IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
40.Rendi Meminta


__ADS_3

Mereka akhirnya bersenang-senang jalan-jalan di mall. Anita sendiri senang melihat anaknya gembira bisa jalan-jalan di mall. Sesuatu yang jarang dia lakukan karena dia sibuk dengan tokonya.


"Pa, Iko senang main di sini." kata Chiko yang bermain permainan timezon.


"Iya, nanti papa akan sering ajak Iko main ke sini." kata Rendi.


"Ngga usah mas, Chiko itu nanti harus sekolah.Jadi jangan sering bermain di tempat seperti ini." kata Anita.


"Kenapa? Kamu sendiri jarang kan membawa mereka ke sini. Apa salahnya aku bawa ke sini." ucap Rendi tidak suka Anita melarangnya.


Anita diam, dia tidak mau berdebat dengan Rendi. Lagi pula tidak baik berdebat di depan anak-anaknya, tidak bagus nanti untuk perkembangan psikisnya.


Anita kemudian menjauh dari Rendi, dia menjawab telepon ketika tadi dia megobrol dengan Rendi. Rendi melihat Anita mejauh jadi heran, kenapa dia menjauh setelah mendapat telepon. Siapa yang menelepon Anita?


Pikiran Rendi gelisah. Dia baru saja senang dengan Anita yang mau ikut jalan-jalan dengannya dan kedua anaknya itu.


Rendi masih memperhatikan Anita yang senang dengan telepon tersebut. Tak lama kemudian, Anita mendekat pada Chila yang sedang main bola itu.


"Kak, senang ya main kesini?" tanya Anita memegang pundak anaknya itu.


"Ya ma." jawab Chila, namun dia fokus dengan permainannya.


"Lain kali papa akan ajak lagi ke sini. Mau ngga kak?" tanya Rendi.


"Ngga pa, Chila suka main sama teman-teman." jawab Chila dengan polosnya.


"Lho, kenapa. Kan main di sini juga bagus. Nantinkalau capek kita bisa makan di restoran."


"Kakak suka main di pantai, kaya om Arga waktunitu ngajak liburan ke pantai." jawab Chila polos.


Rendi terpaku, dia menatap Anita dengan tajam. Kenapa anak perempuannya lebih suka dengan orang lain di banding dengan dirinya.


Anita yang mendapat tatapan dari Rendi hanya diam saja.


"Kapan liburan ke pantainya?"


"Waktu itu. Kita semua menginap dan ikut semua di villa om Arga." jawab Chila lagi.


Rendi semakin panas, dia masih ingin menanyakan pada anaknya itu. Namun Anita mengajak nhobrol Chika dengan permainannya itu. Rendi mendengus kesal.


Lama mereka bermain di timezone, dan rasa lapar mengundang. Rendi mengajak mereka makan di restoran cepat saji. Memesan apa yang di inginkan anaknya.


Hingga sore hari, akhirnya mereka pulang ke rumah juga. Rasa lelah Chila dan Chiko tidak terasa karena Rendi membelikan apa yang mereka suka.


"Terima kasih mas Rendi telah mengajak anak-anak jalan-jalan." kata Anita.


"Apa kamu senang?" tanya Rendi.


"Kalau anak-anak senang aku juga senang." jawab Anita.


"Anita, aku ingin bicara sama kamu." kata Rendi lagi.


"Ya , aku juga ingin bicara denganmu mas. Tapi sekarang aku lelah. Besok saja kita bicara." kata Anita.


Rendi tersenyum senang, dia lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia lambaikan tangan pada Anita sebelum mobilnya melaju meninggalkan Anita yang masih berdiri di depan pintu pagar.


_


Hari berikutnya Anita sudah mulai sibuk lagi dengan dagangan di tokonya. Dia tidak memikirkan apa yang akan di bicarakan oleh Rendi. Dan hari ini ternyata Rendi tidak datang ke rumah Anita. Anita pun lega, setidaknya dia tidak di repotkan oleh Rendi hari ini.


"Ma, kok papa ngga kesini sih?" tanya Chiko pada Anita.


"Mungkin papa sedang ada urusan sayang." jawab Anita.


