IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
95. Hamil


__ADS_3

Kini Anita dan Arga mengantarkan uang yang akan dia sumbangkan ke beberapa tempat ibadah dan yayasan anak yatim piatu serta lembaga pendidikan yang membutuhkannya.


Tidak lupa juga ibu Yuni mengantarkan sebagai petunjuk jalan di mana tempat ibadah dan lembaga itu berada.


"Bu, apa kita akan ke rumah ibadah umat muslim?" tanya Anita.


"Iya, apa kamu keberatan karena mereka tidak sepaham dengan kita?" tanya ibu Yuni.


"Bukan begitu, apakah mereka mau menerimanya?"


"Ibu yakin mereka mau, soalnya salah satu pengurus di sana ibu kenal. Makanya ibu memintanya, mereka juga tidak memandang siapa yang menyumbang. Ibu hanya berpikir tentang kebersamaan saja dan rasa kemanusiaan, itu saja yang ibu pikirkan." ucap ibu Yuni.


Anita tersenyum, begitu juga Arga. Pikiran ibu Yuni memang bagus sekali. Berteman dan bergaul tidak harus sesama dengan kelompoknya saja. Tapi kita hidup di negara yang beragam, dari dulu selalu sikap gotong royong di kedepankan. Tak mengenal siapa dia atau siapa aku.


Tak berapa lama, mobil Arga berhenti sesuai petunjuk ibu Yuni. Ibu Yuni turun lebih dulu, sedangkan Anita menoleh ke arah suaminya.


"Mau ikut turun?" tanya Anita pada Arga.


"Kamu saja yang turun sayang, sama ibu." jawab Arga.


"Ya sudah, aku turun ya. Cup." kata Anita, mencium pipi suaminya.


Arga tersenyum, dia memegang pipinya yang di cium oleh istrinya. Padahal Anita sering mencium pipinya, tapi Arga selalu senang di cium Anita.


Terkadang perempuan mendahului mencium itu jarang, mereka selalu malu-malu. Meskipun ingin mencium, tapi di tahan karena malu. Pada akhirnya, laki-laki yang selalu berinisiatif menciun lebih dulu karena rasa gemasnya pada istrinya. Tapi jika istri memulai duluan, akan sangat menyenangkan bagi suami. Karena itu sesuatu yang langka, pun sama dengan meminta bercinta duluan. Kebanyakan laki-laki yang meminta, perempuan jarang meminta duluan.


Anita turun mengikuti ibu Yuni, dia berjalan di belakang ibunya. Dan di depan gerbang di sambut oleh seorang laki-laki yang sedang mengepel lantai masjid.


Anita melihat sekeliling masjid tersebut, memang keadaannya membutuhkan perbaikan.


"Selamat siang ibu Yuni, wah ada angin apa ibu datang ke tempat ini?" tanya laki-laki itu dengan ramah.


"Tidak ada apa-apa pak ustad, saya hanya mengantarkan anak saya ke sini saja. Dia ingin menyumbangkan sebagian rejekinya untuk pembangunan masjid ini." kata ibu Yuni.


"Alhamdulillahi robbil alamiin, ya Allah." ucap sang ustad.


Lalu mereka di persilakan masuk ke dalam masjid, meski tidak memakai pakaian tertutup. Tapi Anita dan ibu Yuni berpakaian sopan.


Mereka terlibat perbincangan selanjutnya dengan sopan dan basa basi, tidak ada yang memaksakan dan di paksakan. Setelah lamanya setengah jam berbincang, kini Anita dan ibu Yuni pamit pulang meneruskan rencana selanjutnya.


Setelah menyerahkan sebuat selembar cek, pak ustad berterima kasih beberapa kali dan memohon maaf.


Anita masuk ke dalam mobil, di dalam sangat riuh rendah suara anak-anak bernyanyi dan bermain tebak-tebakan.


"Sudah selesai sayang?" tanya Arga pada istrinya.


"Sudah, mungkin ini satu lagi ke tempat yayasan yatim piatu kata ibu, tapi entah di mana tempatnya yang membutuhkan dana." jawab Anita.


Ibu Yuni masuk ke dalam mobil dengan senang.

__ADS_1


"Kita kemana lagi bu." tanya Arga yang jadi supir pribadi istrinya dan anak-anaknya.


"Ya, ke geraja sudahkan? Jadi yang terakhir ke yayasan anak yatim piatu, dekat juga dibaderqh sini." ucap ibu Yuni.


Lalu Arga mengangguk, Anita melihat suaminya dengan sabar mengantarkannya memberikan sumabangan ke beberapa tempat, dia tersenyum menatap Arga. Lalu tangannya menggandeng tangan sebelah kiri suaminya.


Arga menoleh dan mencium puncak kepala isyrinya yang sekarang sedang manja.


_


Kepala pusing yang sering di rasakan Anita di pagi hari berulang setiap hari. Hingga dia jarang sekali mengantarkan anaknya ke sekolah


Sejak pulang dari berkeliling memgantarkan uang sumbangan, Anita semakin lemah tubuhnya. Dia juga hanya mau makan bubur saja.


Arga jadi khawatir, dia lalu menanyakan pada ibunya.


