
Kini Arga dan mertuanya sedang bercengkrama, pak Sugara ingin mengakrabkan diri dengan menantunya yang di katakan Anita sangat baik. Mau menerima ayahnya sesuai keinginan istrinya.
Arga sendiri tidak mempermasalahkan jika istrinya saja baik-baik saja dengan ayahnya. Jadi dia juga harus menerimanya.
Agak canggung juga pak Sugara bertemu dengan menantunya itu, dia di beritahu oleh ibu Rima kalau suami Anita itu seorang pengacara. Jadi dia tampak kaku dan canggung, namun pak Sugara berusaha untuk berbicara santai.
"Sudah lama ya menikah dengan Anita, nak Arga?" tanya pak Sugara.
"Sudah yah, sekitar enam tahun kami menikah." jawab Arga.
"Oh, maaf ya waktu pernikahan kalian ayah tidak bisa menghadirinya." kata pak Sugara sedih.
Dia menunduk dan menarik nafas panjang. Jika saja dia tahu Anita menikah, saat itu dia belum ketemu lagi dengan ibu Yuni. Dia masih berada di Kalimantan, namun sudah bercerai dengan istrinya.
Setelah satu tahun menikah, baru pak Sugara pulang ke kampungnya. Namun dia bingung harus mencari siapa, dan dia menemui ibu Rima sepupu ibu Yuni.
Kebetulan saat ibu Yuni sedang berkunjung, maka pertemuan tidak terduga pun terjadi. Pak Sugara yang sebenarnya masih mencintai dan berharap ibu Yuni menerimanya sangat senang bisa bertemu istrinya itu.
Enam tahun silam...
"Yuni, apa kabar?" tanya pak Sugara kala itu.
"Baik mas, kamu sendiri bagaimana? Apa istrimu itu mengikutimu pulang ke kampung ini juga?" tanya ibu Yuni sedikit ketus.
"Tidak, kami sudah bercerai. Kami bertengkar karena dia tidak menurut waktu itu mengikutiku pulang." kata pak Sugara lirih.
Ibu Yuni diam, ibu Rima hanya memperhatikan kedua suami istri yang hanya status saja, namun kenyataannya ibu Yuni tidak terima dengan perselingkuhannya dan bahkan menikah lagi dengan perempuan lain.
Ibu Yuni benar-benar sakit hati kala itu, di nasehati oleh ibu Rima dan ibu Rika tidak juga di terima. Dia bilang sudah bahagia dengan anaknya.
"Aku ingin bertemu dengan Anita, Yun." kata pak Sugara lagi.
"Tidak! Aku tidak akan mengizinkan kamu menemui Anita, mas." kata ibu Yuni.
"Kenapa? Aku ingin melihat anakku, sebesar apa dia. Aku menyesal tidak pernah pulang dan tidak juga menemuimu lagi. Keadaan pekerjaanku juga tidak bisa aku tinggalkan lagi. Yuni, apakah kamu tega." ucap pak Sugara.
"Sudahlah jangan membahas yang sudah lewat, aku malas untuk membahas itu. Lalu kenapa kamu ke sini mas?" tanya ibu Yuni.
"Aku ingin cari tahu tentang kamu dan anakku." jawab pak Sugara.
Ibu Yuni diam, dia menatap pak Sugara sekilas. Namun dia ingat kembali ketika mantan istrinya datang dan dengan sombongnya mengatakan pak Sugara adalah suaminya.
"Lupakan saja, jangan cari-cari aku dan Anita lagi." kata ibu Yuni.
"Tapi aku ingin bertemu dengan anakku, Yuni." kata pak Sugara.
"Tidak usah! Atau kalau kamu memaksa, aku akan bunuh diri di depanmu!" teriak ibu Yuni karena kesal.
Dia tidak terima dengan penghianatan suaminya itu. Hingga bertahun-tahun dia pendam dan Anita tidak pernah bertanya tentang ayahnya itu semakin memudahkan ibu Yuni melupakan suaminya itu.
__ADS_1
Tapi sekarang malah bertemu di rumah sepupunya, kemarahannya kembali memuncak hingga dia mengancam suaminya itu.
Mau tidak mau pak Sugara mengalah, dia diam saja. Rasa sakit hati yang di rasakan istrinya itu benar-benar sudah mendarah daging. Sikap diam dan tertutup ibu Yuni ternyata menyimpan dendam pada suaminya.
