
Kehidupan Anita kini kembali seperti semula, dia lebih tenang dengan kesibukannya mengurus toko dan kedua anaknya. Hari-hari Anita semakin menyenangkan karena Arga sering datang membawa Celine.
Kedua ayah dan anak itu seperti sudah keluarga bagi Anita, meski belum menentukan kapan mereka menikah. Namun Anita masih belum bertanya kapan Arga melamarnya kembali untuk menikah.
Dia terlalu senang dengan keadaan seperti itu. Biarlah, jika memang Arga ingin cepat menikah dia juga akan mengatakan kapan mereka menikah.
Dan Anita tidak tahu jika Arga menyiapkan sesuatu yang besar untuknya. Arga berpikir, dia akan bicara tentang pernikahan dengan Anita jika sesuatu itu sudah rampung.
Dia kini sibuk sekali, dan hanya satu minggu sekali dia datang ke rumah Anita.
"Anita, akhir-akhir ini aku sibuk sekali. Tidak apa-apa kan jika aku datang hanya satu minggu sekali?" tanya Arga.
"Kamu kenapa, Ga. Masa kamu sibuk harus aku ganggu kamu, ya kerjakan saja pekerjaanmu dengan baik. Jangan jadi alasan karena kangen padaku, kamu menelantarkan pekerjaanmu." ucap Anita bijak.
Arga tersenyum, dia memegang kepala Anita dengan lembut. Lalu memiringkan kepalanya dan mencium pipi Anita. Anita memerah, dia malu di cium Arga.
"Terima kasih ya." ucap Arga.
Keduanya lalu bercakap-cakap tentang banyak topik, tapi lebih banyak bicara tentang anak-anak yang membuat kelucuan dengan tingkahnya. Arga senang, Anita kembali ceria.
Ah, seandainya kejutan itu cepat selesai. Aku akan segera menikahimu, Anita. Gumam Arga dalan hati.
"Oh ya, besok aku ke kota. Ada persidangan dengan korban KDRT dari suaminya. Mau kubawakan oleh-oleh apa nanti aku pulang?" tanya Arga.
"Ngga usah, Ga. Kamu kembali dengan selamat itu sudah cukup." kata Anita.
Arga tersenyum, dia lalu memegang tangan Anita dan menciumnya.
Memang beda pacaran dengan seorang janda beranak, tidak dengan gadis perawan. Kadang banyak maunya, apa lagi dia merasa di sayang dan banyak jadi rebutan laki-laki. Tapi memang tidak semuanya seperti Anita.
"Sudah malam, Ga. Kamu tidak lelah?" tanya Anita.
Dia tahu Arga sangat lelah karena dari ceritanya tadi dia terus bolak-balik proyek dan pekerjaannya. Arga menyebutnya proyek dengan kejutan untuk Anita.
"Ya sudah, aku pulang ya. Kamu tidur yang nyenyak." kata Arga.
"Ya."
Lalu Arga keluar dari rumah Anita, memang sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sudah waktunya Arga pulang.
"Daah."
Arga melambaikan tangannya setelah dia masuk ke dalam mobilnya. Anita membalas lambaian tangan Arga dan tersenyum padanya.
Mobil pun melaju, Anita masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Dia juga sangat lelah, ingin segera tidur. Besok pagi dia harus pergi ke pasar lagi.
__ADS_1
_
"Anita..."
Seseorang memanggil Anita, Anita menoleh pada laki-laki yang memanggilnya. Namun laki-laki itu malah berbalik, membelakangi Anita.
Anita tidak tahu siapa laki-laki itu. Dia pun melanjutkan perjalanan mengejar kedua anaknya yang berlari, lagi-lagi laki-laki itu kembali memanggil Anita.
"Anita, maaf."
Dua kata terucap dari mulut laki-laki tersebut, dan Anita kembali berbalik menghadap laki-laki berpakaian putih. Dan sekali lagi, laki-laki itu membelakangi Anita.
Anita kesal, dia pun berlari mengejar kedua anaknya yang sedang bermain di sebuah taman tidak peduli dengan laki-laki tadi masih memanggilnya. Namun dia tidak menemukan kedua anaknya, Anita mencari Chila dan Chiko berkeliling sekitar taman, matanya mengedarkan ke segala penjuru taman. Namun tetap tidak menemukannya.
"Kakak Chila, adek Iko ada di mana kalian?" teriak Anita .
Dia berdiri di tengah lapang taman hijau itu. Masih mengedarkan pandangannya di balik pohon besar, namun tidak juga menemukan mereka.
Anita mendengus pelan, dia duduk di bangku taman. Dan lagi-lagi ada yang memanggilnya dari arah samping kanan.
"Anita, tolong."
Anita cepat menoleh, di mana suara orang minta tolong itu?
Dan sampai pada ujung jalan buntu, Anita melihat laki-laki yang tadi memanggilnya sedang menatap matahari bersinar, sangat silau jika Anita yang menatap matahari itu.
Namun bagi laki-laki itu tetap menatapnya dengan tenang. Mendongakkan wajahnya tepat ke arah matahari bersinar itu.
Anita mendekat, dia akan memanggil laki-laki itu yang masih asyik dengan sinar mentari di wajahnya. Apakah dia sedang berjemur? pikir Anita.
Tapi berjemur tidak seperti itu. Anita tetap mendekat dia ingin menggapai pundak laki-laki itu, namun suara kedua anaknya memanggil namanya.
"Mamaa!" teriak Chila pada Anita.
Anita menoleh sebelum tangannya menggapai pundak laki-laki tersebut. Dia tersenyum dan berlari ke arah Chila dan Chiko yang menatap padanya.
Dengan berlari cepat, Anita menuju kedua anaknya. Dan lagi-lagi kedua bocah itu kembali berlari bersembunyi, seperti bermain petak umpet.
Anita kesal, dia berhenti berlari dan duduk di bangku taman. Nafasnya memburu karena lari kencang tadi. Mengatur nafasnya dan mengedarkan pandangannya lagi ke seluruh penjuru taman.
"Baiklah, mama kira kalian sedang bermain petak umpet ya. Mama akan menemukan kalian, bersiaplah kalian akan mama hukum setelah menemukan kalian" teriak Anita.
Anita menuju ke kiri, karena di sana ada sebuah gazebo dengan atap pendek. Dia mencari kedua anaknya di sana, barangkali mereka bersembunyi di gazebo itu.
Tapi sampai di sana, ternyata kedua anaknya tidak ada di gazebo. Anita kecewa, namun dia mencari lagi. Meskipun dia lelah, dia harus menemukan kedua anaknya karena sepertinya hari sudah petang.
__ADS_1
Anita mempercepat jalannya, dia berlari ke arah di mana tadi dia melihat laki-laki yang sedang beridiri berjemur dan wajahnya menghadap matahari.
Dia berjalan pelan, nafasnya naik turun karena tadi berlari. Dan sampai di sana, dia menemukan laki-laki tadi sedang bicara serius pada Chila dan Chiko.
Anita berhenti, siapa laki-laki itu? Seperti sedang memberikan petuah pada kedua anaknya. Lama Anita memperhatikan ketiganya.
Hingga rasa penasarannya mengusik hatinya. Dia melangkah pelan, menghampiri laki-laki yang hanya terlihat punggungnya saja dan kedua anaknya sedang menatap laki-laki itu, serta anggukan kecil dari keduanya.
Anita mengerutkan dahinya, apa yang di bicarakan oleh laki-laki itu?
Rasa penasarannya semakin memuncak, dia berjalan cepat. Namun semakin cepat jalannya, tapi dia merasa semakin lama dia mendekat pada ketiganya.
Anita kesal kenapa tidak juga sampai, kemudian dia mencoba berlari. Meski nafasnya tersengal dia terus berlari, dan masih menatap ketiganya.
Anita melihat wajah kedua anaknya menunduk dan pundaknya bergetar. Anita terus berlari, tapi kenapa tidak sampai juga. Padahal dia sudah sangat lama berlari.
"Kakak, adek kemarilah. Mama capek mengejar kalian." ucap Anita, dia berjongkok tapi kedua matanya masih menatap Chila dan Chiko.
Chila dan Chiko menangis di depan laki-laki itu, mereka memegang tangan kanan dan kirinya. Seperti tidak mau lepas, Anita heran. Siapa laki-laki itu?
Tak mempedulikan rasa lelah dan sakit kakinya, Anita mencoba mendekat. Ingin menarik kedua anaknya dan mendiamkannya agar tidak menangis.
"Chila, Chiko kemarilah nak. Kenapa kalian menangis?"
Chila dan Chiko menatap Anita, lama. Lalu dia bergantian menatap laki-laki itu. Dan tiba-tiba laki-laki itu pergi meninggalkan Chila dan Chiko.
Kedua anak kembar itu menangis meraung, mereka memegang kedua tangan laki-laki itu, tapi wajahnya tidak berbalik. Hanya tangannya saja yang terulur ke belakang karena di pegang oleh Chila dan Chiko yang sedang menangis keras sekali.
Anita berlari mendekat Chila dan Chiko, dia ingin menarik keduanya ke dalam pelukannya. Tangisan Chila dan Chiko sangat pilu, seperti tangisan kesedihan. Anita menatap keduanya seara bergantian, lalu menatap laki-laki yang berjalan ke depan. Kenjauhi Chila dan Chiko.
"Kakak, adek apa yang kalian tangisi?" tanya Anita heran.
"Dia laki-laki siapa? Kenapa kalian menangisi kepergiannya?"
Pertanyaan Anita tidak di jawab, keduanya kembali menangis keras dan terdengar pilu. Hingga Anita juga merasakan kesedihan yang sama dengan mereka.
"Perasaan apa ini?"
_
_
_
❤❤❤❤❤❤
__ADS_1