
Arga dan Anita menuju rumah saki Permata Kasih di mana Rendi di rawat. Sepanjang jalan Anita diam tidak banyak bicara. Dia merasa khawatir akan keadaan Rendi.
Arga yang tahu Anita hanya diam, sesekali melirik ke arah Anita. Dia melihat raut wajah Anita yang cemas dan sedih.
Hati Arga miris, dia seperti tidak ada di pikiran Anita. Namun sekali lagi, dia berpikir positif, itu karena rasa kasihan pada Rendi yang tergolek tidak berdaya. Dia juga berpikir merasa kasihan dengan keadaan Rendi, apa lagi Anita nanti melihatnya.
"Kamu jangan khawatir, setidaknya Rendi masih di rawat di sana. Tidak langsung meninggal di tempat kecelakaan. Banyak yang meninggal langsung di tempat kejadian, tapi Rendi kuat. Mungkin dia ingin melihatmu dan anak-anak terlebih dahulu, sebelum..." ucapan Arga terhenti karena lirikan Anita padanya.
"Jangan bicara yang belum jadi ketentuan Tuhan, mungkin saja keajaiban dari Tuhan datang." ucap Anita, dia tidak suka Arga bicara seperti itu.
"Maaf."
Arga kembali diam, dia salah bicara pada Anita yang sedang kalut hatinya. Ada rasa cemburu di hati Arga, namun dia mencoba mengerti.
Anita menunduk, dia juga menyesal telah mengatakan itu pada Arga, namun demikian Anita tetap diam. Rasa cemas di hatinya tak juga hilang.
Sampai akhirnya, mobil Arga terparkir di halaman rumah sakit Permata Kasih yang luas.
Anita segera turun dan bergegas menuju gedung rumah sakit. Di ikuti Arga dari belakang, Anita terus berjalan cepat. Namun Arga menarik tangan Anita menuju ruang ICU di mana Rendi di rawat.
Setelah izin pada petugas dan perawat, Anita di izinkan masuk ke dalam ruang ICU melihat keadaan Rendi.
Begitu masuk ke dalam ruang ICU, Anita tertegun. Dia berhenti sejenak. Lalu mendekat pelan, memperhatikan keadaan Rendi yang terpasang berbagai macam alat medis untuk mempertahankan nafas dan detak jantung du tubuhnya.
Anita semakin mendekat semakin terisak, dia merasa kasihan dengan keadaan Rendi. Dia berdiri tepat di sisi lengan Rendi, menatapnya sedih.
"Mas Rendi, kenapa kamu seperti ini?" gumam Anita.
Air matanya kembali mengalir, dia memegang lengan Rendi. Dingin.
Lalu tangannya memegang telapak tangan Rendi dan meremasnya. Isakan tangis tidak berhenti. Hatinya sedih, entahlah. Rasa benci dan kesal dapa Rendi menguap begitu saja melihat Rendi terbujur kaku dengan bantuan alat medis.
"Maaf mas, aku salah." ucap Anita lagi.
Lalu dokter masuk ke ruang ICU itu, menghampiri Anita yang masih menangisi Rendi.
"Ibu, bisa bicara sebentar dengan ibu?" tanya dokter.
Anita melihat dokter tersebut, lalu mengangguk
"Mari ikut saya." kata dokter.
Anita mengikuti dokter keluar dari ruang ICU. Di sana Arga menatap Anita dan dokter.
"Aku mau ke ruang dokter dulu, Ga." kata Anita seolah tahu kebingungan Arga.
Arga mengangguk, dia kembali duduk setelah dokter dan Anita menuju ruang dokter yang menangani Rendi.
Dia menunggu dengan sabar, menyenderkan kepalanya di senderan kursi. Memejamkan matanya, rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Perlahan Arga tertidur di kursi itu sambil bersandar.
Sedangkan di ruangan dokter, Anita duduk dengan cemas menunggu apa yang di katakan dokter tentang Rendi.
Dokter mengambil gambar dari tumpukan berkas di mejanya. Di sana dia memperlihatkan pada Anita hasil CT scan keseluruhan tubuh Rendi.
Anita tidak mengerti itu apa, dan dokter menjelaskan bagian-bagian yang kemungkinan parah dan tidak bisa sembuh.
__ADS_1
"Begini ibu..."
"Anita dokter."
"Ah ya, maaf apakah anda keluarga dari pak Rendi?" tanya dokter.
"Saya mantan istrinya dokter. Rendi itu papanya anak-anak." kata Anita menjelaskan statusnya dengan Rendi.
"Oh ya, apakah hanya anda keluarganya?"
"Iya dokter, Rendi tidak punya keluarga lagi selain saya dan anak-anak." jawab Anita.
Dokter masih penasaran pada Anita kenapa bisa bercerai. Namun dia bukan ibu-ibu kompleks yang suka bergosip dan ingin tahu kenapa mereka sampai berpisah.
"Sebelumnya kecelakaan itu membuat kita bingung untuk menangani pasien. Karena tidak bisa menghubungi keluarganya. Waktu itu kami memutuskan jika dalam seminggu tidak ada keluarganya yang bertanggung jawab, maka kami bertindak membiarkan pasien seperti itu karena keadaannya memang sangat parah. Dan kemarin ada yang menjenguknya serta mau bertanggung jawab dengan pasien. Makanya saya meneruskan perawatan medis secara intensif pada pasien." sampai di sini dokter berhenti.
"Lalu bagaimana keadaan pasien dokter?" tanya Anita tidak sabar.
"Pasien mengalami koma, di beberapa bagian tubuhnya banyak sekali luka dan susah di sembuhkan. Jika ada keajaiban dari Tuhan bisa sembuh perlahan dengan bantuan orang terdekat. Saat ini pasien hanya menunggu waktu, tapi balik lagi pada takdir Tuhan." kata dokter itu.
