
Setelah mengatakan seperti itu pada Rendi, Arga keluar dari ruang ICU. Dia melihat kedua anak Anita sedang di nasehati, tepatnya di beritahu kalau papanya sedang tidur dan harus banyak alat di tubuhnya.
Kedua anak itu seolah mengerti, mereka mengangguk saja. Dan akhirnya mereka masuk ke dalam ruang tersebut. Mereka melihat Rendi masih terbujur kaku di bangsal dengan alat medis lengkap.
Chila mendekat, di susul Chiko. Keduanya melihat Rendi yang masih terpejam dan pernafasannya di bantu oleh selang.
"Papa lagi tidur?" tanya Chiko.
"Iya, dek. Papa tidurnya nyenyak banget."
"Bangun dong pa. Iko janji akan bantu papa jalan lagi." kata Chiko.
"Kakak juga janji pa, mau nuruti kata papa." ucap Chila menimpali.
Dan dari jauh, Anita mendengar percakapan kakak beradik di depan Rendi yang terbujur kaku hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, menahan suara tangisnya.
Ada rasa pilu ketika keduanya sama sekali tidak punya dendam pada Rendi. Keduanya saling bicara di depan Rendi. Arga yang di belakang Anita, ikut tersentuh dengan ucapan Chila dan Chiko untuk membangunkan Rendi dari tidur panjangnya.
Dia juga ikut sedih, Arga mendekat. Mendekap Anita yang menahan tangis.
Satu jam sudah berlalu, meski tidak ada perubahan pada Rendi setidaknya itu memberikan stimulus untuk Rendi bisa bangkit dari koma.
Dokter menyuruh kedua anak itu untuk menyudahi perbincangan mereka pada papanya. Di ruang ICU tidak boleh terlalu banyak orang yang masuk. Maka Anita dan Arga keluar lebih dulu sebelum kedua anaknya keluar.
Mungkin dokter memberikan nasehat pada anak-anak itu untuk terus memberi semangat bangun pada papanya.
Baru setelah selesai, keduanya keluar dari ruang ICU dan menghampiri Anita.
"Ma, papa ngga mau bangun." kata Chiko.
Anita menatap Chiko, dia bingung harus berkata apa.
"Papa lagi capek, dek. Kan kata dokter habis naik mobil terus jatuh. Jadi papa capek, harus banyak istirahat." ucap Chila menimpali.
Baik Anita dan Arga hanya tersenyum saja mendengar jawaban dari Chila.
"Ayo om antar pulang lagi." kata Arga.
"Ngga di sini aja om?" tanya Chiko.
"Biar mama aja yang jaga papa, dek." jawab Anita.
Akhirnya Chila dan Chiko mau di ajak pulang bersama Arga.
"Nanti mama kasih tahu kalian kalau papa bangun." kata Anita setelah mereka sampai di lobi rumah sakit.
Anita hanya bisa mengantar sampai lobi, dia mendekat pada Arga.
"Terima kasih, Ga mau mengantar mereka ke sini menjenguk papanya." kata Anita.
"Ya, sama-sama. Aku pulang dulu, kamu jaga kesehatan jangan lupa makan." pesan Arga.
__ADS_1
"Ya,terima kasih sekali lagi." ucap Anita.
Anita hendak pergi dari hadapan Arga, namun Arga memanggilnya lagi.
"Anita."
"Ya Ga?"
Arga menatap Anita sendu, entah dia merasa seperti mau kehilangan Anita tiba-tiba jadi sedih. Anita menatap Arga heran.
"Ada apa Ga?" tanya Anita lagi.
Arga mendekat pada Anita dan memeluknya erat, rasa perih dan dilema yang dia rasakan ingin dia tumpahkan dengan memeluk Anita dalam diamnya. Lama Arga memeluk Anita, dan Anita menyambut pelukan Arga. Keduanya saling berpelukan lama, seolah mereka tidak akan bertemu lagi.
Setelah di rasa cukup, Arga melepas pelukannya pada Anita dan mengelus pipinya lembut. Dia tersenyum.
"Aku pulang dulu." kata Arga sekali lagi.
"Ya, hati- hati Ga."
Setelah melambaikan tangan Arga pergi menyusul Chila dan Chiko yang sudah masuk ke dalam mobil.
Anita berbalik dan menuju ruang di mana Rendi di rawat.
_
Sudah satu minggu Anita merawat Rendi di rumah sakit, kata dokter Rendi bisa di pindah ke ruang rawat inap namun harus dengan alat medis tidak di lepas.
Anita pun tidak masalah, dia lebih senang jika di rawat di kamar inap agar dia bisa istirahat dengan mudah. Setiap hari Anita mengelap wajah, tangan dan kaki Rendi. Jika punggung dan dadanya hanya sesekali saja.
