
Setelah Arga keluar, Anita merasa takut, dia menunduk dan bergeser duduknya agar tidak dekat dengan Rendi.
Rendi mengerti Anita seperti itu, karena kesalahannya Anita jadi takut padanya. Dia tidak memaksa duduk dekat dengan Anita, tapi masih berdiri agar Anita nyaman bicara dengannya.
Rendi menarik nafas panjang, mengatur hatinya yang sedih melihat Anita ketakutan padanya. Sesekali mata Anita melongok ke arah pintu, memastikan Arga masih di sana.
"Aku minta maaf sama kamu, Anita." kata Rendi.
Dia tidak mau Anita lebih lama merasa cemas dan takut padanya.
Anita menatap Rendi, lebih tidak percaya. Dulu juga dia datang untuk minta maaf, tapi kenyataannya dia malah mengacaukan kehiduapannya dengan anak-anaknya di kampung.
"Aku minta maaf sekali sama kamu dengan kejadian itu. Juga sama anak-anak, aku sudah serahkan semuanya sama Arga. Aku juga sudah tanda tangan hak asuh jatuh sama kamu. Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi."
Berhenti sejenak, dia masih menatap Anita yang masih menunduk. Lalu di berikannya sebuah surat, entah apa isinya. Tapi Anita tidak peduli apa isinya.
Anita menerima saja, mungkin akan dia abaikan surat itu. Atau mungkin surat untuk kedua anaknya?
Itu kamu buka kalau nanti sudah pulang saja, tidak ada yang terlalu penting. Kamu boleh mengabaikannya, tapi aku sudah menyerahkan segalanya pada pengacara tentang hartaku.Aku belum memberikan harta goni gini sewaktu aku minta bercerai denganmu."
Kembali berhenti, karena Anita masih diam saja. Namun lebih tenang tidak merasa takut lagi. Setelah bicara seperti itu, Rendi keluar. Dia cukup mengatakan apa yang ingin dia katakan,tidak berharap Anita bicara padanya.
Rendi keluar, ada rasa sedih di hatinya. Namun itu pantas dia dapatkan. Rendi benar-benar menyesal. Arga mendekat setelah Rendi keluar, dia menepuk pundak Rendi dan mengucapkan terima kasih pada Rendi telah memudahkan persidangannya nanti.
"Aku minta sama kamu, jangan sakiti Anita. Dia sudah terlalu banyak aku sakiti. Aku..., minta maaf sama kamu. Dia pantas hidup bahagia dengan orang yang dia cintai." kata Rendi berpesan pada Arga.
Arga mengangguk, Rendi pun pergi dari hadapan Arga. Dia akan kembali ke kantornya bekerja seperti biasa.
Arga masuk ke dalam ruangan itu, dia mendekati Anita yang masih diam terpaku. Dia masih tidak percaya dengan ucapan Rendi, tapi dia sangat lega Rendi mau melepasnya dengan bebas menjaga dan mengasuh kedua anaknya tanpa harus khawatir lagi Rendi meminta kedua anaknya lagi.
Dan persidangan pun di mulai. Semua berkas sudah masuk pada hakim pengadilan. Pengacara Rendi tidak berbicara banyak, hanya menyampaikan amanat dari Rendi kalau dia menyerahkan dengan suka rela hak asuh jatuh pada Anita.
Dan persidangan berjalan lancar dan singkat, karena pernyataan pengacara Rendi itu. Jadi tidak ada drama saling berhak mengasuh anak kembar itu.
Anita dan Arga tampak gembira, dia menyalami pengacara itu dan hakim penentu sidang.
Setelah semuanya beres, mereka akhirnya pulang ke kampung dengan hati lega. Anita merasa bersalah ketika Rendi bicara dia tidak menanggapi sama sekali. Namun begitu, memang itu pantas untuk Rendi.
_
Hari-hari Anita kini lebih tenang setelah sidang hak asuh anak. Dia lebih fokus pada tokonya, meski sudah di jatuhkan hak asuhnya padanya tapi Anita tetap sedikit khawatir Rendi datang lagi Saat ini dia masih belum siap bertemu dengan Rendi meski di persidangan itu Rendi bersikap seperti orang menyesal.
"Mama ngga pergi ke kota lagi kan?" tanya Chila pada Anita.
"Ngga sayang, urusan mama sudah selesai." jawab Anita.
"Berarti mama di rumah aja?" tanya Chila lagi.
"Mama ngga ketemu papa kan ma di kota?" tanya Chila yang membuat Anita terdiam kaku.
Kenapa anaknya ini selalu peka dengan dirinya, padahal dia masih berusia lima tahun. Anita menatap anaknya itu.
__ADS_1
"Mama ketemu sama papa, tapi papa diam aja kok." kata Anita menjelaskan pada Chila.
Anita tahu, anaknya khawatir jika bertemu Rendi akan seperti malam itu.
"Tapi mama ngga apa-apa kan?"
"Ngga sayang, mama pulang ngga kenapa-kenapa. Kalau papa memukul mama lagi, ada om Arga yang akan membantu mama kok." kata Anita menjelaskan agar anaknya itu tidak perlu mengkhawatirkannya.
Chila diam, dia lalu duduk di depan meja. Memperhatikan Anita yang sedang menghitung di kalkulator.
"Kakak lebih suka sama om Arga, ma." kata Chila lagi.
Dan kalimat Chila ini yang membuat Anita jadi sedih. Dia masih belum siap berkomitmen dalam waktu dekat. Rasa trauma dalam pernikahan membuatanya menutup diri dari laki-laki.
Ada tetangga desanya yang meminta Anita pada ibu Yuni, namun Anita tidak menanggapi. Ibu Yuni pun lebih setuju sama Arga, namun dia tahu anaknya masih masa pemulihan paska traumanya pada pernikahan.
"Ma, ada yang beli." teriak Chila ketika Anita ada di belakang.
"Ya kak, sebentar."
Anita menyelesaikan pekerjaannya di dapur, memasak kesukaan di kembar. Ayam goreng dan cah brokoli. Setelah selesai, dia memindahkan cah brokoli ke dalam mangkuk sayur dan di letakkan di meja makan.
Kemudian Anita keluar menuju tokonya. Di sana seorang laki-laki menghadap ke depan membelakangi Anita di dalam toko.
"Beli apa mas?" tanya Anita pada laki-laki itu.
Dia berbalik dan mendekat ke etalase. Tampak agal tua, namun senyumnya di buat manis. Anita belum pernah melihat sebelumnya laki-laki itu, namun demikian dia melayani dengan cepat.
Anita mengerutkan keningnya, baru kali ini dia mendapat pelanggan aneh. Meski pun memang ada pelanggan laki-laki, tapi tidak seperti laki-laki di depannya ini.
"Ada mas. Berapa bungkus?" tanya Anita lagi.
"Satu aja." jawabnya.
Lalu Anita mengambil rokok yang dia maksud dan memberikannya pada laki-laki itu. Laki-laki itu menerima rokok yang di sodorkan Anita, tapi tangannya malah memegang tangan Anita. Dia kaget, cepat-cepat Anita menarik tangannya lepas dari tangan laki-laki itu.
"Berapa mbak?"
"Dua.puluh lima ribu mas." kata Anita.
Laki-laki itu pun memberikan uang lima puluh ribu, dan Anita menerimanya dengan cepat. Takut seperti tadi memegang tanganyan dengan sengaja.
Anita mengembalikan sisa pengembalian, dia letakkan di kaca etalase agar tidak di pegang lagi tangannya, dia risih dengan pembeli satu itu.
"Mbak, namanya siapa?" laki-laki itu mulai bertanya dengan berani.
"Buat apa tanya-tanya." jawab Anita ketus.
"Si mbaknya galak banget sih."
"Ya kalau sudah membelinya ya silakan pergi." masih dengan nada ketusnya.
__ADS_1
"Janda ya?"
"Haish,"
Anita tidak menggubris ucapan laki-laki itu, dia masuk ke dalam rumahnya, meneruskan memasaknya. Dan laki-laki tadi pergi dengan pandangan dan senyum misterius.
_
Anita pagi-pagi seperti biasa pergi ke pasar untuk membeli stok di toko. Dia berpesan pada Chila untuk membangunkan adiknya sebelum dia berangkat ke pasar.
"Kak, nanti adek di bangunkan ya. Terus suruh mandi sendiri, jangan di mandikan terus sama eyang." kata Anita pada Chila yang sudah bangun lebih dulu dari pada adiknya.
"Iya ma."
"Kakak juga cepat mandi ya. Sarapannya mau beli lontong sayur apa bikin nasi goreng?" tanya Anita.
"Kakak mau lontong sayur ma." jawab Chila.
"Ya udah, cepat mandi dan bangunkan adek ya. Nanti mama cepat pulang." kata Anita.
Chila mengangguk, dan Anita pun keluar menuju motornya yang sudah di panasi sejak tadi. Dia lalu melajukan motornya dengan cepat, karena anaknya minta sarapan dengan lontong sayur yang ada di pasar langganannya jika dia malas membuat sarapan untuk kedua anaknya dan ibunya.
Sepanjang jalan Anita sangat senang, di samping dia bahagia Chila anaknya benar-benar jadi kakak yang baik bagi Chiko. Walaupun melakukan hal sederhana, tapi itu sebuah tanggung jawab yang patut di beri pujian.
Dan akhirnya Anita sampai di pasar, dia segera membeli barang yang ada di catatan bukunya dan segera pergi karena yang melayaninya sudah hafal apa yang Anita beli.
Dia membeli lontong sayur untuk kedua anaknya juga ibunya. Anita duduk di kursi yang di sediakan menunggu lontongnya di layani.
Baru juga duduk di kursi, Anita di panggil-panggil oleh laki-laki yang kemarin mengganggunya ketika membeli rokok di tokonya.
Anita berdecak kesal, kanapa harus bertemu laki-laki itu lagi sih,gumam Anita dalam hati.
"Mbak, kok diam saja. Pura-pura lupa sama pelanggan." kata laki-laki itu dengan senyum nakalnya.
Semua menatap Anita, mereka heran dengan Anita yang di panggil diam saja. Atau laki-laki itu cuma ganggu Anita saja, sehingga Anita diam saja.
Selesai di layani, Anita kembali laginke toko grosir langganannya. Memastikan pesanannya sudah terbeli semua.
"Sudah semua ini bang?" tanya Anita.
"Sudah bu, tinggal di bayar aja sama bos." jawab pelayan itu.
Anita pun ke tempat pembayaran, di sana dia membayar sejumlah uang sesuai nota pembayaran. Lalu dia mengambil barangnya untuk di letakkna di jok belakang motornya. Dia mengikatnya agar tidak miring dan jatuh.
Setelah selesai dia melajukan motornya untuk segera pulang, karena sarapan lontong sayur di tunggu oleh Chila dan Chiko.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