IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
84. Pengorbanan Anita 2


__ADS_3

Anita sampai di rumah sakit dengan laki-laki yang akan mendonorkan darahnya untuk Celine. Dia membawa laki-laki itu menuju ruang transfusi darah dan mengatakan laki-laki yang dia bawa adalah pendonor darah pasien anak kecil.


"Dokter, ini orang yang akan mendonorkan darahnya, tolong periksa bapak ini dan ambil darahnya." kata Anita.


Dokter mengerutkan dahinya, namub demikian dokter itu melakukan apa yang Anita mau. Laki-laki itu berbaring di bangsal dan di periksa seluruh keadaan fisiknya. Setelah di rasa cukup sehat dan memenuhi syarat untuk jadi pendonor darah, lalu dokter mengambil alat-alatnya berserta perawat yang membantunya.


Anita keluar, dalam hati dia bersyukur ada orang yang mau mendonorkan darahnya pada Celine. Dia sendiri tidak langsung menuju kamar inap Celine, dia hanya langsung ke tempat ruangan tranfsusi darah.


Anita melirik jam di tangannya, sudah pukul setengah sembilan. Apakah akan cukup waktunya, dia gelisah. Karena sudah satu jam laki-laki itu dan dokter mengambil darahnya.


"Semoga bisa di berikan tepat waktu." gumam Anita.


Dan dokter memberi tahu kalau pengambilan darah sudah selesai. Anita langsung mendekati dokter.


"Dokter, apa sudah selesia?" tanya Anita tidak sabar.


"Sudah bu, maaf. Darahnya untuk siapa ya?" tanya dokter.


"Untuk anak saya yang membutuhkan darah bergolongan darah O. Katanya di sini golongan darah O tidak ada stok." kata Anita.


"Iya memang benar bu, tapi tadi petang ada yang kesini menyumbangkan darah juga. Oh, mungkin saja orang lain. Ya sudah, nanti saya siapkan darah itu, dan ibu bisa bawa ke dokter yang bersangkutan. Memang harus cepat." kata dokter lagi.


"Iya dokter, terima kasih." kata Anita.


Anita menghampiri laki-laki yang tadi menyumbangkan darahnya, dia masih terbaring lemah. Hanya butuh istirahat dan makan makanan yang begizi serta banyak minun air atau susu.


"Terima kasih pak atas bantuannya." kata Anita.


"Iya bu, ibu juga mau menolong saya kan?" tanya laki-laki itu.


"Iya, sebentar saya mau ambil dompetnya dulu dan mengambil uang di ATM. Bapak jangan dulu pulang ya, setekah menyerahkan kantong darah saya kesini lagi menyerahkan uang pada bapak." kata Anita.


"Ibu tidak bohongkan, takutnya saya di tinggalkan dan ibu tidak kembali lagi. Bukan apa-apa, saya memang butuh uang untuk pulang." kata laki-laki itu.


"Jangan khawatir pak, saya akan kembali lagi kesini. Saya jaminkan KTP saya, du situ ada nama dan alamat saya. Jika saya lupa dan tidak kembali kesni, bapak bisa cari alamat saya untuk meminta hak bapak." kata Anita lagi.


Dia menyerahkan KTP pada laki-laki itu, dengan ragu laki-laki itu menerima KTP Anita. Dia melihat nama dan alamatnya. Foto di KTP sih memang wajahnya.


"Bu, ini kantong darahnya. Ibu secepatnya ya di berikan pada petugas atau dokter yang menangani anak ibu." kata dokter itu.


"Baik dokter." sahut Anita.


Anita menghampiri laki-laki sebentar untuk pamit sebentar dan langsung pergi menuju kamar di mana Celine di rawat. Dia terus berlari menyuusuri lorong rumah sakit, tak peduli orang-orang memandangnya sedikit aneh padanya.


Sampai di depan kamar Celine, ternyata ada dokter dan sesorang yang tadi sore dia temui di kontrakannya sedang bicara. Di sana juga ada ibu Ema, Anita belum berani masuk ke dalan. Dia hanya memperhatikan orang yang di dalam itu.

__ADS_1


Setelah dokter selesai bicara, Anita mundur dan duduk di kursi dengan lemas. Ternyata Marisa datang ke rumah sakit dan mendonorkan darahnya, syukurlah. Pikir Anita.


"Eh, ibu Anita tadi ya." kata dokter menyapa Anita.


"Iya dokter. Apa anak yang di dalam sudah mendapatkan donor darahnya?" tanya Anita.


"Iya bu, syukurlah ibunya datang juga. Kalau tidak segera, saya tidak tahu harus bagaimana " ucap dokter lagi.


"Iya dokter, syukurlah mamanya cepat datang." ucap Anita menunduk.


Kantong darah yang dia pegang pun hampir jatuh. Dokter melihat apa yang di bawa Anita dan mengerutkan dahinya.


"Itu kantong darah, bu Anita?" tanya dokter heran.


"Iya dokter. Tadinya mamanya tidak mau mendonorkan drahnya, jadi saya cari dari orang lain. Tapi sekarang mamanya yang mendonorkan, saya lega dokter. Kalaupun saya kasih darah di kantong ini pun akan terlambat ya dok?"


"Tidak juga bu, kan waktunya memang malam. Ini baru jam delapan lewat. Kalaupun terlambat ya paling besok kemungkinan tidak tertolongnya." ucap dokter lagi.


Anita mengangguk saja, kemudian dokter pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Anita kembali duduk, tiba-tiba tubuhnya lemas dan bergetar karena tadi berlari-lari di tambah dengan perut kosong.


Marisa keluar dari kamar Celine, dia melihat Anita yang sedang duduk bersandar di kursi dengan memegang sebuah kantong darah di tangannya.


"Kamu datang juga, seharusnya berterima kasoh karena saya berubah pikiran." ucap Marisa pada Anita.


Anita menegakkan tubuhnya meski susah oayah, namun dia sedikit heran dengan ucapan Marisa.


Marisa diam, dia masih menatap Anita sinis. Lalu dia duduk di samping Anita namun berjarak.


"Kamu benar, aku punya kesempatan untuk menjadi ibu yang baik. Seperti katamu tadi siang." kata Marisa.


"Syukurlah mbak Marisa mempunyai pemikiran seperti itu. Saya senang mendengarnya." ucap Anita.


"Tapi itu juga aku membutuhkan ketulusanmu untuk tidak mengadukan kembali pada mas Arga."


Diam senejak, Anita menunggu kelanjutan ucapan Marisa. Perasaannya tidak enak mendengar ucapan Marisa.


"Aku akan menjaga Celine sampai sembuh di rumah sakit, dan kamu tidak perlu datang menemani atau menjenguk Celine lagi. Aku yang akan merawatnya dengan mas Arga nanti jika dia pulang. Dan saya mohon jangan bilang apa pun pada mas Arga, bukankah menjadi ibu yang baik harus menjaga anaknya? Kamu juga seperti itu kan?"


Ya, saya tahu mbak. Saya mengerti, semoga mbak Marisa benar-benar menjadi ibu yang baik bagi Celine." ucap Anita tulus.


"Ya, tentu saja. Saya akan jadi mama yang baik bagi Celine. Dan satu lagi, mbak Anita jangan menemui Celine dan mas Arga lagi. Itu saja yang aku minta. Mbak juga punya anak, hiduplah dengan bahagia dengan anak mbak Anita sendiri, mbak tahu sendiri.Karena mbak juga seorang ibu. Dan apa mbak tidak bisa memaafkan kesalahan suami mbak Anita? Kembalilah pada mantan suamimu mbak Anita." ucap Marisa.


Anita menunduk, rasa perih kembali dia rasakan ketika Marisa mengatakan itu, Sekali pun Rendi masih hidup, dia tidak akan pernah mau kembali. Tapi rupanya Marisa tidak tahu masalah Anita dulu. Memang Anita tidak pernah cerita kalau mantan suaminya itu sudah berpulang.


"Marisa?"

__ADS_1


Marisa kaget dengan panggilan ibu Ema pada Marisa, dia bangun dari duduknya dan menghampiri mantan mertuanya.


"Ada apa ma, apa Celine bangun?" tanya Marisa merasa gugup, takut ibu Ema tahu apa yang dia katakan pada Anita.


"Kamu bicara dengan siapa?" tanya ibu Ema, melongok ke arah Anita.


"Tante, saya pamit pulang dulu. Ini sudah malam, nanti anak-anak saya mencarinya. Karena di sini ada mamanya, jadi tante bisa tenang. Celine juga sudah tertolong." ucap Anita.


Ibu Ema diam, kenapa mimik wajah Anita jadi sedih begitu.


"Kenapa pulang?"


"Kan sudah ada mbak Marisa yang bisa menjaga Celine, tante. Chila dan Chiko juga pasti menunggu saya di rumah." ucap Anita.


Sedangkan Marisa diam, dia melirik pada Anita. Tapi yang di lirik hanya diam saja tanpa menoleh padanya.


Setelah berpamitan, Anita pergi dengan tangannya membawa kantong darah Sebelum ke ruanf transfusi darah, Anita ke ATM untuk mengambil uang yang dia janjikan pada laki-laki yang mendonorkan darahnya. Namun nyatanya tidaj di pakai, tapi biarlah. Dia akan menyerahkan darah itu di rumah sakit dan memberikan uang yabg dia janjikan pada laki-laki itu.


_


" Ini pak uangnya, terimalah." ucap Anita menyerahkan sejumlah uang pada laki-laki yang masih terbaring di bangsal.


"Terima kasih bu, ibu baik sekali. Ini juga terlalu banyak." kata laki-laki itu menerima uang dari Anita.


"Iya ngga apa-apa pak, itu rejeki bapak. Barangkali anak bapak butuh jajan di rumah." kata Anita lagi.


"Sekali lagi terima kasih bu." ucap laki-laki itu lagi.


Lalu Anita menemui penjaga di ruang transfusi darah. Dia menyerahkan kantong darah yang tadi dia minta.


"Dokter, ini saya kasih lagi kantong darahnya." kata Anita menyerahkan kantong darah itu.


"Lho, kok di kembalikan lagi bu? Apa tidak cocok?" tanya dokter.


"Bukan, anak saya sudah ada yang mendonorkan darahnya. Jadi tidak membutuhkan lagi, saya donorkan yang punya bapak tadi ke rumah sakit ini." ujar Anita.


"Oh ya bu, baik. Terima kasih kalau begitu." ucap dokter lagi.


Setelah menyerahkan kantong darah, Anita langsung pamit pada laki-laki itu sebelumnya meminta lagi KTPnya. Dia akan langsung pulang, karena sudah malam sekali. Pasti Chila dan Chiko sedang menunggunya di rumah.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2