
Arga melajukan mobilnya dengan cepat, dia selalu melirik ke arah mertuanya yang masih terpejam. Dia merasa trauma dengan mamanya dulu, tidak mengetahui meninggalnya ibu Ema.
"Sayang, ibu bagaimana. Apakah nafasnya masih ada?" tanya Arga dengan cemas.
Anita sendiri khawatir, tapi entah kenapa dia lebih tenang menghadapinya dari pada suaminya.
"Masih, Ga. Tenang aja, aju juga takut ibu kenapa-kenapa. Kamu yang tenang ya, takutnya kamu jalannya ngga fokus jadi tambah masalah nantinya." kata Anita.
Anita masih memeluk ibunya, dia memijat pergelangan tangannya juga kaki bagian tumit sekenanya. Firasatnya juga sepertinya ibunya akan pergi meninggalkannya, namun dia juga tetap takut dan gelisah.
Berbeda dengan tadi dia menemukan ibunya terkapar di kamar mandi, dia sekarang sepertinya lebih ikhlas jika ibunya tiada. Namun begitu Anita lebih banyak berdoa semoga ibunya bisa sadar dari pingsannya.
Satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah sakit. Arga cepat-cepat turun dari mobil dan membopong ibu Yuni menuju ruang UGD.
"Dokter, tolong ibu saya. Dia jatuh di kamar mandi dan pingsan." ucap Arga setelah sampai di UGD dan di terima oleh dokter penjaganya.
Dokter jaga itu pun langsung menangani ibu Yuni, dia membaringkan tubuh ibu Yuni dan memeriksa denyut nadi serta memeriksa detak jantung dengan stetoskop.
Setelah itu dia mempersiapkan alat medis untuk di pasang di bagian tubuh ibu Yuni. Arga dan Anita memperhatikan ibunya di tangani oleh dokter. Rasa khawatir dari kedua suami istri itu kentara sekali perbedaannya.
Jika Anita lebih pada pengalaman ketika mertuanya dulu jatuh dari kamar mandi dan akhirnya meninggal. Itu membuat Anita semakin sesak dadanya mengingat itu, namun dia juga pasrah.
Bukan karena menyerah dengan keadaan, tapi hanya sebagai persiapan hatinya. Dan siapa yang tidak sedih melihat orang tuanya sakit dan pingsan karena jatuh di kamar mandi.
Setelah selesai di periksa dan di pasang alat medis. Kini ibu Yuni di ambil sample darahnya dan di periksa ke laboratorium untuk mengetahui penyakit apa yang di alami oleh ibu Yuni.
Kini Arga memeluk istrinya, dia merasa sedikit lega karena mertuanya sudah di tangani oleh dokter.
Dokter juga menyuruh Arga untuk melengkapi administrasi di bagian pendaftaran.
"Bapak ke bagian administrasi ya, mendaftarkan pasien dulu. Biar istri bapak yang menjaga ibunya." ucap dokter tersebut.
Arga pun menurut, dia meminta izin pada istrinya.
"Sayang, aku ke bagian administrasi dulu ya." kata Arga.
"Iya, biar aku jaga ibu di sini." ucap Anita.
Arga lalu pergi ke bagian administrasi untuk mengurus semua pendaftaran ibu Yuni.
_
Selama tiga hari ibu Yuni belum sadar, Anita selalu menemani ibunya setiap hari. Dia akan pulang sebentar menemui anak-anak lalu pergi lagi ke rumah sakit.
Dan sore ini dia pulang ke rumah, menemui anak-anak dan mengambil beberapa baju untuk salin ibu Yuni.
"Ma, mau ke rumah sakit lagi?" tanya Chila.
"Iya sayang, mama harus menemani eyang putri di rumah sakit." kata Anita.
"Kevin sering nangis cari mama kalau malam sebelum tidur. Papa Arga kadang kewalahan menidurkan adek ma." ucap Chila.
Anita diam, dia juga tidak tega meninggalkan anak kecil itu di rumah dengan waktu lama. Biasanya dia selalu di bawa kemana pun Anita pergi. Anita menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Lalu adek Kevin di mana?" tanya Anita.
"Sama bibi di depan, ma." jawab Chila.
Lalu Anita keluar rumah, menghampiri pembantunya yang sedang menemani Kevin. Kevin melihat Anita dan berlari ke arahnya.
"Mama!" teriak Kevin.
Anita menangkap Kevin yang berlari dan memeluknya, tiba-tiba anak kecil itu menangis tersedu.
"Mama kok ngga ada di lumah terus, hik hik hik. Kevin ngga ada temannya ma." ucap Kevin sambil menangis dan memeluk Anita erat.
"Sayang, jangan nangis dong. Kan mama temani eyang di rumah sakit. Adek juga ada kakak Chila, kakak Celine, abang Iko juga abang Angga. Banyak kan temannya?"
"Tapi kalau sama mama enak, tidurnya." ucap Kevin yang sekarang cedalnya sudah tidak ada lagi.
"Ya, kan ada papa yang temani Kevin tidur. Kakak Chila juga temani Kevin tidur." ucap Anita lagi.
"Ngga mau, ma. Kevin maunya sama mama." rengek Kevin.
Anita menghela nafas panjang, dia lalu menggendong anaknya dan duduk di kursi. Kemudian dia memeluk anaknya itu, mungkin rasa kangen karena tidak pernah bertemu jadi merajuk. Dia juga merasa kangen dengan anak bungsunya itu, namun mau bagaimana lagi. Dia harus menjaga ibunya di rumah sakit.
Anita mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya.
"Halo sayang, ada apa?" tanya Arga di seberang sana.
"Kevin ngambek, ngga mau di tinggal sama aku Ga. Bagaimana kalau malam ini kamu aja yang menginap menemani ibu?" tanya Anita.
"Terima kasih ya, Ga."
"Kok bilang terima kasih sih, kan ibu juga ibuku juga sayang. Sudah, kamu jaga Kevin aja. Besok bawa salinan baju aku aja ya kalau ke rumah sakit."
" Iya, Ga. Besok aku bawa baju kamu. Ya udah, aku tutup dulu ya."
"Iya."
Anita memasukkan kembali ponselnya di tasnya, dia membawa Kevin masuk. Hari sudah sore, kini Anita menyuruh anak-anaknya segera mandi dan dia menyiapkan makan malam untuk anak-anaknya.
_
Malam ini Arga menemani ibu Yuni di rumah sakit, dia duduk di sebelah bangsal di mana ibu Yuni terbaring. Dia menatap sedih mertuanya itu, berharap ibu mertuanya itu membuka matanya dan mengatakan apa pun padanya.
Saat Arga sedang teekantuk, tangannya di pegang oleh tangan dingin ibu Yuni. Arga kaget, dia melihat wajah ibu Yuni. Masih terpejam, namun tangannya memegang tangan Arga.
"Bu, ibu sudah sadar?" tanya Arga penasaran.
Perlahan mata ibu Yuni terbuka, dia menatap menantunya itu dan tersenyum kecil lalu mengangguk pelan.
"Syukurlah ibu sadar, aku dan Anita sangat khawatir dengan keadaan ibu." ucap Arga.
"An ni ta ma na?" tanya ibu Yuni terbata.
"Anita di rumah bu, Kevin minta di temani mamanya di rumah. Sekarang aku yang menjaga ibu." ucap Arga pelan, dia memegang tangan ibu Yuni.
__ADS_1
"Ar gaa, ibu cu ma maa u pes saan saa maa kamu." berhenti sejenak, nafas ibu Yuni tiba-tiba tersengal.
"Ibu jangan banyak bicara dulu ya, ibu minum dulu aja." ucap Arga menawarkan.
Ibu Yuni menggeleng, rasanya dia sedang di tunggu seseorang yang tersenyum padanya dan mengulurkan tangannya. Namun dia meminta menunggu sejenak untuk berpesan pada menantunya.
"Ar gaa aah huuh." panggil ibu Yuni.
"Iya bu, ada apa?" kata Arga pelan.
"Jaga Anita baik-baik juga anak-anakmu, ibu yakin kamu laki-laki yang baik. Haaa.." menarik nafas panjang.
"Ibuu!"
"Aku tidak bisa menjaga Anita selamanya, haaah." kembali ibu Yuni menarik nafas panjang.
"Aku panggil dokter bu."
"Tidak usah, ibu cuma pesan itu. Jaga dan sayangi istrimu, ibu akan pergi dengan tenang. Haaa aah...." hembusan terakhir ibu Yuni membuat Arga terdiam sejenak.
Lalu dia berlari keluar untuk memanggil suster dan dokter jaga di malam hari itu.
"Dokteer! Ibu Saya dokter, tolong ibu saya!" teriak Arga ketika dokter sedang mengontrol setiap ruangan.
"Ada apa pak?" tanya dokter ikut panik
"Ibu saya dokter, tolong. Dia tadi bangun dan entah kenapa jadi diam lagi. Tolong ibu saya dokter, hik hik." ucap Arga kalut.
Dokter itu pun menuju ruangan di mana ibu Yuni di rawat. Arga segera menghampiri ibu mertuanya itu, dokter memeriksa denyut nadi dan detak jantungnya. Setelah selesai, dia lalu bicara pada Arga.
"Ibu anda masih ada denyut nadi dan detak jantungnya meski lemah. Apakah bapak anaknya?" tanya dokter.
"Saya menantunya, istri saya ada di rumah dokter."
"Ya sudah, besok pagi istri anda di hubungi. Mungkin dengan hadirnya anaknya itu mertua anda lebih bersemangat bangun lagi." kata dokter tersebut
Dia mengira, pasien hanya menunggu anaknya saja. Lalu selanjutnya entah seperti apa, pengalamannya memeriksa pasien dengan keadaan anfal, tidak lama lagi nafasnya berhenti. Namun dia sebagai dokter harus memberikan sesuatu yang positif pada keluarga pasien, agar tidak panik dan bersiap menghadapi kenyataan nantinya
"Baik dokter, besok istri saya kemari." jawab Arga.
Dokter lalu keluar dari ruangan ibu Yuni, yidak ada yang bisa dokter itu lakukan. Pasien ternyata lebih memilih seperti itu.
Arga masih menatap ibu Yuni yang terbaring dengan tenang, memang dia melihat ada sedikit tarikan nafas di dada mertuanyab. Namun sangant samar, dia pun sedikit tenang dan duduk kembali di samping bangsal ibubYuni.
Rasa kantuk menyerang, kini dia tertidur kepalanya dia jatuhkan di samping tangan kanan mertuanya.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1