
Anita mengantar Marisa yang pingsan ke klinik. Dia cemas dengan keadaan Marisa. Setelah menemui dokter jaga, Anita melihat dokter memeriksa Marisa dengan teliti. Dari suhu badan, detak jantung dan tensi darah. Semuanya di periksa.
Anita masih cemas ketika dokter memeriksa denyut nadi Marisa lama. Lalu setelah selesai, dokter duduk di kursi dan menuliskan resep pada Anita.
Dokter, teman saya kenapa?" tanya Anita.
"Tidak perlu di khawatirkan, hanya kurang darah dan tensinya turun. Mungkin kurang tidur atau terlalu banyak pikiran dan makannya tidak teratur." kata dokter.
Anita diam, apakah sampai seperti itu?
Dokter memberikan resep padan Anita, setelah itu dia keluar dari ruangan pemeriksaan itu. Anita duduk kembali di kursi yang di buat menghadap ke arah bangsal di mana Marisa terbaring lemah. Menatapnya penuh kekhawatiran dan merasa bersalah.
Tak berapa lama, mata Marisa bergerak-gerak dan membuka secara perlahan. Anita mendekat dan memperhatikan Marisa yang sudah sadar dari pingsannya.
"Saya di mana mbak?" tanya Marisa memegangi kepalanya.
"Ada di klinik dekat kontrakan mbak Marisa ko, di belakang pasar. Mbak sudah baikan?" tanya Anita.
"Sudah mending sih mbak, kenapa saya di bawa ke klinik? Padahal di rumah saja juga ngga apa-apa. Aku cuma butuh istirahat." kata Marisa merasa tidak enak pada Anita.
"Saya khawatir melihat mbak Marisa tidak sadarkan diri, jadi saya bawa ke klinik ini." ucap Anita.
"Terima kasih ya mbak, saya merepotkan mbak Anita saja." ucap Marisa.
"Mbak Marisa saya tinggal ngga apa-apa? Saya sudah terlalu lama meninggalkan ibu dan anak-anak, karena saya izin cuma sebentar." tanya Anita, dia tidak tenang meninggalkan toko dan rumahnya terlalu lama.
"Iya mbak, ngga apa-apa. Saya bisa pulang sendiri kok nantinya." kata Marisa.
"Ya sudah, saya pulang dulu ya mbak Marisa."
"Iya mbak, tapi mbak Anita benarkan nanti bicara sama mas Arga?" tanya Marisa memastikan Anita membantunya bicara dengan Arga.
Anita menunduk, dia menatap Marisa lalu memgangguk.
"Terima kasih mbak, saya ngga enak harus minta bantuan sama mbak Anita." kata Marisa.
"Ngga apa-apa mbak, dia juga temanku juga." kata Anita.
Marisa tersenyum senang, dia kini lebih bersemangat lagi. Ada harapan untuk bisa bicara lagi dengan Arga.
Setelah berkata seperti itu, Anita keluar dari ruang pemeriksaan. Dia melangkah gontai, seharusnya dia berpikir dulu sebelum menyanggupi permintaan Marisa. Apa yang akan dia katakan pada Arga tentang Marisa. Pasti Arga kaget sekali Anita tahu tentang Marisa adalah mantan Arga.
_
Lima hari berlalu, Anita menyibukkan diri agar bisa memberinya waktu untuk berpikir tentang permintaan Marisa. Kebetulan sekali Arga juga tidak berkunjung ke rumahnya. Ada kelegaan di hati Anita, Arga tidak datang ke rumahnya untuk mengapelinya.
Ponsel Anita juga tidak pernah dia sentuh. Dia merasa takut untuk menjawab pertanyaan dari Marisa nantinya apakah dia sudah bicara pada Arga atau belum.
Dan benar saja, ponsel Anita berdering di dalam kamar. Anita tidak tahu, dia ada di dalam toko sedang melayani pembeli. Ibu Yuni merasa risih dering telepon Anita tidak mau berhenti.
