IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
119. Mencari Tahu Rahasia Ibu Yuni


__ADS_3

Anita sedang menyiapkan semua sarapan anak-anak dan suaminya. Dia menyiapkan kerupuk udang kesukaan Arga.


"Bi, nanti yang mengantar anak-anak sekolah bibi aja ya. Saya ada perlu ke rumah saudara ibu." kata Anita pada pembantunya.


"Iya nyonya, tapi masaknya bagaimana? Kan anak-anak pulang sekolah pasti lapar, nyonya." ucapnya.


"Nanti saya pesan makanan aja sebelum pergi. Hari ini bibi tidak masak siangnya, kalau saya belum pulang. Biar masaknya sore aja untuk makan malam." ucap Anita.


"Oh, ya sudah." ucap bibi.


Setelah selesai, Anita membawa kerupuk udangnya di meja makan. Di sana Arga sudah siap untuk sarapan sambil memeriksa ponselnya.


"Ga, kamu nanti antar anak-anak seperti biasa ya dengan bibi." ucap Anita.


Dia menyiapkan nasi goreng ke dalam piring suaminya.


"Kamu ngga ikut?" tanya Arga meletakkan ponselnya.


"Ngga, kan aku mau ke rumah saudara ibu. Kamu lupa?"


"Oh ya, sayang aku lupa."


"Emm, baru juga tadi malam aku kasih tahu."


"Yang aku ingat cuma bercinta denganmu, sayang. Hahah."


Anita menatap suaminya yang tertawa senang, Anita memola matanya dan menghela nafas kasar dengan ucapan suaminya.


Dia lalu naik tangga memanggil anak-anak yang sedang bersiap berangkat sekolah.


"Kakak, abang cepat siap-siapnya. Papa udah nunggu untuk sarapan di bawah.


"Iya maa." jawab mereka serempak.


Anita pun masuk ke dalam kamar Kevin, dia melihat Kevin masih tidur. Dia lalu mendekat dan membangunkan anak bungsunya itu.


"Sayang, Kevin bangun yuk?" kata Anita.


Kevin menggeliat, anak kecil itu menatap Anita dan tersenyum.


"Ma, susu." ucap Kevin.


"Iya, mama bikin susu ya. Terus Kevin mandi." ucap Anita.


Dia lalu menyiapkan membuat susu untuk anaknya di meja yang memang ada susu dan air untuk membuat susu.


Setelah jadi, dia berikan pada anaknya dan susu itu langsung di tenggak sampai habis.


"Pintar anak mama, ayo kita mandi. Kakak sama abang sudah siap untuk sarapan dan pergi sekolah." ucap Anita.


_


Seperginya Arga dan anak-anaknya berangkat sekolah dengan pembantunya, Anita bersiap untuk pergi ke rumah saudara sepupu ibunya.


"Ma, kok ngga ikut sama papa?" tanya Kevin.


"Ngga sayang, mama mau ke rumah saudaranya eyang putri sama Kevin." jawab Anita.


Setelah bersiap dan menerima layanan pesan antar makanan untuk makan siang, Anita bergegas keluar rumah dan menguncinya. Kunci cadangan sudah di bawakan oleh bibi pembantunya agar jika pulang bisa langsung di buka tanpa menunggunya pulang.


Anita kini sudah menaiki taksi menuju rumah sepupu ibunya, dia juga membawa amplop dan foto semalam dia temukan di brankas milik ibunya.


Kevin, bocah kecil itu senang saja pergi naik mobil dengan Anita. Anita senang dia pergi hanya berdua dengan anaknya itu, bukan apa-apa setiap harinya dia pergi ke sekolah biasanya dengan kelima anaknya.

__ADS_1


Jadi meskipun merasa senang, ada yang hilang dari kebiasaan itu.


Mobil pun berhenti di depan gang, karena mobil tidak bisa masuk ke dalam gang.


"Ini bang uangnya." ucap Anita menyerahkan selembar uang berwarna merah.


"Terima kasih bu." ucap sang supir taksi.


Anita dan Kevin berjalan menyusuri jalan gang yang hanya bisa di lewati motor saja. Namun demikian dia senang karena ada yang menyapanya.


"Mau kemana mbak?" tanya seorang perempuan yang Anita tidak terlalu mengenalnya.


"Mau ke rumah ibu Rima." jawab Anita sambil tersenyum.


"Oh, mbak anaknya ibu Yuni ya?" tanya perempuan itu.


"Iya." jawab Anita singkat.


"Turut berduka cita ya mbak atas meninggalnya ibu, mbak." ucap perempuan itu lagi.


"Terima kasih." ucap Anita singkat.


Mereka pun berpisah di pertigaan, Anita berbelok ke kiri sedangkan perempuan yang menyapanya itu ke kanan.


Anita masih berjalan, memang agak jauh jalannya. Dia menyesal kenapa memakai sepatu agak berhak tinggi, dia seharusnya memakai sepatu flat saja agar tidak nyeri kakinya.


Meski lama karena menahan kaki agar tidak terlalu sakit berjalan, akhirnya Anita sampai juga di depan rumah bercat warna biru tua. Terlihat rumah itu sepi, namun begitu dia tetap memasuki pagar bambu rumah tersebut yang tidak di kunci.


