
Hampir satu bulan Anita merawat dan menunggui Rendi di rumah sakit, dia hampir tidak pernah pulang ke rumahnya. Chila dan Chiko sering mengunjungi papanya di antar oleh Arga.
Ibu Yuni sendiri hanya sekali menjenguk Rendi, itu pun ketika Rendi tidur.
Walaupun Rendi belum bisa bergerak, hanya bisa membuka matanya dan tersenyum. Dia senang bisa melihat anaknya lagi, tidak ada kebencian padanya seperti waktu itu.
Rendi juga melihat Anita dan Arga terlihat sangat senang dia bisa sadar lagi. Tapi dia melihat di mata Arga ada kekecawaan dan seperti ada sebuah beban di hatinya.
Arga mendekat ketika Anita dan kedua anaknya sedang pergi ke kantin. Arga duduk di sebelah Rendi, dia juga merasa kasihan.
"Kemarin aku ke kantor polisi mengambil tasmu yang ketinggalan di mobil kamu." kata Arga, dia meletakkan tas berwarna hitam itu.
Tas itu tidak rusak namun sudah lusuh karena tertimpa ringsekan bada mobilnya.
"Isinya masih utuh, belum aku buka." kata Arga lagi.
Rendi memandang Arga, dia bilang terima kasih seperti berbisik.
"Terima kasih." ucap Rendi dengan mulutnya saja yang bergerak.
"Ya, itu hanya sebuah tas. Apa aku boleh tanya kenapa kamu bisa kecelakaan sampai parah begitu?" tanya Arga.
Rendi diam, sejujurnya dua minggu setelah putusan sidang hak asuh anak itu. Rendi selalu kepikiran Anita yang tidak mau bicara padanya. Dia benar-benar sangat menyesal, hingga dua melamun ketika mengendarai mobil dan tidak tahunya dari arah berlawanan ada mobil pembawa barang melaju kencang dan akhirnya menabrak mobil Rendi dan keadaan mobilnya sudah tidak utuh lagi Bahkan ringsek dan seperti barang rongsokan.
"Apa kamu bahagia bisa sadar lagi?" tanya Arga.
Rendi mengangguk pelan, Arga diam. Lalu bertanya lagi.
"Kamu masih harus di rawat intensif di rumah sakit. Dan kamu sudah di vonis lumpuh kedua kakimu." kata Arga lagi.
Rendi pun memgangguk lagi, dia tidak mengerti pertanyaan Arga apa maksudnya.
"Kamu senang Anita yang merawatmu selama kamu sakit?" tanya Arga lagi.
Dia mau memastikan dirinya harus bagaimana. Dan Rendi menatap Arga lama, ada kebimbangan di mata Arga. Dia pun mengangguk pelan, matanya masih menatap Arga. Arga terrunduk dan menarik nafas panjang.
"Terima kasih. Aku tahu apa yang akan aku lakukan." kata Arga membuat Rendi tidam mengerti.
"Apa?" tanya Rendi, membuka mulutnya dengan isyarat pertanyaan.
"Tidak apa-apa. Mungkin kamu yang lebih butuh Anita di banding aku." kata Arga lagi.
Pembicaraan Arga dan Rendi terhenti ketika Anita dan Chila dan Chiko masuk ke dalam kamar inap. Arga bangun dari duduknya dan menyambut kedua anak Anita.
Arga mengacuhkan Anita yang menatapnya seolah bertanya apa yang dia bicarakan dengan Rendi. Arga mengajak Chila dan Chiko pergi lagi untuk jalan-jalan mengelilingi taman di samping rumah sakit.
Anita melihat Arga mengacuhkannya jadi heran. Ada apa dengan Arga?
"Anita." panggil Rendi dengan suara seraknya.
"Ada apa mas, kamu butuh sesuatu?" tanya Anita
__ADS_1
Rendi menggeleng, dia bertanya kemana Arga membawa kedua anaknya.
"Aku tidak tahu mas, mungkin mereka sedang jalan-jalan ke taman rumah sakit." jawab Anita.
Kini Anita yang terlihat murung, dia memainkan cincin di jari manisnya yang di berikan oleh Arga bulan lalu. Rendi melihat Anita diam, seperti memikirkan sesuatu. Tapi dia tidak bisa bertanya banyak pada Anita.
_
Arga sudah pulang lagi bersama Chila dan Chiko kemarin sore. Anita sendiri lagi di rumah sakit seperti biasa. Dia bosan juga karena sudah hampir satu bulan merawat Rendi. Belum ada perubahan berarti setelah sadarnya Rendu dari koma.
Detak jantung dan nadinya masih perlu di kontrol, jika suatu waktu syarafnya ikut terganggu. Anita dengan telaten merawat Rendi. Rendi seperti merasa tidak enak pada Anita. Namun dia jiga berusaha untuk tetap sembuh.
Setelah memberi makan bubur pada Rendi beberapa suap, Anita meminta izin untuk jalan-jalan di taman. Rendi mengangguk, dia juga ingin tidur.
Anita pun kelaur dari kamar itu, rasa lelah dan bosan dia tahan agar Rendi tetap semangat untuk sembuh. Meski dirinya merasakan ada yang hilang karena Arga sudah hampir enam hari tidak mengunjunginya di rumah sakit.
Mungkinkah dia merindukan Arga?
"Arga sedang apa ya?" gumam Anita di kesendiriannya di taman rumah sakit.
Dia duduk menatap jalanan yang di lalui mobil lalu lalang dengan padatnya. Anita menunduk, bertanya pada dirinya sendiri. Sampai kapan dia akan merawat Rendi. Apakah sampai sembuh?
Bukankah merawat Rendi akan sangat lama, sampai kapan dia akan merawat mantan suaminya itu?
Dilema bagi Anita, dia bingung harus bagaimana.
"Ibu Anita, ibu di panggil oleh dokter di ruangannya." kata perawat yang menghampirinya di kursi taman.
"Iya suster, saya segera kesana." jawab Anita.
_
Malam hari, Rendi terlihat sudah terlelap. Tadi sore keadaannya sangat segar karena selalu di lap setiap hari oleh Anita. Meski Anita dengan suka rela, tapi nanti jika Rendi bisa duduk dan segar kembali dia akan meminta untuk menyewa perawat saja di rumah. Dia hanya sesekali saja datang memjenguk Rendi. Begitu yang ada di pikiran Anita nanti setelah Rendi pulang ke rumahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, Anita seperti kesepian. Biasanya Arga akan menemaninya jika dia ada tugas lagi di kota. Tapi sekarang sudah satu minggu Arga tidak juga datang mengunjunginya.
Di kala matanya di pejamkan, Arga masuk perlahan dan duduk di sofa. Dia melihat Anita sangat kelelahan. Tangan Arga di letakkan di pipi Anita, rasa dingin menjalar dari tangan Arga membuat Anita membuka matanya.
"Kamu datang Ga?" tanya Anita senang.
Dia duduk tegak melihat Arga tersenyum. Anita pun tersenyum
"Kamu capek?" tanya Arga menatap Anita yang terlihat kelelahan.
"Setiap hari aku seperti ini, pasti ada capek dan bosan." jawab Anita.
"Jangan bosan, nanti Rendi akan hilang lagi semangat untuk sembuh." kata Arga menyemangati Anita.
Anita hanya tersenyum segaris, ada nada hampa di kalimat Arga itu.
"Apa Rendi sudah tidur?" tanya Arga.
__ADS_1
"Sudah sejak jam tujuh malam." jawab Anita.
Arga menghela nafas panjang, dia kembali menatap Rendi yang terpejam dan beralih ke Anita.
"Anita, beberapa hari ini aku berpikir tentang masalah ini." kata Arga masih memastikan dengan kalimat selanjutnya.
Anita menyimak perkataan Arga, masih belum jelas apa yang di bicarakannya.
"Maksud kamu apa, Ga?"
"Aku berpikir akhir-akhir ini, kamu rawatlah Rendi sampai dia sembuh total. Dia butuh kamu dan anak-anakmu." ucapan Arga terhenti, seperti tercekat dalam tenggorokannya.
"Maksud kamu apa,Ga?" masih belun mengerti ucapan Arga.
"Maksud aku, kamu bisa kembali sama Rendi. Dia butuh kamu dari pada aku. Aku..."
"Ga?"
"Aku merelakanmu untuk Rendi yang membutuhkan perawatan intensif darimu. Jika memang ada jodoh buat kita, pasti akan bersatu Anita. Berat bagiku untuk mengatakan ini, tapi aku merasa kasihan pada Rendi. Dia tidak bisa apa-apa dan tidak punya siapa-siapa, dia juga butuh dukunganmu dan anak-anakmu Anita."
"Ga?"
"Kamu jangan khawatir, aku akan tetap datang kesini menjengukmu dan juga mengantarkan Chila dan Chiko bertemu papanya."
"Arga?"
"Aku ikhlas, Anita. Rawatlah Rendi sampai dia sembuh sekali pun dia sudah pulang ke rumah." ucap Arga, hatinya perih mengatakan itu pada Anita.
Tapi dia sudah berpikir lama dan sudah membuat keputusan itu. Jika memang dia dan Anita berjodoh dengan cepat, maka akan datang waktunya.
Sedangkan Anita menunduk, dia menangis pelan.
Dan di pembaringan Rendi mendengar setiap ucapan Arga yang begitu tulus merelakan Anita untuk merawatnya dan juga kembali padanya. Dia juga mendengar isak tangis Anita. Tiba-tiba matanya basah, dia ikut sedih dengan keadaan mereka.
Lagi-lagi kedua orang itu belum bisa bersatu karena dirinya. Egoiskah dia jika harus menahan terus Anita merawatnya dan menjaganya sepanjang dia sakit. Lalu, sampai kapan dia akan sembuh? Keadaannya saja dia tidak tahu perkembangannya sampai di mana. Apakah dia harus kembali lagi seperti masa di mana dia tertidur panjang.
Tiba-tiba, bunyi mesin pengukur jantung berbunyi dengan cepat. Baik Anita dan Arga terkejut dengan suara mesin itu.
Anita memencet tombol bel untuk memanggil perawat. Anita dan Arga panik melihat keadaan Rendi diam kaku. Tidak ada pergerakan dari Rendi.
Perawat datang, dia lalu memeriksa keadaan Rendi yang tiba-tiba berubah drastis. Perawat pun ikut panik.
Dia kembali lagi ke ruangannya dan meminta perawat lain membantunya untuk membuat kejut jantung. Tiga perawat masuk lagi ke ruangan Rendi, ketiganya pun ikut panik. Di susul dokter di belakang.
Mereka menyiapkan alat kejut jantung membantu jantung Rendi berdetak normal kembali.
Dalam ruangan itu kepanikan tampak jelas sekali. Dari dokter, tiga perawat, Anita dan juga Rendi.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