
Pagi harinya, Anita dan kedua anaknya pulang ke kampung dengan Arga. Mereka seperti sebuah keluarga bahagia yang sedang berlibur. Dalam mobil sering sekali canda dan tawa di lontarkan Arga dan anak-anak Anita.
Anita hanya menimpali dan tersenyum saja. Ternyata kedua anaknya tidak terlalu memikirkan bagaimana hidupnya nanti tanpa papanya. Kesedihan mereka hanya di waktu itu saja. Mungkin karena mereka masih kecil, jadi tidak terlalu mengerti apa itu kematian.
Keceriaan anak-anak.memang seperti itu, tanpa ikut memikirkan beban orang tua. Dan seharusnya seperti itu, tidak menunjukkan kesusahan dan kesedihan dirinya di depan anak-anak.
Dan Anita kali ini di buat tertegun dengan keceriaan berbeda dari wajah Chila. Yang biasanya banyak diam, dia kini sering bercanda dengan adiknya dan Arga. Anita bersyukur, ternyata mereka seperti melupakan kesedihan seminggu lalu.
"Kak, apa kakak senang kembali ke kampung?" tanya Anita di sela-sela candaan mereka sama Arga.
"Iya ma, kakak senang hidup di kampung. Apa lagi kalau sekolah, kakak senang pergi sekolah banyak teman dan sering bermain sama-sama." jawab Chila.
Anita tersenyum, dia setuju. Hidup di kampung itu sangat damai, meski kedamaian itu bukan lingkungan yang membuat kedamaian dalam hati. Hanya bagaimana menyikapi keadaan saja.
Tapi lingkungan juga mendukung empat puluh persen dari total kedamaian di hati.Enam puluh persen hanya hati yang bisa mengendalikannya dan menciptakannya.
Satu jam lagi mereka sampai di rumah di kampung. Karena waktu sudah jam sebelas, jadi mereka mampir lebih dulu ke sebuah warung makan yang cukup besar di pinggir jalan.
"Kita makaj dulu ya, mengisi perut. Om lapar soalnya." kata Arga pada Chila dan Chiko.
"Siap om, Iko juga lapar." jawab Chiko.
Arga dan Anita tersenyum, lalu mereka turun setelah mobil Arga sudah di parkirkan di depan halaman luas untuk parkir.
Arga menggandeng tangan Anita, dia senang melihat Anita begitu ceria melihat anak-anaknya yang aktif. Mereka masuk ke dalam rumah makan itu, mencari tempat duduk yang cukup untuk keempatnya.
Di pojok rumah makan itu ada satu meja kosong, kebetulan mejanya besar dan kursinya ada enam. Arga menunjuk meja itu untuk di tempati.
"Itu ada meja kosong untuk duduk." kata Arga.
Chila dan Chiko berlari ke arah meja yang di tunjuk Arga. Anita mengikuti anaknya dan juga Arga. Mereka duduk di kursi itu dan seorang pelayan datang menghampiri.
Anita memesan sesuai apa keingainan keuda anaknya dan dirinya. Serta Arga juga memesan makanan kesukaannya.
"Aku ke toliet dulu ya, perutku mulas sepertu mau buang air besar." kata Arga.
"Kamu sakit perut?" tanya Anita cemas melihat wajah Arga sedikit berkeringat.
"Mungkin tadi pagi tidak sempat buang air besar karena terburu-buru." jawab Arga.
Anita merasa bersalah, dia sendiri yang meminta Arga berangkat lebih pagi.
"Maaf ya, tadi pagi memintamu berangkat leboh cepat. "kata Anita lagi.
"Ngga apa-apa, aku sajq yang ngga sempat buang air jadi begini. Ya sudah, aku ke toilet dulu." Arga berjalan cepat menuju toilet.
Sedangkan Anita menatap Arga berjalan ceoat ke arah toilet. Dia merasa kasihan dengan Arga, dia juga sering merepotkannya juga.
"Ma, om Arga mau kemana?" tanya Chiko.
"Ke toilet dek." jawab Chila.
Lalu keduanya pun kembali bercerita lagi tentang sekolahnya. Pandangan Anita beredar ke penjuru rumah makan, sangat strategis untuk pengunjung yang kebetulan sedang melakukan perjalanan jauh. Tempat makan di pinggir jalan seperti ini sangat membantu bagi pengendara ketika di tengah jalan merasa lapar.
__ADS_1
Maka di tempat rumah makan seperti ini solusinya untuk mampir dan beristirahat setelah lelah berkendara jauh. Satu jam atau setengah jam lebih cepat untuk makan dan beistirahat
Mata Anita menatap sosok perempuan yang pernah dia temui di suatu tempat. Tapi di mana, dia lupa.
Dan kebetulan sekali, sosok perempuan itu menatapnya balik, baik Anita dan perempuan itu saling menatap diam. Mungkin saling mengingat bahwa wajah mereka pernah di temui di suatu tempat.
Dan sepertinya perempuan itu yang ingat terlebih dahulu dari pada Anita, dia tersenyum dan mendekat pada Anita.
"Mbak Anita ya?" tanya perempuan itu.
Anita tersenyum pada perempuan itu, dia kini ingat. Perempuan yang di temuinya di pantai dulu ketika liburan bersama Rendi di kota.
"Mbak Marisa kan?" tanya Anita.
"Iya mbak Anita."
Keduanya pun tersenyum. Anita melihat Marisa tidak seperti pertama kali bertemu. Lebih ceria dan ada semangat untuk hidup.
Marisa ikut duduk di kursi yang di duduki Arag tadi. Lalu Marisa melihat kedua bocah yang juga menatapnya heran.
"Mbak sedang apa di rumah makan ini?" tanya Marisa.
"Sedang menunggu makanan datang." jawab Anita berseloroh.
Marisa tertawa, tentu saja duduk di meja makan kosong pasti menunggu makanan datang.
"Emm, mbak Marisa terlihat berbeda ya sekarang. Tidak seperti pertama kali bertemu." kata Anita.
"Iya mbak, seperti dulu mbak katakan. Aku akan mencoba menemui mantan suamiku dan meminta bertemu dengan anakku." kata Marisa.
Sepuluh menit Marisa mengobrol dengan Anita, hingga supir Marisa menghampirinya dan mengatakan apakah harus sekarang melanjutkan perjalanan.
"Maaf mbak Anita, saya harus meneruskan perjalanan dulu. Karena nanti saya harus mencari kos-kosan juga di sana untuk tempatku selama di kampung." kata Marisa.
"Iya mbal Marisa. Semoga kita bertemu lagi ya." kata Anita.
"Iya, mbak Anita."
Lalu keduanya pun berpelukan hangat, setelah selesai mereka melepasnya dan Marisa melambaikan tangan pada Anita tanda perpisahan.
Makanan yang Anita pesan pun datang, pelayan itu menatanya dengan cepat. Tak berapa lama, Arga datang dan duduk di depan Anita.
"Lama sekali, apa sakit banget ya perutnya?" tanya Anita.
"Antriannya panjang, jadi lama. Maklumlah, rumah makan pinggir jalan seperti ini, memang banyak pengunjung dan pasti mereka butuh buang air." kata Arga.
"Tapi perutmu sudah tidak sakit lagi kan?" tanya Anita merasa cemas.
"Ngga kok, jangan khawatir." jawab Arga, dia tersenyum untuk mengakhiri kecemasan Anita.
Anita pun lega, lalu dia mengambilkan nasi untuk Arga. Lalu kedua anaknya dan terakhir dirinya. Mereka makan dengan lahap dan cepat, karena sudah sangat siang. Jadi harus meneruskan perjalanan.
_
__ADS_1
Sampai di rumah Anita pukul dua siang, Chiko dan Chila sangat senang mereka sampai juga di rumah dan kembali ke sekolah lagi.
Kedua bocah itu langsung masuk ke dalam rumah. Dan di sambut oleh ibu Yuni dengan pelukan.
"Duh, eyang kangen sama kalian." ucap ibu Yuni memeluk keduanya dan menciuminya.
"Kita juga kangen sama eyang." jawab Chila.
Ibu Yuni tersenyum, dia melepas kedua cucunya itu. Lalu dia menghampiri Anita yang membawa tas ransel anaknya. Arga menarik koper Anita di bawa masuk ke dalam rumah.
Dia meletakkan koper itu hanya di pinggir pintu dan menghampiri Anita.
"Aku pulang ya." kata Arga.
"Iya, terima kasih ya." ucap Anita.
Dia menatap Arga yang tampak kelelahan, dia merasa kasihan.
"Iya, jangan sungkan. Kalau ada apa-apa, aku siap bantu kamu kapanpun." kata Arga.
Kembali Anita tersenyum dan menunduk. Dan dengan tidak di duga Arga, Anita memeluk Arga dengan erat. Membuat Arga terkejut dan merasa senang. Dia membalas pelukan Anita, rasa lelah dan penat seakan hilang seketika dengan memeluk Anita. Apalagi Anita yang lebih dulu memeluknya.
"Terima kasih, Ga. Aku tidak tahu jika tidak ada kamu. Apa mungkin aku bisa menghadapi semua masalah dan ujian ini." kata Anita.
Dia semakin mengeratkan pelukannya. Sedangkan Arga, dia merasa kehadirannya memang sangat di perlukan Anita. Selain dirinya sangat mencintai Anita, dia juga selalu siap kapanpun Anita membutuhkannya.
"Jangan seperti itu, aku senang membantumu. Yang terpenting masalamu sudah selesai." kata Arga.
Lama mereka berpelukan, hingga ibu Yuni yang melihat itu jadi terharu Di hatinya selalu dia panjatkan doa agar Anita dan Arga di persatukan dengan mudah.
Arga melepas pelukannya, dia menatap lekat mata Anita dan dia mencium kening Anita. Kemudian dia berpamitan untuk pulang ke rumahnya untuk istirahat. Karena besok dia harus masuk kantor dan pekerjaannya menumpuk sejak dia bolak balik ke kota untuk persidangan kliennya dan juga membantu Anita di sana.
"Aku pulang dulu ya." kata Arga.
"Iya, istirahalah. Kamu pasti lelah." ucap Anita.
"Ya, pasti. Kamu juga istirahat." jawab Arga.
"Ya."
Lalu Arga masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangannya sebelum mobilnya melaju meninggalkan Anita. Anita membalas lambaian tangan Arga.
Dia lalu masuk ke dalam rumahnya, senyumnya mengembang seiring hatinya yang sedang bahagia.
_
notes : maaf ya, untuk hari ini othor updatenya satu bab aja. kepala othor lagi kliyengan. kalo sempat nanti malam update lagi, tp kalo ngga otor mohom maaf..🙏🙏🙏🙏
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