IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
105. Salah Paham


__ADS_3

Sampai rumah, Anita langsung masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu untuk berganti pakaian dan mencuci mukanya saja. Lalu dia kembali keluar untuk menyiapkan makan siang untuk anak-anaknya yang tertunda.


"Kakak mau makan ngga? Mama siapkan, adeknya di kasih tahu ya." ucap Anita pada Chila.


"Iya ma." jawab Chila.


Lalu Anita turun ke bawah lagi pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan di meja makan.


"Bu, tadi ibu Yuni sangat cemas ibu Anita belum pulang sampai sore." ucap bi Sofia, pembantu Anita.


"Oh ya, aku tadi salah jalan bi jadi pulangnya lama." kata Anita.


Lalu Anita segera menyiapkan makanan dengan cepat. Ibu Yuni menghampiri Anita yang sibuk di dapur.


"Anita, kamu kemana saja kok lama sekali pulangnya. Ibu khawatir denganmu, membawa lima anak lalu ngga pulang-pulang sampai sore begini." ucap ibu Yuni.


Ibu Yuni memang sangat sensitif jika Anita terlihat sedih namun tidak mengatakan apa pun padanya. Dia tahu anaknya sedang tidak baik-baik saja hatinya, meski tidak bercerita.


Namun demikian, dia tidak mau menanyakannya. Dia yakin Anita bisa mengatasi masalahnya sendiri.


"Aku tadi kehabisan uang bu, jadi turun di jalan yang sepi penduduk. Eh ternyata harus jalan kaki untuk sampai di ATM." kata Anita bercerita secara singkat.


Ibu Yuni menghela nafas panjang, dia kasihan sekali dengan anaknya. Begitu tegar memghadapi masalah yang di hadapinya sendirian.


"Lain kali kamu minta di antar sama suamimu, jangan pergi naik taksi. Kalau suamimu tidak bisa mengantar, belikan mobil untuk mengantar dan menjemput anak-anak ke sekolah. Apa tidak terpikirkan oleh suamimu untuk membelikan mobil." ucap ibu Yuni.


Dia mulai kesal dengan menantunya. Kenapa anaknya yang kerepotan, dia sendiri masih merasakan kesedihan dengan meninggalnya ibunya. Anita menatap ibunya, lalu mengelus punggungnya pelan.


"Bu, aku tidak masalah dengan naik taksi bolak balik jemput anak-anak. Yang penting anak-anak bisa bersekolah tepat waktu. Ibu jangan pikirkan keadaanku, semua juga akan baik-baik saja kok. Mungkin Arga masih belum terima kenyataan kalau mama sudah tiada." ucap Anita menenangkan ibunya.


"Tapi ini sudah hampir dua bulan, masa dia masih bersedih terus. Setidaknya dia harus bangkit, memang tidak mudah melupakan orang yang kita sayangi meninggalkan kita. Tapi dia harus memperhatikan orang-orang yang menyayanginya juga." ujar ibu Yuni dengan rasa kesalnya.


Dia seperti di tipu oleh menantunya, yang akan membahagiakan dan tidak akan menyakiti Anita. Tapi kenyataannya, dia bersikap dingin setelah ibunya meninggal.


Kembali Anita mengelus punggung ibunya, dia tahu ibunya marah sama Arga. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak, Arga sendiri masih belum mau di dekati.


Tapi malam nanti, dia akan memaksa suaminya itu bicara dan bercerita. Kenapa dia berubah seperti itu, Anita hanya yakin sebenarnya Arga masih sangat mencintainya. Hanya saja, entah apa yang membuat dia berubah dingin padanya.


_

__ADS_1


Malam hari, sebenarnya kaki Anita sangat lelah karena jalan kaki tadi siang. Namun dia sengaja menunggu Arga pulang dari kantor untuk bertanya tentang unek-uneknya selama hampir dua bulan sejak mertuanya meninggal.


Anita membuka ponselnya, dia baru menyalakan ketika di carger tadi. Dia melihat pesan singkatnya hanya di baca oleh suaminya saja.


