IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
128. Menemukan Kejanggalan


__ADS_3

Sesuai dengan saran suaminya, Anita masuk ke pabrik tiap hari agar bisa secepatnya menemukan siapa yang mengambil uang pabrik.


Dia sangat teliti memeriksa setiap detail keuangan di pabrik agar tidak ada yang terlewati.


Dia memanggil bagian keuangan dan bagian pengiriman barang secara bergantian.


Tok tok tok


Pintu ruang kantor di ketuk dari luar, Anita mendongak.


"Masuk." katanya.


Pintu terbuka dan masuk seorang perempuan yang sebaya dengannya. Kemungkinan dia sudah lama bekerja di pabrik di bagian keuangan.


"Selamat pagi bu Anita." sapa perempuan itu.


"Pagi juga Dian, duduklah." kata Anita.


"Terima kasih bu."


"Mana laporan keuangan tiga bulan lalu yang saya minta?" tanya Anita.


"Ini bu, semua sudah lengkap." kata Dian menyerahkan buku besar.


Memang pembukuan tidak boleh dengan mengetik. Hanya tulis langsung, baru setelah pemilik pabrik meminta laporan di ketik ulang.


Dan Anita meminta laporan keuangan yang aslinya. Karena di sana belum di rubah apa pun, masih laporan asli.


Anita memeriksanya secara teliti, Dia memperhatikan apa yang di lakukan oleh Anita. Sangat anggun terlihat, namun juga lembut.


"Bu Anita, apakah masih di perlukan saya di sini?" tanya Dian.


Anita mendongak, dia tersenyum manis membuat Dian tersipu malu.


"Kamu boleh pergi, tapi nanti setelah saya panggil kamu datang lagi." kata Anita.


"Iya bu. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Emm."


Dian keluar, dan langsung di tempatnya. Sedangkan Anita sedang memeriksa satu persatu pembukuan tulisan tangan. Ada perbedaan jauh dari tulisan tangan dan di ketik ulang.


Ternyata kesalahan ada di ketik ulang, dan juga di bagian pengiriman barang.


Anita menelepon bagian gudang, dia memanggil bagian gudang untuk membawa laporan yang sama tiga bulan lalu.


"Halo, bagian gudang?"


"Iya bu, ada apa?"


"Kamu bisa ke ruangan saya? Sekalian bawa laporan bagian pengiriman dari tiga bulan yang laly, sekarang ya."


"Baik bu."


Sambungan terputus, dia kembali memeriksa pembukuannya. Memang ada kejanggalan di sana, dia akan mencocokkan denga bagian gudang dan pengiriman barang produksi.


Tak lama pintu di ketuk dari luar.


Tok tok tok


"Masuk."


Pintu terbuka dan terlihat seorang laki-laki yang sebaya juga dengan suaminya. Dia membawa pembukuan juga yang di minta oleh Anita.


"Silakan duduk."


"Terima kasih bu."


"Mana laporan yang saya minta?" tanya Anita.

__ADS_1


"Ini bu."


Anita menerima pembukan bagian gudang, dia langsung memeriksanya dan mencocokkan dengan pembukuan keuangan terutama bagian pemasukan dan pengeluaran barang produksi.


Dia melihat bagian pengiriman barang produksi tidak sama dengan pemasukan di dua bulan akhir, dan puncak kerugiannya di bulan lalu.


"Apa ini semua yang memeriksa kamu?" tanya Anita.


"Iya bu, semua saya cek dan sesuai dengan tertera di situ." kata pak Salman yang di bagian gudang.


"Lalu, yang bagian pengiriman produk siapa?" tanya Anita.


"Ada lagi bu, ada dua orang yang mengirim produk ke agen-agen yang meminta di kirim barangnya." jawab pak Salman.


"Kemudian setelah mengirim, mereka menyetor langsung ke bagian keuangan?" tanya Anita lagi.


"Iya bu." jawab pak Salman lagi.


Anita diam, dia masih memeriksa pembukuan bagian gudang tersebut.


"Pak Salman boleh pergi, nanti jika saya butuh saya panggil lagi." kata Anita.


"Baik bu."


Pak Salman pun keluar, dia langsung menuju gudang kembali.


Dan Anita menemukan satu titik terang, di mana kejanggalan itu adanya.


Dia melirik jam yang melingkar di tangannya, sudah waktunya jam makan siang. Dia menutup pembukuannya dan hendak keluar.


Tapi telepon berbunyi, my husband tertulis di sana. Anita tersenyum, biasanya memang jam makan siang Arga menelepon istrinya meski berada di rumah. Namun kali ini lebih cepat karena dia takut Anita akan fokus bekerja dan melupakan makan siang.


"Halo?"


"Halo sayang, bagaimana pekerjaanmu?"


"Lumayan menguras otak, dan aku sudah menemukan di mana kejanggalan itu." jawab Anita.


"Ish, kenapa ranjang di bawa-bawa sih." ucap Anita kesal pada suaminya.


"Ya kan memang kamu selalu membuat aku ketagihan sayang."


"Udah ah, kamu ngomongnya begitu terus. Aku tutup teleponnya." kata Anita dengan kesal.


"Hahaha, maaf sayang. Aku hanya kangen sama kamu. Kamu sudah makan siang?"


"Belum, ini mau keluar cari makanan di luar."


"Ooh, ya sudah aku tutup teleponnya ya. Nanti di rumah kamu ceritakan penemuanmu di pabrik."


"Iya, kamu juga jangan lupa makan ya."


"Tentu sayang, aku tutup ya. Love you sayang."


"Love you to."


Anita tersenyum, setiap kali Arga menelepon pasti tidak jauh dari kata kangen dan di kamar. Ada saja pembicaraannya, namun begitu dia suka dengan suaminya yang romantis dan sangat perhatian.


_


Anita kembali memeriksa pembukuan dan mencocokkannya dengan pembukuan baguan gudang setelah jam makan siang telah selesai.


Dia memang memesan makanan saja dan makan di dalam ruangannya.


Tok tok tok


Pintu di ketuk, Anita melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Ya masuk!"

__ADS_1


Pintu terbuka, dan terlihat seorang OB membawa minuman pesanananya tadi di luar.


"Oh ya terima kasih, maaf ya merepotkan." kata Anita.


Dia belum biasa menyuruh OB untuk membelikan makan siang untuknya.


"Iya bu, itu sudah jadi tugas saya. Lain kali kalau ibu ingin makan di ruangan ibu, tinggal bilang sama saya. Nanti saya belikan aoa yang ibu pesan." kata OB tersebut.


"Iya, saya hanya belum terbiasa. Ya sudah nanti lain kali saya akan menyuruh kamu membelikan makanan untuk saya. Kamu namanya siapa?" tanya Anita.


"Imah bu, saya sudah bekerja lima tahun di pabrik ini." kata Imah lagi.


"Oh ya, Imah. Terima kasih ya."


"Sama-sama bu. Kalau begitu saya permisi keluar dulu." kata Imah.


"Iya Imah."


Setelah Imah keluar, Anita kembali mengutak atik pembukuan. Dia merasa bingung, di letakkannya dulu sebentar dan memikirkan bagaimana semua di bereskan.


Ini membutuhkan konsentrasi dan pemikiran yang benar. Karena tidak boleh salah sedikitpun. Anita memang sudah menemukan di mana letak kejanggalannya, tapi jumlah yang di selewengkan belum di ketahui seberapa banyak yang di selewengkan.


Ternyata dua orang yang bagian pengiriman barang dan menyetor keuangannya tidak sama dengan produk yang keluar dan setoran uang dari produo yang keluar.


Itu sudah tiga bulan berturut-turut yang di ketahui, karena kerugian besarnya selama tiga bulan terakhir.


Mungkin di bulan-bulan lalu sudah terjadi penyimpangan, namun skalanya kecil. Karena tidak di ketahui oleh pemimpinnya dan lagi Arga tidak pernah memeriksa pabrik selama tiga bulan terakhir karena pekerjaannya sangat menumpuk di kantor.


Anita terus memeriksa satu persatu barang, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Kembali pintu di ketuk, Anita melirik jam di tangannya.


"Aaah, ternyata sudah sore. Masuk."


"Sore bu, apa ibu akan segera pulang?" tanya laki-laki yang ternyata adalah supirAnita yang sudah di pekerjakan dua minggu lalu.


"Iya, saya langsung pulang. Pak Diman tunggu saja di mobil, saya beres-beres ini dulu." kata Anita.


"Baik bu." jawab pak Diman.


Setelah mengatakan itu, pak Diman pergi menuju mobilnya sesuai perintah Anita.


Anita membereskan berkas laporan tadi. Dia akan membawanya pulang untuk di tunjukkan pada suaminya. Arga harus tahu di mana eryawan yang menyapanya.


Kadang ikut berbicara dengan mereka untuk mendekatkan dan mengakrabkan diri.


"Saya pulang dulu ya." kata Anita pada karyawan yang sedang menunggu mobil angkot.


"Iya bu Anita." jawab mereka.


Mobil Anita melaju, mereka yang masih dan sana memandang kepergian Anita.


"Eh, ibu Anita baik ya." kata salah satu karyawan.


"Iya, dia ramah lagi." jawab karyawan lainnya.


"Beruntung ya pak Arga punya istri baik dan ramah, cantik lagi."


"Iya."


Obrolan mereka masih berlanjut membahas Anita, sampai mobil angkot datang memghampiri. Dan mereka langsung naik angkot.


Angkot pun melaju mengantar para karuawan pulang ke rumahnya masing-masing.


Matahari sudah di ufuk barat, waktu berjalan cepat dan malam pun datang.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2