IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
149. Cemburu


__ADS_3

Memasuki trisemester dua, permintaan Anita semakin banyak. Dia sekarang sudah kuat untuk pergi ke mana-mana, kehamilannya sekarang sudah menginjak empat bulan lebih.


Jadi masa ngidam masih berlaku bagi Anita. Saat ini dia ada di pabrik, karena sudah lama dia tidak datang ke pabrik.


Anita ingin menelepon suaminya pagi-pagi di kantornya.


Tuuut


Tersambung dan langsung terjawab.


"Halo sayang, tumben pagi-pagi nelepon aku. Ada apa?" tanya Arga heran.


"Cuma ingin nelepon kamu aja, kangen." ucap Anita malu-malu.


"Ooh, kamu kangen sama aku?"


"Iya, kamu sedang apa?" tanya Anita lagi.


"Ya sedang kerja dong sayang, kenapa memangnya?"


"Ada di mana?"


"Di kantor lah aayang. Sebentar lagi keluar mau menemui klien."


"Siapa kliennya?"


Arga terdiam, dia heran kenapa istrinya jadi ingin tahu seperti itu?


"Ga?"


"Iya sayang, ibu-ibu kliennya. Dia ingin bercerai dari suaminya karena ngga tahan sikap kasar dan suka main tangan. Apa lagi di depan anak-anaknya."


"Ooh, kasihan ya. Jam berapa kamu berangkatnya?"


"Setelah kamu selsesai menelepon sayang."


"Pulang jam berapa?"


"Belum tahu sayang, tapi pulang dari menemui klien apa pulang sore?"


"Ya pulang dari menemui klien kamu."


"Iya, belum tahu. Aku mau mendengarkan dulu alasannya lebih lanjut kenapa dia mau bercerai dari suaminya." jawab Arga.


Dia merasa seperti di interogasi oleh istrinya, karena tidak biasanya Anita seperti itu. Senang sih, istrinya perhatian seperti itu.


Sedangkan Anita diam mendengarkan suaminya bicara.


"Pak, sudah di tunggu sama ibu Lena di mobil." kata seorang perempuan di sambungan telepon Arga.


"Ya, sebentar Nia. Saya sedang menelepon istri saya." kata Arga.


Dan Anita tiba-tiba jadi penasaran siapa itu ibu Lena dan Nia. Dia mau bertanya, namun Arga dengan cepat bicara lagi sama Anita.


"Sayang, udah dulu ya neleponnya. Aku di tunggu sama rekan kerjaku."


"Ga?"


Klik


Sambungan telepon di tutup secara sepihak oleh Arga. Membuat Anita semakin penasaran, siapa perempuan bernama ibu Lena dan Nia itu.


"Arga mau kemana ya dengan perempuan itu?" gumam Anita.


Dalam pikirannya, Anita mengira Arga suaminya sedang berduaan dengan perempuan bernama ibu Lena. Dia terus kepikiran dengan suaminya.


Hingga pekerjaannya jadi salah terus karena kepikiran suaminya.


Tok tok tok


"Masuk."


Pintu terbuka, ibu Imah membawa pesanan Anita tadi pagi. Dia minta di belikan baso yang rasanya sangat pedas.


Ibu Imah sendiri merasa aneh, kenapa bosnya itu minta baso yang sangat pedas?


"Ini bu, pesanan bu Anita." kata bu Imah.


"Oh ya, bu Imah. Terima kasih ya." ucap Anita.


"Emm, ibu sedang ngidamkah?" tanya ibu Imah.


"Iya bu, saya tiba-tiba pengen makan baso pedas pagi ini." jawab Anita.


"Oowalah, bu Anita lagi isi lagi ya. Heheh.."

__ADS_1


"Iya, udah empat bulan ini. Ngga kelihatan ya?"


"Bukan bu, kelihatan kok. Cuma saya pikir ibu agak gemuk gitu, maaf bu." kata bu Imah.


Anita tersenyum, benarkah dia gemuk?


"Eh, memangnya saya terlihat gemuk ya bu?" tanya Anita.


"Kalau pun gemuk ya wajar bu, wong lagi hamil kok." jawab bu Imah.


Anita tersenyum lagi, dia jadi kepikiran apakah Arga akan jadi malu punya istri gemuk?


"Bu Imah, biasanya kalau istri gemuk karena hamil apa suami akan cari perempuan lain ya?" tanya Anita.


Pertanyaan yang aneh sebenarnya, tapi dia khawatir saja. Jika dia gemuk suaminya akan berpaling.


Dia lupa, Arga itu sudah cinta mati padanya. Namun tetap saja Anita khawatir, suaminya akan berpaling


"Eh, ya ngga juga bu. Memang ada yang seperti itu, istrinya gemuk dan tidak terurus jadi berpaling ke perempuan lain." kata bu Imah.


Mendengar jawaban bu Imah, Anita ingat dulu mantan suaminya seperti itu. Apakah Arga akan seperti itu juga? Tapi, selama dua kali hamil Arga tetap mencintainya kan?


Ah, kenapa aku jadi kepikiran yang bukan-bukan ya? gumam Anita dalam hati.


"Bu, saya permisi dulu ya." kata bu Imah.


"Iya bu Imah, terima kasih basonya."


"Iya Bu, sama-sama."


Setelah bu Imah keluar, Anita melahap baso pedasnya.


_


Pulang dari pabrik, Anita berpikir akan ke kantor suaminya di firma hukum. Sejak menikah dia belum pernah berkunjung ke kantor Arga.


Dia tahu tempatnya dan kadang melewati jika hari Minggu mereka sekeluarga pergi jalan-jalan. Namun Anita tidak pernah mampir ke kantor suaminya.


"Pak Diman, ke kantor firma hukum ya." kata Anita pada supirnya.


"Iya bu." jawab pak Diman.


Mobil pun melaju ke kantor firma hukum di mana Arga berkantor di sana. Setengah jam perjalanan dari pabrik ke kantor Arga.


Anita sengaja tidak memberitahu suaminya kalau dia akan datang ke kantornya.


Menenteng tas kerjanya, melangkah dengan pasti menuju gedung bertingkat sepuluh itu. Dia menuju resepsionis, bertanya di mana letak ruang kantor suaminya.


"Mbak, maaf saya mau tanya di mana kantor pengacara Arga ya?" tanya Anita.


"Ibu sudah ada janji?" tanya resepsionis.


Anita diam, bagaimana dia punya janji karena mau memberi kejutan pada suaminya itu.


"Belum sih mbak, tapi apakah pengacaranya ada di kantornya ya?" tanya Anita lagi.


"Ada, apa ibu klien pak Arga?" tanya respsionis itu lagi.


"Iya mbak, saya klien pak Arga." jawab Anita cepat.


"Saya hubungi dulu ya bu, pak Arganya." kata resepsionisnya.


Lalu dia menghubungi Arga dan mengatakan ada klien ingin bertemu dengannya. Setelah dapat jawaban, resepsionis itu mempersilakan Anita menuju kantor Arga.


"Ibu ke lantai lima saja ya, nanti ibu tanya saja ke bagian staf di sana tahu di mana kantor pak Arga." kata resepsionis itu.


"Baik mbak, terima kasih."


Anita lalu naik lift, dia menekan tombol angka lima. Menunggu sampai di laintai lima, Anita melihat jam di tangannya. Sudah pukul empat sore.


Lift berhenti di lantai lima, Anita keluar dari lift dan dia mencari staf yang bertugas di sana.


"Pak, kantor pak Arga di mana ya?" tanya Anita.


"Oh, itu bu paling ujung." jawab staf kantor itu.


"Terima kasih."


Anita melangkah menuju ruangan paling ujung, semakin dekat dia sendiri merasa berdebar. Kebetulan pintu ruangan itu terbuka.


Anita mendekat, dia ingin memberi kejutan tapi dia terkejut melihat perempuan sedang berdiskusi dengan Arga dengan posisinya sangat dekat.


"Arga?!" teriak Anita melihat suaminya begitu dekat dengan perempuan lain.


Arga mendongak, dia juga ikut kaget. Dan perempuan yang tadi dekat dengan suaminya itu menatap Anita aneh.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu ngga bilang mau datang?" tanya Arga mendekat pada istrinya.


Anita menatap perempuan yang juga menatapnya aneh. Namun dia kemudian menatap suaminya lagi dengan kesal dan tidak menjawab pertanyaan suaminya.


"Nia, besok di bicarakan lagi mengenai yang tadi. Sekarang istri saya datang." kata Arga.


"Baik pak, kalau begitu saya permisi." jawab Nia.


Dia pergi dengan perasaan tidak enak hati, ternyata Anita adalah istri bosnya.


Arga membimbing istrinya untuk duduk di sofa, dan menatapnya penuh kekagetan.


"Kamu mau kesini kok ngga bilang sih sayang?" tanya Arga lagi.


"Kamu lagi ngapain tadi dengan perempuan itu?" tanya Anita tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


"Dia sekretarisku, Nia namanya. Kita sedang membahas berkas yang masuk tadi pagi. Ada laporan tentang pelecehan seksual seorang gadis dari ayah tirinya. Ibunya tidak terima, dia ingin di dampingi olehku." kata Arga menjelaskan pada Anita agar istrinya itu tidak berpikiran macam-macam.


"Kenapa diskusinya dekat begitu? Ngga bisa gitu duduk aja saling berhadapan di kursi lain." kata Anita dengan masih nada ketus.


Arga tersenyum, dia senang istrinya itu sepertinya sedang cemburu. Atau itu bawaan janin yang ada di perutnya.


"Bisa aja, tapi kita tadi melihat berkasnya dan ada yang harus di jelaskan tadi sama Nia. Kamu kenapa, emm?" tanya Arga dengan lembut.


"Ngga apa-apa." jawab Anita masih dengan wajah masam.


Cup


Satu kecupan singkat di bibir Anita dari Arga.


"Kamu sedang cemburu ya?"


"Siapa yang cemburu?" kata Anita ketus.


"Ya kamu sayang, terus kenapa datang ke kantorku?"


"Memangnya ngga boleh?"


"Boleh saja sayang. Tapi tumben banget kamu datang ke kantor aku., ada apa?" tanya Arga lagi dengan pelan.


Dia tahu istrinya sedang cemburu, hormon perempuan hamil memang sering berubah-ubah sesuai dengan keadaan hatinya. Maka dari itu, dia tidak mau membuat istrinya emosi.


Di belainya pipi Anita dengan lembut, agar rasa kesal itu hilang.


"Kamu kesini dengan pak Diman?" tanya Arga.


"Iya, niatnya mau kasih kejutan sama kamu. Eh, lihat kamu lagi asyik dengan sekretarismu." jawab Anita.


"Ya udah, aku telepon pak Diman agar pulang duluan. Kamu pulang sama aku aja." kata Arga.


Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi pak Diman agar langsung pulang saja.


"Nah, sudah. Pak Diman sudah aku suruh pulang. Sekarang kamu kesini mau ngapain?" tanya Arga.


Dia duduk kembali di samping istrinya yang sudah mode santai.


"Emm, aku pengen ketemu kamu aja Ga. Pengen lihat kantor kamu." jawab Anita.


"Nah, sekarang sudah tahu kantor aku. Lalu mau ngapain lagi?"


"Ya ngga ngapa-ngapain Ga, kamu ngga suka aku datang?"


"Ya ngga dong sayang, aku malah suka kamu datang ke kantorku."


"Jadi, setiap hari aku datang ke kantormu tidak apa-apa?"


"Eh, kok setiap hari?"


"Ngga boleh ya?"


"Eh, boleh kok. Terserah kamu aja sayang."


Duh, salah bicara lagi. Tapi masa istrinya harus datang ke kantornya setiap hari sih?


Kini pembicaraannya sudah lain lagi, Arga tidak mau bertanya lagi tentang kenapa Anita datang ke kantornya, panjang jawaban dan pertanyaannya.


Pukul lima sore Arga pulang lebih cepat, dia meminta pada staf dan sekretarisnya untuk besok di siapkan lebih cepat agar bisa di tangani lebih dulu.


Seharusnya sekarang, tapi Anita datang ke kantornya jadi dia tunda besok._


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2