
Pulang dari berkunjung ke rumah ayahnya, Arga berencana mampir ke shorum mobil untuk membelikan sebuah mobil untuk istrinya.
Dia akan menyuruh Anita memakai mobil untuk memudahkannya ke pabrik atau mengantar anak-anaknya.
Sejak dulu Arga menawarkan membeli mobil, namun Anita masih enggan karena dia pikir hanya akan di rumah saja.
Dan lagi ketika mengantar anak-anaknya ke sekolah dan berteman dengan ibu-ibu TK teman-teman Angga jadi tenang.
Tapi kini Arga akan membelinya mobil untuk keperluan istrinya ke pabrik.
"Kita mau kemana?" tanya Anita pada suaminya.
"Ke shorum mobil." jawab Arga singkat.
"Mau beli mobil? Buat apa?" tanya Anita lagi.
"Buat kamulah sayang, kan nanti kamu butuh mobil untuk ke pabrik." jawab Arga.
Anita diam, benar juga. Tidak mungkin kan ikut suaminya terus, apa lagi pabriknya berlawanan arah dengan kantor suaminya.
"Kamu harus mau sayang, setidaknya untuk memudahkan jika ada yang mendesak." kata Arga menoleh ke arah istrinya.
"Ya sudah ngga apa-apa, tapi mulai kapan aku harus ke pabrik?" tanya Anita.
"Kamu siapnya kapan?" tanya Arga.
"Aku kan harus belajar nyetir mobil dulu, dan harus punya sim kan?" kata Anita.
"Ya, belajar menyetir mobil juga butuh proses. Untuk saat ini biar aku antar kamu atau sekalian mempekerjakan supir aja bagaimana?" tanya Arga.
"Mending mencari supir aja deh, aku suka takut kalau harus belajar dan nyetir sendiri." kata Anita.
"Jadi, minggu depan bisa kan ke pabrik?" tanya Arga.
"Apa secepatnya ya?"
"Iya sayang, kan harus di usut itu yang korupsi uang pabrik. Enak aja dia ngambil uang dan mengelabuiku. Aku membuat pabrik agar bisa berkembang dan mendapatkan untung, kenapa malah rugi. Penyaluran barang juga banyak, produksi barang setiap bulan naik, tapi kenapa pemasukan sangat sedikit. Itu kan uang tidak main-main korupsinya. Puluhan juta hilang dari bagian keuangan." kata Arga dengan kesal pada karyawannya.
"Ya sudah, aku bisa kok masuk minggu depan. Kamu jangan khawatir, nanti aku periksa laporan keuangannya." kata Anita.
Arga tersenyum, lalu mencium pipi istrinya itu.
"Terima kasih sayang, besok sebelum berangkat ke firma hukum aku akan mampir ke pabrik dan memberitahu pada karyawan kalau istriku yang akan mengawasi pabrik." kata Arga.
Anita pun mengangguk, dia tersenyum lalu menoleh ke belakang. Dia melihat anak-anaknya sudah terlelap.
"Lho pantesan tidak berisik di belakang, ternyata tidur semua ya." kata Anita.
Arga pun menoleh ke belakang mengikuti istrinya.
Mobil Arga pun berhenti di sebuah shorum besar dengan halaman luas. Di sana banyak sekali mobil-mobil di pajang.
Arga dan Anita turun, lalu menuju kantor shorum. Seorang SPG menghampiri mereka bertanya dan menawarkan berbagai merek dan model mobil.
Arga dan Anita meminta di jelaskan semua keunggulan mobil masing-masing dari yang terbaru hingga mobil bekas.
"Jadi, bapak mau ambil mobil yang mana?" tanya SPG tersebut dengan ramah.
"Yang mana yang kamu pilih, sayang?" tanya Arga.
"Model sedan aja kali, Ga. Kecil aja biar enak aja." kata Anita.
"Cukup ngga nanti sama anak-anak? Kan nanti anak-anak di antar juga dengan mobil itu." tanya Arga.
__ADS_1
"Menurut kamu yang mana?"
