
Pagi-pagi sekali mobil Mourin sudaj ada di depan rumah Anita, dia dan ketiga preman sewaannya itu sudah stand by di tempatnya seperti kemarin.
Jam tujuh lewat lima menit mobil Arga sudah keluar, di susul mobil grand livina hitam yang di tumpangi oleh ketiga anak Anita.
Mourin tahu hari Jum'at itu Anita tidak pergi ke pabrik, jadi kemumgkinan yang ikut mengantar mobil hitam itu pasti pembantunya.
"Mobil yang mana yang harus di ikuti?" tanya salah satu preman itu.
"Mobil hitam itu, kita ikuti di mana sekolah anak-anaknya." jawab Mourin.
"Yang alphard putih itu ayahnya?"
"Ya, lagi pula dia tidak membawa siapa-siapa."
"Baiklah, kita harus berhasil hari ini." kata preman yang duduk di belakang.
"Tentu saja, harus berhasil. Kalau tidak, kalian saya tuntut!" ucap Mourin pada ketiga preman itu.
"Hei nona, kamu mau melaporkan kemana? Nona sendiri yang merencanakan kejahatan, sudah pasti anda yang paling di cari pihak berwajib." ujar preman di depan.
"Berisik! Sudah diam, perhatikan terus mobil hitam itu. Kalian lihat dan perhatikan anak-anak yang keluar dari mobil itu, jika ada kesempatan tarik salah satunya." ucap Mourin.
"Tenang saja, nona jangan khawatir."
Setelah setengah jam membuntuti, akhirnya mobil Mourin berhenti juga di tempat yang agak jauh dari gedung sekolah.
Mereka memperhatikan anak-anak yang keluar drai mobil yang tadi di ikuti.
"Nah, kalau bisa kalian culik anak laki-lakinya lalu bawa lari ke dalam mobil. Ingat, jangan sampai orang-orang di sana curiga." kata Mourin.
"Siap, kami tahu apa yang akan kami lakukan." jawab ketiganya.
"Bagus, dua orang keluar dari mobil. Berpura-puralah kalian di depan pintu gefbang itu. Lalu kalian harus cepat culik anak itu sebelum masuk ke dalam sekolah."
Kemudian mereka berdua turun dari mobil Mourin dan menghampiri tiga anak yang sedang berdiri di depan pintu gerbang sekolah.
"Bang Iko, tadi gantungan kunci Celine jatuh. Tolong carikan bang." pinta Celine pada Chiko.
"Di mana jatuhnya dek?" tanya Chiko.
"Kayakanya di depan pintu gerbang deh bang." jawab Celine.
"Ya udah, Celine masuk aja sama kakak Chila dulu. Nanti abang Iko carikan di depan." kata Chiko.
"Iya bang."
Chiko lalu keluar lagi ke depan gerbang sekolah. Dia mencari gantungan kunci Celine yang jatuh. Celine dan Chila melihat Chiko yang sedang mencari gantungan kunci.
Dan dari samping, Chiko tiba-tiba di tarik oleh dua orang yang tidak di kenal.
Tentu saja Chila dan Celine berteriak melihat saudaranya di tarik oleh dua orang tak di kenal.
"Tolooong, ada culik. Abang Iko di culiiik!" teriak Celine sambil menangis.
Chila dan Celine berteriak hingga seluruh anak-anak sekolah heran dan memandang Chila dan Celine.
Guru dan kepala sekolah berlari menghampiri Chila dan bertanya.
"Ada apa Chila, Celine?" tanya kepala sekolah.
"Itu, Chiko di culik sama dua orang pak. Mereka lari ke sana." jawab Chila sambil menunjuk ke arah kanan.
__ADS_1
Kini mereka menangis, saudaranya di culik entah oleh siapa. Kepala sekolah segera menghubungi orang tua Chila dan Chiko.
"Halo bu Anita."
