
Pulang kerja lebih cepat dari biasanya karena Anita mengunjunginya.
Di perjalanan Anita masih diam sejak keluar dari kantor Arga. Banyak yang menyapa suaminya terutama staf kantor perempuan juga pegawai lainnya.
Dan Arga pun menanggapi dengan senyuman saja. Baru kali ini Anita bertemu dengan orang-orang sekeliling Arga, dia merasa tidak suka suaminya yang ramah itu.
Arga menoleh pada istrinya yang masih diam tanpa bicara apa pun.
"Sayang, kenapa kamu dia saja dari tadi?" tanya Arga dengan mengemudikan mobilnya pelan.
"Kamu terkenal ya di kantor?" tanya Anita tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Emm, mereka sudah mengenalku lama sekali sayang, jadi wajar mereka selalu menyapaku jika pulang dari kantor. Memangnya kenapa?" tanya Arga.
"Ngga apa-apa." jawab Anita singkat.
Arga diam, dia menoleh ke arah istrinya yang masih bermuka datar.
"Emm, kita makan di luar yuk berdua saja. Mumpung kita di jalan dan ngga bawa anak-anak, anggap aja kita pacaran sayang." kata Arga mencairkan suasana di dalam mobil.
Ada rasa hawa dingin di dalam mobil yang Arga rasakan karena diamnya istrinya itu.
"Boleh, kemana?" tanya Anita sedikit mencair suasananya.
"Kamu maunya kemana?"
"Ke restoran seafood aja ya. Aku pengen makan di restoran seafood." jawab Anita.
"Oke, siap ratuku." kata Arga dengan mengerlingkan mata pada Anita.
"Ish, ganjen banget sih kamu. Jangan-jangan di kantor sama pegawai perempuan begitu ya?" mulai mode cemburunya.
"Lho, aku ganjen sama kamu aja sayang. Ngapain aku ganjen sama perempuan lain? Lha istriku aja lebih cantik lebih seksi kenapa aku harus melirik perempuan lain." jawab Arga.
Dia harus ekstra sabar, hormon perempuan hamil kadang memang bikin jengkel.
Anita mendengus kesal, kenapa dia jadi sering marah dan cemburu sama suaminya.
Dulu waktu hamil Angga dan Kevin tidak seperti itu, kenapa hamil sekarang jadi lebih marah dan khawatir pada suaminya.
Dia takut suaminya berpaling darinya karena kini dia lebih berisi.
Arga melirik ke arah Anita, dia melihat wajah istrinya masih begitu kesal padanya tentang sapaam staf karyawan di sana.
"Sayang, ini sudah sampai di restoran seafood. Ayo turun, kamu udah lapar kan?" tanya Arga.
"Iya, dari tadi aku lapar." jawab Anita.
Kemudian Arga turun dan menghampiri istrinya yang belum turun untuk membantunya turun.
Setelah mereka turun dari mobil, mereka langsung masuk dan mencari tempat yang agak jauh dari keramaian. Agar istrinya nyaman jika duduk di tempat sepi.
Pelayan datang menghampiri, memberikan katalog menu makanan di restoran tersebut. Setelah memilih beberapa menu, Arga melihat istrinya seperti kepanasan. Dia meminta pada pegawai untuk memberikan kipas agar Anita tidak kepanasan.
"Untuk apa kipas, Ga?" tanya Anita aneh.
"Untuk kamu sayang, kamu kepanasan kan?"
"Aku biasa aja, sudah bilang sama pelayan itu jangan bawa kipas lagi. Malu-maluin aja sih."
"Ya kan biar kamu ngga panas. Aku lihat keringat kamu bercucuran begitu, jadi ku pikir kepanasan."
"Ngga kok."
"Emm, ya sudah."
Tak lama, makanan datang sesuai pesanan mereka. Pelayan meletakkan piring-piring berisi makanan di meja itu, setelah selesai Arga dan Anita langsung melahap makananya.
Dan baru beberapa suap, ada seorang perempuan datang menghampiri Arga dan Anita yang sedang makan dengan tenang.
__ADS_1
"Pak Arga ya?" tanya perempuan itu dengan senyum mengembang.
Arga mengangkat kepalanya, pun Anita juga.
"Eh, bu Erin. Ada di sini juga?" tanya Arga.
Dia berusaha bersikap sopan pada perempuan yang menyapanya tadi. Dia lupa di sampingnya istrinya sedang dalam keadaan kesal.
"Iya pak Arga, kebetulan ya bertemu di sini. Pak Arga dengan istrinya?" tanya Erin lagi.
"Iya nih, lagi menyenangkan istri yang sedang hamil." jawab Arga.
"Waah, senangnya istri pak Arga sedang hamil. Selamat ya pak." kata Erin lagi.
"Iya, terima kasih." ucap Arga.
Dan Anita semakin kesal, dia seolah tidak ada di situ padahal topik pembicaraannya adalah dirinya. Tapi kenapa perempuan bernama Erin ini seolah tidak mau mengenalnya?
"Ga, aku udah kenyang. Mau pulang." kata Anita dengan ketus.
"Lho, sayang? Kan baru saja makan, kok udah kenyang sih?" tanya Arga heran.
"Mari pak Arga, saya duluan." kata Erin.
"Oh ya bu Erin, silakan." jawab Arga.
"Aku kenyang mendengar pembicaraan kamu sama dia." kata Anita lagi dengan kesalnya.
"Tapi aku masih lapar sayang, sayang kalau di biarkan."
"Udah pokonya mau pulang!"
"Ya udah iya, kita pulang." ucap Arga.
Dia menenggak minumannya sampai habis, setelah itu dia membayar makanan yang baru sesuap di makan. Arga harus ekstra sabar.
_
Arga tahu istrinya sedang kesal sejak di restoran, dia juga bersalah kenapa tidak memperkenalkan istrinya pada perempuan bernama Erin.
"Pa, kok sendirian, mama mana?" tanya Angga menghampiri Arga.
"Mama masuk kamar sayang, kecapekan mamanya. Jadi langsung masuk kamar. Kalian sedang apa?" tanya Arga.
Dia belum masuk kamar, masih menenteng tasnya menghampiri anak-anaknya.
"Sedang main pa." jawab Celine.
"Kevin pintar ngga hari ini?" tanya Arga.
"Pintar pa, ngga nangis ngga rewel." jawab Kevin menggelayut manja pada Arga.
"Uuh, anak papa pintarnya. Cup." Arga mencium pipi Kevin dan mendudukkannya di sofa.
"Mama capek ya pa?" tanya Kevin.
"Iya sayang, mama gampang capek. Kan ada dede bayi di perut mama, jadi harus banyak istirahat." jawab Arga.
"Kasihan ya mama, pa." ucap Kevin lagi.
"Iya sayang. Ya sudah, papa ke kamar dulu ya ganti baju."
"Ya pa."
Arga bangun dari duduknya dan menuju tangga, bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia membuka pintu pelan, masuk dan dia tidak melihat istrinya.
Hanya terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Bararti istrinya sedang mandi.
Dia lalu melepas sepatunya meletakkan tas kerjanya di meja lalu membuka dasinya. Dia masukkan semua baju kotor yang dia pakai hari ini di keranjang baju kotor.
__ADS_1
Dan tak lama, Anita keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono serta handuk di kepalanya. Menatap suaminya dengan datar, membuat Arga jadi merasa bersalah.
Dia kemudian buru-buru masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dari keringat dan bau badan serta debu yang menempel di kulitnya.
_
Malam semakin larut, Anita masih memeriksa penjualan barang di pabriknya, apakah ada yang rugi atau barang di kembalikan karena rusak. Semua di periksa laporannya di laptopnya.
Arga sendiri sama halnya, dia juga sedang memeriksa berkas BAP laporan tadi siang masuk ke meja kerjanya. Dia membawa kerjaannya karena harus meladeni istrinya yang sedang merajuk saat itu.
Kini sepasang suami istri itu tengah sibuk masing-masing dengan pekerjaannya yang di bawa pulang.
Pukul sebelas, Arga selesai duluan. Dia merapikan laptop dan berkas yang berserakan tadi di mejanya. Setelah semua beres, dia menghampiri istrinya yang masih berkutat dengan laptopnya di ranjangnya.
Arga duduk di sebelah Anita, memegang pundaknya dan memijatnya pelan. Sambil memperhatikan apa yang tertera di laptop istrinya.
"Ada perkemabangan sayang?" tanya Arga pada istrinya.
Namun Anita tidak menjawab, dia masih serius mendalami laporan yang masuk.
"Kamu ngga capek?" tanya Arga lagi karena pertanyaan pertama tidak di tanggapi.
"Ngga." jawab Anita singkat.
Kini Arga mulai meraba perut istrinya yang mulai terlihat buncit. Dan Anita diam saja tanpa terganggu.
Tangan Arga berlari ke atas setelah tidak ada penolakan dari istrinya itu. Dia meraba dan menangkup kedua bukit kembar istrinya sambil bibirnya mengendus di leher Anita.
Ciuman lembut dia berikan di leher jenjang yang terekspos karena rambut Anita di gulung ke atas.
Masih belum ada reaksi dari Anita ataupun penolakan. Arga terus saja menciumi leher, tengkuk dan juga telinga Anita dengan penuh gairah.
Anita sempat terbuai, membuat Arga bersemangat untuk mencumbu istrinya.
Tapi tiba-tiba Anita menoleh ke arah suaminya dan menatapnya penuh curiga.
"Lena itu siapa?" tanya Anita tiba-tiba.
"Eh, Lena yang mana?" tanya Arga heran.
Dia masih bergairah saat ini, tangannya mengelus tengkuk istrinya dan siap menciumnya lagi.
"Lena yang tadi pagi katanya kamu di tunggu sama bu Lena, kata sekretarismu. Dia siapa?" kini mode curiga mulai terlihat.
Lebih tepatnya sih cemburu tidak berada pada tempatnya.
Dan Arga pun ingat tadi pagi istrinya itu menelepinnya dan dia sedang di tunggu sama ibu Lena.
"Oh, dia itu dari komnas perempuan sayang, mau mendampingi klien aku juga. Kan aku bilang di telepon mau bertemu klien korban kekerasan dalam rumah tangga." ucap Arga dengan sabar menjelaskan pada istrinya.
"Benar dia dari komnas perempuan? Bukan selingkuhan kamu kan?" tanya Anita yang sudah kemana-mana pikirannya.
Jika sudah begini, Arga harus benar-benar sabar, dia kini redup gairahnya. Namun masih ingin menyentuh istrinya.
"Sayang, dengar ya. Semua orang di kantor itu tahu siapa itu pengacara Arga yang ganteng dan selalu setia pada istrinya. Semua perempuan yang berusaha mendekatiku sudah aku kasih tahu sebelumnya bahwa aku sangat mencintai istriku. Jadi tidak ada yang berani mendekat padaku, karena mereka tahu aku sangat mencintai kamu sayang. Buat apa aku selingkuh, jika yang di rumah itu segalanya bagiku." memang seperti rayuan gombal, namun itu benar adanya bagi Arga.
Dan Anita terdiam, dia menatap suaminya dalam lalu tersenyum manis. Itu membuat Arga jadi senang tidak ada drama seperti dulu.
Dia lalu mendekat pada istrinya lagi, meneruskan aksinya yang sempat tertunda karena kecemburuan Anita.
"Perempuan yang di restoran itu sombong sekali sih Ga? Kok kamu kenal sama orang seperti dia?" tanya Anita.
Dan lagi-lagi Arga menghela nafas panjang, dia masih harus sabar menghadapi ocehan istrinya. Hingga malam semakin larut, Arga tidak dapat jatah malam ini karena ocehan Anita yang semakin membuat kesal dirinya sendiri tentang perempuan yang mengelilingi suaminya itu.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