"Ma, Anita kok sekarang hanya mau makan bubur saja sih, aneh sekali." ucap Arga ketika mereka semua sarapan pagi bersama tanpa Anita.


"Mmm, benarkah? apa yang di rasakan oleh istrimu itu?" tanya ibu Ema mengunyah makanannya.


"Memang ada apa, nak Arga?" tanya ibu Yuni yang ikut penasaan kenapa Anita tidak ikut turun.


"Dia tidak mau turun, bu. Tapi pengennya makan bubur. Katanya kalau makan nasi itu bisa mual." jawab Arga.


"Waah, benarkah? Itu kabar baik, Arga." ucap ibu Yuni dia angguki oleh ibu Ema


"Kabar baik bagaimana bu?" tanya Arga semakin tidak mengerti.


"Waaah, benarkah ma? bu?" tanya Arga tidak percaya.


Wajah sumringahnya tampak jelas, dia sampai lupa dengan sarapannya dan langsung bangun dari duduknya. Dia berlari langsung naik tangga dan masuk ke dalam kamar menghampiri istrinya yang sedang makan buah anggur yang dia minta di bawakan oleh asisten rumah tangga.


"Sayang, terima kasih ya." tanya Arga dan langsung memeluk istrinya. Anita heran kenapa Arga memeluknya dengan erat.


Dia benar-benar bahagia dengan kehamilan istrinya.


"Ga, kamu kenapa?" tanya Anita masih dalam pelukan.


"Aku benar-benar bahagia, sayang. Aku bahagia." ucap Arga lagi, membuat Anita semakin heran.


"Ga, kamu kenapa? Kamu bahagia apa?" tanya Anita.


"Apa yang kamu rasakan sekarang, emm?" tanya Arga.


"Ga, kamu ngomong apa aku ngga mengerti?" ucap Anita dengan kesalnya.


Arga malah mencium Anita berkali-kali di semua wajahnya, semakin membuat Anita kesal dan cemberut. Terakhir di bibirnya, mau tidak mau Anita terbuai dengan ciuman Arga yang menuntut itu.


Setelah selesai, Arga menatap Anita masih dengan seyum di bibirnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa datang-datang senyum-senyum sampai menciumku seperti tadi?" kini emosinya mulai turun Anita.


"Kata mama dan ibu, kamu hamil ya?" tanya Arga.


Anita mengerutkan dahinya, dia berpikir sesuatu dan mengingatnya. Bukankah dulu ketika menikah dirinya sedang datang bulan? Dan ini sudah lewat satu bulan lebih, bahkan hampir dua bulan. Dia belum datang bulan.


"Masa sih, Ga?" tanya Anita tidak percaya sendiri dengan kehamilannya.


"Coba nanti tes kehamilan, nanti pulang kantor beli tespack di apotik." ucap Arga


Anita tersenyum, dia kini yang memeluk Arga. Betapa bahagianya dirinya. Bisa di percaya dengan cepat di beri momongan.


"Kalau memang benar aku hamil, aku juga sangat bahagia, Ga. Aku akan punya anak dari kamu." ucap Anita terharu.


"Iya sayang, aku juga sangat bahagia. Aku akan selalu menyayangi kalian meski ada anak kita nanti. Celine, Chila dan Chiko. Semua anak-anakku sama dengan anak yang kamu kandung " ucap Arga membelai pipi istrinya.


"Iya Ga, aku percaya sama kamu, kamu akan selalu menyayangi ketiga anakmu selain anak yang ku kandung ini lahir nanti. Terima kasih ya Ga." ucap Anita.


Kini Arga melepas pelukannya, dan menatap Anita dengan lembut. Dia mencium kembali kening istrinya lalu turun ke bibirnya seoerti biasa. Mencium lebih lama dan penuh kelembutan.


Lalu keduanya kini beerpelukan lagi, menyalurkan kebahagiaan kembali.


"Ya sudah, aku berangkat kerja dulu. Nanti pulang dari kantor beli tes pack di apotik." ucap Arga.


Anita mengangguk dan Arga kini bersiap untuk berangkat kerja. Dia berpesan pada istrinya untuk menjaga diri dan tidak boleh capek di rumah.


"Aku berangkat ya sayang, anak-anak sudah menungguku. Cup." ucap Arga lagi.


"Hati-hati Ga."


"Iya sayang."


Setelah mengambil jas dan tasnya, Arga pun tyun kebawah. Di bawah ketiga anaknya itu sudah menunggunya sejak tadi, bersama dengan ibu Ema.


Kini yang mengantarkan ke sekolah secara bergantian, kadang ibu Yuni juga ibu Ema. Mereka sengaja bergantian dan meski sudah tua. Tapi keduanya memang membutuhkan teman-teman untuk bercerita dan bercanda dengan yang lainnya.


"Ayo kita berangkat." ucap Arga oada ketiga anak itu.


"Mama ngga ikut lagi, pa?" tanya Chiko.


"Mama sedang tidak enak badan sayang, jadi sekarang yang mengantar Oma." ucap Arga.


Lalu ketiga bocah itu pun menurut, mereka langsung masuk ke dalam mobil. Sementara Anita melihatnya dari balkon di mana dia berdiri.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2