
Setiap hari kemesraan Arga dan Anita kembali terlihat. Mereka seperti perangko, lebih tepatnya Arga selalu menempel pada Anita. Sampai mereka sering kepergok oleh anak-anaknya sedang bermesraan.
Bahkan pernah Celine dan Chiko protes kenapa Anita sebentar sekali menemani mereka bermain atau belajar karena Arga selalu mengajaknya bicara atau menyuruhnya ke kamar.
"Ma, kenapa sih sekarang mama jarang main sama Iko?" tanya Chiko ketika semuanya ada di ruang keluarga.
Arga baru bergabung bersama mereka dan duduk di sebelah istrinya, memberikan jus mangga buatannya pada Anita.
Anita tersenyum pada suaminya dan meneguk jus mangga pemberian Arga.
Chiko cemberut dengan Anita, dia lalu pergi kembali bergabung dengan Celine dan Chila yang sedang bermain lego, menyusun lego di buat rumah.
"Sayang, Chiko kenapa cemberut?" tanya Arga, tangannya merangkul pundak istrinya itu.
"Dia protes kenapa aku jarang main sama mereka." jawab Anita yang kembali meneguk jus mangganya.
"Ya kan gantian mainnya, sama adik-adiknya. Kenapa protes?"
Arga rupanya tidak mengerti maksud protesnya Chiko, dia ikut meneguk jus di tangan Anita.
"Sebenarnya yang protes tuh bukan Chiko aja, tapi semua anakmu. Mereka protes karena kamu nempel terus sama aku, baru juga duduk sudah di ajak ke kamar aja sama kamu." ucap Anita.
"Tapi kamu mau dan suka aku panggil ke kamar, aku kan selalu pengen dekat sama kamu sayang. Cup." kata Arga beralasan.
Anita menghela nafas panjang, serasa punya bayi besar yang butuh perhatian lebih. Malah anak-anaknya yang banyak mengalah. Mereka hanya bisa bermain dengan Anita ketika pulang sekolah, itu pun Anita kadang sibuk juga dengan membereskan rumah setelah pulang dari mengantar anak-anak sekolah.
"Mereka kadang sering di awasi olehku, Ga. Sekarang kamu aja kan yang mengawasi mereka, atau kalau aku ada sama mereka. Kamu malah ingin dekat denganku terus."
"Ya kan mereka bisa dekat dengan kamu di pagi hari, mengantar ke sekolah juga pulang sekolah. Mereka banyak waktu denganmu, sedangkan aku hanya malam hari denganmu sayang, jadi kenapa harus protes. Kamu itu milikku kalau sudah malam hari, tidak boleh ada yang memilikmu selain aku tanpa terkecuali anak-anak." ucap Arga.
Anita melebarkan matanya mendengar ucapan Arga, lalu dia mencubit paha suaminya itu. Kenapa sekarang Arga jadi lebih posesif, bahkan tidak mau mengalah dengan anaknya.
"Apa sih kamu Ga, ya tidak bisa begitu. Mereka juga butuh perhatianku juga." kata Anita.
"Aku lebih butuh perhatian kamu sayang, cup." kata Arga.
"Tahu, ah. Kamu kok ngga bisa mengalah sama anak sendiri." kata Anita kesal.
Dia lalu bangkit dari duduknya, namun tangannya di tarik Arga dan Anita kembali duduk terjerembab.
"Arga, apa sih kok narik tangan aku." ucap Anita kesal.
__ADS_1
"Kamu di sini aja sama aku." kata Arga menarik pinggang Anita.
Anita menghela nafas panjang, dia menatap suaminya itu yang seperti meminta sesuatu. Dia lalu mengecup bibir Arga sekilas dan berkata dengan pelan.
"Suamiku, ayo kita temani anak-anak bermain. Aku ngga mau mereka protes lagi, oke?" ucap Anita dengan pelan.
Dia menarik tangan Arga, dengan malas Arga bangun dan mengikuti istrinya. Entah kenapa Arga lebih manja dari anak-anaknya. Membuat Anita bingung dan pusing dengan tingkah suaminya itu.
_
Dua hari menginap di rumah saudara di kampungnya dulu, ibu Yuni kini sudah pulang lagi. Dia melihat Anita sedang menyiram tanaman di depan.
Lalu ibu Yuni mendekat pada anaknya itu.
"Suamimu kemana?" tanya ibu Yuni.
Anita menoleh ke arah ibunya, dia tersenyum dan kembali menyiram bunga.
"Dia sedang berkeliling mengajak anak-anak bu. Memang ada apa mencari Arga, bu?" tanya Anita heran.
"Ngga apa-apa, hanya bertanya saja. Apa kamu baik-baik saja dengan suamimu?" tanya ibu Yuni.
Anita menoleh lagi ke arah ibunya dan mengerutkan dahinya, heran.
"Tidak apa-apa, hanya bertanya saja." jawab ibu Yuni.
Dan tak lama, mobil Arga memasuki halaman rumah. Ibu Yuni melihat menantunya tampak bahagia dengan mengajak anak-anaknya, dia senang melihat menantunya sangat sayang dengan anak-anaknya.
Apa lagi pada kedua anak Anita dengan Rendi, dia melihat Arga tidak membedakan apa pun. Namun dia khawatir nanti setelah dirinya tiada menantunya akan berubah pada anaknya, seperti halnya bulan lalu.
Ibu Yuni masuk ke dalam rumah, sedangkan Anita mendekat pada suaminya dan anak-anaknya berebut bercerita pada Anita.
"Aku masuk dulu ya sayang, pengen ke kamar mandi." kata Arga.
"Iya."
Lalu masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju kamar mandi umum di bawah. Ibu Yuni melihat menantunya itu masuk ke kamar mandi, rencananya dia akan bicara dengan menantunya itu.
Dan tak lama, Arga keluar dari kamar mandi. Dia menuju keluar rumah. Namun ibu Yuni memanggilnya.
"Arga, apa ibu bisa bicara sama kamu?" tanya ibu Yuni yang ada di ruang keluarga.
__ADS_1
Arga pun menghampiri mertuanya itu dan duduk di sampingnya.
"Ada apa bu?" tanya Arga dengan sopan.
Ibu Yuni menghela nafas panjang, dia memegang tangan menantunya itu lalu menatapnya. Sebenarnya Arga merasa aneh dengan mertuanya itu, tidak biasanya dia di panggil seserius itu.
"Arga, ibu mau tanya sama kamu." kata ibu Yuni berhenti sejenak.
Arga semakin heran dan penasaran, apa yang akan di tanyakan oleh mertuanya itu.
"Ibu mau tanya apa?" kembali Arga bertanya.
"Apakah kamu benar-benar mencintai Anita?" tanya ibu Yuni.
Arga diam, dia memandang ibu Yuni apa maksud dari pertanyaannya.
"Iya bu, aku sangat mencintai Anita." jawab Arga yakin.
"Kalau begitu, jangan lagi sakiti Anita. Dia sudah sangat menderita dengan rasa sakit yang pernah dia terima dari mantan suaminya dulu. Kamu jangan lagi menyakiti Anita, jika kamu sangat mencintai Anita. Mungkin sekarang kamu sudah berubah, lebih menyayangi Anita dan anak-anaknya. Tapi ibu tidak tahu ke depan apakah kamu juga tidak lagi menyakiti Anita, hanya takdir yang bicara nanti. Tapi Arga, seandainya itu terjadi lagi. Maka ibu tidak akan rela dan akan merasa terhianati dengan janjimu dan sumpahmu untuk selalu mencintai Anita selamanya. Jika seandainya kamu mengulang lagi kesalahan yang sama ibu tidak akan memaafkanmu sampai kapanpun. Sudah cukup bagi ibu merasakan kesedihan dan menderita Anita yang kemarin saja. Meskipun nanti ibu telah tiada, ibu tetap tidak akan memaafkan kamu jika kamu masih menyakiti anak ibu." sampai di sini ibu Yuni berhenti bicara.
Arga yang mendengar kalimat peringatan mertuanya padanya jadi merasa malu dan merasa bersalah. Kemudian Arga bersimpuh di hadapan mertuanya itu, memegang tangan ibu Yuni dan menangis tersedu.
"Maafkan aku bu, aku janji tidak akan menyakiti Anita lagi. Mungkin aku laki-laki egois yang pernah ibu lihat, tapi aku benar-benar mencintai Anita bu. Ibu mohon maafkan sikapku yang dulu telah mengabaikan Anita dan cucu-cucu ibu. Aku bersumpah, tidak akan menyakiti Anita lagi bu. Hik hik hik." ucap Arga sambil menangis.
Ibu Yuni diam, dia sedikit kesal sebenarnya dengan sikap Arga dulu. Namun jika dia tidak memperingatkan menantunya itu, dia takut ketika umurnya sudah tidak ada lagi Arga akan berubah seperti waktu besannya tiada.
"Ibu hanya minta sama kamu, jangan pernah menyakiti Anita lagi. Dia sudah cukup menderita sejak kecil, ketika ayahnya pergi entah kemana. Dia bahkan tidak lagi merasakan kasih sayang seorang ayah. Ibu tidak mau itu terjadi dengan cucu-cucu ibu. Dan sekarang, dia hanya punya dirimu. Ibu tidak tahu sampai kapan ibu melihat istrimu bahagia, yang ibu takut ketika ibu tidak ada dia kembali tersakiti olehmu. Dan saat itu juga sumpah ibu akan berlaku, Arga." ucap ibu Yuni.
Arga menangis sesunggukkan, dia menyesal telah menyakiti Anita dengan keegoisannya. Dia berjanji akan selalu membahagiakan Anita sampai maut memisahkannya.
Dan dari jauh, Anita mendengar percakapan suaminya dan ibunya. Dia juga ikut menangis di balik lemari yang menghalanginya dari ruang keluarga.
"Aku berjanji bu, akan membahagiakan Anita dan anak-anakku. Aku benar-benar mencintai Anita, aku akan sedih jika Anita juga sedih. Aku akan sakit jika Anita merasa sakit, ibu jangan khawatir. Cukup waktu itu aku menyakiti istriku, bu." ucap Arga masih bersimpuh di depan mertuanya itu.
"Ibu percaya saat ini, namun ibu juga berharap kamu selalu menepati janjimu pada Anita dan pada ibu juga." ucap ibu Yuni lagi.
perjanjian antara menantu dan mertua masih berlangsung, hingga Anita kembali bersedih. Dia juga sangat takut jika Arga menyakitinya lagi, meski dia baik-baik saja. Dia juga percaya dengan suaminya akan selalu menyayangi dan mencintainya sampai mereka menua bersama.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