IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
154. Mengunjungi Mourin


__ADS_3

Enam bulan setelah bertemu Sandra di Singapura, Evan masih memikirkan ucapan Sandra.


Kenapa Mourin bisa di penjara dan kemana Elana, sama siapa?


Evan sekarang sedang ada di Indonesia berkunjung menemui orang tuanya yang ada di Sumatera tanpa istrinya. Kini dia ada di Jawa dan sengaja datang sendiri untuk mencari tahu tentang Mourin dan Elana.


Karena waktu dia hanya satu minggu, jadi dia manfaatkan untuk mencari tahu di mana Mourin di penjara dan karena kasus apa.


Dan dia sudah mendapatkan informasi bahwa Mourin di tempatkan di lapas wanita di kota dulu dia tinggal dengan Mourin. Dan dia juga akan mencari di mana Elana di titipkan.


Jam satu siang, Evan ke lapas. Dia ingin menemui Mourin, pertama dia ingin meminta maaf pada mantan istrinya itu lalu menanyakan di mana Elana.


"Bapak mau menjenguk siapa?" tanya kepala sipir di lapas.


"Emm, mau mencari ibu Mourin." jawab Evan ragu.


"Oh, ibu Mourin. Bapak suaminya? Soalnya baru sekarang ada yang menjenguk laki-laki." kata sipir lagi.


"Bukan pak, saya temannya." ujar Evan lagi.


"Baiklah, sebentar ya pak. Soalnya ibu Mourin ada kunjungan juga oleh temannya." kata sipir lagi.


"Oh, ya sudah. Saya tunggu saja sampai temannya selesai."


"Atau mau sekalian berkunjungnya barangkali?"


"Tidak, saya ingin secara pribadi saja." jawab Evan cepat.


Dia tahu yang berkunjung itu pasti Sandra. Kemudian Evan duduk di teras di depan kantor lapas sambil menunggu Sandra selesai menjenguk Mourin.


Setengah jam dia menunggu, akhirnya Sandra selesai juga. Dia pulang dengan menggandeng seorang anak usia delapan tahun dan juga hamil besar.


Evan memperhatikan anak yang di gandeng Sandra, dia yakin itu adalah anaknya Elana.


Evan bangkit, ingin mengejar Sandra dan melihat anaknya. Namun dia urungkan, ada rasa tidak enak pada Sandra karena dulu bertemu di Singapura dia di tampar dua kali gara-gara Sandra marah padanya.


"Pak, silakan masuk. Ibu Mourin sudah tidak ada kunjungan lagi." kata sipir lagi.


"Iya, terima kasih." jawab Evan.


Dia pun masuk ke tempat kunjungan, melewati beberapa sel yang penuh dengan tahanan wanita. Evan masuk ke dalam, bangku berhadapan seperti bertemu di kafe. Tanpa penghalang, hanya di awasi oleh tiga sipir perempuan dan satu sipir laki-laki.


Evab duduk setelah di persilakan oleh sipir. Dia menunggu Mourin datang, rasa deg-degan akan bertemu dengan Mourin lagi setelah empat tahun tidak bertemu.


Bukan karena dia masih mencintai Mourin, tapi mungkin karena gugup dan rasa takut karena bersalah dia menceraikan Mourin dalam keadaan baik-baik saja rumah tangganya.


Dan tak lama, Mourin pun datang. Dia berhenti, melihat siapa yang ingin bertemu dengannya.


Dia kaget, ada rasa senang namun juga benci serta marah pada Evan. Evan sendiri belum menyadari Mourin berdiri diam dari jauh menatapnya.


"Silakan bu Mourin, orangnya menunggu anda." kata sipir.


"Oh ya terima kasih."


Mourin melangkah mendekat, dia netralkan lagi hatinya yang begitu campur aduk. Namun lebih banyak kesalnya pada Evan.

__ADS_1


Wajah dingin dia tampilkan dan berdehem keras.


"Ehm!"


Evan mendongak dan memandang Mourin dengan tatapan terkejut. Mourin masih berdiri, diam. Lalu.


"Kamu mau apa datang kemari?" tanya Mourin dengan wajah datar dan dingin.


"Duduklah, Rin." kata Evan merasa tersentuh dengan keadaan Mourin yang berbeda.


Mourin masih diam, dan akhirnya dia pun duduk. Evan senang Mourin menurut, dia tersenyum.


Mekera duduk saling berhadapan, Evan memandang Mourin merasa kasihan. Sedangkan Mourin membuang muka ke samping kiri, matanya menyibukkan diri dengan menatap orang-orang yang datang berkunjung dengan tahanan lain.


"Mourin, aku minta maaf." kata Evan lirih.


Dia tahu Mourin tidak mau menatapnya balik, sekilas Evan melihat di mata Mourin masih ada cinta untuknya. Namun dia tidak bisa menebak lebih jauh.


Mourin masih diam, belum mau menengok ke arah mantan suaminya itu. Evan merasa kaku, ucapannya tidak di tanggapi oleh Mourin.


"Rin, Mourin." panggil Evan lagi agak keras agar Mourun mau menghadap ke arahnya.