_
Anita panik, dia kini bergegas menghubungi suaminya. Dia ingin ke sekolah namun mobik sedang di pakai pembantunya untuk pergi ke pasar.
Belum lagi dia di rumah dengan Kevin dan Angga yang sedang sakit. Pikirannya benar-benar kacau.
Berkali-kali dia menghubungi suaminya masoh belum terjawab. Dan ketiga kalinya Arga menjawab telepon Anita.
"Halo, sayang ada apa?" tanya Arga di seberang sana.
"Ga, hik hik hik. Ga,...Chiko di culik. Hik hik hik." jawab Anita sambil menangis tersedu.
"Apa? Chiko di culik? Bagaimana bisa?"
"Tadi dari sekolah di telepon katanya Chiko di culik. Aku takut terjadi apa-apa sama Chiko Ga, hik hik hik."
"Tenang dulu sayang, aku langsung ke sekolah Chiko ya. Kamu jangan nangis."
"Aku khawatir Ga, bagaimana bisa Chiko di culik."
"Iya, makanyq aku ke sekolah sekarang. Kamu di rumah yang tenang, jaga diri jika ada yang mengetuk pintu pastikan jangan di buka dulu. Aku akan cari tahu siapa mereka yang menculik Chiko."
"Hubungi aku jika ada kabar dari sekolah, Ga."
"Iya sayang, nanti Chila sama Celine aku bawa pulang sekalian."
Setelah menghubungi suaminya kini Anita semakin gelisah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kabar dari suaminya di sekolah.
Anita pikir, kemumgkinan penculik itu meminta tebusan padanya atau pada suaminya. Dia terus mondar mandir di ruang keluarga.
Sesekali matanya melihat ke atas, dia takut anaknya memanggilnya.
Di luar terdengar suara mobil masuk halaman rumahnya. Anita segera berlari menuju pintu rumah dan melihat siapa yang datang.
Ada rasa kecewa ketika melihat hanya mobil hitam yang datang, itu artinya pembantunya yang datang dari pasar memberi beberapa stok bahan makanan.
Pembantunya bi Ina mengambil barang-barang dari dalam mobil di bantu pak Diman.
Anita masih terlihat gelisah, dia melihat arah keluar jalan. Dan tak berapa lama, mobil suaminya datag. Dia menghampiri mobil suaminya dengan tidak sabar.
Wajah cemas dan gelisah tampak jelas, dan pintu mobil terbuka. Dua anaknya menangis, Anita heran kenapa anaknya menangis keras.
"Mama, abang Iko ma." kata Celine.
"Iya sayang, mama tahu. Bagaimana kejadiannya kak?" tanya Anita pada Chila.
Karena dia yang paling besar, jadi mungkin dia bisa di tanya pelan-pelan karena Celine teris saja menangis.
"Tadinya Celine minta adek Iko cari gantungan kunci yang jatuh di depan gerbang ma, terus tiba-tiba Iko di tarik sama dua orang. Iki berontak tapi terus saja di bawa ma, hik hik hik." jawab Chila ikut menangis lagi.
Arga turun dari mobilnya, dia sedang mengjubungi seseorang agar meminta bantuan dari pihak berwajib.
Setelah menelepon, Arga menghampiri istrinya dan memeluknya erat. Meski Anita tidakenangis seperti di telepon tadi, tapi Arga tahu Anita begitu khawatir dan gelisah.
"Ayo masuk ke dalam dulu. Jangan menangis di luar sayang, ngga enak di lihat dari jalan." kata Arga menggiring kedua anaknya dan Anita.
Pak Diman dan bi Ina heran, namun mereka sempat mendengar penuturan Chila kalau Vhiko di culik di sekolahan.
__ADS_1
"Pak Diman, tadi sewaktu kita berangkat ke pasar di depan gerbang sekolah kan tidak ada orang yang mencurikan kan?" tanya bi Ina.
"Iya, tapi saya sempat melihat ada mobil terparkir dekat sekolah bi, dan mobil itu sepertinya saya pernah lihat." kata pak Diman.
"Melihat apa pak Diman?" tanya bi Ina.
"Ya, melihat mobil silver parkir di depan gedung sekolah agak jauh, dan tidak sengaja juga kemarin saya melihat mobil itu juga. Saya pikir itu kebetulan saja, jadi tidak curiga waktu itu." jawab pak Diman lagi.
"Jadi pak Diman melihat mobil sukaondar mandir di sekitar rumah ini dan tadi lihat ada di sekolah begitu?" tanya bi Ina menjelaskan ucapan pak Diman.
"Iya betul, bi."
"Ya sudah saja laporan sama tuan Arga kalau kamu melihat mobil silver mondar mandir sekitar rumah ini dan tadi melihat mobil itu lagi di depan sekolah." kata bi Ina.
"Baik bi, semoga bisa membantu pencarian den Chiko." kata pak Diman.
Lalu pak Diman masuk ke dalam rumah dan memberitahu Arga kalau dia pernah melihat mobil yang sama ketika di rumah dan di sekolah.
"Jadi pak Diman tahu mobil itu?" tanya Arga antusias.
"Iya, tuan. Kemarin dan tadi di sekolah den Chiko. Karena saya tidak curiga kalau mobil itu tidak melakukan apa-apa." kata pak Diman.
"Bentuk mobilnya dan warnanya apa?" tanya Arga.
"Senia dan warna silver tuan. Dan saya imgat waktu nyonya ke pabrik, saya mengantarkan anak-anak pulang mobil itu juga pernah berkunjung ke rumah ini tuan." kata pak Diman lagi.
Arga berpikir, mungkinkah itu Mourin? Dia yakin yang melakukannya itu Mourin, pasti dia meminta surat rumah itu.
"Terima kasih pak Diman, saya akan mengusut tuntas orang itu. Saya tahu orangnya siapa."
Setelah berkata seperti itu, Arga naik tangga dan menemui istrinya yang masih mengintrogasi kedua anaknya.
"Ga, bagaimana? Apa kamu sudah lapor polisi?" tanya Anita.
"Sudah sayang, aku sudah lapor polisi sewaktu menjemput Chila dan Celine di sekolah. Dan ada yang harus kamu tahu sayang." kata Arga.
"Apa Ga? Katakan?" tanya Anita tidak sabar.
"Kemungkinan yang menculik Chiko itu Mourin. Pak Diman mengetahui mobil itu beberapa kali ada di sekitar rumah kita, dan dia tadi pagi juga melihat mobil itu ada di depan sekolah. Jadi memang dia sudah merencanakan akan menculik Chiko agar kamu memberikan surat rumah itu padanya sayang." kata Arga.
"Apa? Dia yang menculik Chiko untuk mendapatkan surat rumah itu?" tanya Anita tidak percaya.
"Iya sayang, dia memang merncanakan menculik Chiko dan minta tebusan surat rumah itu." kata Arga lagi.
"Lalu bagaimana, apa yang harus kita lakukan? Hik hik hik, aku takut dia melukai anakku." kata Anita menangis lagi.
"Tenang sayang, dia tidak akan bisa membayar orang-orang pintar dalam hal itu. Mungkin tujuan dia memang mau surat rumah itu. Kita tunggu saja, pasti dia akan memberikan surat atau menelepon kita memberitahu bahwa Chiko ada sama dia." kata Arga dengan tenang.
Dia tahu trik-trik seperti itu sudah sangat basi. Namun demikian dia harus bertindak hati-hati agar Chiko tidak di lukai.
Dia kasihan sama istrinya, dia akan membuat rencana penangkapan Mourin. Karena dia juga sudah melayangkan pemanggilan padanya oleh kepolisian, dan tidak di tanggapi.
Jadi aksinya itu suatu kenekatan yang harus di tanggapi dengan hati-hati agar Chiko tidak di lukai oleh Mourin.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1