Dia mengancam bunuh diri, apakah semua kesalahannya selama bertahun-tahun itu tidak bisa di maafkan. Pak Sugara masih mencintai ibu Yuni, namun sikap keras kepala istrinya itu tidak bisa di rubah.
"Baiklah, aku akan turuti kemauanmu. Aku akan pergi ke rumah kita yang dulu, jika kamu butuh bantuanku datang saja ke rumah kita." ucap pak Sugara lirih.
Dia bangkit dari duduknya berdiri sejenak menatap ibu Yuni yang masih memiringkan wajahnya.
Ibu Rima melihat sikap sepupunya itu tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa membantu pak Sugara.
Pak Sugara berpamitan pada ibu Rima.
"Rima, aku pulang dulu. Aku minta maaf telah mengecewakan sepupumu. Maafkan aku." kata pak Sugara.
"Iya, memang Yuni itu keras kepala. Kamu yang sabar saja menghadapi dia. Aku akan berusaha menasehati dia." kata ibu Rima.
"Terima kasih atas bantuanmu, aku tidak berharap banyak dia mau balik lagi denganku. Aku hanya ingin bertemu dengan anakku." kata pak Sugara.
Ibu Rima diam, dia bingung harus bagaimana.
Setelah berpamitan, pak Sugara pergi dengan langkah gontai. Dia pergi entah kemana, menaiki ojek.
Ibu Rima memghampiri sepupunya itu, dia duduk di samping ibu Yuni yang masih diam dengan dada yang masih bergemuruh. Dan tiba-tiba ibu Yuni terisak, semakin pelan semakin kencang juga.
"Aku sangat kecewa mbak, dia menghianatiku selama dua tahun lebih. Jika istrinya itu tidak datang dan memberitahuku, pasti kebohongannya akan terus berlanjut. Apa lagi dia hidup di sana sangat lama sekali. Hik hik hik." kata ibu Yuni dengan isakannya yang memilu.
Di tepuknya pelan punggung ibu Yuni oleh ibu Rima, dia tahu rasanya sakit di hianati. Apa lagi sudah lama sekali. Sepupunya itu susah sekali memaafkan segala bentuk penghianatan dan mengecewakan. Makanya dia tidak tahu apakah bisa membujuk ibu Yuni untuk kembali pada pak Sugara.
"Aku sangat marah ketika dia datang waktu itu, pergi ke rumah ibu. Dan dari itu tanpa berkata atau jujur padaku kalau dia sudah menikah lagi dengan perempuan sana. Apakah memang laki-laki semuanya seperti itu? Selalu mengabaikan perasaan perempuan, tidak setia? Dia hanya memikirkan tentang kebutuhan biologisnya saja, tanpa memikirkan hati istrinya. Hik hik hik." ucap ibu Yuni di sela isak tangisnya lagi.
"Sudah Yun, kamu yang tenang. Itu juga sudah lama kejadiannya. Dia juga sudah bercerai dengan istrinya itu." kata ibu Rima menenangkan sepupunya.
"Karena dia sudah ketahuan, mbak. Jika aku tidak tahu dan tidak kabur waktu itu. Jika istrinya tidak datang waktu itu, apa dia akan menceraikan istrinya?" kata ibu Yuni.
Ibu Rima menghela nafas panjang, dia hanya mendengar keluh kesah ibu Yuni. Memang itu terus yang di bahas sepupunya, tapi dia tetap menasehati bahwa itu sudah lama berlalu.
"Yuni, ada kalanya manusia itu lupa akan kesalahannya. Ada kalanya maunsia juga merasa hebat karena telah mencapai apa yang dia inginkan. Ada kalanya juga manusia berada pada batas kesalahan dan dia menyadari itu. Sugara sudah menyesali perbuatannya, dia sudah bercerai dengan istrinya dulu. Dia ingin memperbaikinya denganmu. Apa kamu tidak kasihan sama Anita? Dia juga ingin melihat ayahnya, Yuni." kata ibu Rima.
"Tidak! Anita tidak pernah bertanya di mana ayahnya. Dia tahu kalau ayahnya pergi jauh dan tidak akan kembali. Mungkin dia juga berpikir ayahnya sudah meninggal." ucap ibu Yuni ketus.