Dengan malas Mourin menatap Evan sebentar lagi dia berpaling lagi.


"Ada apa kamu kemari? Mau menertawakan aku dengan kebodohanku?" tanya Mourin dengan ketus.


"Tidak, aku hanya ingin minta maaf sama kamu." ucap Evan tegas.


Dia tidak menertawakan Mourin, tapi dia merasa kasihan pada mantan istrinya itu.


"Iya." jawab Evan lirih.


"Sudah kan? Kalau begitu gue mau masuk lagi." kata Mourin.


Dia bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Evan, namun tangannya di cegah oleh Evan.


Mourin menepis tangan Evan dengan kasar dan menatapnya tajam.


"Lo kan mau minta maaf, dan udah mengucapkannya. Ya udah, buat apa gue di sini terus?!" tanya Mourin dengan nada suara keras.


Semua orang di sana menatap bergantian Evan dan Mourin. Tapi lebih pada pandangan sinis tertuju ke Evan.


Mereka berpikir, gara-gara Evan Mourin masuk penjara. Begitulah pikiran mereka.


Evan yang di perhatikan seperti itu merasa tidak enak dan menatap Mourin lagi.


"Baiklah, aku sudah selesai. Maafkan aku, aku tahu kamu tidak mudah memaafkanku, Rin. Hiduplah bahagia, Rin. Jangan pikirkan aku." kata Evan, tapi ucapannya di potong Mourin.


"Tidak ada hidup bahagia jika di dalam hidup di sel tahanan penjara. Lo jangan sok perhatian sama gue. Urus diri lo sendiri, jangan pernah lagi peduli dengan kehidupan gue di sini!" ucap Mourin ketus dengan tatapan tajam menusuk ulu hati Evan


Mourin hendak berlalu, tapi Evan masih bicara terus.


"Satu lagi Rin, aku ingin bertemu dengan Elana." kata Evan.


Mourin berhenti lagi dan mengepalkan tangannya, manusia tidak punya otak dan tidak punya hati. Pikir Mourin geram.

__ADS_1


"Jangan harap lo bertemu dengan anakku Elana!"


"Di mana dia? Dia bersama Sandra kan? Aku tahu itu, Rin." ucap Evan, seolah tidak peduli dengan kemarahan Mourin.


"Pergi kamu dari sini. Kamua pergi sana dengan istrimu itu! Untuk apa kamu mencari anakku?!" teriak Mourin.


Sipir yang menjaga itu menghampiri Mourin dan Evan yang sedang bertengkar.


"Pak, ada apa ini? Jangan buat keributan di sini pak " kata sipri tersebut.


"Bawa dia pergi pak sipir, saya sudah selesai bicara dengannya." kata Mourin.


Dia lalu pergi meninggalkan Evan yang belum puas dengan pembicaraannya. Namun dia hanya bisa diam saja.


"Lain kali bawa buah tangan untuk tahanan yang di jenguk pak, biar tidak marah-marah." kata sipir itu memberi saran pada Evan.


Evan hanya mengangguk saja, dia kemudian pergi keluar dari lapas. Dalam hatinya, dia ingin melihat Elana. Apakah Elana baik-baik saja?


_


"Pa, kok perut mama sakit ya?" tanya Sandra ketika mereka sedang menonton tv di ruang keluarga.


Jhosua memegang perut Sandra yang sudah besar. Ya, Sandra hamil ketika dulu di periksakan dokter di rumah sakit Singapura.


Betapa bahagianya dia dan suaminya saat itu. Ternyata Sandra hamil setelah dua tahun menikah dengan Jhosua.


Benar kata orang-orang, memancing dengan mengasuh anak orang lain atau anak saudara itu akan memberikan atau sebagai pancingan untuk mempunyai anak.


Dan dalam waktu satu tahun lebih mengurus Elana. Sandra dan Jhosua hamil.


"Tante, apa dede bayinya nakal?" tanya Elana di samping Jhosua.


"Tidak sayang, mungkin dedenya minta keluar. Pengen ketemu dengan kakak Elana." jawab Sandra dengan tersenyum.


Jhosua senang interaksi istri dan Elana itu, dia kemudian memangku Elana. Kini Elana sudah lebih baik, dan operasi terakhir enam bulan lalu adalah yang terakhir.


"Elana senang nanti kalau ada adik bayi?" tanya Jhosua.


"Iya om, Elana senang. Nanti di ajak main masak-masakan sama Elana." jawab Elana.


"Hahah, tapi nanti ya setelah adek bayinya sudah besar baru bisa di ajak main masak-masakan." kata Jhosua lagi.


"Iya om, biar El ada temannya." kata Elana lagi.


Sandra tersenyum, di bayangannya nanti jika anaknya lahir, dia tidak akan menyia-nyiakan Elana. Elana adalah penolongnya dalam mendapatkan kehamilan. Dan sekarang dia tinggal memunggu dua bulan lagi, anaknya lahir.


Malam ini ketiganya bersenda gurau dan bermain sesuai keinginan Elana. Ada rasa bahagia di hati Sandra, suaminya sangat menyayangi Elana meski bukan darah dagingnya.


_


_


_


❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2