"Apa jika saya menungguinya bisa sadar dok?"
"Bisa, beri dia semangat untuk sembuh dan bangun dari komanya. Terutama mungkin anak-anak dari pasien." kata dokter lagi.
"Kalau begitu, biar saya menungguinya dan merawatnya di sini dokter. Saya juga tidak mau anak-anak saya jadi tidak punya papanya. Saya harap bisa membantu Rendi sembuh dokter."
"Ya, silakan saja. Mungkin dengan di dampingi orang dekat pasien bisa bangun dan semangat untuk sembuh."
Anita diam, meski dia berat. Tapi dia akan membantu Rendi untuk bangun dari koma. Dia akan membawa anak-anaknya kemari menjenguk papanya. Mungkin keajaiban Tuhan menunggu Rendi.
Satu jam Arga belum bangun, Anita lelah. Dia hendak bangun dari duduknya tapi di cegah tangannya oleh Arga.
Anita menoleh, dia kembali duduk. Menatap Arga yang masih menetralkan matanya yang masih terpejam.
"Ga, kamu masih mengantuk?" tanya Anita melihat Arga belum terbuka matanya.
"Tidak, hanya mataku masih belum mau membukanya." jawab Arga.
Anita tersenyum, lalu dia diam tidak pergi dari samping Arga. Dan tak berapa lama, mata Arga terbuka. Dia menatap Anita masih memandanginya. Arga tersenyum. Dia menegakkan duduknya kembali selaras dengan Anita.
"Maaf ya, aku ketiduran." kata Arga.
"Kamu kan capek, Ga."
"Apa kata dokter?" tanya Arga.
Anita diam, dia ragu mengatakan pada Arga, di tatapnya Arga lagi dengan intens. Lalu menunduk lagi.
"Ada apa?" tanya Arga.
Dia tahu Anita ragu mengatakan apa yang di katakan oleh dokter.
"Apa dokter meminta untuk merawat Rendi?" tanya Arga.
Anita masih diam, dia tidak enak dengan Arga.
__ADS_1
"Anita, katakan saja apa kata dokter."
Anita menghela nafas panjang, lalu dia mengatakan apa yang di katakan dokter. Dan sesuai dugaannya, Anita pasti akan merawat Rendi di rumah sakit. Dia kecewa, namun bukan saatnya dia cemburu.
"Kamu boleh merawat Rendi di rumah sakit. Jika memang ada keajaiban dari Tuhan Rendi bangun dari komanya. Lakukan saja, besok aku bawa Chila dan Chiko kemari." kata Arga, dia tahu Anita bingung.
Maka dari itu, dia yang harus mengalah. Kemudian Arga merangkul Anita ke dalam pelukannya. Rasa sedih dan pilu dia juga merasakannya juga. Anita menangis, dia sangat beruntung dengan Arga. Bisa dengan tulus merelakan dirinya merawat mantan suaminya yang sekarang sedang sekarat.
"Terima kasih. Kamu baik sekali, Ga." kata Anita.
"Aku lakukan demi kamu, jika kamu mau melakukan itu. Lakukanlah, Anita. Jangan pikirkan aku. Rendi tidak punya siapa-siapa untuk mengurusnya." kata Arga lagi.
Anita semakin terisak, diam mengeratkan pelukannya pada Arga. Dia tahu siapa yang tulus mencintainya dan menyayanginya kini.
_
Dan kini setiap hari Anita membantu Rendi mengela kadang mengajaknya bicara. Semua kebencian Anita pada Rendi menguap sudah.
Dan seperti kata Arga, kedua anaknya berkunjung ke rumah sakit menjenguk papanya. Awalnya Arga bingung harus berkata apa pada kedua bocah itu. Tapi dia bisa mengatakan kalau papanya sedang beristirahat di rumah sakit.
Tapi kedua bocah itu pasti tahu, jika papanya ada di rumah sakit pasti sedang sakit. Seperti waktu Chiko di rawat di rumah sakit.
"Om, papa sakit apa?" tanya Chiko ketika mereka menuju ruang ICU.
"Papa Rendi sakit kepalanya, makanya di rawat di rumah sakit." jawab Arga sekenanya.
Dia menuntun kedua bocah itu menuju ruang ICU. Setelah sampai, dia menyuruh keduanya duduk sebentar di bangku.
"Kalian tunggu di sini dulu ya, om mau panggil mama dulu." kata Arga.
"Iya om." jawab keduanya serempak.
Arga masuk ke dalam ruangan itu, dia melihat Anita sedang mengelap wajah Rendi yang kusam karena wajah lebamnya. Arga terhenti, melihat Anita dengan telaten mengelap wajah Rendi.
Anita menengok ke arah Arga yang sejak tadi melihatnya.
"Kamu sudah datang,Ga? Anak-anak di mana?" tanya Anita menghampiri Arga.
Arga menarik tangan Anita, dia bicara berbisik.
"Mereka ada di luar. Kamu harus siap menjawab pertanyaa mereka nanti jika mereka bertanya tentang Rendi, setidaknya katakan yang bisa di mengerti oleh mereka." kata Arga.
Anita mengangguk, dia lalu keluar menemui kedua anaknya. Sedangkan Arga menuju bangsal, mendekati Rendi.
"Ren, aku ikhlaskan Anita merawatmu sampai kamu terbangun. Aku harap kamu segera bangun, karena anak-anakmu juga butuh papanya." kata Arga.
Hatinya sesak, dia seperti seorang yang merelakan kekasihnya pergi kembali pada mantannya. Dan apakah itu akan terjadi juga padanya?
_
_
_
❤❤❤❤❤
__ADS_1