
Becak yang di tumpangi Anita masih membuntuti mobil sedan hitam yang di duga milik suaminya.Walaupun becak lebih lambat jalannya,namun Anita masih setia dan selalu meminta abang becak untuk lebih cepat.
Namun sayang,pas di lampu merah mobil itu langsung melaju dan becak yang di tumpangi Anita berhenti karena lampu merah menyala dan becak harus berhenti mengikuti lampu lalu lintas.
"Bu,sebenarnya becak tidak boleh lewat jalan utama.Harus lewat jalan alternatif atau jalan yang dua arah.Tapi saya beranikan diri untuk ibu,takutnya mobil itu adalah orang dekat ibu."ucap abang becak.
"Oh maaf bang,saya hanya penasaran dengan pengemudinya.Ya sudah,ayo kita pulang saja."ucap Anita.
"Ini putar balik lho bu,dua kali lipat bayarnya di tambah dengan pengejaran tadi."
"Iya bang,saya tambahin.Tapi antar saya sampai depan rumah."
"Oke bu,siap."
Lalu becak berbalik arah dan melaju di jalan seharusnya.Sedangkan Anita masih kepikiran dengan mobil sedan hitam tadi.
Siapa ya perempuan di sebelahnya?Karena dia yakin mobil itu punya suaminya.Dia juga ingat,semalam percakapan suaminya di telepon.Mungkinkah percakapan itu ada hubungannya dengan mobil sedan tadi yang ada perempuan cantik di sebelahnya?
Anita semakin bingung,jika dia bertanya langsung,pasti suaminya akan marah lagi,jika diam saja pikirannya akan terus bayangan perempuan tadi.Huh,Anita membuang nafas kasar.Seharusnya dia percaya dengan suaminya,tidak curiga seperti sekarang.Jika pun memang itu suaminya dan perempuan itu adalah klien atau rekan kerja,lalu kenapa?
Tak berapa lama,becak berhenti di depan rumah kompleks Anita.Anita masih melamun tentang tadi di jalan,hingga abang becak memanggilnya Anita tidak mendengarnya.
"Bu,udah sampai."ucap abang becak yang ke tiga kalinya sambil menepuk pundak Anita.
"Oh,udah sampai ya.Maaf bang,saya tidak tahu."kata Anita.
"Ibunya melamun saja,jadi di panggil tiga kali tidak menyahut."
"Iya bang,maaf.Saya banyak pikiran."ucap Anita lagi.
Dia kini menurunkan belanjaannya di depan pintu gerbang,lalu membayar ongkos becak yang dua kali lipat di tambah dengan pengejaran mobil tadi.
"Segini cukupkan bang?"tanya Anita menyerahkan uang lembaran warna biru.
"Iya bu,cukup."
Lalu Anita membawa jinjingan belanjaan dan masuk ke dalam rumahnya.
_
"Besok kita akan liburan ke puncak,siapkan semuanya perlengkapan untuk kita dan anak-anak."ucap Rendi setelah mereka makan malam.
Hari ini Rendi pulang cepat,dia memberitahu Anita untuk liburan ke puncak.
"Iya mas.Jam berapa kita berangkatnya?"tanya Anita.
"Jam satu siang,karena aku mau keluar dulu paginya dan kita langsung berangkat siangnya.Kamu siapkan semuanya,dan barang punyaku jangan terlalu banyak di bawanya."
"Iya mas."
"Noni juga di ajak buat bantu kamu di sana kalau kerepotan.Karena di sana aku juga bertemu klien,jadi kemungkinan aku ada rapat juga sekalian."ucap Rendi lagi.
Anita mengangguk,tetap saja liburan ujung-ujungnya kerja.Namun begitu bagi Anita tidak masalah,yang penting dia bisa liburan dengan Rendi dan anak-anak.
__ADS_1
Setelah makan malam,Rendi langsung masuk ke dalam ruang kerjanya lagi.Di sana dia lebih leluasa mengerjakan apapun dan melakukan apapun tanpa ada suara gangguan tangisan anak-anaknya.