"Bagaimana model minibus bu, agar muat banyak. Kalau keluarga ibu banyak bisa kok muat banyak." kata SPG memberi saran.
Anita menimbang mobil apa yang akan dia beli. Dia berpikir memang untuk muat banyak.
Akhirnya Anita memilih mobil grand livina yang muat untuk anak-anaknya nanti.
Memang dia juga berpikir seperti itu, harus muat banyak. Karena anaknya memang banyak sekali, apa lagi belakangan Arga meminta anak satu lagi. Makanya dia sangat rajin meminta jatah pada istrinya itu.
Dia tidak masalah harus hamil lagi, namun dia berpikir nanti setelah Kevin berumur empat atau lima tahun, agar bisa mengerti jika dia nanti punya adik.
"Aku pilih yang itu aja, Ga." kata Anita menunjuk sebuah mobil grand livina berwarna hitam.
"Oke, mbak yang itu saja ya." kata Arga pada SPG tersebut.
Lalu Arga pun menuju kantor untuk melakukan pembayaran mobil yang di belinya.
Setelah di bayar dan di beri nota, dia bertanya kapan mobil itu di kirim.
"Nanti sore ya pak, kami kirim ke alamat anda. Dan surat PBKB dan STNK bisa di ambilnya setengah bulan setelah pembelian." kata seorang penjaga kasir itu.
"STNK bisa tidak minggu depan sudah ada mbak?" tanya Arga.
"Nanti saya usahakan pada orang yang mengurusnya, tapi kalau belum jadi kami mohon maaf. Bapak menunggu seminggu lagi." katanya lagi.
"Baiklah, terima kasih mbak."
Setelah bersalaman, Arga pun menghampiri istrinya dan mereka langsung pulang.
_
Satu minggu sudah, akhirnya Anita di perkenalkan pada karyawan di pabrik. Hari Sabtu itu, Anita dan Arga bertemu para karyawan pabrik dari manager sampai karyawan bagian gudang dan OB.
Semua tampak berbisik dengan ucapan Arga, ada yang menyangka bagian keuangan yang menyelewengkan keuangan pabrik sehingga ada kebocoran.
Tentu saja karyawan bagian keuangan jadi tidak suka dengan ucapan Arga itu, dia jadi tertuduh padahal dia bagiannya hanya menuliskan laporan. Dan bagian keuangan itu bukan satu orang, namun ada dua orang.
"Saya tidak menuduh karyawan bagian keuangan, namun nanti istri saya akan terus berkordinasi dengan bagian keuangan. Nah nanti letak kesalahan dan kebocorannya di mana, istri saya yang akan menyelidikinya.
Dan pembicaraan ini akan di teruskan oleh istri saya, Anita."
Tepuk tangan dari karyawan pabrik membuat gugup Anita, tentu saja malu. Namun dia meyakinkan diri bahwa dia bisa melakukannya dengan dorongan suaminya.
"Terima kasih, saya ucapkan salam kenal dan selamat pagi semuanya. Saya tidak akan bicara banyak, namun dengan tekad dan dorongan dari pak Arga, saya akan menangani dan mengawasi pabrik. Serta akan memajukannya juga, di samping itu jika ada keluhan kalian bisa sampaikan kepada saya agar saya bisa mencari solusinya. Tapi ini mengenai pabrik ya, bukan masalah pribadi. Mungkin itu saja pembukaan dari saya, selebihnya kalian yang lebih tahu dan paham mengenai pabrik." kata Anita memberi sambutan.
Arga yang mendengar kalimat demi kalimat yang di ucapkan istrinya sangat kagum, baru kali ini dia melihat istrinya berwibawa di depan orang banyak.
Memang Anita mempunyai jiwa kepemimpinan dan berwibawa. Dia baru tahu jika istrinya itu bisa bicara formal di depan orang banyak, dan semua karyawannya melihat Anita bicara seperti mendengarkan dengan baik dan serius.
Setelah memperkenalkan diri dengan semua karyawan pabrik, kini Anita berkeliling ke semua tempat di pabrik tersebut.
Arga melirik jam di tangannya, dia berbisik pada istrinya.
