
Anita pulang dengan hati bahagia, sejatinya memaafkan adalah hal terbaik meski tidak banyak yang rela dan lapang dada memaafkan kesalahan besar.
Tidak mudah juga bagi Anita, dia juga batinnya berperang saat itu. Apakah dia memilih memaafkan ayahnya atau membiarkan rasa benci dan dendamnya menguasai relung hatinya.
Anita masuk ke dalam rumahnya, dia menggandeng Kevin memasuki rumah. Di ruang keluarga ke empat anaknya sedang bermain dan bercanda.
"Selamat siang anak-anak?" sapa Anita seperti seorang guru yang baru masuk kelas.pada ke empat anaknya dengan senyum mengembang.
Ke empat anaknya menoleh ke arah Anita yang sedang tersenyum menatap ke empat anaknya secara bergantian.
"Mamaa!" teriak semuanya.
Mereka berlari menghampiri Anita dan memeluknya semuanya.
"Eeeh, mama di peluk sama semuanya sampe mau jatuh ini." ucap Anita balas memeluk ke empat anaknya.
"Mama kok pergi ngga ngajak kita?" kata Celine protes pada Anita.
"Mama bertemu dengan ayahnya mama di rumah bude Rima." jawab Anita.
"Eh, mama punya ayah?" tanya Chiko.
"Iya sayang, beliau adalah kakek kalian." jawab Anita.
"Jadi kita punya kakek ma?" tanya Chila tidak percaya.
"Iya sayang, kalian punya kakek. Apa kalian mau bertemu dengan kakek?" tanya Anita.
"Mau ma, abang mau ketemu kakek." kata Chiko dengan antusias.
"Emm, nanti bilang dulu sama papa ya. Kapan ketemu dengan kakek."
"Asyiiik." teriak Chiko.
Angga hanya melongo saja, sama halnya dengan Celine. Chila sendiri sepertinya sedang berpikir, anak perempuan yang sudah bukan anak kecil itu diam.
Dia kemudian menghampiri Anita yang hendak naik tangga.
"Ma, apa benar kakak punya kakek?"
"Iya, kenapa kak?"
"Dulu kata eyang putri kakek sudah tidak ada." jawab Chila.
Anita berhenti, dia diam menatap putri sulungnya itu. Bingung mau menanggapinya seperti apa. Namun dia kemudian tersenyum dan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Chila.
"Kakak, eyang putri itu tadinya tidak tahu kalau kakek masih ada. Jadi eyang bilangnya tidak ada. Sekarang kakek ada dan mama tadi pagi ketemu dengan kakek. Namanya kakek Sugara, kalian bisa memanggilnya kakek aja." ucap Anita.
Chila diam, dia kemudian mengangguk tanda mengerti. Meskipun entah di bagian mana dia mengerti dengan ucapan Anita.
"Sekarang sudah sore, kakak bilangin adek-adeknya cepat mandi ya. Sebentar lagi waktu kalian belajar sore hari, nanti di lanjut setelah makan malam belajarnya." kata Anita.
"Iya ma." jawab Chila.
Chila meninggalkan Anita, dan Anita melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Dia sangat lelah, dia akan mandi dan berendam untuk melepaskan rasa penat, dia lupa bertanya pada pembantunya tentang perempuan yang datang tadi siang mencarinya.
_
Malam hari di kesempatan makan malam, Anita memberi tahu pada suami dan anak-anaknya. Meski tadi sore sudah di jelaskan pada ke empat anaknya, Anita membicarakannya lagi dengan semuanya, terutama dengan suaminya.
"Emm, pa. Kapan kamu siap bertemu ayahku?" tanya Anita pada suaminya yang sedang makan.
Jika di depan anak-anaknya Anita memanggilnya papa, takut anaknya protes kalau memanggil papanya nama saja. Padahal Arga sendiri yang memintanya memanggil nama saja. Hanya di depan anak-anaknya saja berubah panggilan.
"Terserah kamu sayang, aku siap kapanpun." jawab Arga.
"Paa, minta ayam goreng." ucap Kevin di sela pembicaraan Arga dan Anita.
"Iya sayang, papa ambilkan." kata Arga.
Anita diam sejenak, dia memperhatikan Angga yang sepertinya sudah mengantuk karena memang tadi siang tidak tidur.
"Abang Angga ngantuk?" tanya Anita.
"Iya ma, abang ngantuk pengen tidur." jawab Angga.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita ke kamar. Kata kakak Chila abang ngga tidur siang ya?"
"Iya ma, abang main ular tangga sama kakak Celine."
"Aku mengantar Angga tidur dulu ya, pa." kata Anita.
"Iya sayang, biar Kevin aku yang ladeni makan." kata Arga.
Anita tersenyum, dia kemudian mengantar Angga naik tangga dan masuk ke dalam kamar anak laki-laki itu.
Menyuruhnya berbaring dan menyelimutinya, Anita duduk. Tangannya mengelus punggung Angga dengan lembut. Dia menunggu Angga benar-benar terlelap baru dia keluar dari kamar itu.
Setelah di rasa sudah terlelap, Anita bangun dari duduknya keluar dari kamar Angga. Dia turun ke bawah, melanjutkan makan malamnya yang tertunda juga pembicaraan tadi dengan suaminya.
"Sudah tidur?" tanya Arga.
"Sudah, nah Kevin juga mulai menguap itu. Dia juga mengantuk." ucap Anita melihat anak bungsunya sedang menguap.
"Ya sudah, sekarang gantian aku yang menidurkan Kevin. Kamu makan aja sayang, tadi belum sempat makan kan?" kata Arga.
"Iya, terima kasih suamiku." kata Anita tersenyum pada suaminya.
"Terima kasihnya nanti di kamar aja." ucap Arga mengerlingkan matanya.
Anita memajukan bibirnya dan menyuapkan makanannya yang ada di sendoknya.
Arga tertawa kecil, dia menggendong Kevin dan membawanya naik tangga menuju kamarnya dengan Angga.
"Emm, ma. Kok papa bilang terima kasih aja harus di kamar sih?" tanya Celine heran.
Anita berhenti mengunyah, kenapa Celine jadi bertanya. Dia pikir itu hal yang biasa tanpa di pertanyakan. Dia menatap Celine kaku.
"Iya sih ma, kenapa harus di kamar. Kan cuma terima kasih aja. Memangnya nanti mama dapat hadiah kalau bilang terima kasih di kamar?" tanya Chiko.
Aduh, kenapa pada memperpanjang ucapan terima kasih di kamar sih? pikir Anita.
Dan Anita masih diam, dia bingung mau jawab apa.
"Ma, kakak mau bilang terima kasih sama papa kalau nanti dapat hadiah." kata Celine lagi.
"Iya sayang, papa akan memberi hadiah kalau mengucapkan terima kasih di kamar. Hadiahnya besar lho." jawab Anita dengan senyum jahil.
"Oh ya? Mau dong ma, kakak mau hadiah dari papa." ini kata Chila dengan antusias.
"Boleh, kalian boleh minta hadiah sama papa dengan syarat mengucapkan terima kasih di kamar mama dan papa ya." ucap Anita.
"Asyiiik, kak Chila ayo kita ke kamar papa." ajak Celine dengan tidak sabar.
"Eh, nanti kalau papa sudah masuk kamar. Sekarang kan papa sedang menidurkan adek Kevin di kamarnya." kata Anita mengingatkan masih dengan senyum jahil mengembang.
"Yaah, lama dong ma."
"Ngga kok, kan tadi adek Kevin sudah ngantuk banget. Jadi mungkin sebentar lagi papa selesai menidurkan adek. Sudah, kalian teruskan makannya dulu. Nanti kalau papa sudah masuk kamar, kalian bisa menemui papa dan bilang terima kasih.
"Yee, asyiiik!" teriak Celine dan Chiko.
Anita masih tersenyum senang, dia membayangkan Arga akan bingung menghadapi ketiga anaknya yang mengucapkan terima kasih dan meminta hadiah.
_
Jam sembilan malam..
"Papaa!" teriak ketiga anaknya di balik pintu kamar yang tertutup.
Arga kaget, dia melihat jam di dinding. Kenapa anak-anaknya belum tidur? atau belajarnya tidak di selesaikan?
Pintu terbuka, ketiga anaknya Chila, Chiko dan Celine masuk dan berlari menghampiri papanya yang sedang memeriksa berkas keuangan pabriknya.
"Eh, kalian belum tidur? Kenapa masuk ke kamar papa bersama-sama. Ada apa?" tanya Arga heran.
"Kami mau mengucapkan terima kasih sama papa." ucap Chila sebagai anak tertua dengan senyum mengembang.
Arga mengerutkan dahinya heran dan bingung.
"Bilang terima kasih kenapa memangnya?" tanya Arga heran.
__ADS_1
"Kata mama kalau mengucapkan terima kasih di kamar nanti dapat hadiah dari papa." kata Celine.
Arga semakin bingung. Apa yang di ucapkan istrinya itu pada anak-anaknya?
"Pa, terima kasih ya." kata Chiko.
"Iya pa, Celine juga mau mengucapkan terima kasih sama papa." Celine menyambungi.
"Kakak juga pa. Nah mana hadiahnya pa?" tagih Chila.
"Lho, memangnya papa menjanjikan hadiah sama kalian?"
"Ya pokoknya mana hadiahnya pa? Kan kita sudah mengucapkan terima kasih sama papa." kata Celine dengan memaksa.
Arga masih belum mengerti, sampai Anita masuk dengan membawa beberapa botol minuman untuk di masukkan ke dalam kulkas mini yang satu bulan lalu di belinya untuk di letakkan di kamarnya.
Agar Anita tidak memberi alasan Anita pergi dari serangannya untuk ambil minum ke bawah.
"Sayang, kamu bilang apa sama mereka?" tanya Arga pada istrinya itu.
"Lho, aku ngga bilang apa-apa kok."
"Jangan bohong sayang, mereka menagih hadiah setelah mengucapkan terima kasih sama aku." kata Arga.
"Oooh, itu. Ya tinggal kasih aja uang hadiahnya." ucap Anita memberi saran.
Arga menurut, dia mengambil dompetnya dan memberi ketiga anaknya lembaran rupiah berwarna biru.
"Yeee, dapat hadiah dari papa!" teriak ketiga anak-anak tersebut.
"Sekarang kalian keluar ya dan segera tidur. Papa sudah kasih kalian hadiah."
"Terima kasih pa hadiahnya. Nanti kita mengucapkan terima kasih lagi." ucap Celine sambil berlalu di susul Chila dan Chiko.
Dan kini Arga menatap istrinya tajam, dia akan menyergap istrinya itu.
"Sayang, jelaskan maksud dari ucapan terima kasih mereka?"
"Lho, apa yang harus aku jelaskan?"
Arga memeluk Anita dari belakang ketika Anita sedang memasukkan botol-botol minuman ke dalam kulkas. Arga membopong istrinya dan di bawa ke ranjangnya.
"Aaa, Argaa turunkan aku!"
"Kamu mau jelaskan atau aku akan minta jatah lima kali malam ini,emm?"
"Ih, kamu ganas banget sih. Minta jatah lima kali?"
"Katakan makanya, sebelum aku menyerangmu."
"Kamu kan sedang bekerja, masa mau menyerang aja. Selesaikan kerjaanmu dulu."
"Aku ngga peduli, katakan sekarang sayang. Aku ngga tahan." bujuk Arga.
Dia sudah mengendus leher istrinya. Anita mendorong kepala Arga.
"Hahaha, mereka mendengar kamu bilang terima kasihnya di kamar saja. Aku pikir eeuh, aku pikir mereka tidak menanyakan ucapanmu. Jadi ya ku beri tahu dapat hadiah jika mengucapkan terima kasih di kamar. Aaaah." jawab Anita dengan lenguhannya.
Dia merasa geli ketika Arga menggigit telinganya sambil menghembuskan nafasnya.
"Oke, aku selesaikan pekerjaanku. Dan kamu jangan keluar lagi dan jangan menghindar lagi. Awas kalau menghindar." ancam suaminya.
"Ish, kejam banget sih pake mengancam begitu." rutuk Anita.
Dia lalu bangkit dari baringannya dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
_
~ *othor kasih dua bab buat pembaca setia yaa...😉😊😊..
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤*