
Hari-hari berlalu,dari minggu ke minggu serta bulan.Hingga bulan ke sembilan Mourin siap melahirkan.Dia juga tidak sabar ingin melihat wajah anaknya seperti siapa.
Apakah mirip dirinya,atau mirip Rendi bahkan mirip Evan?Semakin dekat hari kelahiran,semakin tegang Mourin rasakan di setiap harinya.
Dia kini sedang janjian dengan Sandra di kafe langganan mereka.Rendi pun mengijinkan Mourin bertemu dengan Sandra,tapi setelah selesai haris kembali lagi ke rumah,bukan jalan-jalan yang membuat lelah Mourin.
"Protektif banget sih si Rendi,emang udah pasti itu anaknya?"tanya Sandra ketika mereka sudah bertemu di kafe.
"Udah biarin sih,aku juga senang di manja gini.Lagi pula Evan juga tidak pernah begini."kata Mourin,dia hanya menikmati apa yang di berikan Rendi.
"Ya dia gobl*k aja gitu,istrinya itu semi jal*ng,hahaha."ucap Sandra sambil tertawa lepas.
"Brengsek lo,lo pikir gue binatang jal*ng!"ucap Mourin santai.
"Ya lagian lo punya suami kok mau-maunya tidur dengan si Evan."
"Eh,lo kayak ngga jal*ng kaya gue.Gue baik dan lembut.Di kantor semua menghormati gue,lha elo siapa yang mau menghormati."
"Ck ck ck,bisa-bisanya si Rendi ketipu sama lo."
"Awas lo ya,jangan sampai Rendi tahu."
"Tenang aja beb,rahasia lo aman sama gue.Jadi setelah lahiran lo bener mau tes DNA?"
"Iyalah,gue penasaran.Anak siapa di perut gue."
"Kalo itu anak Evan gimana?"
"Ya udah,ngga gimana-gimana.Gue urus sama Rendi.Kalau anak Rendi juga tetap di urus kok."
"Ya maksud gue,kalo ternyata Evan tahu itu anaknya,lo mau gimana?"
"Ya serahkan aja sama Evan,kenapa harus ribet?"
"Ck,lo mikir jangan dangkal banget kek.Lo itu lulusan S2 tapi kenapa pemikiran lo sesantai itu.Urusannya bukan hanya Evan,tapi Rendi juga.Pikirkan apa yang akan terjadi nanti jika suatu saat Rendi tahu dari hasil tes DNA kalau anak lo bukan anaknya."ucap sandra,dia sekarang lebih dewasa dari Mourin.
Sejak hamil Mourin terlihat lebih santai menghadapi kehidupannya.Seperti mengalir,tanpa memikirkan besok akan seperti apa.
"Gue ngga mau mikir jauh dulu.Jika memang Rendi tahu ini bukan anaknya,ya udah ngga apa-apa.Dia aja dulu menelantarkan anak kandungnya,dia bahkan lebih memperhatikan gue dari pada anak-anaknya.Dan gue yakin,kali ini dia akan menerima anak gue.Karena dia cinta banget sama gue."ucap Mourin lagi.
Sandra tampak berpikir,memang benar terlihat kalau Rendi sangat mencintai Mourin.Tapi tetap saja dia mengkhawatirkan kedepannya bagaimana pada kehidupan sahabatnya nanti.
Lagi pula kedua orang tua Mourin sudah sangat tua.Jika anaknya mengandung anak orang lain,bukan anak dari suaminya.Apa yang akan terjadi.
"Udah,lo jangam pusing dengan kehamilan gue.Gue aja santai,lo yang pusing."kata Mourin.
Pergaulan Mourin berbeda jauh dengan situasi kerjanya.Dia akan fokus bekerja jika sudah di kantor,namun akan beda lagi jika sudah bertemu Sandra sahabatnya.
Telepon Mourin berbunyi,tertera di sana nama Rendi.Mourin pun mengangkatnya dan menjawab telepon dari Rendi.
"Halo sayang,ada apa?"tanya Mourin.
"Kamu masih dengan Sandra?"tanya Rendi.
__ADS_1
"Iya,kami ngobrol dan sekalian makan siang.Memangnya ada apa sayang?"tanya Mourin.
"Ngga apa-apa,nanti kalau udah selesai makan pulang ya."kata Rendi lagi.
"Iya."
Lalu sambungan telepon terputus.Mourin meletakkan ponselnya di meja.Dia melihat ke arah parkiran,tak sengaja matanya menangkap bayangan Evan sedang menuju ke dalam kafe.
"Eh,itu ada Evan."kata Mourin senang.
"Mana?"tanya Sandra yang matanya mulai berkeliling.
"Itu yang sedang masuk ke kafe ini.Sama siapa dia ya?"tanya Mourin yang takut Evan bersama perempuan lain.
Mourin memandang Evan sedang mencari duduk,dan tiba-tiba mata mereka saling bertubrukan.Evan terdiam,begitu juga Mourin.Masih saling menatap dan Evan tersenyum padanya.
Dia lalu menghampiri Mourin dan Sandra yang sudah sejak tadi di kafe ini.
Semakin Evan mendekat,Mourin semakin gugup.Dia hanya ingat saat tidur bersamanya dan sekarang dia sedang hamil.Berarti kejadian itu sudah sembilan bulan lebih.
Wajah Mourin memerah,Evan semakin dekat sedangkan Sandra hanya tersenyum mengejek pada Mourin.Dia tahu Mourin suka sama Evan.