Rendi bersemangat untuk bangun, dalam pikirannya Anita masih mencintainya. Jadi dia akan berusaha untuk segera membuka matanya.
suatu siang ketika Anita sedang mengelap wajah Rendi, mata Rendi tiba-tiba bergerak. Anita belum sadar, namun mata Rendi terus bergerak-gerak ingin membukanya.
Dan, Anita melihat kelopak mata Rendj bergerak. Dia kaget. Di pandangi mata Rendi dengan seksama, dia takut itu hanya salah lihat.
Dan benar saja, Rendi membuka matanya lebih lebar dengan perlahan. Anita tertegun, lalu dia memencet tombol untuk memberitahu perawat yang merawat Rendi selama di rumah sakit.
Perawat pun segera masuk ke dalam kamar Rendi dan bertanya pada Anita.
"Ada apa bu memanggil saya?" tanya perawat itu.
"Suster, dia membuka matanya Suster." jawab Anita menunjuk ke arah wajah Rendi.
Perawat itu pun mendekat, dan benar saja Rendi membuka matanya. Memandang suster dengan lemah.
"Syukurlah, pasien sudah sadar. Ini keajaiban bu, kalau pasien koma sadar. Berarti semangat untuk bangun sangat besar. Ibu luar biasa." kata perawat itu.
Dia memeriksa denyut nadi dan saluran pernafasan serta detak jantung. Meski masih belum normal, tapi ada kemajuan pada Rendi.
"Saya akan beritahu dokter agar memeriksa lebih detailnya bu." kata perawat tersebut.
__ADS_1
"Baik suster."
Lalu suster keluar dari ruang kamar Rendi. Anita memandang Rendi dengan senyum, dia senang Rendi telah sadar.
_
Anita memberitahu Arga kalau Rendi sudah sadar, dia juga meminta kedua anaknya bisa menengok papanya lagi.
"Aku belum bisa bawa si kembar ke sini, aku sedang sibuk dengan sidang kedua klienku." kata Arga ketika Arga mampir untuk menjenguk Rendi.
"Iya, ngga apa-apa. Itu kalau kamu tidak sibuk bisa membawa si kembar menjenguk papanya. Jangan di buat repot untukku." kata Anita.
Arga diam, dia juga sebenarnya ingin membantu Anita membawa si kembar. Tapi sekarang sedang sibuk sidang kedua klien kasus korban KDRT.
"Besok aku ada waktu untuk pulang dulu ke kampung. Aku usahakan si kembar aku bawa kemari." kata Arga lagi.
Dia tidak tega melihat Anita bahagia kalau Rendi sadar. Kembali Arga sedih, di tatapnya Anita yang tersenyum padanya.
Apakah aku salah jika aku bertahan di tengah kebahagiaan Anita melihat mantan suaminya sadar?
"Anita, apa kamu senang Rendi sadar?" tanya Arga tiba-tiba.
Anita menatap Arga, dia melihat ada kesedihan di mata Arga. Kemudian dia menunduk, menanyakan pada diri sendiri jika memang dia bahagia Rendi kembali sadar.
"Aku bahagia karena anak-anak kembali menemukan papanya lagi, Ga." ucap Anita membuat Arga salah mengartikan ucapannya.
Itu artinya, Anita masih mencintai Rendi. Meski dia pernah terluka dan sakit hati. Tapi ternyata dia masih menyimpan rasa cinta pada mantan suaminya.
"Aaairr." suara serak Rendi meminta air.
Arga dan Anita menoleh ke arah Rendi, keduanya pun langsung menuju Rendi yang sudah bangun dari tidurnya.
Rendi menatap Arga dan Anita secara bergantian, lalu tersenyum. Arga pun membalas senyuman itu.
"Kamu sudah sadar?" tanya Arga pada Rendi.
Rendi mengangguk pelan dan seperti mengucapkan kata terima kasih.
"Terima kasih." kata Rendi dengan nada berbisik.
"Ya, semoga kamu cepat sembuh. Kamu harus semangat untuk sembuh, Rendi. " Kata Arga memberi semangat pada Rendi.
Rendi menagngguk, lalu tersenyum lagi. Dia menatap air yang ada di mejanya. Arga mengambilkan air dalam gelas tersebut dan meminumkannya ke mulut Rendi.
Anita memperhatikan kedua orang laki-laki yang kini seperti akrab. Tidak seperti dulu saling bertengkar karena memperebutkannya.
Anita melihat ketulusan Arga membantu Rendi, dia seperti punya kesedihan mendalam dalam hatinya, mungkinkah dia merasa kalau dirinya akan tersisih dari dirinya.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