IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
39.Pendekatan


__ADS_3

Sampai sore Rendi belum juga pulang ke motelnya, hingga Anita jadi kesal. Sebanarnya dia mau apa?


"Kamu tidak lelah bermain dengan anak-anak sampai sore seperti ini?" tanya Anita yang kesal Rendi masih ada di rumahnya.


"Tidak, aku malah senang." jawab Rendi santai.


Anita mendengus kesal, kenapa sekarang malah dia jadi tidak suka dengan tindakan Rendi. Apa sebenarnya maunya?


" Ini sudah sore, mungkin kamu lelah pulang saja sana." kata Anita sedikit memaksa Rendi.


"Aku kan sudah bilang mau main sama anak-anak sepuasnya, kenapa kamu malah tidak boleh?" tanya Rendi dengan nada membentak.


Anita tertegun, dia melihat Rendi yang dulu yang suka seenaknya saja. Kemudian Anita pergi dari hadapan Rendi, dia keluar rumah dan duduk di kursi depan. Untung saja ibu tidak ada, kalau sampai ibu tahu Anita masih di perlakukan sama seperti dulu meski sudah bercerai. Dia akan di usir dan tidak boleh bertemu lagi sama anak-anaknya lagi.


Rendi ikut keluar, menyusul Anita yang masih kesal padanya. Dia duduk di sebelah Anita dan menatapnya, merasa bersalah.


"Aku minta maaf tadi membentak kamu." kata Rendi.


Anita diam saja, tidak merespon ucapan Rendi. Justru Anita memalingkan wajahnya membuang muka. Lama Anita mendiamkan Rendi, dan dia pun akhirnya mengalah. Rencana Rendi hanya ingin melihat teman Anita itu. Pasti dia akan balik lagi menjemput anaknya,pikir Rendi.


Tapi biarlah,besok dia akan datang lagi. Semoga laki-laki itu tidak datang lagi menitipkan anaknya, seenaknya saja menitip anaknya pada mantan istrinya. keluh Rendi.


" Aku akan pulang, besok aku datang lagi kemari." kata Rendi.


Anita malah mendongak, lalu memalingkan muka kembali sambil membuang nafas kasar.


Rendi masuk ke dalam rumah untuk berpamitan pada kedua anaknya. Lama dia bicara, namun akhirnya dia keluar untuk pamit pada Anita.


Rendi baru melangkah beberapa langkah, mobil Arga datang dan berhenti di depan rumah Anita. Rendi berhenti, dia melihat Arga turun dari mobilnya. Keduanya saling pandang, ada raut wajah persaingan antara keduanya.


Anita melihat mereka seperti saling beradu kekuatan untuk memperebutkan dirinya. Namun demikian Anita berharap keduanya baik-baik saja tanpa ada permusuhan, lagi pula buat apa Rendi merebutkan dirinya kembali. Dia sudah punya istri.


Setelah lama bersitatap, Rendi akhirnya melangkah menuju mobilnya sendiri. Duduk di belakang kemudi, memperhatikan interaksi Anita dengan Arga. Hatinya panas ketika kedua kali melihat Anita sangat senang bertemu dengan Arga, tidak dengan dirinya.


"Aku akan memperjuangkanmu lagi, Anita." gumam Rendi.


Lalu dia melajukan mobilnya dengan kencang, menuju motel di mana dia menginap selama seminggu ini. Dia akan mempergunakan waktu seminggu itu untuk mendekati Anita lagi


_


Dan memang seperti niatnya semula, Rendi mendekati Anita lagi dengan mengingat kenangan manis mereka berdua semasa pacaran dan pertama kali menikah. Anita malah malas membahas itu, dia hanya diam ketika Rendi bercerita waktu kuliah dulu.


"Anita, kamu masih ingat tidak ketika kita liburan di pantai. Aku berikan cincin pertunangan sama kamu. Apa cincinnya masih kamu simpan?" tanya Rendi memulai pendekatan lagi dengan Rendi.


"Sudah aku jual sejak di rumah itu." kata Anita datar.


Rendi diam, dia menatap Anita yang masih acuh padanya.


"Kalau aku beli lagi buat kamu bagaimana?" Rendi menawarkan diri.


"Buat apa?" tanya Anita memicingka matanya.

__ADS_1


"Aku mau kasih hadiah buat kamu aja." jawab Rendi dengan antusias.


"Tidak usah." jawab Anita ketus.


"Anita."


"Apa?"


"Kamu kok sekarang ketus sama aku sih?" tanya Rendi yang ternyata dia juga kesal karena sikap Anita padanya berbeda dengan Arga.


"Lalu mau kamu aku harus bagaimana?"


"Emm, bagaimana kalau kita jalan-jalan berempat. Sepertinya seru."


"Aku tidak bisa, aku sibuk dengan tokoku."tolak Anita lagi.


"Ya kamu libur sehari aja. Masa demi anak-anak ngga mau jalan-jalan bersama."


Anita menghela nafas panjang, dia benar-benar kesal pada Rendi. Namun dia juga memikirkan anak-anaknya juga.


"Iya ma, aku mau jalan-jalan sama papa." kata Chiko.


"Ya udah Iko aja yang ikut sama papa jalan-jalan."


"Tapi sama mama juga." Chiko merengek.


