IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
43.Rengekan Chiko


__ADS_3

Esok pagi, benar saja Rendi datang lagi ke rumah Anita untuk kembali ke kota. Karena hari senin dia sudah masuk kerja lagi dan pekerjaannya sudah menumpuk. Rendi berharap Chiko bisa membujuk Anita untuk ikut.


Ibu Yuni sendiri sudah tidak peduli dengan mantan suami Anita itu, dia pagi-pagi sudah berangkat ke tempat ibadat karena tugasnya menyiapkan segala keperluan di sana.


Sedangkan Anita sudah pergi ke pasar, dia tidak ikut ibadat minggu di gereja karena Rendi mau berpamitan dengannya dan kedua anaknya.


Sebelum Rendi datang, Chiko sudah di naehati oleh Anita. Jangan merengek minta ikut ketika Rendi mengajaknya.


"Adek, nanti papa mau pergi kerja, adek Iko jangan minta ikut seperti kemarin ya?" pinta Anita pada Chiko yang sedang asyik main legonya.


"Iya ma, kata papa juga seminggu lagi mama pasti menyusul papa. Jadi hari ini Iko ngga nangis minta ikut papa." jawab Chiko dengan polos dan tenang.


Glek,


Anita menelan ludahnya sendiri, ingin dia mengumpat Rendi. Tapi baiklah ada satu minggu ke depan untuk terus membujuk Chiko agar tidak meminta untuk ikut atau menyusul Rendi ke kota.


Anita masuk ke dalam tokonya, dia melihat dari dalam toko mobil Rendi berhenti di depan rumahnya. Dia mendengus sebal ketika Rendi keluar dari dalam mobilnya. Membiarkan Rendi masuk ke dalam rumah berpamitan sama Chiko dan Chila.


Tapi tunggu, Anita akan mendampingi Chiko agar Rendi tidak banyak memberikan sugesti negatif pada anak laki-lakinya itu. Dia kemudian bergegas keluar dari dalam toko dan menemui Rendi yang sedang duduk bersama Chiko dan Chila.


Anita ikut duduk di samping Chila, memaninkan rambut Chila yang sedikit berantakan.


"Kamu sudah siap berangkat mas?" tanya Anita tanpa memandang Rendi.


" Ya, satu jam lagi aku berangkat." jawab Rendi.


Dia mengeluarkan sesuatu dari paperbag yang dia bawa tadi. Memberikan dua kardus ponsel di berikan pada kedua anaknya satu-satu.


Chiko tampak antusias begitu pun dengan Chila. Namun anak gadis itu kemudian memandang Anita untuk memastikan kalau dia bisa menerima pemberian ponsel dari Rendi. Anita pun mengangguk pelan dan tersenyum pada Chila.


Lalu keduanya membuka kardus tersebut dengan tidak sabar. Ingin tahu seperti apa ponsel yang di berikan papanya.


"Ma, bagus deh ponselnya. Tidak seperti punya mama, jelek." kata Chiko setelah kardus itu sudah terbuka.


Anita tersenyum saja, Chila juga senang dengan ponsel barunya itu.


"Kakak suka ngga ponselnya?"tanya Rendi.


"Suka pa." jawab Chila.


"Nanti boleh kok di beri pelindung sesuai kakak suka. Bentuk hello kitty atau bentuk keroppi." kata Anita pada Chila lagi.


" Iya ma, nanti yang keroppi aja ma. Kakak suka warna hijau." ucap Chila.


" Iya, besok mama beli di pasar ya."


"Iko juga ma, yang spiderman ya ma." Chiko ikut menimpali.


"Iya, besok sekalian beli juga buat adek."


" Pa, kok mama ngga di beliin sih?" kini Chiko mulai protes pada papanya.


Rendi diam kaku menanggapi ucapan anaknya. Tapi senyumnya mengembang dan megelus kepala anaknya itu.


" Nanti, papa beli buat mama kalau sudah datang ke kota sama Iko dan kakak Chila." jawab Rendi.