"Urusan apa ma?" tanya Chiko lagi.


"Mama tidak tahu sayang." jawab Anita kembali.


Konsentrasinya hilang ketika sedang menghitung angka-angka di kalkulatornya. Dia menghitunv kembali tapi Chiko bertanya lagi.


"Ma, apa papa akan kesini terus ya ma?"


"Mama ngga tahu sayang." jawab Anita masih sabar, dia hentikan menghitungnya.

__ADS_1


"Mama di tanya ngga tahu aja sih." ucap Chiko kesal pada Anita.


Anita menghela nafas panjang, bagaimana dia mau menjelaskan pada anaknya itu. Tapi dia pilih diam saja, meneruskan menghitung di kalkuratornya. Tapi Chiko masih bertanya lagi.


"Kenapa papa ngga tinggal di rumah kita aja sih ma." keluh Chiko.


Anita tidak menggubris pertanyaan anaknya itu, dia terus saja menghitung. Chiko merebut kalkulator Anita yang sedang di pakai. Anita kaget, dia lalu membentak anaknya itu.


"Iko, apa-apaan kamu!" bentak Anita pada anaknya itu.


"Mama sibuk aja sama kalkulator, Iko ngga suka!"


"Iko! Jangan ganggu mama, kembalikan kalkulator mama." habis kesabaran Anita, dia merebut kalkulator dari tangan anaknya itu.


Sejak tadi dia pecah konsentrasinya karena Chiko mengganggunya terus, lalu sekarang kalkulatornya di rebut membuat Anita marah pada anaknya itu.


"Mama nakal, Iko mau sama papa aja!" teriak Chiko.


"Sana kamu sama papa kamu yang tidak tahu diri itu!" kalimat kasar Anita keluar karena marah.


Chiko menangis, Chila datang menghampiri Chiko adiknya yang sedang menangis tersedu itu. Melihat Anita yang marah pada adiknya.


Lalu Chila menuntun adiknya untuk duduk di kursi tamu, menenangkan Chiko layaknya kakak memberikan ketenangan pada adiknya.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Chila.


"Mama jahat, mama ngga suka papa." jawab Chiko di sela tangisannya.


"Emang mama kenapa?"


" Masa Iko tanya papa ngga tahu aja jawabnya kak."


"Papa ngga datang kesini?"


"Iya, mama bilang papa lagi ada urusan."


"Terus kenapa Iko bilang mama tidak suka papa?"


Anita mendengar percakapan kedua kakak beradik itu. Rasa kesalnya hilang berganti menyesal di hatinya. Dia letakkan kalkulatornya di meja, dari pada kegiatan menghitungnya jadi buyar, dia lebih baik menghampiri kedua anaknya yang sedang mengobrol itu.


Anita duduk di samping Chiko yang melengos padanya. Dia masih marah pada Anita.


"Iko, maafkan mama sayang. Lain kali kalau mama sedang kerja jangan ganggu dulu." kata Anita menasehati anaknya itu.


"Iko kan tanya papa aja ma."


" Ya kan mama sudah jawab, tapi Iko tanya-tanya papa terus."


"Iko kan tanya kenapa papa tidak tinggal di sini aja."


"Ngga boleh sama eyang putrinya." kali ini Chila yang menjawab.


"Kenapa ngga boleh? Kan itu papa Iko sama kak Chila."


"Iko, papa sama mama sudah ngga boleh hidup bersama lagi. Papa sudah ada mama baru, jadi mama tidak boleh hidup dan tinggal sama papa lagi. Mengerti ngga?"


"Jadi papa punya mama baru lagi? Ngga mau sama mama?"


"Iya."


Pembicaraan mereka putus ketika ada ketukan pintu dari luar. Semua melihat siapa yang datang.


"Papa!" teriak Chiko.


Anita malah menghela nafas pelan. Baiklah kita lihat bagaiman dia akan terus menempel pada papanya,pikir Anita.


Rendi masuk ke dalam, dia duduk di kursi. Sedangkan Anita masuk lagi ke dalam toko meneruskan menghitung yang sempat tertunda oleh gangguan Chiko. Chila sendiri masih duduk di samping Chiko yang sedang bicara dengan papanya.