Anita terus melangkah masuk dan duduk sejenak. Dia melihat anaknya yang tampak kelelahan karena berjalan cukup jauh.


"Adek capek ya?" tanya Anita.


"Iya ma." jawab Kevin.


"Hehehe.." Kevin hanya tertawa lucu.


Anita bangun lagi dan mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat.


Tok tok tok


Beberapa kali Anita mengetuk pintu, tak lama pintu terbuka dan terlihat perempuan seusia lebih tua dari ibunya menatap Anita heran dan terkejut.


"Anita, tumben datang ke rumah bude. Ada apa?" tanya ibu Rima.


"Mau silaturahmi saja bude, dan juga mau tanya sesuatu hal." jawab Anita.


"Oh, baguslah. Ayo masuk, kamu berdua saja dengan anak bungsumu?" tanya ibu Rima lagi.


"Iya bude, semuanya sekolah. Jadi aku bawa si bontot aja."


Anita duduk di kursi bambu dengan memangku Kevin. Ibu Rima masuk untuk membuatkan minuman.


Anita menatap setiap sudut rumah ibu Rima, di dinding terdapat foto bertiga. Ibunya, ibu Rima dan satunya entah siapa. Dia tidak tahu perempuan tersebut.


Ibu Rima masuk membawa minuman es teh manis. Dia tahu Anita pasti haus dan tentu ingin yang segar-segar.


"Ayo di minum es teh manisnya, Anita." ucap ibu Rima.


"Terima kasih bude." ucap Anita.


"Ma, mau es tehnya." kata Kevin.


"Adek haus ya?" tanya Anita.

__ADS_1


"Iya, ma." jawab Kevin menenggak es teh manisnya lagi.


"Nanti bude bikin lagi es teh manisnya." kata ibu Rima.


"Iya bude, tadi jalan kaki dari depan gang. Kevin tidak mau aku gendong, jadi mungkin kelelahan dan haus." ujar Anita.


Ibu Rima tersenyum, dia masuk lagi membawa teko yang memang sudah di siapkan untuk minum selanjutnya.


"Sekarang Kevin bebas mau minum yang banyak juga boleh." kata ibu Rima.


"Iya bude, makasih."


Ibu Rima tersenyum, dia lalu memandang Anita. Tentunya dia mengira Anita akan menanyakan sesuatu atau ada keperluan penting.


"Anita, kamu ke rumah bude jauh-jauh begini ada perlu apa?" tanya ibu Rima.


Anita mengeluarkan sebuah amplop dan foto ayahnya, lalu di berikan pada ibu Rima.


Sejenak ibu Rima menatap foto itu lama dan membaca tulisan pada secarik kertas itu. Dia menghela nafas panjang kemudian menatap Anita.


"Apa yang mau kamu tahu, Anita?" tanpa berbasa basi lagi ibu Rima bertanya maksud kedatangan Anita.


"Aku ingin tanya tentang ayahku, bude. Apakah bude mrngetahui sesuatu tentang ayah dan ibu. Bagaimana hubungan mereka sebelum ayah pergi? Waktu itu kan aku masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Ibu selalu bercerita kalau ayah pergi jauh sekali dan tidak akan kembali. Kemarin ketika seminggu meninggalnya ibu, ada seorang perempuan datang ke rumah mengaku mantan istri ayah." kata Anita panjang lebar.


Ibu Rima menatap keponakannya itu, dia menghela nafas panjang. Kemudian dia bangkit dari duduknya, mengambil foto yang tadi di pandangi oleh Anita.


Lalu ibu Rima memberikan foto muda ibunya itu pada Anita. Anita bingung, apa maksud dari foto itu.


"Ini foto apa bude?" tanya Anita heran.


"Itu foto dulu ketika ibumu, bude dan teman bude dan ibumu masih muda dulu. Foto itu ketika ayahmu mengenal ibumu dan menikahinya tanpa berpacaran terlebih dahulu." kata ibu Rima.


"Lalu, apa ada sejarahnya dari foto tersebut?" tanya Anita semakin penasaran.


"Ada, Anita. Hanya saja bude sudah janji sama ibumu tidak menceritakan apa pun tentang kisah ayah dan ibumu dulu." kata ibu Rima.


"Tapi ibu sudah tidak ada bude, katakan padaku bagaimana ayah bisa meninggalkan aku yang masih kecip bude, hik hik." bujuk Anita mulai terisak.


Dia ingin tahu alasan ayahnya pergi, dan apakah ayahnya itu masih hidup atau sudah tidak ada.


Ibu Rima masih diam, dia ragu untuk menceritakannya pada Anita.


"Bude, tolong ceritakan padaku tentang ayah dan ibuku, kumohon bude?" Anita menghiba.


Ibu Rima jadi kasihan dengan Anita, dia kembali menghela nafas panjang.


"Kalau bude ceritakan, apakah nanti suamimu akan menerima ayahmu nanti?" tanya ibu Rima.


"Arga sangat mencintaiku, bude. Dia pasti menerima ayah jika memang ayah masih hidup." kata Anita.


Anita diam, dia menatap ibu Rima dengan kaget. Ada kalimat yang membuatnya semakin penasaran.


"Jadi, ayahku masih hidup, bude?"


_


~> dah segitu dulu ya, besok lagi ceritanya...😉😊😁


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2