"Tidak usah, aku juga bisa beli sendiri. Lagi pula siapa yang akan meneleponku. Pelanggan semua isi kontakku. Jadi buat apa ponsel bagus dan mahal." jawab Anita dengan sinis.


Bukan mengharapkan di belikan olehnya, namun ucapan Rendi itu yang mrmbuat Anita jadi sinis menanggapinya.

__ADS_1


Rendi diam lagi, dia tahu Anita tidak akan mau di belikan apapun darinya. Makanya dia tidak membelikan apapun walau sebenarnya ingin membeli sesuatu untuk Anita. Tapi dia takut Anita menolaknya.


Lama mereka mengobrol di ruang tamu, hingga Rendi tidak bisa memberikan masukan untuk Chiko sebagai senjata membujuk Anita agar mau ikut dengannya. Anita masih dengan setia menemani kedua anaknya agar sugesti negatif Rendi tidak masuk ke telinga dan pikiran Chiko.


Tapi sialnya, Rendi selalu beruntung. Di depan ada dua pembeli di toko Anita. Mau tidak mau Anita pun bangkit dari duduknya, menatap tajam pada mantan suaminya dan memberikan ultimatum.


"Awas ya mas Rendi, kalau kamu membujuk Chiko yang tidak benar, aku akan putus hubunganmu dengan anakmu." begitu ancaman Anita.


Rendi hanya tersenyum saja mendengar ancaman Anita. Dia sendiri tidak peduli, namun begitu tetap saja rencanya untuk terakhir kali mengandalkan Chiko.


Anita masuk ke dalam toko, meski hatinya waswas namun dia mencoba tenang dan percaya dengan Rendi yang pasti mengindahkan ancamannya.


Setengah jam kemudian, Anita selesai juga melayanj pembeli, dia langsung kembali menghampiri ketiganya. Dan dia melihat Rendi masih diam seperti tadi. Ada rasa lega di hati Anita, dia berharap Rendi tidak memaksanya Chiko untuk ikut dengan Rendi.


"Katanya hanya satu jam mas, ini sudah satu jam lebih kamu di sini. Kapan kamu berangkat?" tanya Anita mengingatkan Rendi.


Rendi melihat jam yang melingkar di tangannya. Pukul sepuluh tepat. Dan akhirnya dia bangkit dari duduknya.


"Ya sudah, aku berangkat dulu. Tolong kalau Chiko pengen menyusul ke kota kamu turuti, Anita. Aku janji akan bawa dia untuk pergi jalan-jalan di akhir pekan nanti. Kemanapun dia inginkan." kata Rendi pada Anita.


Anita hanya diam saja, dalam hati berharap Chiko tidak mengingat ucapan papanya nanti.


"Anita?"


"Iya."


Rendi menatap Anita yang terlihat kesal padanya. Dia masih punya harapan pada Chiko untuk membawa Anita ke kota. Kalau pun saat ini tidak bisa, minggu depan atau kapanpun.


" Oh ya, ponsel Chiko sudah ada kartu chipnya. Begitupun dengan punya Chila. Nanti aku akan sering menghubungi mereka."


"Ya."


"Papa berangkat dulu ya. Nanti kapan-kapan kalian bisa menyusul papa ke kota atau papa yang datang ke sini." kata Rendi.


" Ngga pa, nanti adek sama kakak juga mama yang ke papa." kata Chiko.


Rendi tersenyum, dia kembali memeluk kedua bocah itu.


"Cium papq dong, dek?" pinta Rendi pada Chiko.


Chiko lalu menurut, dia mencium Rendi dan tertawa senang. Sedangkan Chila masih diam, merasa belum di minta oleh Rendi.


"Kakak ngga mau cium papa?" tanya Rendi.


Dan akhirnya Chila mencium Rendi juga.


Setelah Rendi berpamitan, kini dia melajukan mobilnya dengan berat hati. Besok dia akan menghubungi Chiko untuk membujuk lagi agar Anita mau menyusul.