"Sayang, aku ke kantor dulu ya. Kamu ngga apa-apa kan aku tinggal? Jalan-jalan di pabriknya dengan Sarah aja, dia bagian manager di sini." kata Arga pada Anita.
"Ya udah, ngga apa-apa. Aku nanti pulang naik taksi aja, tapi hari ini aku pulang jam dua siang ya." kata Anita.
"Iya sayang, mulai besok kamu bisa datang rutin dan bisa pulang sesuai keinginan kamu. Yang penting aku pulang kamu ada di rumah." kata Arga.
"Iya, aku juga pengennya ngga setiap hari datangnya, mungkin empat hari dalam seminggu."
"Ya terserah kamu, tapi saat ini memang sedang butuh pengawasanmu. Jadi mungkin kamu harus tiap hari datang."
__ADS_1
"Ya, aku tahu. Ya sudah, sana berangkat."
"Kamu ngusir aku?"
"Ish!"
"Hahah, aku ke kantor dulu ya. Cup." kata Arga dengan mengecup pipi Anita.
Sarah sebagai manager di sana jadi tidak enak melihat kemesraan suami istri itu.
Arga pun pergi, Anita melambaikan tangannya setelah suaminya menghilang.
"Mari bu, ke ruangan bapak yang dulu." kata Sarah dengan sopan.
"Iya Sarah."
Anita mengikuti kemana Sarah pergi, dia berjalan berdampingaj dengan Sarah.
"Kamu sudah bekerja di pabrik ini sudah berapa lama, Sarah?" tanya Anita.
"Sekitar tiga tahun, bu." jawab Sarah.
"Sudah lama ya, berarti kamu cukup mengenal pabrik dan suamiku?" tanya Anita lagi.
"Kalau pabrik sih iya bu, tapi kalau bapak baru satu tahun ini. Karena bapak jarang datang ke pabrik. Mungkin saat akhir bulan saja, jadi tidak begitu mengenal sekali sih bu. Maaf." jawab Sarah.
Anita diam, dia terus berjalan mengikuti kemana Sarah berjalan. Setelah sampai di sebuah ruangan, Sarah membuka pintu dan mempersilakan Anita masuk.
Karena sudah beberapa tahun tidak di huni, ruang kantor itu jadi berdebu, meski sering di bersihkan. Tapi setelah Arga memberi tahu akan ada istrinya yang bekerja menggantikannya, ruang itu pun di bersihkan dengan rapi dan wangi.
Anita memandang setiap sudut ruang kantor suaminya dulu itu, ruang tersebut hanya berukuran empat kali tiga meter, karena memang pabrik tidak banyak memuat arsip.
"Ibu bisa bekerja di ruang kantor bapak di sini, nanti ibu bisa panggil saya atau bagian OB jika membutuhkan sesuatu." kata Sarah.
"Apa ada ruang pantrinya?" tanya Anita.
"Ada bu, di pojok yang tadi di lewati belok kiri itu pantrinya. Dan sebelahnya bagian gudang barang yang tidak terpakai." terang Sarah.
"Ya sudah, nanti setelah ini saya ingin berkeliling seluruh ruang pabrik."
"Siap bu, nanti saya antar."
"Tentu saja, apa kamu ingin saya tersesat?' tanya Anita sambil bercanda.
"Hehe, maaf bu. Bukan begitu, memang itu tugas saya. Karena pak Arga menunjuk saya yang menemani ibu berkeliling pabrik." jawab Sarah.
Anita tersenyum, lalu dia pun menelepon pada pembantunya untuk menanyakan Kevin yang di tinggal bekerja. Apakah anak itu rewel atau sudah biasa di tinggal olehnya.
Setelah selesai menelepon, Anita pun siap untuk berkeliling pabrik dengan Sarah.
"Yuk, kita berkeliling pabrik. Maaf ya tadi kamu menunggu saya." kata Anita.
"Ngga apa-apa bu, mari bu ikut saya." kata Sarah.
"Oke."
Mereka pun keluar dari ruang kerja Arga yang sekarang jadi ruang kerja Anita.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤❤