
Marisa menempati kontrakan di dekat pasar, sengaja dia memilih kontrakan dekat dengan keramaian karena nantk tidak susah mencari barang kebutuhan yang dia cari.
Menempati kontrakan kecil yang bayarannya sebulan cukup empat ratus. Dia berpikir mungkin hanya sebentar mengontrak tempat itu. Karena tujuannya ingin bertemu dengan anaknya yang dulu dia tinggalkan sejak masih bayi.
Modal dia hanya poto masa bayi anaknya saja, dia tahu sekarang mungkin bayi itu sudah tiga tahun lebih, dan tidak akan mengenalinya.
Yang dia tahu, mantan suaminya itu kembali tinggal di kampung bersama ibunya. Setelah perceraiannya tiga bulan waktu itu.
Ada yang bilang, penyesalan memang datang terlambat, jika penyesalan datang di awal itu pendaftaran namanya. Memang sangat lucu istilahnya, namun itu benar adanya. Penyesalan datanngnya di akhir.
Tapi bukan berarti terlambat untuk memulai lagi dari awal. Ah, tidak. Apakah mungkin mulai dari awal? Yang sejak pertama masalah itu datangnya dari dia.
Tidak semua perselingkuhan di maafkan, tapi tidak menutup kemungkinan kata maaf itu ada untuknya.
Marisa kini sedang mencari sesuatu barang di pasar, dia membeli beberapa bahan mentah untuk stok di rumahnya. Seperti beras, sabun dan mie instan.
"Bang, tiga kilo beras ya." kata Marisa.
"Iya, bu. Ada lagi?"
"Mie instan lima buah, sama sabun dan odol serta sikat gigi juga bang." kata Marisa lagi.
"Baik bu."
Marisa menunggu di layani pelayan toko grosir itu. Dia duduk di kursi yang tersedia sambil membuka ponselnya. Mencari tahu tentang gosip artis tanah air.
Tidak sengaja tangannya tersenggol oleh perempuan yang lewat di depannya. Dia kesal dan mengomel keras agar perempuan itu tahu telah menyenggolnya.
"Hati-hati dong mbak, kalau jalan." ucap Marisa melihat ke arah perempuan itu.
Perempuan itu menoleh ke arah Marisa sejenak dan mengucapkan maaf padanya.
"Maaf mbak, saya sedang buru-buru." kata perempuan itu.
Marisa tertegun, dia seakan kenal suara itu. Lalu dia menarik pinggang perempuan itu untuk menghadap padanya.
"Mbak Anita?" kata Marisa kaget.
Tentu saja Anita pun ikut kaget. Kenapa Marisa ada di pasar ini.
"Lho, mbak Marisa ada di pasar ini juga?" tanya Anita heran.
"Iya, membeli keperluan barang di rumah." jawab Marisa.
Dia senang bertemu dengan Anita lagi. Anita pun tersenyum.
"Oh, jadi mantan suami mbak Marisa tinggal di kampung ini juga?" tanya Anita langsung pada intinya.
"Hehehe, iya mbak. Saya ngontrak di dekat pasar ini. Biar semua barang yang aku butuhkan cepat dapat. Mbak Anita sendiri sedang apa? Apa tinggal di kampung ini juga?" tanya Marisa.
"Iya, tapi jauh dari pasar. Saya sedang belanja untuk stok toko saya." jawab Anita.
"Oh, nanti kapan-kapan saya mampir ke rumah mbak Anita. Biar lebih akrab juga."
"Boleh, saya tunggu ya."
"Minta nomor ponselnya mbak Anita." kata Marisa.
"Ya boleh."
__ADS_1
Lalu Anita mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, dia kemudian menyebutkan nomor ponselnya pada Marisa. Setelah selesai, Marisa menelepon balik setelah nomor ponsel Anita tersimpan.
"Nah, itu nomor saya mbak. Nanti kita bisa berkirim pesan atau menelepon." kata Marisa lagi.
"Ya, saya tunggu."
Lalu Marisa mengambil belanjaannya yang sudah di layani, dia kemudian membayar uang belanja sesuai dengan nota.
"Mari duluan mbak Anita, saya pulang dulu." ucap Marisa.
"Ya mbak Marisa, saya masih ada lagi yang belum."
Lalu Marisa keluar dari toko tersebut. Hatinya senang bisa bertemu dengan Anita lagi. Dia jadi punya teman di kampung ini.
_
Sudah tiga hari Marisa tinggal di kampung itu, dia masih belum berani pergi ke rumah mantan suaminya.
Masih ada keraguan di hatinya apakah mantan suaminya itu akan menerimanya bertemu atau menolaknya. Ya, dia takut mantan suaminya itu menolaknya.
"Mas, apa kamu akan terkejut dengan kedatanganku?" gumam Marisa.
Merasa bosan dengan kesendiriannya dan tidak melakukan apa-apa di rumah kontrakannya, Marisa menghubungi Anita dan meminta alamat rumahnya. Dia ingin datang berkunjung ke rumah Anita.
"Halo mbak Anita, sedang sibuk ya?" tanya Marisa.
"Sibuk banget sih ngga, hanya jaga toko aja. Kenapa memangnya? Tumben menghubungi." kata Anita di seberang sana.
"Saya bosan di dalam rumah terus dan ngga ada kerjaan. Apa boleh saya ke rumah mbak Anita?" tanya Marisa.
"Boleh, silakan saja." jawab Anita.
"Ya, saya kirim alamatnya."
Kemudian sambungan telepon terputus, Marisa menunggu pesan singkat Anita mengirim alamat rumahnya.
Ting.
Pesan singkat masuk di ponsel Marisa. Dia membukanya cepat dan melihat isi pesan itu. Dia tersenyum, lalu dia siap-siap untuk pergi ke rumah Anita.
_
Marisa menaiki angkot menuju rumah Anita, dia tidak sabar untuk bertemu dengan teman barunya itu. Sama-sama janda dan punya kisah yang hampir mirip. Tapi Marisa pikir Anita hidupnya lebih baik dari pada dirinya, dia begitu rapuh ketika mantan selingkuhannya pergi dan di tambah rasa penyesalan yang dalam pada mantan suaminya.
Naik angkot itu harus sabar, menunggu penumpang banyak dulu baru angkot berangkat ke tempat tujuan penumpang. Setengah jam Marisa menunggu di angkot, dia agak kesal meilhat supir begitu santai menunggu penumpang banyak. Padahal penumpang sudah ada tujuh orang, segitu sudah lumayan untuk berangkat. Tapi rupanya supir masih menunggu penumpang lagi.
"Bang, bisa berangkat tidak angkotnya? Penumpang sudah banyak ini." kata Marisa merasa kesal.
"Tunggu tiga lagi bu, tanggung." jawab supir angkot itu santai.
Penumpang lain melihat ke arah Marisa yang gelisah karena supir angkot belum juga berangkat.
"Mbak buru-buru ya?" tanya penumpang di sebelahnya.
"Ya ngga buru-buru banget sih. Tapi kan penumpang sudah banyak, kenapa tidak berangkat juga." jawab Marisa.
"Memang mbak, kalau angkot begitu. Nunggu penumpang penuh. Naik angkot ngga bisa buru-buru, santai aja bisanya. Kalau mau buru-buru naik ojek aja, mbak." kata pemumpang di sebelahnya lagi
Benar juga, kenapa ngga naik ojek aja. Lalu tanpa membuang waktu, Marisa turun dari angkot dan mencari tukang ojek.Dia tidak peduli supir angkot memanggilnya.
__ADS_1
"Bang, ke alamat ini ya." kata Marisa.
"Iya bu." jawab tukang ojek itu.
Lalu Marisa naik di belakang tukang ojek dengan posisi duduk seperti laki-laki. Dia tidak sabar bertemu dengan Anita teman barunya itu.
Lima belas menit naik ojek, akhirnya Marisa sampai di depan rumah yang ada toko sembakonya. Tidak besar tokonya, tapi pembelinya lumayan banyak dan silih berganti datangnya.
Marisa.melihat Antia sedang melayani pembeli, dia lalu masuk ke halaman rumah itu setelah dia membayar ongkos ojek. Marisa menunggu di depan toko sambil melihat-lihat etalase toko Anita.
Anita belum menyadari keberadaan Marisa di depan tokonya. Dia masih sibuk dengan pelanggannya yang banyak membeli keperluan dapur.
Sekilas Anita melihat ada orang asing yang duduk di kursi di mana Eros sering duduk jika membeli rokok dan mengobrol dengannya. Dia memperhatikan perempuan yang kebetulan memghadap ke jalan.
Tapi kemudian dia berpikir mungkin Marisa. Dia lalu menyelesaikan melayani pembeli, dan segera keluar dari tokonya.
"Mbak Marisa?" sapa Anita.
Marisa menoleh dan tersenyum pada Anita.
"Ya, mbak Anita."
Lalu Anita membawa Marisa ke teras rumah, dia mempersilakan Marisa duduk di kursi di teras. Kemudian dia masuk untuk mengambil minuman dan cemilan.
Tak lama Anita membawa nampan berisi minuman dan stoples cemilan.
"Ayo mbak, di minum dulu." kata Anita.
"Terima kasih mbak Anita."
Marisa mengambil cangkir berisi teh hangat, dia letakkan lagi setelah menyeruput tehnya.
"Mbak Marisa naik apa ke sini?" tanya Anita.
"Tadinya mau naik angkot, tapi karena lama ya ganti naik ojek saja biar cepat." jawab Marisa.
Lalu obrolan demi obrolan terus bergulir dari keduanya. Meskipun kadang terganggu dengan pembeli yang datang, tapi Marisa senang mengobrol dengan Anita. Dia kini bisa bercerita banyak tentang masalahnya, seperti ceritanya di pantai dulu.
Tidak terasa hari sudah sore, Marisa merasa pertemuan dan obrolan mereka sangat singkat.
"Kok sudah sore aja ya, ngga terasa kita ngobrol lama banget." kata Marisa.
"Iya, keenakan ngobrol kita." jawab Anita tertawa kecil.
"Iya mbak, saya pulang dulu ya mbak. Lain kali saya datang berkunjung lagi." kata Marisa.
Lalu Marisa berpamitan pada Anita, dia senang berteman dengan Anita. Setelah Marisa naik ojek, Anita pun masuk ke dalam rumahnya. Jam lima dia harus menutup tokonya.
_
\=> Notes : othor kasih bocoran ya mengenai Marisa, memang Marisa ini mantan Arga. Tapi othor sudah setting Anita berjodoh dengan Arga. Jadi terus pantau lika liku percintaan Anita dan Arga ya, jangan bosan baca yaa..😉😊❤❤❤
_
_
_
❤❤❤❤❤
__ADS_1