
Anita sudah bersiap sejak tadi pagi. Kedua anaknya juga sudah siap,Chiko sangat antusias akan bertemu papanya di kota. Sedangkan Chila ekspresinya biasa saja. Namun demikan dia juga senang akan bertemu dengan Rendi.
Ibu Yuni hanya menatap kedua cucunya itu, menunggu dengan tidak sabar mobil Arga di depan rumah. Sesekali Chiko keluar dari dalam rumah untuk melihat ke jalan apakah mobil Arga sudah datang.
"Ma, om Arga kok belum datang-datang sih?" tanya Chiko yang sudah lima kali melihat ke jalan. Dia kesal mobil Arga belum juga datang.
"Sabar dek, kan om Arganya kerja dulu. Jadi ya lama kesininya." kata Anita menennangkan anaknya itu.
"Kenapa ngga naik kereta aja sih ma?" tanya Chiko lagi.
"Ya nanti pulangnya kita naik kereta. Kalau berangkat kan lumayan bisa istirahat tenang. Kalau naik kereta kita harus kejar-kejar agar tidak ketinggalan kereta. Adek ingatkan waktu pulang harus buru-buru ke stasiun. Lari-lari takut ketinggalan kereta, kan capek." kata Anita menjelaskan pada Chiko.
"Kalau naik kereta kan cepat ma." ucap Chiko lagi.
Anita diam saja, dia enggan meladeni anaknya yang bawel itu.
"Enak juga naik mobil om Arga. Ada ACnya lagi. Bisa tiduran di mobil." ini yang jawab Chila.
Chiko cemberut, dia keluar lagi melihat ke jalan. Dia melihat mobil Arga mengarah ke rumahnya..
"Mama, om Arga datang!" teriak Chiko sambil berlari masuk ke dalam rumah.
Chila pun ikut keluar mendengar teriakan Chiko. Dia melihat Arga turun dari mobilnya dengan senyum merekah di bibirnya.
"Om Arga kok lama banget datangnya." Chila protes menyongsong Arga.
"Maaf ya, om Arga ke kantor dulu. Tadinya mau langsung ke rumah Chila, eh malah ada yang ketinggalan di kantor. Jadi om terpaksa ke kantor dulu." kata Arga memberi alasan.
Dia masuk sambil menggandeng tangan Chila untuk masuk ke dalam rumah.
"Celine ngga ikut om?" tanya Chila lagi.
"Ngga sayang, Celine nanti sama siapa kalau ikut?"
"Ya sama Chila sama adek Iko."
"Kan bukan rumahnya Chila, di sana rumahnya papa Rendi. Nanti papa Rendi marah kalau Celine ikut."
"Biar nanti Chila bilang sama papa, aja om."
"Ngga usah, nanti kalau liburan bareng aja seperti waktu itu boleh ikut."
"Emang nanti mau liburan lagi om?"
"Iya, mau ngga?"
"Mau om, Chila mau liburan bareng lagi." kata Chila antusias.
Chiko diam saja, tapi dia tertarik juga dengan ucapan Arga.
"Iko juga mau ikut om." kata Chiko malu-malu.
Keduanya lalu duduk di samping Arga setelah mereka ada di dalam rumah.
Anita keluar dari kamarnya, membawa koper dan tas ransel kedua anaknya. Arga bangkit dari duduknya menghampiri Anita dan mengambil alih kopernya dan tas ransel Chila dan Chiko.
__ADS_1
"Hanya ini yang harus di bawa?" tanya Arga.
"Iya. Kan cuma seminggu aja di sananya. Buat apa lama-lama di sana, aku bisa rugi kalau tutup toko lama." kata Anita.
"Hahaha.., ya memang pedagang mana ada yang mau rugi. Ya sudah, ayo kita berangkat." kata Arga berjalan keluar membawa kopernya.
Anita tersenyum melihat interaksi anaknya dengan Arga.
"Kamu sudah memberitahu Rendi kalau kamu datang mengantar anak-anak?" tanya Arga melihat Anita yang berjalan beriringan dengannya menuju mobil.
"Sudah." singkat jawaban Anita.
"Pasti dia senang sekali kamu datang." ucap Arga, ada gurat cemburu di wajahnya yang tiba-tiba berubah masam.
Anita tersenyum melirik Arga yang masih berwajah masam. Dia memasukkan tas ransel Chila dan Chiko ke dalam bagian belakang mobil dengan kopernya.
Chila dan Chiko langsung masuk ke dalam mobil, mereka berebut tempat duduk untuk duduk di pinggir kaca jendela.
"Kan kaca jendelanya ada dua, kenapa harus berebut segala sih." kata Anita yang melihat tingkah kedua anaknya.
"Namanya juga anak-anak, kalau ngga begitu ya bukan anak-anak. Yang dewasa aja masih ada yang suka berebut." kata Arga.
"Ya, kalau orang dewasa tidak seperti anak-anak berebutnya." kata Anita.
"Ya benar, seperti aku dan mantan suamimu merebut hatimu." kata Arga melangkah menjauh dari Anita yang terdiam dengan ucapan Arga.
Dia tersenyum, lalu dia masuk ke dalam rumah untuk berpamitan dengan ibunya. Ibu Yuni mendekat pada Anita yang menghampirinya di depan pintu.
"Ibu baik-baik ya di rumah, aku cuma satu minggu di rumah mas Rendi." kata Anita.
Anita memeluk ibunya erat, berat dia meninggalkan lagi ibunya yang sudah tua. Namun hanya kali ini saja, dia meninggalkan ibunya. Selanjutnya akan terus bersama ibunya, jika pun nanti punya suami lagi dia harus memerima ibunya.
Setelah berpamitan dengan ibu Yuni, Anita pun masuk ke dalam mobil. Ibu Yuni mendekat ke mobil Arga untuk berpamitan pada kedua cucunya dan Arga.
"Kok ngga pamitan sama eyang sih?" tanya ibu Yuni pada Chila dan Chiko.
"Selamat jalan eyang, Chila mau libura dulu ke rumah papa." kata Chila pada ibu Yuni.
Ibu Yuni pun tersenyum senang, dia lalu melambai tangannya pada keduan cucunya.
"Nak Arga, tolong jaga cucu ibu ya." kata ibu Yuni.
"Iya bu, saya akan jaga cucu ibu selamat sampai tujuan termasuk mamanya." kata Arga.
"Iya, terima kasih. Jaga juga anak ibu, dia satu-satunya anak ibu."
"Iya bu, pasti."
Lalu setelah berpamitan, mobil Arga melaju pelan seiring lambaian tangan Anita pada ibunya. Ibu Yuni membalas lambaian tangan Anita, ada rasa sedih harus di tinggal kembali. Namun dia percaya mereka hanya sementara saja.
_
Sepanjang perjalanan Anita menahan agar tidak mengantuk selama empat jam perjalanan untuk menemani Arga mengobrol di jalan. Dia hanya sebentar mengantuk dan tidur lalu bangun lagi.
Sedangkan kedua anaknya sepanjang jalan tertidur dengan tenang dan nyenyak.
__ADS_1
Pukul lima sore, mobil Arga sudah sampai di depan rumahnya yang dulu dia tinggalkan untuk pulang ke kampung.
Anita melihat rumahnya dengan menghela nafas panjang. Ada banyak kenangan pahit di sana, namun dia sudah bertekad tidak akan kembali ke rumah itu lagi.
Dia memang meminta datangnya ke rumahnya yang dulu untuk menginap. Karena ada beberapa baju yang dia tinggal di sana.
"Ini rumah kamu dan Rendi?" tanya Arga memperhatikan rumah berukuran sedang itu,namun halamannya cukup luas.
"Iya. Kamu mau masuk?" tanya Anita menawarkan.
"Tidak, cukup tahu aja kamu tinggal di sini. Nanti jika minggu depan aku ke kota lagi mampir kesini." kata Arga.
"Terima kasih ya, Ga sudah mengantarkan aku dan anak-anak menemui papanya." kata Anita.
"Apa Rendi ada di dalam?" tanya Arga tidak menghiraukan perkataan Anita.
Anita melihat ke dalam rumah lagi, pintunya tertutup tapi memang ada mobil Rendi terparkir di sana.
"Iya sepertinya, mas Rendi sudah di dalam. Ya sudah, aku turun mengambil koper dan ransel si kembar." kata Anita hendak keluar,namun tangannya di cegah oleh Arga.
"Anita?" menatap Anita dalam.
Anita merasa aneh dengan tatapan Arga itu, dia menelisik apa yang akan di katakan Arga padanya.
"Apa?"
Arga mengeluarkan sebuah kotak dari kantong celananya dan memberikan pada Anita. Anita melihat kotak itu, seperti kotak perhiasan. Namun dia ragu untuk menebaknya.
"Apa ini Ga?" tanya Anita.
"Itu cincin buat kamu, kalau kamu sudah yakin denganku ku mohon kamu pakai cincin itu." kata Arga memegang tangan Anita.
Anita terdiam, dia menatap Arga tak terbaca ekspresinya.
"Ga, bukankah aku sudah bilang minggu depan akan aku.." ucapan Anita terpotong dengan tangan Arga menutup mulutnya.
"Tidak apa-apa, jika pun kamu minggu depan tidak yakin denganku. Kamu bisa pakai cincin itu kapan saja kamu mau, aku tidak akan memaksamu." kata Arga.
Dan Anita pun diam kembali, dia tidak tahu harus berkata apa. Kembali Anita menatap Arga, Arga tersenyum manis padanya. Lalu mengedipkan matanya nakal.
Mau tidak mau Anita tertawa kecil, dan di ikuti tawa Arga yang renyah di dengar Anita.
"Terima kasih, Ga. Ya sudah aku turun dulu mengambil koper di belakang." kata Anita kembali memegang hande pintu mobil.
Namun Anita kembali di tarik tangannya oleh Arga hingga wajahnya lebih dekat dengan wajah Arga. Arga tiba-tiba mencium bibir Anita lama. Sedangkan Anita kaget dengan ciuman Arga mendadak itu.
Arga mencium Anita dalam mobil, sedangkan yang di dalam rumah, Rendi melihat dari balik jendela Anita di cium oleh Arga jadi panas hatinya. Dia memukul tembok di sampingnya karena marah pada keduanya.
"Brengsek!,Aaaah!"
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