IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
28. Bertemu Lagi


__ADS_3

Hari Minggu pagi,biasanya Anita pergi ke rumah ibadat bersama ibu dan kedua anaknya.


Dan selesai dari ibadat,Anita dan ibu Yuni serta kedua anaknya langsung pulang. Tapi Anita berhenti ketika dia mau naik angkot untuk pulang karena ada yang memanggilnya dari dalam mobil.


"Anita!"


Keluar dari dalam mobil expander silver,Arga menghampiri Anita dan ibu Yuni. Anita pun mengurungkan niatnya naik angkot.


"Bu,jadi ngga naik angkotnya?"tanya supir angkot itu.


"Ngga jadi bang,biar mereka saya yang antar."jawab Arga.


Baik Anita dan ibu Yuni hanya diam saja,lalu mengangguk pada supir angkotnya.


"Yuk,ikut ke mobilku saja."ajak Arga.


Anita masih diam,dia ragu. Tapi ibu Yuni mengangguk mengiyakan.


"Ma,kita naik mobil itu pulangnya?"tanya Chila memunjuk mobil Arga.


"Iya sayang,nanti duduk di belakang ya. Ada temannya juga kok."Arga yang menjawab sambil tersenyum pada Chila.


Chila hanya menatap Arga,ada rasa ingin sesuatu dari Arga. Namun kemudian dia menatap Anita lagi.


"Yuk kita pulang."ajak Arga pada semuanya.


Lalu Anita dan kedua anaknya berjalan menuju mobil,di susul oleh ibu Yuni dan Arga di belakang. Keempatnya masuk duduk di belakang,namun Arga menarik tangan Anita agar dia duduk di depan bersamanya.


"Kamu duduk di depan aja ya sama aku."kata Arga.


"Ngga enak aku duduk di depan,kan ada istri kamu."ujar Anita.


Dia merasa Arga terlalu cepat untuk menarik simpati Anita. Dia juga tidak tahu pasti ada istri Arga juga di dalam mobil.


"Istriku ngga ikut,ayo duduk di depan aja. Biar aku ada teman ngobrolnya,agar tidak seperti supir aja akunya."kata Arga lagi.


Anita pun menurut,dia membuka pintu mobil dan langsung duduk. Arga tersenyum,dia ingin membuka pintu untuk Anita malah terlambat. Akhirnya dia pun masuk ke dalam mobil dan menjalankan kemudinya.


Sepanjang jalan Anita masih diam,dia menengok ke belakang ada anak perempuan kecil yang duduk memegang boneka ulil. Chila yang sejak tadi diam akhirnya gatal menanyakan pada gadis kecil itu.


"Nama kamu siapa?"tanya Chila.


"Celine."jawab gadis itu singkat.


Dia menatap Chila yang tersenyum padanya,lalu Celine pun ikut tersenyum.


"Anak kamu Ga?"tanya Anita.


"Iya."jawab Arga tersenyum,lalu menatap Anita.


Anita yang di tatap seperti itu jadi canggung dan matanya ke depan lagi.


"Umur berapa?"tanya Anita lagi.


"Masuk tiga tahun."jawab Arga lagi.


"Cantik ya."kata Anita menoleh ke arah Celine.


"Ya,seperti ibunya."jawab Arga,tapi raut mukanya berubah sayu.


"Kamu kemana aja,Anita?"tanya Arga.


"Aku di rumah ibu aja kok,ngga kemana-mana."

__ADS_1


"Maksud aku,kamu di kota mana selama sepuluh tahun ini."tanya Arga,kemudi mobilnya dia pelankan.


Anita diam lalu melirik Arga sejenak dan kembali menatap jalanan di depan.


"Aku di ibu kota bersama suamiku semenjak kuliah."jawab Anita.


Arga diam,dia terlihat kecewa mendengar jawaban Anita.


"Tapi itu dulu,delapan tahun yang lalu. Sekarang aku tinggal sama ibu."kata Anita lagi.


Arga menoleh,menatap Anita seolah ingin bertanya banyak hal. Tapi dia ragu,mungkin terlalu cepat untuk mengetahui tentang Anita sekarang.


"Kamu sendiri bagaimana setelah kuliah?"Anita balik bertanya.


"Aku juga kuliah selesai lalu menikah. Celine anakku dengan istriku dulu."jawab Arga.


"Dulu?"


"Ya dulu,tapi sekarang sudah bercerai. Celine aku bawa sejak masih kecil dan tinggal bersama mama di kampung ini juga. Karena aku kerja,jadi sering aku tinggal bersama mama."


"Kok sekarang mama kamu ngga ikut,kenapa?'


"Beliau lagi ngga enak badan,maklum sudah tua. Mungkin menjaga Celine yang lagi aktif-aktifnya jadi gampang lelah."


"Ooh."


"Anita."


"Sudah sampai,ayo Chila ,Iko kita turun."kata ibu Yuni membuyarkan pikiran Arga.


Lalu pintu di buka kuncinya,kemudian ibu Yuni turun duluan di susul Chila dan Chiko. Anita pun langsung turun di ikuti Arga.


"Mampir nak Arga."kata ibu Yuni.


"Terima kasih ya Ga."kata Anita.


"Ya,aku senang kok mengantar kalian pulang. Anita,boleh aku ngobrol banyak sama kamu?"tanya Arga.


Anita menatap Arga,lalu dia mengangguk. Arga pun tersenyum.


"Kalau begitu,aku pulang dulu. Oh ya,boleh aku minta nomor ponselmu?"


Anita menyebutkan nomor ponselnya dan Arga menyimpan di kontak telepon.


"Terima kasih,nanti aku hubungi kamu."


Lalu Arga naik ke dalam mobilnya dan melambaikan tangan pada Anita dan ibu Yuni.


_


Hari berikutnya Arga mengirim pesan pada Anita,sejak pulang kampung Anita mengganti nomor ponselnya yang dulu karena nomornya itu ke blokir oleh operator.


Dia sempat menghubungi nomor Rendi dengan nomor barunya,tapi tidak pernah di angkat. Mengirim pesan singkat juga tidak pernah di balas.


Jadi ya,Anita tidak pernah lagi menghubungi Rendi. Terkadang dia menghubungi jika Chiko ingin menelepon papanya,tapi tetap saja tidak di angkat meski sambungan telepon itu masuk.


Akhirnya Anita memilih memberi pengertian pada Chiko bahwa papanya sibuk kerja jadi tidak bisa menelepon. Memang hanya Chiko yang selalu menanyakan papanya,Chila lebih pada di pendam sendiri jika dia ingat Rendi.


'Halo Anita,ini nomorku.'


Bunyi pesan Arga di ponsel Anita. Anita pun langsung paham,karena nomor yang dia kenal dan dia punya hanya Rendi,ibunya juga sekarang Arga. Yang lain mungkin pedagang langganan Anita dan pelanggan Anita.


'Ya ,aku save nomor kamu.'

__ADS_1


'Terima kasih. Oh ya,besok aku datang ke rumahmu ya sama Celine. Dia menanyakan kapan bisa ketemu lagi dengan anakmu.'


"Boleh,tapi maaf kalau nanti aku sibuk melayani pelanggan. Jadi ngga bisa ngobrol banyak sama kamu.'


Jawab Anita di layanan pesan itu.


'Ngga apa-apa,biarkan anak-anak dulu saling mengenal. Selanjutnya orang tua yang nanti lebih akrab lagi.'


Anita tersenyum dengan balasan Arga,lalu dia hanya mengirim emoticon tersenyum saja.


Berbalas kirim pesan terhenti karena ada pelanggan yang mau membeli.


"Bu Anita,ada shampo merk Ntin ngga?"tanya pembeli itu yang ternyata tetangga Anita.


"Ada bu Idah,banyak. Berapa sachet?"tanya Anita.


"Dua aja bu,sama gula pasir setengah kilo ya."kata ibu Idah lagi.


"Iya bu,ada lagi?"


"Apa ya? Oh ya,jajanan anak-anak aja deh yang seribuan lima ribu aja."


"Udah bu?"


"Udah bu Anita. Saya suka lupa kalau di suruh belanja tuh."


"Makanya di catat bu Idah,biar ngga lupa."


"Iya,tadinya mau saya catat. Eh si bapaknya nyuruh cepat aja,ya udah langsung kemari."ucap bu Idah tertawa.


"Ya maklum ya bu,ibu-ibu sih banyak pekerjaan rumah jadinya cepat lupa."kata Anita menimpali tertawa juga.


"Iya,si bapaknya anak-anak sih mau apa-apa pengennya cepat terus,jadi kan tidak pernah sempat mencatat apa yang mau di beli."


"Hahaha,memang seperti itu bu."kata Anita masih tertawa renyah.


"Memang suami ibu Anita seperti itu juga?"


Kini Anita diam,senyumnya menghilang lalu menatap ibu idah.


"Ya dulu,tapi sekarang saya sudah bercerai jadi tidak ada lagi yang harus di buru-buru."ucap Anita.


"Memang kenapa bisa bercerai bu Anita?"ibu Idah kini mulai ingin tahu.


"Masalah pribadi aja bu,maaf tidak bisa bercerita banyak."kata Anita menyesal telah mengatakan dia telah bercerai pada ibu Idah.


"Oh,masalah pribadi ya. Tapi kan bu masalah pribadi itu banyak lho,seperti ada pelakor di dalam rumah tangga juga ada karena ekonomi. Atau ada juga tuh karena suaminya sibuk,pokoknya banyaklah bu. Kalau ibu Anita yang mana?"mulai jiwa penasarannya kambuh.


"Ya pokoknya masalah pribadi bu Idah. Kan tidak setiap orang mau mengatakan masalah pribadi dengan orang lain,cukup dia sendiri yang tahu. Maaf ya bu Idah,apa ada lagi yang mau ibu beli?"Anita memotong pembicaraan mengenai perceraiannya dengan Rendi.


Cukuplah ibunya saja yang tahu,kalaupun ada gosip di luar tentang dirinya dia abaikan saja. Orang tidak tahu masalahnya yang sebenarnya apa yang dia hadapi.


Setelah membayar belanjaannya,ibu Idah langsung pulang setelah Anita mengatakan tidak akan cerita masalah pribadi.


Kalau menanggapi omongan orang akan terlalu menyakitkan dan tidak akan pernah habis. Seperti menggosip,mereka tidak akan puas jika yang di gosipkannya terlihat baik-baik saja atau kelihatan terpuruk setelah di gosipkan.


_


_


_


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2