata Kevin mendekat pada Anita.


Arga bangun dari tidurnya, dia lalu duduk di samping istrinya. Kemudian dia bangun dan hendak pergi.


"Kamu mau kemana?" tanya Anita.


"Ke kamar, mau tidur." jawab Arga.


"Yakin langsung tidur?"


"Ngga sayang, tunggu kamu masuk dulu baru tidur."


Kemudian Arga meninggalkan Anita, dan Anita menggendong Kevin yang sudah kepayahan karena sudah sangat mengantuk.


_


Arga sudah berada di kamarnya, dia melihat di meja tadi kartu undangan pernikahan. Rasa penasaran itu muncul lagi, kemudian dia mendekat dan mengambil kartu undangan pernikahan Marisa.


Di perhatikannya kartu undangan itu, melihat nama calon mempelai laki-lakinya. Asing namanya, namun dia lihat juga.


Hari Minggu di gereja katredal di kota.


"Kamu tahu calon mempelai laki-lakinya siapa?" tanya Anita.


"Ngga sayang, aku ngga tahu siapa dia." jawab Arga.


Dia menarik tangan istrinya dan menghadapnya. Kini mereka saling menghadap, tangan saling melingkar di pinggang. Satu kecupan kecil mendarat di bibir Anita.


"Marisa bilang kita datang harus membawa Celine, apa kamu keberatan?" tanya Anita.


"Ngga, memang Celine harus ikut dengan kita nanti. Tapi bagaimana dengan yang lain?" tanya Arga, dia merapikan anak rambut yang berantakan di pelipis Anita.


"Kenapa tidak di ajak semua?"


"Itu bukan acara liburan sayang, kenapa harus di bawa semua?"


"Ya kan bisa menginap di rumah di tengah kota milik Chiko, aku akan minta Noni untuk membersihkan rumah itu untuk di tempati satu atau dua hari di sana."


Arga tampak berpikir, benar juga saran istrinya.


"Boleh sayang seperti itu, kamu kasih tahu mantan asistenmu di sana untuk membersihkan rumah itu untuk di tempati dua hari. Kita nanti sekalian jalan-jalan di sana." kata Arga.


"Ya sudah, besok aku akan telepon Noni untuk membersihkan rumah itu."


"Ayo kita tidur." ajak Arga.


"Ayo, aku udah mengantuk." jawab Anita cepat.

__ADS_1


Karena jarang-jarang suaminya langsung mengajak tidur. Tapi pikiran Anita salah, justru maksudnya mereka cepat ke tempat tidur dan pertempuran malam pun segera di mulai.


_


"Celine tahu mama Marisa mau menikah?" tanya Anita pada anak sambungnya itu.


"Belum ma, memang mama Marisa mau menikah?" tanya Celine dengan ekspresi biasa saja.


"Iya, kakak mau ikut pemberkatan mama Marisa ngga?" tanya Anita lagi.


"Mama sama papa juga ikut?" tanya Celine lagi.


"Ikut sayang, kata mama Marisa kakak Celine harus ikut. Kalau bisa nanti jadi pengiring pengantin mama Marisa." jelas Anita.


"Emm, kemarin waktu mama sama papa menikah Celine ngga jadi pengiring pengantin, cuma kakak Chila sama abang Iko aja." kata Celine lagi.


Anita diam, tidak mudah membujuk Celine untuk menghadiri ibunya menikah. Mungkin efek dari kecil tidak hidup di perhatikan dan kurangnya kasih sayang dari ibunya.


Jadi sikap acuh Celine terhadap Marisa masih saja dia rasakan sampai sekarang.


"Kak, mama Marisa itu mamanya kak Celine. Jadi kakak harus menghormati permintaan mama Marisa. Ngga salah kakak menuruti kemauan mama Marisa, memang mama Marisa itu tidak mengurus kakak dari kecil. Tapi mama Marisa itu mama kandung kakak Celine. Jadi tolong kakak hormati keinginan mama Marisa ya?" kata Anita.


Dia tahu Celine enggan untuk mengikuti acara rangkaian prosesi pemberkatan mama kandungnya. Mungkin karena Arga terlalu melarang Marisa mendekat pada Celine, jadi dampaknya Celine tidak terlalu antusias dengan kebahagiaan ibunya.


Dampak dari rasa kecewa dulu, tapi itu tidak bisa di rubah. Sesuatu hal yang pernah menyakitkan di hati jadi membekas dan akan sulit hilang.


Dan mungkin Arga juga enggan datang jika bukan Anita yang membujuknya. Hubungan kedekatan yang pernah ada dulu, tidak membuat semua itu kembali biasa saja.


"Kakak mau kan jadi pengiring pengantin mama Marisa?" tanya Anita lagi.


Anita membujuk Celine karena permintaan Marisa sebelum mereka berpisah waktu itu, dia bahkan memohon pada Anita agar membujuk Celine mau menjadi pengiring pengantin.


Aneh memang, anak seusia Celine seharusnya sangat senang dengan hal-hal yang meriah. Tapi kenapa ketika ibu kandungnya yang meminta justru menolaknya. Bahkan harus di bujuk dan mungkin sebentar lagi di ancam oleh Anita.


Arga sendiri tidak memaksa atau menyuruhnya menolak. Hanya Anita saja yang bisa membujuknya.


"Iya deh ma, kakak mau." kata Celine akhirnya.


"Nah gitu dong. Rencananya kalau kakak tetap ngga mau, mama akan tinggal kakak sendirian di rumah. Semua ikut liburan ke kota nanti setelah acara pernikahan mama Marisa." kata Anita.


"Ih, jangan ma. Nanti kakak sendirian di rumah."


"Jadi mau kan?"


"Iya."


"Ya sudah, mama nanti carikan baju yang cantik untuk kakak pakai di hari pernikahan mama."


"Iya ma."


Setelah perdebatan kecil itu, Anita kini keluar dari kamar Celine. Besok dia akan mencari baju yang pas dan cocok untuk Celine.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2