Rendi semakin sibuk dengan pekerjaannya,ataukah sengaja menyibukkan diri agar bisa menjauh dari Anita.
Anita hanya menatap kepergian suaminya yang masuk ke dalam ruang kerjanya itu.Lalu menghela nafas panjang,serasa tidak pernah di anggap dirinya.
Hanya butuh dirinya ketika hajatnya datang,itu pun jarang sekali.Anita jarang bermesraan atau mendapat sikap romantis dari suaminya semenjak dia hamil sampai sekarang sudah melahirkan.
Kembali lagi ke bentuk tubuhnya,apakah karena tubuhnya yang semakin berisi?
Jika benar karena penampilannya,Anita tidak punya waktu untuk mengurus penampilannya.Hanya untuk buang air besar saja,anaknya sudah merengek dan menangis minta asi,atau ketika dia mandi anaknya pasti menangis bergantian.
Jadi,dia benar-benar belum punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri.Namun begitu,Anita berniat akan menjaga penampilannya nanti setelah anaknya sudah satu tahun.
_
Pukul sepuluh pagi,Anita sudah sangat sibuk dengan menyiapkan perbekalan buat nanti di puncak.Jika Noni tidak ikut,dia akan sangat kerepotan menyiapkannya dengan kedua anaknya yang sudah mulai bisa merangkak.
"Bu,apa kita nanti mau jalan-jalan di luar?"tanya Noni.
"Iya Noni,siapkan aja strollernya."ucap Anita.
"Iya bu."
lalu Noni mengambil stroller yang ada di kamar anak,untuk di siapkan supaya tidak ketinggalan.
Satu jam lebih Anita dan Noni menyiapkan perlengkapan yang akan di bawa.Mereka berdua dengan anak kembar Anita menunggu Rendi pulang.
Memang Rendi berjanji pulang pukul dua belas sebelum berangkat.Sekarang sudah pukul sebelas tiga puluh.Masih setengah jam Anita menunggu suaminya datang.
"Iya juga ya.Ya udah,aku akan siapkan makan buat si kembar.Kamu jaga dulu ya sebentar."kata Anita.
"Baik bu."
Lalu Anita masuk ke dalam rumah,dia menuju dapur untuk menyiapkan makanan bayi.Karena sekarang usia anaknya sudah memasuki delapan bulan,sedang aktif bergerak kesana kemari.
Setelah selesai membuat makanan,Anita menyuapi kedua buah hatinya.Mereka makan dengan lahap dan menghabiskan banyak sekali suapan.
Anita senang melihat pertumbuhan si kembar,dia bahagia anaknya sehat-sehat.Baginya kesehatan kedua anaknya sudah membuatnya bahagia.Senyumnya selalu mengembang melihat tingkah lucu buah hatinya.
Tak terasa waktu sudah memasuki pukul satu siang,Anita selalu melihat jam di pergelengan tangan.Sudah pukul satu lebih sepuluh menit,Rendi belum juga datang.Anita masih sabar menunggu,dia bermain-main dengan anaknya membuang rasa gelisahnya dan kecewanya.
"Bu,kita berangkatnya jam berapa ke puncaknya?"tanya Noni,karena dia juga sudah lelah menunggu.
"Nunggu bapak datang Non,kalau bapak datang kita langsung berangkat."jawab Anita menenangkan pembantunya itu.
Noni saja sudah tidak sabar,apa lagi dirinya yang sering sekali di buat kecewa oleh janji suaminya masih tetap sabar.
Waktu terus berjalan,dua jam dari jam satu Rendi belum pulang juga.Sampai Noni pun jadi gelisah,kalaupun jadi ke puncak kenapa sampai jam tiga masih belum datang juga.
"Bu,sebenarnya ibu saya itu sakit di rumah sendirian dengan adikku saja.Ini sudah hampir jam empat sore,kalau liburan ke puncaknya tidak jadi.Bolehkan saya pulang?"kata Noni.
Anita menghela nafas panjang,dia tidak bisa menahan Noni untuk tidak ikut liburan.Ibunya sakit,kalau dia memaksa ikut akan terbagi dua pikiran Noni.
__ADS_1
"Ya sudah,kamu boleh pulang Noni.Besok seperti biasa ya.Ibu juga sepertinya tidak jadi liburan ke puncak."ucap Anita.
"Lho bu,kenapa?"
"Ngga apa-apa,nanti repot di saja tidak bisa menikmati liburan."
"Kan ada bapak bu,gantian jaga si kembar.Maaf bu kalau acara liburannya gagal gara-gara saya."
"Tidak Noni,ibu juga capek harus menunggu terus Ya sudah,kamu boleh pulang cepat hari ini.Tapi tolong di bawa masuk dulu ya perlengakapannya ke dalam."titah Anita.
"Baik bu."
Lalu Anita membawa si kembar untuk di mandikan karena sudah waktunya mandi.Dia sudah tidak peduli dengan Rendi suaminya yang nanti datang memberi macam alasan.
Hatinya benar-benar kecewa.Jam dua siang tadi dia menghubungi suaminya,tapi tidak di angkat.Berkali-kali dia hubungi namun tetap tidak di angkat juga.Sakit sebenarnya,tapi dia tetap bersabar dan menerima perlakuan dan janji yang selalu tidak pernah tepat.
Setelah Noni pulang,Anita selesai memandikan Chila dan Chiko lalu dia memberikan snack buah mangga untuk cemilan mereka.
Setiap kali hatinya sedih dan kecewa pada suaminya,dia selalu menatap kedua bocah lucu itu.Dan dia selalu tenang,serta lupa akan kesedihannya.
Waktu beranjak pukul setengah enam,ketika suara deru mobil Rendi memasuki halaman rumah.Anita diam tak bergeming,tidak menyambut suaminya dan masih menyuapi buah mangga pada si kembar.
Rendi masuk ke dalam dan menenteng bungkusan seperti kue dan makanan cepat saji.
"Anita,ini aku bawa kue dan makanan kesukaan kamu."ucap Rendi menghampiri Anita.
"Letakkan saja di meja makan mas."ucap Anita tanpa mengalihkan pandangannya pada anaknya.
Rendi memandang Anita,dia tahu istrinya itu kecewa.Dia berjanji akan mengajak liburan ke puncak dengan istrinya itu siang tadi.Tapi malah dia pergi dan tidak pulang juga.
Rendi mendekat,dia memegang pundak Anita.
"Maafkan aku,tiba-tiba saja teman satu kantor meminta traktir atas naiknya jabatanku jadi wakil direktur.Besok bisa kok kita liburan ke puncak."ucap Rendi memberi alasan pada Anita.
Anita diam,dia tidak menanggapi ucapan suaminya,dia juga sudah tidak percaya dengan janji Rendi akan mengajaknya liburan besok.
"Anita,besok kita liburan ke puncak ya."ucap Rendi lagi.
"Tidak mas,aku sudah tidak pengen liburan lagi.Ibunya Noni juga sedang sakit,jadi dia tidak bisa ikut."ucap Anita.
"Ya sudah,mungkin minggu depan.Aku akan buat jadwal minggu depan untuk liburan kita."ucap Rendi lagi,berharap Anita percaya padanya.
Namun Anita diam saja,dia masih saja sibuk dengan kedua bayi kembarnya yang sedang makan buah.
"Mammama."ucap Chila menyodorkan tangannya.
"Iya,Chila udah habis makannya.Anak pinter,tinggal adek Chiko nih masih satu lagi."
Setelah ucapannya tidak di tanggapi Anita,Rendi masuk ke dalam kamar.Anita hanya memandang kepergian suaminya yang masuk ke kamar,lalu menghela nafas berat.Perih hatinya.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