
Hari minggu yang di tunggu pun datang, dia datang lagi ke rumah Arga untuk menemui anaknya dan ingin bertemu Arga juga. Dia ingin bicara dengan Arga mengenai anaknya, sekaligus meminta maaf.
Marisa sampai di depan rumah Arga, dia melihat mobil expander milik Arga terparikir bebas di sana. Masih belum berani masuk ke dalama, dia sedang mengatur nafasnya agar tenang dan deg degan jika bertemu Arga.
Di hatinya tiba-tiba merasa rindu dengan mantan suaminya itu, dia menarik nafas panjang dan melangkah masuk. Membuka pintu pagar besi itu dan masuk lebih dalam.
Melangkah pelan dan berhenti, di belakang mobil, mengatur kembali nafasnya yang tiba-tiba naik turun tak beraturan. Lalu melangkah lagi, berhenti di depan pintu rumah yang masih tertutup.
Pintu di buka dengan pelan, dan keluar Celine dengan membawa boneka yang kemarin dia berikan pada gadis kecil itu. Marisa tersenyum melihat Celine keluar dengan membawa boneka yang di bawanya dengan susah payah karena tangannya kecil.
"Halo Celine sayang?" sapa Marisa pada Celine.
Celine menatap Marisa dengan bingung, dia lalu tersenyum. Sangat lucu senyumnya karena ada giginya yang ompong satu di depan.
"Tante datang lagi cari papa ya?" tanya Celine riang.
"Oh, papa ada ya?" tanya Marisa pura-pura kaget.
"Iya tante, tapi ngga bisa lama ketemu sama papanya. Karena kita mau jalan-jalan tante." kata Celine.
"Oh ya, kemana jalan-jalannya?" tanya Marisa penasaran.
"Ngga tahu tante, kata papa mau jalan-jalan dengan kakak Chila dan abang Iko." jawab Celine lagi.
"Kakak Chila dan abang Iko siapa?" tanya Marisa lagi makin penasaran.
"Celine, kamu di mana sayang?" tanya Arga dari dalam rumah.
Jantung Marisa berdegup kencang, dia bangun dan jongkoknya tadi mensejajarkan tinghinya dengan Celine.
Celine masuk ke dalam rumah dan menghampiri Arga.
"Celine sedang apa di luar sayang?" tanya Arga.
"Ada tente yang cari papa di luar." jawab Celine.
Arga mengerutkan dahinya, tante? Siapa?
"Tante siapa, nak? Tante Anita?" tanya Arga.
"Bukan pa, yang kasih Celine boneka ini." kata Celine lagi.
"Ya sudah, Celine bantu oma dulu di dalam. Papa mau menemui tante yang katanya kasih boneka itu." kata Arga lagi.
"Iya pa."
Celine lalu menuju dapur di mana ibu Ema sedang merapikan bawaan snack di masukkan ke dalam tas Celine.
Sedangkan Arga keluar rumah, menemui siapa yang di panggil tante oleh Celine. Arga sampai di depan rumah, dia tidak melihat Marisa. Tapi ketika dia melihat ke samping, di sana berdiri Marisa dengan kaku dan takut sedang menatap Arga.
__ADS_1
Arga terkejut melihat Marisa berdiri kaku menatapnya. Dia terpaku, melihat mantan istrinya itu.
"Selamat pagi mas." sapa Marisa mencoba tersenyum pada Arga.
Arga masih diam, dia kaget dengan kedatangan Marisa yang tiba-tiba di hadapannya. Tak berapa lama, dia membuang wajahnya ke samping. Tiba-tiba dia kesal dengan kedatangan Marisa di hidupnya lagi.
"Mau apa kamu datang ke rumahku?" tanya Arga ketus.
Marisa menunduk, memang seperti ini reaksi Arga atas kedatangannya yang secara tiba-tiba bagi Arga. Seharusnya tidak ada pertemuan seperti ini, tapi Tuhan memang mempunyai rencana lain pada keduanya.
"Maaf mas, aku mau bertemu dengan anakku." ucap Marisa sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu baru ingat dengan anakmu?" tanya Arga sinis.
Marisa diam, dia terisak pelan. Lalu dia terduduk bersedeku di belakang Arga yang marah padanya.
"Aku minta maaf mas, aku benar-benar minta maaf denga kesalahan dan khilafku mas. Hik hik hik." ucap Marisa dengan tangisnya.
"Khilaf? Kamu bilang itu khilaf?"
"Hik hik hik."
"Jika khilaf tidak akan meminta dengan memaksa untuk menceraikanmu. Aku sudah berusaha memafkan dan menerimamu kembali ketika perselingkuhanmu terjadi, tapi nyatanya kamu malah meminta bercerai sambil menangis. Apa itu di sebut khilaf?" ucap Arga denga nada keras.
"Maaf mas, aku benar-benar minta maaf. Itu kesalahanku yang terbesar. Aku tahu kamu sangat mudah memaafkan apapun dengan kesalahan orang, maka dari itu aku datang dengan untuk meminta maaf padamu dan mama. Juga dengan Celine." kata Marisa lagi.
Ibu Ema tidak akan menerima Marisa lagi jika Arga memaafkannya. Dia tetap tidak akan menerima Marisa sampai kapan pun.
"Oma, tante itu siapa?" tanya Celine yang melihat ibu Ema terisak.