"Papa mau bicara sama mama dulu ya." kata Rendi.


"Mama lagi marah pa." kata Chiko.


"Lho, marah kenapa?"

__ADS_1


"Mama ngga suka papa kesini."


Oh ya ampun, Chiko bicaranya seperti ingin di marahi Anita. Anita kesal dengan anaknya itu. Sejak kapan Chiko mengadu yang tidak benar pada Rendi. Anita terus mengumpat anaknya dalam hati. Pikirannya buyar lagi, dan lagi-lagi gara-gara Chiko.


Dia lalu menutup bukunya lalu menghampiri kedua anaknya.


" Chila bawa adek keluar main ya." kata Anita menyuruh anak sulungnya.


Seakan mengerti, Chila mengajak Chiko untuk main bersama Dodo lagi. Awalnya tidak mau,setelah di paksa Chiko akhirnya menurut juga.


Anita duduk di mana tadi Chila duduk. Dia menghadap Rendi yang kelihatannya memang ingin bicara serius dengan Anita. Anita diam, dia menunggu Rendi bicara.


"Anita, maafkan aku." kata Rendi memulai pembicaraannya.


"Ya, aku sudah memaafkan mas Rendi." kata Anita datar saja.


"Dua hari lagi aku pulang ke kota. Aku ingin kamu ikut denganku." ucap Rendi terputus.


Anita melebarkan matanya, namun dia masih diam menunggu kelanjutan ucapan Rendi


"Aku ingin kamu kembali lagi sama aku, hidup berempat dengan anak-anak kita." Rendi menatap Anita, dia melihat Anita diam tanpa ekspersi.


"Anita, aku menyadari kesalahanku selama ini. Maukah kamu kembali lagi denganku?"


"Mas Rendi." diam sejenak, menatap Rendi yang berharap padanya.


"Aku ingin bertanya, apa istrimu tahu kamu kesini selama seminggu ini? Karena aku yakin kamu sudah punya istri direktur itu." kata Anita.


"Aku sudah bercerai dengannya." jawab Rendi, dia menunduk.


"Kenapa bercerai, bukankah dia sangat cantik dan lebih langsing di bandingkan aku?"


"Dia menghianatiku."


"Oh, maaf kalau begitu. Tapi bagaimana rasanya di hianati mas?"


Rendi diam, dia tidak menjawab. Tentu saja Anita tahu bagaimana sakitnya hati di hianati oleh pasangannya.


"Makanya aku minta maaf sama kamu, Anita."


"Aku sudah bilang sama kamu, aku memaafkan kamu mas."


"Jadi, kamu mau kembali padaku?"


"Jangan percaya diri sekali mas. Aku belum bisa memikirkan harus kembali lagi sama kamu." kata Anita sinis.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan agar kamu kembali lagi sama aku?" tanya Rendi.


"Tidak ada yang perlu kamu lakukan."


"Apa kamu menyukai teman SMAmu? Kulihat kamu sangat senang jika dia ada denganmu."


"Bertemu teman lama memang menyenangkan, apa lagi dia sahabat lama yang selalu ada ketika kita butuh waktu itu. Wajar saja kalau aku senang bertemu dengannya." kata Anita.


"Tidak kulihat, di matamu berbeda ketika kamu berbicara dengannya."


"Sudahlah mas Rendi, jangan membahas di luar topik pembicaraan."


"Tolong kamu pikirkan lagi, ini juga demi anak-anak Anita."


Anita diam lagi, jika urusannya dengan anak-anak maka dia tidak bisa berbicara apapun. Namun hatinya juga tidak mau kecewa dua kali oleh Rendi.


Anita dan Rendi saling diam, dari pintu muncul ibu Yuni yang sudah lima hari menginap di rumah saudaranya. Ibu Yuni menatap tidak suka pada Rendi, dia langsung masuk ke dalam. Tidak menyapa Rendi atau Anita terlebih dahulu.


Rendi tahu mantan mertuanya itu marah padanya. Namun demikian, dia akan terus mencoba meminta Anita kembali padanya. Setidaknya akan dia gunakan Chiko sebagai alasannya.


_


_


_


❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2