Evan ikut duduk setelah dia sampai di meja Mourin dan Sandra.Obrolanpun terjadi,mereka mengobrol sampai sore,sedangkan Sandra sudah pulang lebih dulu.Dia tahu Mourin senang bertemu Evan,makanya dia pulang lebih dulu.
"Sudah berapa bulan kehamilan kamu?"tanya Evan.
"Perkiraan dua minggu lagi lahiran."jawab Mourin.
Walaupun sejak tadi dia ngobrol dengan Evan,tapi Mourin tetap saja masih canggung dan malu.
"Emm,boleh.Silakan saja."jawab Mourin,dia juga senang perutnya di pegang oleh Evan.
Evan kemudian memegang perut Mourin,lama dia memegang perut Mourin,dan tiba-tiba perut Mourin bergerak.Membuat Evan terkejut,lalu tertawa.
"Dia aktif?"
"Ngga juga,kadang-kadang aja suka nendang."
Evan kembali memegang perut Mourin,dan tendangan kembali di rasakan Evan.Dia tertawa senang,lalu tanpa sengaja tangannya mengelus perut Mourin.
Ada rasa ketertarikan Evan pada perut Mourin.Mourin yang mendapat elusan dari tangan Evan jadi senang.Rasa senangnya melebihi ketika Rendi mengelus perutnya.
Ada rasa rindu dia bersentuhan dengan Evan,entah kenapa rasa itu sangat menggebu di hatinya.Dia menatap Evan,seperti mengharapkan sesuatu dari Evan.
Evan membalas tatapan Mourin,tatapan yang penuh damba.Evan tahu itu,tanpa membuang waktu dia melirik jam di tangannya masih pukul tiga sore.
Jika dia mengajak Mourin ke hotel cukup waktunya.Ya hanya satu jam saja,lalu dia mengajak Mourin pergi dari kafe tersebut.
"Kita ke suatu tempat."bisik Evan di telinga Mourin.
Seolah mengerti ajakan Evan,dia lalu ikut dengan Evan.
_
__ADS_1
Mourin pulang pukul tujuh malam,dia tampak kelelahan namun wajahnya ceria.
Rendi yang sejak tadi menunggu istrinya pulang terlihat kesal pada Mourin yang baru pulang.
"Dari mana aja kamu?"tanya Rendi ketus.
"Kan tadi aku udah bilang,aku sama Sandra di kafe."
"Dari kafe jam sepuluh masa jam tujuh baru pulang.Kemana aja kamu?Di telepon ponselnya ngga aktif.Kamu bikin aku khawatir,Mourin."ucap Rendi kesal.
"Cukup Rendi,ini urusanku.Aku mau kemana jangan kamu larang-larang lagi."ucap Mourin,dia juga kesal baru datang di marahi oleh Rendi.
"Tapi kamu itu lagi hamil besar sayang.Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama bayi kita?"kata Rendi lagi.
Mourin diam,dia ingin menyangkal tentang bayi di perutnya.Namun dia belum bisa karena belum di tes DNA.Jadi belum sepenuhnya benar anak Evan,walau dia punya keyakinan itu anak Evan.
Tiba-tiba saja Mourin meringis,dia memegang perutnya dan terlihat berjongkok.Rendi pun kaget,dia menghampiri Mourin yang terlihat kesakitan memegangi perutnya.
Rendi panik ketika air mengalair dari balik baju dalam Mourin.Dia lalu memapah Mourin untuk duduk di sofa.Dan segera mengambil kunci mobilnya.
"Kita ke rumah sakit,aku yakin kamu mau melahirkan."kata Rendi menuntun Mourin untuk masuk ke dalam mobil.
Walau dia tidak tahu waktu Anita merasakan sakit mau melahirkan,namun dia yakin seperti itu perempuan mau melahirkan.
Tanpa membuang waktu lagi Rendi menancapkan gasnya menuju rumah sakit sebelumnya sudah dia bawa barang-barang persiapan untuk melahirkan.
Sepanjang jalan Mourin merasa kesakitan,dia terus mengerang dan menjerit karena sakitnya tidak tertahankan.
"Sabar sayang,kita sebentar lagi sampai rumah sakit."kata Rendi menenangkan istrinya itu.
"Aku ngga kuat lagi,sayang.Rasanya mau copot tulang-tulangku.Aaaah..."teriak Mourin.
Rendi makin panik,dia dengan cepat malajukan mobilnya.Baru setelah setengah jam di perjalanan,mobil sampai di rumah sakit.
Buru-buru dia keluar dari mobil dan memanggil perawat yang sudah siap berjaga di UGD.Rendi menggendong Mourin keluar dari mobil dan di letakkan di bangsal yang sudah di siapkan.
Tanpa menunggu lama,bangsal itu di bawa ke ruang bersalin setelah Rendi berkata akan melahirkan pada perawat.
Dokter kandungan yang kebetulan berjaga malam ini pun segera memeriksa Mourin,Rendi tidak di suruh keluar karena ikut menemani Mourin melahirkan.
"Bapak kuatkan dan beri semangat istrinya ya,karena melahirkan itu bertaruh nyawa dengan keadaan.Jadi bapak harus memberi semangat istrinya."kata dokter yang akan membantu persalinan Mourin.
"Baik dokter,saya akan menemani istri saya dan memberinya semangat."kata Rendi.
Dia teringat ketika Anita melahirkan bayi kembar,betapa perjuangan seorang perempuan melahirkan anaknya.Ada rasa menyesal di hatinya ketika dia ingat Anita telah dia ceraikan.
Namun dia tepis kembali,karena Mourin sedang butuh dukungannya.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