"Emm, nanti tanya papa aja ya." kata ibu Ema.
Walaupun dia kesal dan tidak akan memaafkan Marisa, tapi entah suatu saat nanti. Karena rasa marahnya pada mantan menantunya itu benar-benar membuat hatinya sakit hati. Dia lebih tenang karena hak asuh sudah berada di tangan Arga, jadi Marisa tidak akan berani mengungkit masalah hak asuh.
Di luar, Arga masih diam-diaman dengan Marisa. Posisi Marisa juga masih bersedeku menghadap Argam Berharap Arga menerima maafnya itu dengan tulus.
"Sudahlah, lebih baik kamu pergi dari rumahku. Aku tidak akan menemuimu lagi." kata Arga melemah.
Tidak baik juga terus-terusan marah pada Marisa. Arga hendak berbalik dan masuk ke dalam rumah, namun tangannya di tahan oleh Marisa.
"Tunggu mas, apakah aku boleh setiap hari menemui Celine?" tanya Marisa.
Dia berharap untuk msalah menemui anaknya Arga memberinya kelonggaran. Arga diam, dia melepas tangan Marisa dan masuk ke dalam rumahnya. Tapi tidak menutup pintunya.
Arga masuk ke dalam kamarnya, duduk di tepi ranjang dan mendengus kesal. Hatinya benar-benar kesal dan berubah jadi tidak mengenakkan.
Rencananya mau liburan dengan Anita dan anak-anaknya jadi kacau. Jika di batalkan, kasihan anaknya yang sejak dulu meminta berlibur bersama dengan Chila dan Chiko. Dia sendiri ingin bertemu Anita dan mengobrol lebih lama dari biasanya.
Tiba-tiba dering ponselnya berbunyi, Anita menelepon. Arga hanya menatapnya saja, lalu di diamkan sejenak. Lama dering telepon itu berbunyi. Dan akhirnya berhenti.
__ADS_1
"Maaf Anita."
Tapi rupanya dering ponsel berbunyi lagi, Arga melihat masih dari Anita. Lalu dia mengangkat teleponnya.
"Halo, Anita?"
"Halo Ga, apa kita jalan-jalannya jadi? Anak-anak menanyakan terus." kata Anita.
Arga diam, dia berpikir. Kasihan juga jika di batalkan, hanya gara-gara suasana hatinya kacau jadi mengecewakan kedua anak itu dan Celine anaknya.
"Iya jadi, tapi maaf ya agak telat. Aku baru bangun tidur soalnya." kata Arga berbohong.
"Apa kamu lelah? Kalau lelah, lebih baik tidak usah Ga." kata Anita.
Mana bisa dia mengecewakan Anita, dia ingin Anita bahagia dengannya.
"Ngga kok, aku hanya terlambat bangun." kata Arga lagi.
"Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Nanti aku bilang sama anak-anak om Arga datang terlambat." kata Anita.
Arga tidak menjawab, dia langsung menutul teleponnya dan meletakkannya di meja. Pikirannya masih kacau gara-gara Marisa datang dengan tiba-tiba.
Tok tok tok
Pintu kamar Arga di ketuk oleh ibu Ema, Arga membukanya dan dia duduk kembali di tepi ranjangnya.
Ibu Ema ikut duduk di sampingnya dan menatapnya kasihan. Dia tahu anaknya itu sudah tidak berharap Marisa kembali, tapi sekarang kenapa dia datang mengganggu kehidupan Arga lagi.
"Ga, gunakan hatimu saja. Mama mendukungmu jika kamu harus menyelesaikan semuanya dengan Marisa. Mama tidak membela Marisa, justru mama kesal sekali dia datang seenaknya saja mengganggu kehidupanmu dan Celine. Tapi mama juga tahu hati seorang ibu, merindukan anaknya yang sudah lama tidak bertemu. Kamu selesaikan semuanya." kata ibu Ema bijak.
"Apa yang harus di selesaikan ma, semua sudah selesai. Dia tidak berhak datang ke rumah ini dan mengganggu hidupku dan Celine." ucap Arga.
"Mama tahu, tapi Celine harus tahu siapa mamanya. Jika dia hanya ingin menemui Celine, biarkan. Tapi kamu juga harus tegas jika suatu saat nanti dia meminta lebih dari sekedar menemui anaknya. Kamu sendiri tahu hukumnya kan?" kata ibu Ema.
Arga diam, dia masih tidak terima dengan Marisa yang datang mengganggu kehidupannya.
"Lebih baik berdamai dengan masa lalu, bukankah kamu akan menikahi Anita? Jadi jika kamh akan menikah dengan wanita lain, dia juga tidak akan mengganggumu. Hanya bertemu dengan Celine saja." kata ibu Ema lagi.
Setelah mengatakan seperti itu, ibu Ema keluar dari kamar Arga. Dia kasihan sebenarnya pada anaknya itu, bukan karena masih ada perasaan pada Marisa, tapi mungkin tentang keputusan Marisa saat itu yang membuat Arga kesal dan sakit hati.
Ibu Ema juga tahu anaknya itu sangat mencintai Anita sejak SMA dulu, dan kini di pertemukan dengan takdir kain. Dia berdoa semoga lika liku cinta Arga dan Anita tidak mengalami rintangan yang sangat berat. Semoga, gumam ibu Ema dalam hati.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤
__ADS_1