Dia lalu masuk ke dalam kamar Anita dan mengambil ponsel Anita yang ada di atas kasurnya. Dia melihat nama Marisa yang telepon sudah tiga kali.
Siapa Marisa? Apa perempuan janda itu?
Tanpa berpikir lagi, ibu Yuni mengambil ponsel Anita yang masih berdering. Dia masuk ke dalam toko dan meletakkan ponsel Anita di meja.
"Ponsel kamu bunyi terus, siapa tahu penting." kata ibu Yuni.
__ADS_1
"Dari siapa bu?" tanya Anita sambil mengambil barang yang di pesan oleh pembeli.
"Di situ sih namanya Marisa." jawab ibu Yuni.
Tangan Anita berhenti mengambil, dia menunduk. Sudah dia duga, itu pasti dari Marisa.
"Mbak Anita, punya saya sudah belum?" tanya pembeli itu tidak sabar.
"Iya bu, sebentar saya sedang mengambil barang terakhir." kata Anita.
Dia kemudian mengambil barangnya dengan cepat. Ibu Yuni keluar kembali meneruskan membuat bolu di dapur.
Anita menyelesaikan melayani pembeli, dia kemudian mengambil ponselnya. Melihat riwayat panggilan berapa kali Marisa meneleponnya.
Tujuh kali, dia melihat Marisa meneleponnya sampai tujuh kali. Anita menghela nafas panjang, dia duduk di kursi yang biasa dia duduk untuk menghitung dan menulis.
Apa yang akan dia katakan, apakah belum ketemu Arga? Memang belum bertemu Arga, dia semakin sibuk rupanya.
Kriing kriiing...
Lagi, ponsel Anita berdering. Nama Marisa memanggil. Dia sejenak, menarik nafasnya dan dia pencet tombol warna hijau.
"Halo mbak Marisa?"
"Mbak Anita sibuk ya, aku telepon sampai delapan kali ngga di angkat juga." kata Marisa, Anita menghela nafas panjang.
"Iya mbak Marisa, saya banyak pelanggan jadi ponsel saya tinggalkan di kamar. Ada apa mbak?" tanya Anita berpura-pura lupa.
"Emm, apa mbak Anita sudah bertemu mas Arga?"
"Belum mbak, aku sibuk di toko. Mungkin Arga sibuk juga, jadi kita tidak pernah bertemu lagi."
Dia siapa sampai sepenting itu harus menghubungi Arga membicarakan dirinya. Gumam Anita dalam hati, ada rasa kesal juga.
"Maaf mbak, yang saya kerjakan itu banyak. Jadi apa yang saya kerjakan dan saya pikirkan itu bukan hanya memikirkan masalah Arga dan mbak Marisa saja. Ada anak-anak saya yang harus saya perhatikan dan juga toko saya harus saya kerjakan. Jadi untuk memberitahu Arga, harus punya waktu senggang mbak Marisa." ucap Anita kesal sendiri.
"Maaf mbak kalau begitu, nanti biar saya saja yang bicara sama mas Arga." kata Marisa lesu.
Dia memang salah, seharusnya jangan terburu-buru seperti itu. Dia harus memahami Anita bahwa itu sangat berat untuk Anita.
Awalnya Anita tidak mau tahu tentang masa lalu Arga dengan mantan istrinya, tapi jika rumit seperti itu dia juga harus berpikir lagi untuk melangkah lebih serius dengan Arga.
"Saya bukannya tidak mau mbak Marisa, tapi saya benar-benar belum bertemu dengan Arga. Dia juga tidak pernah ke rumah lagi. Mungkin juga sibuk, jadi mbak Marisa mengerti keadaan Arga juga." kini Anita yang memberi pengertian pada Marisa.
"Iya mbak, maaf saya mengganggu mbak Anita. Saya akan menunggu kabar dari mbak Anita, selain saya datang sendiri ke rumahnya." kata Marisa.
