
Seperti janjinya, Arga memberi tahu Marisa hari Minggu ini dia akan membawa Celine bertemu bertiga di sebuah rumah makan tempat wisata.
Celine senang sekali di ajak jalan-jalan oleh papanya. Dia pikir akan jalan-jalan dengan Anita dan kedua anaknya, Chila dan Chiko.
"Pa, kita mau kemana jalan-jalannya?" tanya Celine pada Arga.
"Kita mau ke makan sayang, ke rumah makan yang enak." jawab Celine.
"Waah, Celine mau makan kepiting pa." ucap Celine girang.
"Di sana tidak ada kepiting sayang. Adanya udang goreng." ucap Arga, dia tersenyum melihat tingkah anaknya.
"Udang juga suka pa. Apa kakak Chila dan abang Iko juga ikut pa? Sama tante Anita juga?" tanya Celine.
Arga diam, dia hanya menatap anaknya saja tanpa menjawab pertanyaan anaknya. Ada rasa sedih di hatinya ketika pertanyaan itu di lontarkan padanya.
"Mereka ikut pa?" tanya Celine lagi karena Arga tidak juga menjawab.
"Ngga sayang, kakak Chila dan abang Iko sedang main di rumah aja. Nanti kalau ada waktu lagi Celine bisa main lagi sama mereka." jawab Arga.
"Terus kita makannya hanya berdua pa?" tanya Celine lagi.
"Ada satu tante lagi kok nanti menunggu di sana." kata Arga.
"Siapa pa?"
"Emmm, kalau Celine mau ketemu mama tidak?" tanya Arga, memastikan anaknya nanti tidak kaget dengan kedatangan Marisa.
"Emang mama datang pa?" tanya Celine.
Arga tersenyum, dia lalu.mengangguk. Tapi wajah Celine tidak begitu antusias mendengar mamanya akan datang.
"Celine senang mau ketemu mama?" tanya Arga.
"Ngga tahu pa, emang mama seperti apa?" tanya Celine lagi
"Nanti Celine lihat sendiri ya, seperti apa mama Celine itu." kata Arga.
Arga sendiri cemas akan reaksi Celine nanti ketika tahu mamanya adalah orang yang pernah dia jumpai dan sering mengunjunginya.
Satu jam perjalanan menuju rumah makan di mana itu adalah pernah di singgahi oleh Arga dan Marisa dulu.
Bukan untuk mengenang masa lalu, tapu hanya untuk memudahkannya saja bisa bertemu dan janjian di sana. Tidak ada kenangan istimewa nagi Arga.
Tapi Marisa sepertinya menganggap itu adalah tempat kenangan mereka berdua. Marisa tiba lebih dulu dari pada Arga dan Celine.
Lima menit menunggu, Arga dan Celine sampai juga di tempat di mana Marisa sudah duduk dan mengedarkan pandangannya. Netra Marisa berbinar ketika Arga dan Celine berjalan menuju meja di mana dia ada di sana.
Celine belum menyadari adanya Marisa di sana, baru setelah mereka dekat. Celine menatap Marisa lekat.
"Tante ada di sini juga?" tanya Celine pada Marisa.
"Iya sayang, sini Celine duduk dekat mama." ucap Marisa tidak sabar.
Arga sendiri kaget dengan ucapan Marisa yang tidak sabar untuk mengaku kalau dia adalah mamanya. Namun demikian, Arga hanya diam saja.
__ADS_1
Sementara Celine masih bingung dengan ucapan Marisa, kenapa tante di hadapannya memanggil dirinya mama?
"Sayang duduk dulu." kata Arga.
Celine menurut, dia duduk berhadapan dengan Marisa. Marisa tampak kecewa Celine dudik hanya dengan Arga. Tapi dia tetap tersenyum.
Arga duduk dan menatap Marisa, ada rasa kesal dan enggan dengan Marisa. Entah kenapa dia mengingat tangisan Marisa yang memintanya untuk menceraikannya hanya mengejar laki-laku brengsek itu. Arga mendengus kesal, namun dia memanggil pelayan untuk memesan makanan yang di sukainya dan Celine, sedangkan Marisa memesan apa saja menuruti kesukaan Arga.
Sebelum makanan datang, Arga mengatur di kepalanya apa yang akan di bicarakan dengan Marisa. Dia hanya ingin Celine tahu saja bahwa Marisa adalah mamanya.
"Celine tahu tante di hadapan Celine?" tanya Arga akhirnya berniat memberitahu.
"Tahu pa, tante ini kan yang kasih Celine boneka beruang besar." jawab Celine.
Sejenak Arga diam, dia melihat reaksi Marisa mendengar ucapannya. Tersenyum senang.
"Tante ini namanya Marisa." ucap Arga lagi, kemudian diam lagi.
"Tante namanya Marisa?" tanya Celine pada Marisa.
"Iya sayang. Tante namanya Marisa." jawab Marisa.
"Kata oma, mama Celine juga namanya Marisa. Apa tante mamanya Celine?" tanya Celine.
Baik Marisa dan Arga tertegun, Arga kaget. Rupanya apa yang di katakan mamanya tentang nama Marisa masih ada di ingatan anak kecil itu.
"Iya sayang, tante ini namanya Marisa dan mamanya Celine." kata Marisa dengan senang.
"Mama Celine?" tanya Celine lagi dengan polosnya.
"Tapi kenapa mama pergi lama sekali?"
Kali ini pertanyaan Celine membuat Marisa terdiam, tidak bisa menjawab Arga hanya diam saja. Biarkan Celine yang menanyakan kenapa makanya baru sekarang datang.
"Mama...." ucap Marisa menggantung.
"Mama mau jadi dokter? Mama mau operasi orang sakit?"
"Mama bukan mau jadi dokter sayang. Mama butuh waktu untuk ketemu dengan Celine." ucap Marisa terbata.
Dia seperti di adili oleh anaknya, tiba-tiba dia terisak. Membuat Celine dan Arga diam hanya melihat saja.
"Maafkan mama sayang, mama baru menemui Celine. Apa mama boleh sering berkunjung ke rumah Celine?" tanya Marisa.
Celine diam saja, dia memandang Arga. Tapi Arga pun hanya terdiam.
"Pa, apa maka boleh ke rumah Celine?" tanya Celine pada Arga.
Arga menatap Marisa tajam, lalu menatap anaknya lagi.
"Boleh sayang." ucap Arga.
Angin segar bagi Marisa, perlahan dia akan membuat rencana untuk mendekatkan dulu dengan Celine agar mereka lebih akrab lagi.
Dua jam mereka bertemu, tanpa menjelaskan panjang lebar pada Celine, ternyata Celine cukuo cerdas mengetahui siapa Marisa itu.
__ADS_1
Arga merasa lega, setidaknya dia tidak terlalu khawatir dengan Marisa mau membujuk Celine untuk mau bersamanya. Dia harus berusaha keras meski reaksi Celine kali ini biasa saja dengan pengakuan Marisa padanya.
_
Sejak pertemuan itu, Marisa hampir setiap hari datang ke rumah Arga untuk menemui Celine. Dia di terima oleh ibu Ema meski sambutan ibu Ema tidak seperti dulu.
"Celine mau ngga tinggal sama mama?" tanya Marisa di hari Minggu itu.
Hari Minggu Marisa lebih lama berkunjung ke rumah Arga. Berharap Arga mau bergabung bermain bersama. Tapi rupanya Celine kurang senang, entah apa yang dia mau.
"Ngga tahu ma." jawab Celine.
Marisa kecewa, dia harus membujuk Celine untuk mau tinggal dengannya.
Arga keluar dari rumahnya, dia hendak pergi menaiki mobilnya. Celine melihat Arga keluar dan berlari padanya.
"Papa mau kemana?" tanya Celine pada Arga.
"Papa mau ke rumah tante Anita." jawab Arga.
Tentu saja membuat Marisa kesal, kenapa Arga malah mau pergi ketika dia ada di rumahnya.
"Celine ikut pa. Celine mau main sama kakak Chila dan abang Iko." kata Celine.
"Kan Celine ada mama di sini." kata Arga lagi.
"Tapi Celine ngga ketemu sama kakak Chila."
"Celine, sini main sama mama." kata Marisa mencegah Celine ikut.
"Ngga mau ma, Celine mau main sama kakak Chila." ucap Celine menolak ajakan Marisa.
Marisa mendengus kesal, dia menatap Arga yang terdiam.
"Celine, masa mamanya di tinggal sih. Kalau begitu mama juga ikut main ke rumah kakak Chila." ucap Marisa merajuk seperti anak kecil.
Tentu saja membuat Arga jadi kesal dengan tingkah Marisa. Dia seperti itu lagi, membuat Arga jengah. Baru juga dekat dengan anaknya.
Tapi Arga mengalah, dia lebih baik mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Anita.
"Papa ngga jadi ke rumah tante Anita." kata Arga pada akhirnya.
Celine kecewa, dia lalu masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Marisa yang masih ada di situ.
"Aku sudah berusaha membujuknya untuk lebih dekat denganmu, tapi namanya anak kecil kadang kurang nyaman pada orang yang baru di temuinya. Tapi kamu harus bersabar, tidak mudah membujuk Celine untuk lebih dekat lagi denganmu." ucap Arga.
Dia hanya memandang Marisa datar, kemudian dia masuk ke dalam rumah menyusul anaknya yang merajuk karena tidak jadi pergi ke rumag Anita untuk bertemu dengan Chila dan Chiko.
Marisa sendiri dalam hati kesal, kenapa Celine lebih dekat dengan Anita dan anak-anaknya. Tapi memang benar, seharusnya dia pintar membujuk Celine.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