IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
122. Bertemu Pak Sugara


__ADS_3

Anita bersiap untuk pergi ke rumah ibu Rima, karena tadi malam ibu Rima menelepon jika ayahnya pak Sugara sudah pulang.


Selama lima hari Anita menunggu kabar dari ibu Rima, akhirnya dia bisa menemui ayahnya.


"Kamu akan ke sana sayang?" tanya Arga ketika Anita sedang memasangkan dasi padanya.


Seperti biasa, Arga selalu bermanja-manja jika waktunya memasangkan dasi pada istrinya.


"Iya, kamu mau ikut?" tanya Anita.


Dia tahu Arga sedang sibuk, namun hanya penawaran saja barangkali suaminya bisa mengantarnya menemui ayahnya.


"Cup. Aku pengen menemui ayahmu, namun di kantor banyak sekali pekerjaan. Kasus kemarin belum juga selesai, klien selalu di persulit oleh mantan suaminya. Cup." ucap Arga, dia kembali mengecup bibir istrinya yang terasa menggoda pagi ini.


Dia mengeratkan pelukannya dan memainkan rambut istrinya yang tergerai, membuat Anita risih karena Arga sangat dekat dan dia lama sekai memyelesaikan memasang dasinya.


"Udah dong cium-ciumnya, nanti ngga selesai-selesai." ucap Anita menyingkirkan wajah Arga dengan pelan.


"Kamu kok makin cantik sih sayang, aku jadi enggan kerja nih, cup." kini leher Anita yang Arga cium.


"Ish, udah dong. Aku malas jadinya kalau masang dasi, di ganggu terus begini." ucap Anita lagi dengan kesal.


"Hehe, kamu wangi banget sayang." kata Arga sambil tertawa.


Dia menatap lembut wajah istrinya, ingin dia bermain pagi ini dengan istrinya. Tapi nyatanya tidak bisa karena harus ke kantor dan tidak boleh terlambat.


Anita pun selesai merapikan dasi Arga, dia menatap suaminya. Tangannya dia kalungkan di leher Arga dan tersenyum padanya. Membuat Arga jadi heran, namun dia suka Anita yang menggodanya.


"Kamu menggodaku sayang,emm?" tanya Arga, dia menatap lekat istrinya itu.


Senyum Anita mengembang, dia mencium sekilas bibir suaminya dan cepat sekali dia melepas pelukannya agar Arga tidak menyerangnya.


Arga melongo, namun dia membiarkan istrinya turun menemui anak-anaknya.


Setelah selesai memakai sepatu, Arga juga turun ke bawah. Dengan langkah cepat dia turun ke bawah menemui anak-anak dan istrinya yang sudah menunggunya.


"Seperti biasa ya, berangkatnya sama bibi. Mama ada perlu sama bude di kampung." ucap Anita pada anak-anaknya.


"Iya ma."


"Aku pergi dulu ya sayang, cup." kata Arga mengecup kening istrinya.


"Iya, hati-hati."


"Jangan lupa nanti kabari aku ya kalau sudah bertemu ayah." kata Arga berjalan beriringan menuju mobilnya.


"Iya, semoga ayah mau bertemu denganku. Doakan aku ya Ga." kata Anita.


"Tentu sayang, apapun aku selalu mendoakanmu dan mendukungmu selama itu baik untuk kamu." kata Arga.


Kini Arga sudah di belakang kemudinya, dia melambaikan tangannya setelah mobil berjalan pelan keluar dari gerbang rumpahnya.


Anita membalas lambaian tangan suaminya dan masuk ke dalam rumahnya. Dia akan membangunkan Kevin terlebih dahulu. Karena memang sengaja Kevin tidak dia bangunkan.


_


Dalam perjalanan menuju rumah ibu Rima, Anita sangat gugup. Dia akan bersikap bagaimana jika bertemu dengan ayahnya nanti. Pertemuan pertama setelah berpisah, apa yang akan dia lakukan.


"Ma, kita mau kemana?" tanya Kevin dalam pangkuan Anita.

__ADS_1


"Kita mau ke rumah bude Rima lagi sayang." jawab Anita.


"Yang kemarin adek jalan kaki ya ma?" tanya Kevin lagi.


Anita tersenyum, dia memeluk anaknya itu.


"Ya nanti kita naik ojek aja ke rumah bude Rimanya." ucap Anita.


Satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga di depan gang. Anita dan Kevin turun dari mobil taksi dan membayar sesuai tarif dalam argo.


Dia kemudian menunggu ojel lewat, sembari menunggu Anita membeli minuman air mineral agar anaknya tidak kehausan.


"Minum dulu sayang, adek hauskan?" tanya Anita.


"Iya ma."


Kevin mengambil botol air mineral dari tangan Anita dan meneguknya dengan cepat.


"Ini mah, minumnya. Adek udah selesai."


"Iya sayang, nanti bisa minum lagi kalau haus lagi."


Sepuluh menit Anita menunggu ojek motor lewat, dan akhirnya lewat ojek yang di tunggu.


"Ojek bang."


"Siap bu, kemana?"


"Ke rumah ibu Rima, tahu kan?" tanya Anita.


"Oh, yang ada pohon petainya ya?"


"Oke, bu."


Anita naik ojek dengan Kevin di tengah antara tukang ojek dan Anita. Tukang ojek langsung melajukan motornya, sebenarnya jika menaiki motor tidak lama. Namun jika jalan kaki terasa sekali lelahnya.


Sepuluh menit akhirnya sampai di rumah ibu Rima, Anita turun dan juga menurunkan anaknya. Dia membayar ongkos ojek sesuai yang di sebutkan.


"Berapa bang?"


"Lima belas ribu, bu."


Lalu Anita menyodorkan uang lima belas ribu. Dia kemudian membuka pintu pagar bambu dan langsung masuk ke dalam. Dia berdiri di depan pintu dan mengetuk daun pintu.


Tok tok tok


Pintu di ketuk Anita, dia tidak sabar untuk bertemu dengan ibu Rima agar bisa mengantarkannya menemui ayahnya.


Tak lama pintu terbuka dan tampak ibu Rima memakai celemek, rupanya dia sedang memasak.


"Masuk Anita, bude sedang memasak banyak untuk makan kamu dan ayahmu nanti. " kata ibu Rima.


"Iya bude." kata Anita.


Dia masuk dalam rumah menggandeng anaknya Kevin, kemudian duduk di sofa kecil. Dia memperhatikan foto bertiga antara ibunya, ibu Rika dan sekarang istri ayahnya. Ibu Rika.


Rasa bahagia akan bertemu dengan ayahnya kembali membuncah di hatinya. Kevin sendiri bermian robot-robotan yang sengaja Anita bawa untuk menenangkan anaknya dan tidak bosan menunggu ayahnya datang.


Ibu Rima keluar dari dapur menemui Anita dengan membawa nampan berisi es teh manis untuk Anita dan anaknya. Dia ingat anak Anita sangat suka sekali es teh manis.

__ADS_1


"Ayo, Kevin ini bude buatkan es teh manis. Mau ngga?" tanya ibu Rima.


"Mau bude, Kevin suka es teh manis." ucap Kevin dengan girang.


Ibu Rima meletakkan dua es teh manis di meja, Kevin langsung mengambil satu dan langsung meminumnya sampai sisa setengahnya.


Anita tersenyum dengan tingkah anak bungsunya, dia juga mengambil es teh manis tersebut dan meminumnya seteguk.


"Ayahmu katanya hanya sebentar menemuimu, dia ada terapi sorenya." kata ibu Rima pada Anita.


"Iya ngga apa-apa bude, yang terpenting aku bisa ketemu dulu. Nanti aku akan bawa suamiku untuk menemui beliau." kata Anita.


Ibu Rima tersenyum, dia juga merasa senang melihat Anita sangat antusias akan bertemu dengan ayahnya.