Anita diam, dia tidak tahu kenapa kesal pada Marisa. Bukan karakter dirinya jika ada yang membuatnya marah atau kesal.
"Saya juga minta maaf mbak, mungkin saya terbawa emosi karena hari ini banyak pelanggan." kata Anita.
"Iya mbak Anita, sekali lagi saya minta maaf. Sudah mengganggu kesibukan mbak Anita."
"Iya ngga apa-apa."
Lalu sambungan telepon terputus, Anita meletakkan ponselnya di meja. Memikirkan Marisa dan Arga.
_
__ADS_1
Marisa memikirkan apa yang di katakan Anita, dia tidak enak seperti memaksa Anita untuk bicara dengan Arga. Sedangkan dia sendiri waktunya hanya sepuluh hari lagi yang di berikan ibunya untuk pulang ke kota.
Sebelum dia pulang ke kota, dia sudah bisa dapat pengakuan dari Celine kalau dia adalah mamanya. Kini Marisa akan berusaha sendiri, karena dia tahu Anita akan ragu. Tapi jika bukan dengan bantuan dari Anita, dia sangat susah bertemu dengan Arga dan bicara berdua.
Marisa tidak tahu, memang Arga sedang sibuk sekali akhir-akhir ini. Pekerjaannya setiap hari ada saja laporan dan pengaduan tentang klien yang meminta bantuan hukumnya untuk mengurusi perceraian, dia juga sebenarnya ingin bertemu Anita. Tapi dia selalu pulang malam terus.
"Pa, kok tante yang waktu itu belum datang lagi ya." kata Celine pada Arga ketika malam ini mereka makan malam.
Arga berhenti mengunyah, dia menatap putrinya itu dengan heran.
"Kenapa Celine mencari tante itu?" tanya Arga.
Ibu Ema pun penasaran, dia ingin tahu kenapa cucunya sampai bertanya tentang Marisa.
"Kan Celine belum bilang terima kasih pada tante itu karena di kasih boneka beruang besar." ucap Celine.
Kini makan Arga jadi tidak berselera, dia meletakkan sendok dan garpunya di piring yang masih ada sisa makanan. Ibu Ema melihat piring Arga, masih banyak.
"Apa sebaiknya kamu ceritakan tentang wanita itu, Ga?" tanya ibu Ema oada Arga.
"Aku tidak tahu ma, aku masih bingung menjelaskannya. Apakah akan ada apa-apa jika aku ceritakan pada Celine tentang Marisa." ucap Arga sedih.
"Marisa itu siapa sih pa?" tanya Celine pada Arga.
Arga menatap ibu Ema pun sebaliknya.
"Marisa itu mamanya Celine yang pernah papa ceritakan. Celine ingat tidak?" tanya Arga.
Biarlah dia katakan sekalian, siapa Marisa.
"Jadi mama Celine namanya Marisa pa?" tanya Celine.
"Iya sayang."
"Terus mama Marisa kemana pa?"
Diam, Arga diam kembali bingung. Ibu Ema menyuruh Celine menghabiskan makananya.
"Celine, ayo makannya di habiskan. Ngobrol sama papanya nanti lagi ya." ucap ibu Ema.
"Iya oma." ucap Celine.
Arga semakin bingung, apa yang harus dia katakan?
Apakah nanti Celine akan marah jika dia menyembunyikan mamanya ada di kampung ini dan sering ke rumahnya.
Setelah selesai makan, Celine di suruh masuk ke dalam kamarnya oleh ibu Ema.
"Pikirkan Ga, untuk mengatakannya. Dua orang sedang menunggumu bicara, dan bisa jadi bertambah satu lagi yang menunggumu bicara, agar nanti kamu tidak menyesal nantinya." kata ibu Ema.
Arga mengangguk, dia kemudian menunduk. Memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