IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
49.Bertemu Noni


__ADS_3

Setelah Anita bicara padanya kalau lusa akan pulang, Rendi semakin bingung. Dia harus berbuat sesuatu untuk mencegah Anita pulang, tapi melakukan apa?


"Kak, panggil adek untuk sarapan." kata Anita pada Chila.


"Ya ma." Chila bergegas pergi ke kamar, memanggil Chiko yang masih malas-malasan keluar dari kamar dan masih tiduran di kasur.


"Dek, yuk sarapan. Kata mama cepat sarapan, nanti perutnya sakit lho." kata Chila pada adiknya.


Dengan malas Chiko bangkit dari tidurnya. Dia duduk dan mengucek matanya.


"Kak, kapan kita main sama Dodo dan Caca lagi?" tanya Chiko pada Chila.


"Kata mama dua hari lagi kita pulang ke rumah eyang." jawab Chila.


"Benar kak?"


"Benar, mama yang bilang sama kakak. Ayo cepat keluar terus sarapan sama papa." kata Chila lagi.


Chiko menunduk, dia kemudian bertanya lagi.


"Papa ikut tidak kak?" tanya Chiko.


"Ngga tahu, tanya aja sama mama. Cepat ayo sarapan." Chila tidak sabar dengan Chiko yang masih terus bertanya.


Akhirnya Chiko beranjak dari kasur, dan keluar dari kamar menuju meja makan. Di sana masih ada Rendi yang makan dengan tenang.


"Papa." sapa Chiko pada Rendi.


Rendi hanya menengo saja, lalu meneruskan makannya yang sebentar lagi habis. Anita menarik tangan Chiko untuk segera duduk di kursinya lalu makan sarapannya yang sudah dingin.


Chila duduk di sebelah Chiko, mengambil piring yang berisi nasi goreng kesukaannya.


Menyuap satu sendok ke dalam mulutnya dan merasakan betapa enaknya nasi goreng buatan Anita.


"Enak banget nasi goreng buatan mama." puji Chila, Anita hanya tersenyum saja.


"Aku berangkat ke kantor dulu." kata Rendi.


Dia tidak berpamitan pada kedua anaknya yang kemarin-kemarin dia pamit jika berangkat ke kantor.


Baik Chila dan Chiko hanya memandang punggung Rendi. Mereka heran kenapa papanya tidak berpamitan dan menciumnya seperti kemarin.


"Papa kenapa ma?" tanya Chila yang selalu peka jika ada yang diam seperti sedang melamun atau sedih.


"Mama ngga tahu sayang, mungkin papa banyak kerjaan di kantor jadi lupa pamit pada kalian." jawab Anita yang tahu maksud dari pertanyaan anaknya.


Chila pun meneruskan makanannya, sedangkan Chiko masih memandang papanya. Dia berlari menyusul Rendi keluar rumah. Anita dan Chila melihat Chiko berlari mengejar Rendi hanya diam saja, mungkin ingin berpamitan atau meminta uang, pikir Anita.


Namun lima menit kemudian Chiko masuk lagi dengan wajah lesu. Dia duduk lagi di kursi di mana dia duduk untuk sarapan. Masih dengan wajah tertunduk lesu.


Dia tidak meneruskan makannya yang tadi dia tinggalkan mengejar Rendi. Suara deru mobil Rendi terdengar meninggalkan halaman rumah itu.


Anita masih menatap anaknya itu dengan heran, ada apa? Dan Rendi bicara apa pada Chiko sehingga anak itu menjadi diam dan tidak meneruskan makannya.


"Adek kenapa?" tanya Anita, dia duduk di sebelah anaknya itu.


Chiko tidak mau bicara, dia masih diam. Anita meghela nafas panjang.

__ADS_1


"Adek di makan sarapannya." kata Anita yang mengalihkan ucapannya.


Dia tahu anaknya sedang kecewa pada papanya. Nanti malam dia akan bicara pada Rendi mengenai Chiko kenapa jadi mendadak berubah. Mengambil piring Chiko dan menyendokkan nasi goreng lalu di sodorkannya ke mulut Chiko.


Chiko menggeleng, dia tidak mau makan. Anita menghela nafas panjang, dia letakkan lagi piring itu di meja. Menatap Chiko yang masih tertunduk diam.


"Adek minta apa?" tanya Anita masih sabar.


"Adek mau jalan-jalan di mall ma sama papa, tapi papa bilang ngga bisa karena harus kerja." jawab Chiko akhirnya.


"Memang mau apa jalan-jalan di mall?" tanya Anita lagi.


"kayak waktu itu tuh ma, di kampung kan pernah jalan sama papa, kakak Chila dan mama juga."


"Bagaimana kalau sama mama aja? Nanti adek mau beli apa aja terserah." tawar Anita agar Chiko tidak kecewa dengan penolakan papanya.


"Beneran ma?" wajah sumringahnya kembali lagi.


"Iya, habis sarapan kita langsung pergi ke mall. Mallnya dekat kok." kata Anita lagi.


"Asyiik, mau ma. Adek mau ke mall sekarang." ucap Chiko dengan riang.


"Tapi sarapannya di habiskan dulu, lalu kita langsung pergi ke mall." ucap Anita dengan senyum mengembang.


Anita menggeleng kepala, dia heran kenapa dia meminta pada papanya. Bukan minta padanya saja yang langsung di kabulkan, meski itu dia harus pikir-pikir lagi jika di kampung. Tapi karena di sini, ya sudahlah, menghapus rasa kecewa Chiko pada Rendi.


_


Anita bersiap berangkat ke mall dengan kedua anaknya. Menunggu taksi online yang dia pesan melalui aplikasi. Kedua anaknya sedang berlarian, sedangkan Anita menunggu di depan pintu garasi.


Dia melihat seorang perempuan bersepeda yang dia kenal sedang mengobrol asyik dengan temannya. Anita tersenyum dan keluar dari garasi, memanggil perempuan itu dengan keras agar terdengar.


Noni merasa ada yang memanggilnya menoleh ke arah sumber suara. Dia kaget dan tidak percaya siapa yang memanggilnya. Kemudian dia berpamitan pada temannya agar pergi lebih dulu.


Lalu Noni menyeberang jalan, menuntun sepedanya menghampiri Anita yang menunggunya di depan rumahnya.


"Ibu Anita, apa kabar?" tanya Noni, dia menyalami Anita setelah menyenderkan sepedanya di tembok.


"Baik Non, kamu sendiri apa kabarnya?" tanya Anita, dia senang bertemu dengan Noni.


"Baik juga bu. Ibu Anita tinggal di sini lagi?" tanya Noni penasaran kenapa mantan majikannya itu ada di rumah milik mantan suaminya.


"Aku sedang liburan Anak-anak pengen ketemu papanya." jawab Anita


"Oh. Pasti si kembar sudah besar ya bu." kata Noni.


"Iya tuh, lagi lari-larian." kata Anita menunjuk kedua bocah itu yang sedang berlari.


"Waah, besar sekali mereka dan sehat-sehat."


"Sehatlah Noni, masa ngga sehat."


"Hehehe, maksud saya mereka ceria bu. Emm, apa ibu kembali lagi sama pak Rendi?" tanya Noni lagi.


"Ngga Non, aku hanya mengantar anak-anak ketemu papanya. Aku juga tidak kembali lagi sama mas Rendi, terlalu berat untuk rujuk kembali." kata Anita, dia menghela nafas panjang.


Noni tahu, Anita tidak akan mau kembali pada Rendi. Karena dia yang di campakkan demi wanita lain.

__ADS_1


"Oh ya bu, lima bulan lalu pak Rendi datang ke rumah ibu. Mencari ibu dan anak-anak." kata Noni.


"Benarkah?"


Anita tersenyum sinis, mungkin waktu itu Rendi baru tahu kalau dia juga di hianati oleh sabg direktur cantik itu.


"Bu, apa pak Rendi minta balik lagi?" tanya Noni ragu.


"Iya, tapi aku tidak mau Non. Cukup selama lima tahun mengjadapi papanya anak-anak yang kadang suka egois."


"Lalu ibu sudah menikah lagi?"


"Belum, doakan ya biar ada yang lebih sayang sama aku dan si kembar." ucap Anita basa basi.


Untuk menuju ke pelaminan kembali harus dua kali berpikir. Karena dia harus mementingkan kebahagiaan anak-anaknya dan juga ibunya. Baru dia akan memikirkan dirinya sendiri.


"Cepatlah menikah bu, saya berharap ibu hidup bahagia dengan pasangan ibu nanti." kata Noni.


"Amiin, terima kasih ya Noni "


"Saya mau ketemu si kembar bu." ucap Noni.


"Ya boleh, tapi kita mau keluar. Ini sedang menunggu taksi online." kata Anita.


Tanpa membuang waktu, Noni menghampiri kedua bocah yang sedang berlari-larian. Noni mendekat, wajah bahagianya melihat kedua bocah yang dulu di asuhnya sejak masih bayi. Banyak cerita pahit di sana ketika mengasuh kedua bocah kembar itu.


Noni belum mau menyapa kedua anak itu, masih menikmati keceriaan Chila dan Chiko. Anita yang melihat Noni dia hanya menatap keduanya tersenyum. Dia tahu Noni sedang merasakan kebahagiaan bisa bertemu lagi anak-anak yang dulu dia asuh bersamanya.


Hingga Chila dan Chiko menyadari ada orang yang sedang memperhatikan mereka sejak tadi. Chila dan Chiko saling menatap, mereka heran siapa yang melihatnya sedang bermain kejar-kejaran sejak tadi.


Chila menghampiri Noni, dan bertanya.


"Mbak siapa?" tanya Chila aneh.


"Ini pasti Chila" tebak Noni, karena dia tahu itu pasti Chila.


Chila diam, dia menatap Anita yang ada di pintu garasi sedang tersenyum lalu mendekat padanya.


"Mbak Noni namanya kak, mbak Noni itu yang bantu mama si rumah menjaga kakak dan adek waktu kecil. Ingat ngga?" tanya Anita merangkul Chila.


Chila kembali menatap Noni, mengingat-ingat waktu kecil. Karena Noni tidak bekerja di rumah itu dia berumur dua tahun.


Chiko menghampiri Anita dan ikut menatap Noni dengan intens.


Mobil yang di pesan Anita sudah ada di depan pintu garasi dan mengklakson.


"Noni, kami pergi dulu ya. Besok saya dan anak-anak harus pulang lagi ke kampung. Kapan-kapan nanti bertemu lagi." kata Anita.


Kemudian kedua anaknya itu menuju mobil taksi yang di pesan. Anita dan Noni berjalan berinringan. Noni mengambil sepedanya dan menikinya lalu pergi. Sedangkan Anita masuk ke dalam mobil taksi itu.


Mobil melaju meninggalkan rumah Anita menuju mall yang di sebutkan dalam aplikasinya.


_.


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2