Ya lagi pula kalau anak-anaknya minta ke kota menemui papanya, sudah pasti di antar oleh Anita juga.


_


Satu hari, dua hari sampai hari kelima Chiko sudah lupa dengan ucapannya akan menyusul Rendinke kota. Anita lega, Chiko tidak menyinggung Rendi lagi.


Begitu pun di hari ke tujuh, Chiko masih lupa. Lega Anita, ternyata Chiko lupa. Kini Anita tidak cemas dan waswas lagi karena dia mengira Chiko lupa.


Namun suatu hari, pagi buta Chiko bangun dan berteriak hingga ibu Yuni yang di dapur tergopoh menghampiri cucunya itu.


"Iko, ada apa teriak-teriak?" tanya ibu Yuni yang kaget begitu pun sama dengan Chila.

__ADS_1


"Iko mau ke papa, Iko mau ke papa di kota. Mamaaaa!"


Teriakan Chiko membuat kaget ibu Yuni kembali. Dia lalu menenangkan cucunya yang mulai menangis histeris itu.


"Mama sedang ke pasar. Iko diam ya jangan nangis." kata ibu Yuni.


" Ngga mau,.pokoknya Iko mau ikut papa ke kota. Mamaa!"


Anita yang baru saja datang mendengar Chiko menangis sambil berteriak memanggil dirinya segera berlari menuju kamar anaknya itu.


"Ada apa bu, kenapa Chiko menangis kencang begitu?" tanya Anita heran.


"Ck, dia minta papanya." kata ibu Yuni.


Anita melongo, dia diam kaku melihat Chiko masih menangis keras memanggil Rendi dan kini dia berguling di lantai.


Anita kemudian mendekati anaknya dan memeluknya erat. Agar anaknya itu mau diam, tapi Chiko berontak keras.


Sikap seperti ini sebelumnya tidak pernah Chiko lakukan, dia kemudian tiba-tiba kesal sendiri. Namun begitu dia tetap menenangkan anaknya itu.


"Iko jangan begini sayang. Siapa yang mengajari adek seperti ini?" tanya Anita pelan.


"Pokoknya Iko mau ke kota. Mau ke papa!" teriak Chiko.


Anita menghela nafas panjang, sabar.


"Iya nanti ya. Adek jangan nangis terus."


" Ngga mau! pokoknya Iko mau ke papa, ma." masih bertahan dengan sikapnya.


"Iya, nanti mama antar ke papa, setelah itu mama langsung pulang. Biar nanti adek di sana sama papa ya?" kata Anita.


Chiko diam, dia lalu berhenti menangis, menatap Anita.


"Mama bener mau ke papa?"


"Kan adek yang mau ke papa, mama nanti pulang setelah mengantar adek ke papa." kata Anita lagi menjelaskan.


"Ngga mau! Pokoknya mama juga harus ikut sama Iko di rumah papa."


"Iko!"


Teriak Anita, dia lebarkan matanya pada anak laki-lakinya itu. Ibu Yuni menarik cucunya, dia jadi kasihan juga dengan Chiko.


"Sudah Anita, kamu turuti saja kemauan anakmu. Nanti kalau dia sudah bertemu, kamu bisa kembali pulang dengan mereka. Untuk saat ini kamu harus mengalah, tidak baik juga sering memarahi anak karena egoismu." kata ibu Yuni yang bijak.


Anita mendengus kesal. Dia pikir akan tenang kembali setelah Rendi pulang ke kota lagi. Tapi akhirnya luluh juga hati Anita, buat apa juga harus berdebat dengan anak kecil yang biangkeroknya saja sudah tidak ada.


Nanti setelah di sana, dia akan mendamprat Rendi. Dia tidak peduli nantinya jika harus bertengkar lagi dengan Rendi.


"Oke, lusa mama antar kalian ke papa. Tapi ingat, jangan meminta apapun dan jangan mau di bujuk papa kalian. Mengerti?!" ancam Anita pada kedua anaknya, khususnya Chiko.


_


_


_


❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2