Seperti mendapat angin segar oleh anaknya, Rendi tersenyum senang. Anita menatap Rendi, ada raut wajah senang di sana,. Tapi Anita malah muak dengan tingkah Rendi yang memanfaatkan anaknya.


"Adek, mama capek sayang. Kan tadi habis dari pasar bawa barang banyak banget. Kalau adek Iko mau jalan-jalan sama papa aja juga kak Chila,ya?" ucap Anita.


"Kan Iko mau sama mama juga." rengek Chiko.


"Adek ngga kasihan sama mama?" kini Anita tegas pada anak laki-lakinya itu.


Dia yakin Rendi memanfaatkan Chiko untuk terus membujuk dirinya ikut.


Makin kesini Anita makin kesal dan sebal sama Rendi. Bukan begitu caranya untuk mendekati dirinya. Malah memanfaatkan anaknya.


"Dek, udah nanti aja. Mamanya lagi capek, nanti lain kali kalau mama ngga capek kita ajak ya." ucap Rendi.


Anita mendengus kesal. Lalu dia masuk ke dalam kamarnya, berbaring sejenak untuk menenagkan pikirannya yang sejak kemarin kacau gara-gara Rendi. Dia harus bicara sama Rendi,maunya apa laki-laki itu.


Dulu dia sangat jarang mengajak anak-anak bermain, apa lagi sama Anita. Kalaupun dia ingin jalan-jalan atau bermain sama anak-anaknya kenapa juga harus dia ikut serta.


Di tariknya nafasnya pelan, dia berpikir memang apa salahnya jalan-jalan berempat dengan mantan suaminya demi anak-anak.


Baiklah, dia akan menyetujui jalan-jalan bersama demi kebahagiaan anak-anaknya. Ah ya, demi Chiko yang merengek untuk meminta jalan-jalan berempat. Toh Rendi juga di kampung ini hanya seminggu saja, setelah seminggu dia akan kembali.


_


Seperti sekarang Anita menyetujui untuk jalan-jalan bersama. Toko Anita kembali tutup, dia mempersiapkan bekal untuk di tempat liburan. Dia pikir akan ke tempat liburan wisata.

__ADS_1


"Kamu menyiapkan apa?" tanya Rendi pada Anita.


"Aku siapkan bekal untuk mereka." jawab Anita.


"Tidak usah, kita jalan-jalannya ke mall aja di pinggir kota. Nanti kalian sepuasnya membeli apa yang kalian suka." kata Rendi.


Anita menghentikan kegiatan memasukkan snack dan bekal makan di kotak makannya. Lalu dia kembalikan lagi di tempatnya semula.


"Ya sudah, anak-anak sudah siap. Nanti aku bersiap dulu." kata Anita.


"Ya, aku tunggu di mobil."


Rendi keluar dari rumah menuju mobilnya di mana Chiko dan Chila sudah masuk duluan. Chiko terlihat senang sekali, sedangkan Chila hanya diam saja. Dia memang suka jalan-jalan dengan kedua orang tuanya, namun entah mengapa bayangan masa lalu janji Rendi yang selali di ingkari ketika di kota dulu membuat Chila berubah jadi acuh pada Rendi.


"Kakak kenapa diam saja?" tanya Rendi pada Chila yang sejak tadi hanya diam.


"Ngga apa-apa pa." jawab Chila.


"Kakak ngga suka jalan-jalan ke mall?" tanya Rendi lagi.


Chila menggeleng,dia agak malas menjawab pertanyaan papanya itu.


Tak lama kemudian, Anita keluar dari rumah dan mengunci pintunya. Kali ini Anita berpenampilan berbeda ketika Rendi bertemu dengannya lagi. Ada sedikit polesan make up di wajahnya. Dan ternyata itu membuat Rendi terpaku melihat Anita yang berbeda dari sejak pertama melahirkan.


Memang badan Anita sekarang lebih kurus di banding sehabis melahirkan dulu. Jika saja Rendi mau bersabar dan mau membantu Anita mengurus anak-anaknya dulu, Anita akan cantik seperti sekarang ini. Tapi Rendi ternyata sedang di mabuk cinta oleh sang direktur yang mudah sekali untuk menjaga berat badan agar tetap langsing karena uang ada untuk perawatannya.


Dulu Rendi memberikan uang untuk perawatan saja tidak pernah, malah dia berpaling dari Anita. Dan sekarang setelah Anita terlihat kurus dan langsing, Rendi malah tertarik lagi.


Anita masuk ke dalam mobil Rendi,dia duduk di depan menemani Rendi. Rendi malah terlihat senang, senyumnya mengembang.


"Ayo pa jalan mobilnya." kata Chiko di bangku belakang.


"Iya."


Rendi menginjak gas mobilnya dan menjalankan kontaknya, sekali lagi dia menata Anita sambil tersemyun.


"Kenapa lihat aku seperti itu?" tanya Anita.


"Kamu cantik." jawab Rendi, senyumnya masih mengembang.


Anita tersenyum miring, malah dia ingin tertawa. Dia bahkan tidak bermake up tebal, tapi di bilang cantik. Ada-ada saja modusnya untuk mendekati Anita.


Mobil Rendi melaju dengan pelan, dia menikmati liburan kali ini dengan bahagia. Di hatinya masih ada harapan Anita akan kembali lagi padanya.


_


_


_


❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2