Anita mendesah pelan, lalu di letakkannya lagi ponselnya. Dia bersiap mandi setelah tadi meladeni kelima anaknya makan.


Sekarang pukul enam sore, Arga biasanya pulang jam tujuh malam. Berarti satu jam lagi, dia akan bicara ketika waktunya pas dan lagi santai agar tidak timbul ketegangan antara dirinya dan suaminya.


Dan kini pukul tujuh lebih dua puluh menit mobil Arga baru masuk ke dalam halaman rumah. Anak-anak pun berlari menghampiri Arga dan berebut bercerita tentang tadi siang.


"Pa, tadi siang papa kemana sih?" tanya Celine pada Arga.


"Papa rapat sayang, jadi ngga bisa jemput kalian pulang sekolah." jawab Arga terus melangkah menuju kamarnya.


"Pa, tahu ngga tadi siang itu kami semua..." ucap Celine dengan antusias.


"Celine, papa masuk dulu ya. Ceritanya nanti saja kalau papa sudah mandi dan ganti baju, oke?" kata Arga.


"Papapa." Kevin ikut menimpali.


Anita yang melihat Arga bergerak naik ke atas cepat-cepat menarik Kevin dan menggendongnya.


"Papa mau mandi dulu dek, nanti kalau papa sudah segar adek boleh main sama papa." ucap Anita pada anak bungsunya itu.


Kelima anaknya kini kembali belajar di depan ruang keluarga, sengaja mereka belajar bersama di ruang keluarga agar Anita bisa mengawasi mereka secara bersamaan.


_


Setelah anak-anak sudah tidur, Anita masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Arga sedang duduk santai sambil bermain ponselnya. Ini saatnya Anita bicara dengan suaminya.


Anita mendekati Arga, dia duduk di sisi ranjang sambil menatap suaminya dan tangan kanannya memegang kaki suaminya.


"Ga, kamu sudah makan?" tanya Anita pelan.


"Sudah, tadi di kantor." jawab Arga masih fokus di ponselnya.


"Ga, apa kita bisa bicara?" tanya Anita langsung saja.


Arga berhenti bermain ponsel, dia menatap istrinya yang begitu tenang. Dia pun ikut bersikap tenang seperti Anita. Mungkin ini waktunya mengeluarkan unek-uneknya pada istrinya.

__ADS_1


Sejatinya dia juga tersiksa harus mendiamkan Anita, tapi dia merasa kecewa pada istrinya itu.


"Mau bicara apa? Aku juga mau bicara sama kamu." ucap Arga.


Anita menghela nafas panjang, dia akan mendengarkan keluhan suaminya.


"Oke, lalu siapa dulu yang akan bicara?" tanya Anita.


"Silakan kamu dulu yang bicara."


Bahasa Arga terlalu formal, dia bicara seperti bukan pada istrinya. Dia pikir aku kliennya, pikir Anita.


"Aku mau tanya, sudah satu bulan lebih mengapa sikap kamu seperti dingin padaku? Apa kamu marah sama aku?" tanya Anita.


"Sejujurnya aku kecewa sama kamu, kamu seolah tidak peduli dengan kesedihanku, kamu seolah seperti biasa saja ketika mama meninggal. Kamu juga lebih memperhatikan anak-anak dan ibumu di banding aku yang sedang terpuruk karena kehilangan mama yang paling aku sayang. Aku kecewa kamu seperti mengacuhkan aku, tidak peduli dengan meninggalnya mama. Apakah di hatimu tidak ada perasaan sayang sama mama, Anita?" tanya Arga pelan tapi menusuk ke dalam hati Anita.


Anita tertegun, dia seolah terpidana yang banyak sekali kesalahan dan dosa.


"Ga, aku tidak seperti apa yang kamu katakan. Kamu salah paham dengan sikapku, dan aku sudah berusaha bertanya padamu kenapa kamu diam saja dan menghindariku. Aku berusaha mendekatimu, tapi kamu seolah enggan aku dekati Ga. Kamu tahu, dalam hatiku kamu bersikap dingin seperti itu rasanya sakit sekali. Tapi aku harus menghadapi kelima anakku dengan hati riang dan tidak terpuruk. Masalah meninggalnya mama, kamu tahu ibu juga sangat terpukul. Bukan kamu saja, apa lagi aku. Aku juga sangat terpukul, tapi kembali lagi ke anak-anak. Jika aku terpukul dan larut dalam kesedihan dengan meninggalnya mama, larut dalam luka akan kehilangan mama sampai berhari-hari seperti kamu, siapa yang akan memberi semangat anak-anak selain aku, siapa yang akan mengurus mereka? Ibu ikut terpukul karena beliau menganggap mama seperti kakaknya sendiri. Lalu, apa lagi yang harus aku lakukan? Aku membiarkan kamu larut dalam kesedihan karena memberi ruang untukmu. Aku pikir kesedihanmu hanya sebentar, tapi nyatanya kamu lebih lama dan malah menghindariku. Aku sedih Ga, aku takut kamu berubah seperti mas Rendi, aku takut kamu melupakan aku dan meninggalkan aku dan anak-anak. Kamu mengabaikan semua panggilanku. Sampai akhirnya aku pasrah jika kamu melupakan aku, aku sudah biasa di acuhkan dari dulu. Aku sudah biasa berteman dengan sakit hati. Yang aku takutkan kamu melupakan anak-anak kita, mereka sering bertanya kenapa papanya jarang bermain dengannya. Aku tetap harus menjawab dengan baik tentang kesibukanmu. Hik hik hik." kini Anita menangis mengungkapkan semua yang ada di hatinya.


Arga tertegun, dia seperti tertohok dengan ucapan Anita. Tapi rasa egoisnya lebih memilih bertahan dengan pikirannya.


"Tapi kamu seperti biasa saja dengan meninggalnya mama. Aku kecewa Anita, mama adalah orang terdekat satu-satunya dalam hidupku." ucap Arga.


"Lalu, aku apa Ga? Bukankah aku istrimu? Yang seharusnya aku tempat bersandar dan berkeluh kesah di saat sedih. Kemana kehangatan yang kamu tunjukkan dulu padaku. Kamu tahu, aku setiap ada waktu menunggu Angga pulang aku sempatkan ke makam mama untuk mendoakannya dan juga berkeluh kesah di sana, aku tidak tahu harus berkeluh kesah pada siapa. Kamu menjauh dariku, sedangkan ibu sama terpuruknya denganmu atas meninggalnya mama. Sedangkan aku harus bersikap tegar di depan anak-anak, itu sangat menyakitkan Ga. Hik hik hik."


Diam, Anita diam pun juga Arga. Anita bangkit dari duduknya, dia berdiri masih menatap Arga. Dan sebelum pergi dia berkata lagi.


"Kamu tahu Ga, aku begitu tegar di sakiti siapa pun. Aku kuat tanpa harus berkeluh kesah dan tanpa belas kasihan, karena siapa? Anak-anakku. Aku harus tegar karena anak-anakku membutuhkan mamanya yang kuat di depan mereka. Tidak menunjukkan kerapuhan hati pada mereka, menghindar dari segala kebahagiaan bersama anak-anak. Aku akan tidur di kamar Kevin, mungkin kamu butuh merenungkan semuanya." ucap Anita lirih.


Dia lalu melangkah pergi meninggalkan Arga yang masih tetdiam. Hati Arga sakit, mendengar penuturan Anita. Ternyata Anita lebih rapuh dari dirinya, hatinya menjerit dan tiba-tiba dia menangis tersedu.


Sedangkan Anita, belum pergi dari balik pintu kamarnya. Dia menangis, sesering itu dia menangis di malam hari di kamar mandi. Tapi kini dia tidak bisa menahan tangisnya lagi.


Anita segera berjalan cepat menuju kamar Kevin dan Angga. Masuk dan menguncinya agar Arga tidak mengejarnya, dia ingin suaminya itu merenungkan semua ucapannya serta menyadarinya semuanya.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2