"Yuni, tidak baik bersikap keras kepala seperti itu. Sugara juga berhak bertemu dengan Anita."
"Tapi Anita sudah bahagia, jangan usik lagi kebahagiaannya. Dia sudah sangat menderita dari kecil, dan di campakkan suaminya yang dulu. Tidak di hargai oleh mantan suaminya dulu. Sekarang dia sedang bahagia, jangan rusak kebahagiaan Anita. Aku mohon sama kamu mbak, jangan bicara apapun tentang ayahnya Anita." kata ibu Yuni.
"Kenapa memangnya?"
"Karena aku akan memutus hubungan denganmu!"
__ADS_1
"Astaga Yuni, kenapa kamu jadi tambah keras kepala? Ingat kamu sudah tua, tinggalkan yang susah, nikmati hidup dengan tenang."
"Aku sudah bahagia, Anita bahagia aku pun bahagia. Aku mohon sama kamu, mbak. Biarkan jika memang Anita bertanya jangan beritahu apapun."
Ibu Rima berdiri, dia menatap ibu Yuni lalu pergi. Tapi sebelum pergi dia berucap pada sepupunya.
"Aku tidak tahu terbuat dari apa hatimu, tapi aku tidak janji tidak mengatakan apa pun jika Anita menanyakan di mana ayahnya."
Setelah mengatakan itu, ibu Rima masuk ke dalam kamarnya.
Ibu Yuni hanya diam saja, dia tetap dengan pendiriannya. Rasa sakit hati yang dia rasakan bertahun-tahun nyatanya tidak bisa hilang begitu saja.
Dia menyimpan amplop berisi pesan suaminya beserta fotonya. Dia simpan di brankas di dalam lemarinya.
Anita tidak pernah memcari tahu tentang ayahnya, apa lagi kenangan dan surat itu. Dia simpan dan tanpa Anita tahu.
_
" Ayah melamun?" tanya Arga pada ayah mertuanya.
"Oh, eh tidak. Ayah hanya teringat istriku, ibunya Anita." ucap pak Sugara tanpa sadar.
Arga mengerutkan dahinya heran. Apakah dulu mertuanya itu tanpa bercerai berpisahnya?
"Apa ayah dulu belum menceraikan ibu?" tanya Arga ragu.
"Tidak, ayah tidak pernah menceraikan ibunya Anita. Dan aku tidak pernah berniat menceraikan ibunya Anita, karena berharap ayah bisa kembali sama ibu mertuamu." jawab pak Sugara menunduk sedih.
"Lalu, apakah ibu mau menerima ayah?" tanya Arga.
"Kalau ayah di terima, kenapa ayah harus menikah dengan istriku yang sekarang?"
Arga diam, dia salah bertanya.
"Ayah menikah dengan istri ayah sekarang juga karena ibunya Anita. Dia tidak tega pada ayah yang sedang sakit lumpuh karena stroke, tapi dia tidak mau kembali. Makanya istri ayah sekarang itu sahabatnya ibunya Anita, dia janda dan di minta menikah dengan ayah. Dia juga mau bertemu ayah lagi jika mau menikahi sahabatnya. Ibunya Anita itu aneh, tapi ayah tetap saja menuruti kemauannya. Tidak menemui Anita sampai waktu itu juga karena Yuni yang memintanya. Mungkin ayah terlalu pengecut, ayah tidak bisa membujuknya. Tapi sekarang ayah bersyukur bisa bertemu dengan Anita. Ayah pikir Anita juga akan sama dengan ibunya, ternyata Anita lebih bijak dari ibunya." kata pak Sugara.
"Iya yah, Anita itu perempuan hebat. Hatinya sangat lapang dan pemaaf, ayah tahu, dulu mantan suaminya masuk rumah sakit dan koma Anita yang merawatnya. Dia bahkan sebelum kecelakaan mantan suaminya itu selalu menyakiti Anita, tapi dia malah merawatnya sampai dia meninggal. Aku sangat bangga bisa menikahi putri ayah, aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan pada ibu tidak akan menyakiti Anita." kata Arga mengingat istrinya yang dulu.
Jadi sangat wajar jika Anita memaafkan ayahnya dan menerimanya dengan lapang dada karena Anita memang seperti itu.
Pak Sugara tersenyum, dia merasa ikut bangga juga mempunyai putri sehebat Anita. Wanita tangguh karena hatinya.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1