Satu jam ibu Rima dan Anita mengobrol untuk menunggu pak Sugara dan ibu Rika datang.


Dan akhirnya orang yang di tunggu pun datang juga, sebuah becak berhenti di depan rumah ibu Rima. Anita melongok, dia menduga itu adalah ayahnya.


Anita pun berdiri dan melangkah keluar. Di sana pak Sugara dengan di bantu ibu Rika berjalan dengan tongkat. Anita berdiri mematung, dia menatap pak Sugara dengan terkatup. Matanya menatap lekat pada pak Sugara.


Pak Sugara pun sama, dia terdiam sejenak membalas tatapan anaknya. Anita masih belum beranjak mendekat pada ayahnya, baru pak Sugara melangkah satu kaki ke depan. Anita langsung berjalan cepat agar ayahnya tidak mendekatinya, namun dia sendiri yang mendekat pada ayahnya.


"Aayaah." ucap Anita sambil meregangkan tangannya dan siap memeluk ayahnya.


Pak Sugara kaget, dia sejak tadi khawatir anaknya itu akan menolaknya dan membencinya. Ternyata dugaannya salah, Anita malah mendekat padanya dan memeluknya erat.


"Hik hio hik."


Anita menangis di pelukan ayahnya. Sedangkan pak Sugara masih terpaku dan terkejut dengan pelukan anaknya. Dan tak lama pak Sugara pun membalas pelukan anaknya.


Dia juga ikut menangis tersedu. Tidak menyangka akan sambutan Anita dan rasa haru yang dia rasakan karena baru kali ini dia bisa bertemu lagi dengan anaknya setelah sekian lamanya.


"Hik hik hik, maafkan ayah nak. Ayah terlalu pengecut untuk datang padamu. Hik hik hik." ucap pak Sugara dengan tangisnya.


"Tidak ayah. Ayah tidak bersalah, mungkin kejadian itu sudah terlalu lama. Aku hanya ingin bertemu dengan ayah, hik hik hik."


Keduanya masih berpelukan, semua rasa rindu pada anak dan ayah tersebut di curahkan dengan masih saling memeluk. Tak ada dendam atau marah pada diri Anita, yang ada rada rindu yang mendalam pada ayahnya.


"Anita, ayah minta maaf. Saat kematian ibumu tidak bisa mendekat padamu. Ayah ingin sekali bertemu denganmu, namun ayah sudah berjanji pada ibumu untuk tidal mendekatimu sebelum kamu mencari ayah. Ketika ayah dengar kabar dari budemu, kamu ingin bertemu. Ayah sangat senang, tapi ayah tetap masih takut kamu akan marah dan membenci ayah, Anita. Hik hik hik." ucap pak Sugara dengan membelai rambut Anita dengan sayang.


Semua melihat hal mengharukan tersebut jadi ikut menangis. Ibu Rima terisak, juga ibu Rika. Kedua sahabat itu kini lega, pak Sugara telah menemukan anaknya. Bahkan Anita sendiri yang mencarinya.


"Ayo masuk ke dalam rumah, tidak enak di lihat tetangga. Ngobrolnya di teruskan di dalam." kata ibu Rima yang melihat beberapa tetangga memandang kejadian di depan rumahnya.


Anita dan pak Sugara masuk, Anita memapah ayahnya dan berjalan pelan. Ibu Rika berjalan di belakang kedua anak dan ayah, dia juga sama halnya dengan ibu Rima. Menangis terharu melihat pandangan mengharu biru tersebut.


Ibu Rima sendiri terharu, dia melihat Anita begitu lapang menerima ayahnya yang telah meninggalkannya selama bertahun-tahun tanpa ada rasa benci sedikitpun.


Ibu Yuni memang benar, Anita adalah wanita yang pemaaf dan juga sabar. Dia juga tidak mempunyai rasa dendam pada ayahnya.


Kini kedua anak dan ayah itu masih saling diam, mereka belum tahu apa yang harus di bicarakan.


_


_


_


❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2